
Air yang biasanya menjadi teman bermain kini membuat aku takut. Begitu aku melihatnya aku langsung kabur sejauh mungkin. Kalau bisa saat ini aku tidak usah berhubungan dengan air. Air kini bagaikan momok yang menakutkan bagiku sampai aku harus menjaga jarak ketika aku melihatnya dari jauh. Rasa takutku begitu dalam seakan air ingin menghabisiku sehingga aku begitu trauma melihatnya.
Ibu sambung kami yang sedang mencuci begitu heran melihat aku tiba-tiba menghindar, seperti orang yang ketakutan.
"Liyan, kenapa kau menghindar?" tanya ibu sambungku dengan sorot mata ingin tahu.
"Kak! Wanita itu sangat menakutkan. Coba Kakak lihat matanya!" Adikku berbisik mendekatiku. Dia yang tadi terlihat antusias ingin mandi, tiba-tiba mengurungkan niatnya.
"Kenapa berlari ke sini?" tanyaku dengan menyelidiki.
"Dia masih mencuci, Kak." Adikku semakin bergeser mendekatiku hingga membuat aku ingin terjatuh.
"Ptfff !" Aku langsung tersenyum menutup mulut dengan tangan. Tingkah adikku hari ini begitu menggelitik hati. Kenapa tidak? Dia yang tadi terlihat percaya diri dan menolak ingin aku temani tapi ternyata dia malah menciut.
"Tapi, tadi kau bilang, kau berani mandi sendiri," ledekku melihat adikku yang mengerucut, seperti ujung tombak yang tidak terlihat sama sekali.
"Hhmm!" Adikku langsung melirikku dengan sebal. "Kakak menyebalkan!" Adikku memukul pundakku pelan. Wajah cemberutnya terlihat karena menahan malu bercampur takut tertoreh dengan manis menatapku.
"Wajahmu jangan buat seperti itu!" Aku tersenyum melihatnya. "Ini 'kan, bukan yang pertama kalinya, Ibu mencuci di sini." Aku semakin tergelitik melihat adikku.
"Aku tahu! Tapi, aku berharap tidak bertemu dengannya lagi di sini, Kak." Adikku terlihat kesal sampai dia menghempak-hempakkan sabun yang dia pegang di udara dengan pelan.
"Ana! Apa kau mau mandi ?" tanya ibu sambung kami yang membilas pakaian terakhir.
Aku yang masih lucu melihat adikku, refleks menggeleng kepala sebagai isyarat menyuruh dia segera mandi untuk menjawab pertanyaan ibu sambungku.
Memang tidak mudah menjadi, seperti adikku. Adik yang masih kecil dan polos yang sudah di tinggal ibu masih dalam keadaan menyusu. Anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang seseorang kini hilang di telan waktu. Adikku yang masih kecil, dia sering kali mengganggap ibunya masih hidup dan suatu hari nanti, ibunya akan datang untuk menemuinya. Harapan palsu itu terus dia pupuk sehingga membuat dia frustasi dengan kenyataan. Inilah yang membuat dia tidak bisa menerima kehadiran ibu sambung kami. Dia tidak mau tahu kalau ibu yang ada di hadapannya adalah ibu pengganti untuk nya.
"Tunggu apalagi. Ayo cepat !" desakku pada adikku.
__ADS_1
Wajah penolakan adikku pun semakin jelas ketika dia melirikku dan aku pun melihatnya, bahkan ibu sambungku juga mengetahui ekspresi adikku dari wajahnya yang tertoreh. Namun, ibu sambung kami hanya diam saja dia tidak bergeming dengan apapun yang telah dia ketahui. Dia masih saja membujuk adikku agar adikku segera mandi.
"Ana, tunggu apalagi?! Kenapa masih berdiri di sana?" tanya ibu sambungku sambil menyimbahi ember yang telah kosong. "Sebentar lagi Maghrib dan nyamuk pun,.akan banyak di sini," kata ibu sambungku dengan lembut. "Dan kau, Liyan! Apa yang kau lakukan di sini juga?" tanyanya. "Apa kau mau mandi?" Ibu sambungku melihat ke arahku dengan menyelidiki.
Kebimbangan masih saja tertoreh di wajah adikku dengan segudang pertanyaan yang menumpuk di kepalanya. Dia pun berjalan mondar mandir, seperti orang tua yang mempunyai masalah besar.
"Hmm! Ana mandilah sana! Jangan mondar - mandir!" Aku begitu gelisah melihatmu.
