
"Selamat pagi Anak-anak." Bu Dona masuk dan duduk di kursinya.
"Selamat pagi, Bu." Kami segera menjawab salam dari Bu Dona.
"Bagaimana kalian hari ini? Apakah happy?" Bu Dona tersenyum tipis sambil membuka dan mengeluarkan buku dari dalam tas.
"Happy Bu," jawab kami.
"Buka bukunya? Coba lihat halaman sambungan yang semalam!" perintah Bu Dona setelah dia memberi pemanasan dengan sedikit bergurau pada kami. "Tugas kalian adalah baca sampai habis kemudian rangkum kata -kata yang penting."
Buku yang telah ada di atas meja segera kami buka. Aku juga membukanya lalu melihatnya dengan kepala dingin. "Widia, aku sudah baca bagian ini." Aku membuka lembaran dan melihat hurufnya dari awal hingga akhir.
"Kalau sudah membacanya berarti kau tidak perlu membacanya lagi," kata Widia melihat tulisan yang tertera di halaman yang dia buka.
"Aku akan tetap membacanya lagi, tapi bagian yang tidak aku pahami." Aku membalasnya.
"Meskipun, kau membacanya, tapi kau tidak akan selama diriku yang masih akan membacanya dari awal," keluh Widia dengan memelas.
"Bukannya kau tadi sudah membacanya bersamaku?" Aku bertanya mengulanginya kembali.
"Iya, itu pun cuman setengah halaman." Widia sedikit menyesal mengatakannya.
"Tapi, aku tadi melihat kau membuka halamannya lebih cepat dariku," timpalku menyinggungnya.
"Itu hanya untuk melihat lembaran berikutnya, apa ada gambarnya ?" Widia langsung membalasnya.
"Gambar? Kau masih seperti anak kecil juga? Hahaha!" Aku tertawa geli mendengarnya.
"Aku suka melihat gambar, Liyan. Siapa tahu aku jadi seorang pelukis," ungkap Widia mengutarakan bakatnya yang terpendam.
"Emang kamu suka melukis?" tanyaku dengan antusias. "Waah! Ternyata kamu punya bakat terpendam juga." Aku tersenyum sambil menulis.
"Apa selama ini kamu menutup mata, kalau aku lagi menggambar?" Widia kembali cemberut.
Aku menggeleng meninggalkan Widia yang bergelut dengan dunianya, membaca kembali bacaan yang ada di hadapanku untuk memahami apa yang aku tulis. Tulisan rangkumanku telah mengisi setengah halaman buku tulisku kini. Selanjutnya aku masih membaca kembali lanjutannya dan aku kembali lagi menulis.
"Liyan, apa kau sudah selesai?" tanya Widia memecah kesunyian dengan berbisik.
"Kalau kamu, apa sudah selesai juga?" Aku kembali bertanya hal yang sama kepada Widia.
__ADS_1
"Liyan, kenapa kau bertanya kembali padaku?" Widia menggeleng tidak mengerti. "Aku itu bertanya padamu?"
"Karena aku juga masih melihatmu menulis. Sementara aku masih membaca." Aku melihat Widia seakan dia sudah selesai dari pada aku.
"Apa kau tidak tahu tentang aku?" Widia bertanya padaku yang telah mengetahui dirinya.
"Iya aku tahu. Tapi tidak semua. Contohnya, yang kamu tulis. Aku tidak tahu kau sudah selesai atau belum?!" Aku mengangkat bahu.
"Makanya, aku memberimu pertanyaan kembali."
"Aku memang sudah mau selesai...". Menatap sendu. "...tapi masih sepertiga halaman." Menunjukkan padaku.
"Apa?!" Aku langsung membelalak terkejut. "Masih segitu." Seakan aku tidak percaya Widia membuang-buang waktu.
Tok!
"Liyan, kau kenapa?" Fikri mengetuk bangkuku.
Aku langsung melirik ke meja Fikri. "Aku tidak apa-apa Fikri," jawabku menenangkan kecemasan Fikri.
"Suaramu itu terlalu kuat sampai terdengar kemari," cetus Fikri. "Untung saja, Bu Dona tidak mendengarnya, kalau tidak habis kau, Liyan. Berdiri seorang diri."
Seketika aku langsung merasa sedih karena ucapan Fikri yang sedikit tajam menusuk hatiku yang rapuh. "Apa kau tidak mau menemaniku berdiri?" Aku menjebak Fikri dengan pertanyaan yang sebelumnya dia pikirkan.
Aku lalu memutar kepala melihat ke depan dengan hati yang memilukan. Mengambil pensil dan melanjutkan kembali tulisanku yang terhenti. Lidahku begitu getir melihat tanganku yang menulis sebab reaksi Fikri yang berpura -pura tidak tahu setelah mendengar pertanyaanku.
"Anak-anak, apa tugas mencatat yang saya suruh sudah selesai ?" Suara bu Dona yang bertanya mengagetkan diriku.
Pensil yang kupegang terhenti seketika mendongak ke atas melihat ke arah bu Dona. "Sedikit lagi Bu," jawab kami serempak.
"Cepat! Waktu kalian tinggal beberapa menit lagi, sebentar lagi kita akan berganti mata pelajaran yang lain!" seru bu Dona dengan tegas.
"Bu kalau sudah selesai, lalu mau di taruh ke mana tulisan kami?" jawab Septiani yang membuat sebagian murid tergelitik terkhusus Fikri yang tertawa mendengar dari bangkunya .
Bu Dona yang serius membaca buku di hadapannya mendongak melihat Septiani. "Di kumpul Septiani. Selama ini, setiap tugas yang saya suruh selalu di kumpul," kata bu Dona dengan penuh penegasan.
"Baik Bu," Septiani tersimpul malu menunduk.
Ucapan jenaka Septiani melukis senyum tipisku seakan menghilangkan kesedihan hati sejenak. "Septiani ada-ada saja. Dia suka menyahut Bu Dona."
__ADS_1
"Iya, kau benar Liyan. Septiani, dia suka sekali sama Bu Dona," sahut Widia dengan santai sambil membuka buku.
Aku yang melihatnya. "Emang kau sudah selesai?" Melihat Widia seakan bermain -main dengan halaman yang di bukannya.
"Liyan, aku sudah lelah membaca dan menulis. Apa kita boleh meminta untuk dituliskan?" Widia berkata dengan seenaknya.
"Enak aja! Mana mungkin boleh. Itu namanya enak di kamu," cetusku menyentil Widia.
"Itu 'kan, namanya saling tolong menolong dalam kesulitan," timpal Widia dengan ngotot.
"Tapi, itu dalam hal yang salah, Widia. Memang benar kamu dalam kesulitan, tapi 'kan semua mengalaminya, bukan kamu saja." celetukku.
"Tapi 'kan, itu kesulitan juga, Liyan." Widia semakin ngeyel. Suara berbisiknya pun semakin menonjol menunjukkan keberanian sehingga membuat bu Dona seakan merasakan suara bisikan Widia.
"Berbe...". Aku kembali menutup suara, mengurungkan niat untuk membalas obrolan Widia setelah melihat reaksi bu Dona yang sepertinya terusik.
Kedua bola mataku lalu menunduk sambil menjentik lengan Widia sebagai isyarat memberi tahu untuk segera diam agar bu Dona tidak mendelik dan memarahinya.
Namun, Widia yang tidak paham akan isyaratku, dia tetap berbisik dengan ocehan yang mengandung sentilan dari bu Dona.
"Widia, kenapa bersuara di situ?" pekik bu Dona membuka bibirnya dengan lebar. "Ternyata, sayup-sayup suara yang saya dengar itu suara kamu."
Widia terperanjat dan melihatku sedikit melirik dari ekor matanya. Bibirnya yang mengkerucut mengadukan ketakutan yang akan menimpanya.
Tubuh mungilku langsung seperti tertimpa dengan batu keras. Aku hanya bisa memberikan sorotan mata menyuruh Widia untuk tetap tenang. Ekor mataku lalu mencari tahu bu Dona lagi apa. Aku sedikit terkejut ternyata, bu Dona berjalan mengarah ke meja kami. Jantungku rasanya berhenti berdetak melihat kaki bu Dona semakin mendekat. Jemariku lalu kutarik naik ke atas meja dan mengambil pensil yang terletak di atas bukuku.
Tatapan mata bu Dona begitu tajam melihat wajah Widia yang tadi berbicara. "Apa kamu sudah selesai?" tanya bu Dona menarik buku Widia. Kedua mata bu Dona begitu lekat menatap tulisan Widia. "Baru ini yang kamu tulis." Bu Dona mengembalikan buku Widia.
"Kamu Liyan, bagaimana?" Bu Dona seakan dia ingin melihat bukuku.
Sedikit gemetar. "Ini Bu," kataku menyerahkannya dengan rasa takut.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
__ADS_1
❤️❤️❤️
Bersambung...