Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Banyak dilihat


__ADS_3

"Ayah itu apa?" tanya aku di atas becak.


"Itu es campur, Nak," jawab ayahku setelah memutar kepala melihat ke arah yang aku tunjuk.


"Es, campur ayah," sambungku terheran. "Ayah itu di campur pakai apa esnya?" tanyaku menyelidiki. Menatap gerobak es campur dari jauh.


Ayahku seketika tersenyum di atas becak. Ketika mendengar pertanyaanku.


"Es campur itu pakai tape, pakai cincau, pakai mata ikan, pakai... ." Ayahku langsung diam sejenak. Dia pun melirikku dengan senyum tipis. "... pokoknya campurannya banyak, Nak," balas ayahku. Sedikit tergelitik.


"Ayah kalau begitu. Aku mau," pinta adikku merayu ayahku dengan nada suara dan gurat wajahnya yang manja. "Ayah mau 'kan membelinya!"


"Iya, kalian mau?" tanya ayahku. Berseri.


"Iya Ayah, mau. Aku pengen tau rasa es campur itu," balasku. "Karena kami cuma sering minum es lilin," terangku pelan. Memasang wajah ditekuk.


"Iya Ayah. Mari kami beli," pinta adikku yang duduk seperti mana dia yang tadi duduk sewaktu awal kami mau pergi. Mengayunkan sebelah tangan kanannya di hadapan ayahku sebagai memberi isyarat biar adikku yang membelinya.


"Biar Ayah saja yang membelinya," ucap ayahku dengan nada suara senang bercampur bahagia karena kami sangat senang hari ini.


Ayahku pun meminggirkan becak yang dia bawa ke tempat yang tidak di padati pejalan kaki dan tidak dilalui kendaraan juga.


Ayahku yang sudah senja itu pun lalu turun dan meminggirkan becaknya. Dia berjalan dengan jenjang kakinya yang panjang menembus jalan yang di padati orang-orang yang bersiliweran di jalan dan sedikit hampir mau tertabrak. Aku yang melihatnya shock dan menganga panik.


Es campur yang terletak tepat di seberang jalan yang kami singgahi sangat beradu dengan pembeli yang mengantri. Ayahku pun menyeberangi jalan yang di lalui kendaraan yang lalu lalang dengan berhati -hati. Di bawah mentari yang terik ayahku menyeberangi jalan seorang diri. Aku yang duduk di atas becak menatap ayahku yang terlihat bahagia karena telah berhasil membuat aku dan adikku senang hari ini.


🌵🌵🌵


Es campur yang aku nanti -nantikan kini telah tiba di hadapan mata.


"Ini pesanan kalian," kata ayahku dengan wajah ceria. Melayangkan es ke tangan kami.


"Ayah, esnya udah ada?!" kata adikku yang sudah tidak sabaran ingin membukanya.


"Terimakasih Ayah," jawabku dengan senang hati. Mengambil es yang tergantung di udara.


"Ayah, kenapa banyak kali?" tanyaku heran. Melirik es yang di pegang oleh adikku.


"Iya, itu untuk Ibumu satu," kata ayahku dengan nada suara senang karena dia merasa puas hari ini telah membawa kami berkeliling menikmati indahnya pemandangan sungai meski sangat sederhana dan juga telah membawa kami berkeliling kota.


"Kalian senang hari ini 'kan?" tanya ayahku berbinar. Melihat aku dan adikku. "Ayah rasanya senang sekali karena telah bisa membuat kalian senang," tutur ayahku.

__ADS_1


"Kami saaaangat senang ayah," jawabku dengan bahagia. Mengambil es dari dalam plastik.


"Ayah, kami jarang pergi jalan-jalan," sambung adikku. Menyeruput es campur.


"Ayah tau Nak. Maaf kan Ayah ya karena tidak bisa membawa kalian sering -sering seperti ini," balas ayahku.


"Ayah, kami suka sekali ini," kataku mengayunkan es campur ke udara. Memotong pembicaraan ayahku.


"Kalau kalian suka habiskan saja," balas ibu sambung kami langsung memotong ungkapan kebahagiaanku yang masih memangkuku.


Ayahku hari ini sangat bahagia mengayuh becaknya. Wajahnya semakin berseri tak terhingga sehingga dia begitu bersemangat mengayuh becak dengan kencang.


"Ayah itu apa lagi ?" tanyaku ingin tahu. melihat ke arah yang lain.


"Yang mana, Nak?" tanya ayahku. Memutar kepala melirik ke arahku dari atas bangku becak, di ikuti kedua kakinya yang mengayuh.


"Yang itu, Yah!" tunjukku dengan antusias.


"Itu balon, Nak!" jawab ayahku melihat ke arah tanganku yang menunjuk.


"Balonnya kenapa ada gambar kepala?" tanya adikku terheran.


"Gambar kepala kucing," sambungku langsung.


Ayahku langsung tersimpul. "Nak, balon itu sekarang sudah banyak ragamnya," jawab ayahku dengan nada suara lembut yang menggema di udara bercampur dengan embusan angin.


Aku dan adikku terus menyeruput es campur yang di beli oleh ayahku. Es campur yang sangat enak. Aku begitu menikmati rasanya yang manis dan lembut.


"Ayah, kalau di sekolahan kami yang ada cuma es lilin," kataku dengan lembut. Menyeruput terus es yang aku pegang. Mengembalikan topik pembicaraan kembal membahas es campur. Melirik adikku yang menghabiskan es campur yang sedap.


"Ayah besok-besok beli lagi, ya!" pinta adikku. Menyeruput esnya yang tinggal sedikit lagi.


"Kalau Ayah banyak dapat uang. Pasti Ayah belikan, Nak," ucap ayahku. Melirik adikku yang sedang menikmati es campur.


"Tapi jangan sering-sering. Nanti kalian sakit," tandas ibu sambungku. Memegang plastik es campur yang belum juga dia minum. "Kalau kalian sakit hanya gara-gara ini. Semua akan habis," lanjut ibu sambungku. Melihat -lihat plastik es dengan jeli sambil mengayunkannya ke udara ke sana kemari.


Ayahku langsung meliriknya. Sedotan yang menyeruput es pun aku gigit di dalam mulut dengan kuat. Es yang ingin aku seruput langsung tidak jadi.


"Ya, Ibumu benar. Jangan sering -sering ya, Nak," kata ayahku sedikit membenarkan apa yang di katakan oleh ibu sambung kami barusan meski sedikit dia secara tidak langsung menyindir aku yang sering sakit dan banyak menghabiskan uang.


"Kalau kalian sakit gak seperti Anak orang," tandasnya dengan kesal. "...cepat sembuh," lanjutnya berbisik langsung di telinga menyindirku. Sedotan pun terhenti menyeruput es. Aku terhenyak diam membisu dan menatap nanar jalan yang masih kami lalui.

__ADS_1


Aku yang duduk di pangkuannya terus memutar bola mata melihat orang -orang yang berjalan dengan lepas. Semua yang terpampang di tepi jalan begitu banyak aku lihat terkhusus penjual mainan anak -anak.


"Makanya, kalian itu tidak boleh banyak jajan. Dan Ayahmu juga gak boleh menuruti semua kemauanmu," papar ibu sambungku. Menoleh ke samping kanan tepat ke arah adikku yang duduk. Memegang plastik es campur yang sudah habis. Seakan menyindir adikku.


Aku semakin menggigit sedotan hingga es campur itu tidak lagi terasa dingin. Es yang tadi di campurkan ke dalamnya sudah tidak lagi terlihat. Kini hanya tetesan embun es yang terasa membasahi tangan ini.


Selama ini aku sering berpikir kalau ibu sambung yang dinikahi oleh ayahku adalah ibu yang baik yang bisa memberi kami kasih sayang. Akan tetapi, semua itu seakan terlihat semu. Semua tidak nyata sesuai impianku.


"Liyan, kalau kau sudah kenyang?" tanya ayahku yang sedikit pun tidak mendengar yang diucapkan oleh istrinya itu kepada ku.


"Sudah Ayah," jawabku pelan. Aku yang duduk di pangkuan ibu sambungku sedikit merasa takut.


"Kalau kau lapar, Nak, bilang saja kita akan singgah membeli kue," kata ayahku. Mengayunkan topinya ke udara dan memakainya kembali.


"Ayah kalau aku pengen pulang saja," pinta adikku dengan nada suara yang parau. "Aku sudah lelah, Yah. Dari tadi di atas becak saja," rintihnya. Terlihat tenang seakan adikku tidak mendengar yang diucapkan oleh ibu sambung kami tadi di telinganya.


"Baik, Nak," jawab ayahku.


Sementara kedua bola mataku masih terpelongo melihat balon yang bisa terbang dengan sehelai benang.


"Ayah, itu kenapa bisa terbang? padahal 'kan tadi tidak, Yah!" kataku bertanya dengan bingung melihatnya.


"Itu balonnya di taruh pakai batu. Biar tidak terbang ke atas. Kalau terbang nanti gak ada yang beli ,Nak," terang ayahku menjelaskannya.


"Jadi, Yah. Itu kalau mau kita terbangkan batunya di buang, Yah?" tanyaku ingin tahu. Melirik Ayahku kembali menyeruput es campur.


"Iya, Nak," jawab ayahku singkat.


Kendaraan yang bersiliweran pun memecah kesunyian dan memekakan telinga dengan suaranya yang bising.


.


.


.


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya ! 🙏🥰


__ADS_1


__ADS_2