Membisu itulah yang bisa dilakukan oleh adikku. Setiap kali dia selalu membisu ketika mengenai ibu sambung kami. Artinya, adikku tidak pernah menganggap istri baru ayahku bagian dari hidupnya. Dia menganggap istri ayahku hanya orang asing yang singgah untuk sementara waktu sehingga adikku begitu enggan untuk mendekatkan diri. Untuk saat ini pun, adikku hanya membisu setelah mendengar seruanku. Dia tidak merespon, bahkan dia menganggap itu sebagai suara yang tidak berfaedah.
Sikap adikku menjadi tantangan terbesar bagiku. Keras kepalanya terkadang menguras emosiku untuk merubahnya.
"Dik, Kakak mohon, mandilah sekarang! Nanti keburu malam." Aku mengambil sabun yang terletak di tanah. "Jangan jongkok aja di situ. Berdiri!" Aku terus mendesaknya untuk segera bangun.
"Kaaak!" panggil adikku dengan wajah memelas. Dia seakan malas untuk mandi.
"Tadi 'kan, kau mau mandi. Sekarang kenapa malas ?" tanyaku dengan sebal.
Kecerdasan adikku terkadang di luar kemampuanku. Rayuan yang dia keluarkan seakan menyalakan rasa kasihanku melihatnya. Entah mengapa? Setiap kali dia merayu dengan wajah tertekuk membuat aku mengingat sosok Ibuku. Sontak hal ini membuat jiwaku bisa rapuh, apalagi ketika aku mendengar suaranya yang memohon dengan penuh harapan.
"Kak! Tunggu ibu itu pergi saja," bisik adikku dengan berharap kalau aku mendukungnya.
"Liyan, Ana!" teriak ibu sambung kami dari dalam. "Apa kalian masih di situ?" tanyanya dengan nada suara samar-samar.
Dinding kamar mandi yang berdiri tegak melingkar menghambat suara yang keluar sehingga suara yang terdengar pun tidak sebegitu jelas.
"Ibu sudah siap. Sekarang kalian cepat mandi! Mau ibu tunggu atau tidak?" tanya ibu sambung kami membuka pintu.
Sebenarnya aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu. Kata yang ingin aku bilang cuman satu yaitu, 'iya Ibu! Kami mau di tunggu.' Namun, kata itu tidak bisa terucap sebab adikku tidak begitu suka dengannya. Akan tetapi, aku malah menatapnya sambil mengatakan itu di dalam sanubariku.
__ADS_1
Ibu sambung kami yang telah keluar dari kamar mandi, malah menunggu adikku untuk masuk. Aku yang berdiri di antara mereka sangat terkejut melihat reaksi adikku dengan refleks mengikuti perintahnya.
"Ana. Air mandianmu telah Ibu timbakan." Ibu sambungku merapikan pakaian yang ada di dalam ember. "Ibu tadi, menimbanya cukup banyak." Sambil memisahkan celana dan baju. "Ibu takut kalau adikmu nanti mandinya tidak bersih," cetusnya mengatakan padaku dengan melihat adikku yang tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Iya Bu. Terimakasih," balas adikku sambil berjalan dan membawa handuk serta sabun yang dia genggam.
Bola mataku pun langsung melihatnya membelalak. Apa yang aku dengar rasanya ini bagaikan mimpi. Perlahan aku menampar pipiku untuk menyadarkan diriku dari tidur yang lelap.
"Augh!" teriakku karena tamparanku terasa sakit. "Berarti aku tidak mimpi," gumamku sambil melongo.
Aku hanya tersenyum tipis melihat adikku membalas omongan ibu sambungku. Sementara adikku telah menutup pintu kamar mandi. Suaranya tidak terdengar lagi sampai dia berada di dalam kamar mandi. Mungkin dia hanya mendengarnya saja atau sama sekali tidak?! Itulah yang terbersit di dalam hatiku ketika aku melihat adikku berjalan.
Sementara aku yang berdiri di luar dengan alasan menunggunya tetap bertahan di tengah omongan ibu sambung kami yang terus menyelidiki.
"Liyan, kau ngapain ikut juga dengan adikmu? Sebaiknya kau masuk saja ke dalam. Ini harinya sangat dingin. Mungkin sebentar lagi akan hujan?!" Ibu sambung kami menunjuk rumah dan melihat langit gelap.
"Iya, Bu. Tapi, aku mau mencuci muka dan mengilap tubuhku saja." Aku membalasnya dengan sopan.
Sementara adikku yang berada di dalam kamar mandi berteriak memanggilku. "Kaaak! Jangan tinggalkan aku," teriak adikku yang mendengar pembicaraan aku dan ibu sambungku di luar.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung...