
Aku semakin lelah dan jenuh melihat adikku yang semakin pintar menjahili dan membuat emosionalku turun naik.
"Ana, kalau Ayah tau. Ayah pasti akan memarahimu!" singgungku kesal.
Adikku langsung menunjukkan raut muka licik dan senyum nakalnya yang jahil. "Kak, kalau aku di hukum. Kakak pasti ikut juga, hihihi!" sambungnya dengan senang hati dan smrik.
Aku langsung terkepung dan tidak bisa mengelak lagi. Adikku selalu saja ingin menjebakku dengan senang.
"Ana, kau jahat. Kakak 'kan lagi sakit," dalihku langsung, menatap adikku dan menunduk sebagai isyarat kalau aku menujukkan lututku yang belum sembuh.
Adikku kembali tersenyum. " Biarin aja!" sahutnya acuh, membuang muka kesamping kiri tepatnya ke arah pintu yang terbuka sedikit.
Aku semakin kesal menatap piring dan gelas kosong yang teronggok di atas lantai. "Anaaa," teriakku berbisik pelan di telinganya sambil menjentik lengannya kembali.
Adikku refleks menjerit. "Aaugh!" katanya sambil mengelus lengannya pelan. "Kak, 'kan tangan Kakak kotor belum di cuci," tegurnya dengan nada suara manja. "Kan tanganku jadi bau," sesalnya, melihat dan mencium lengannya langsung. "Iiisss, jijik!" jeritnya dengan wajah cemberut.
"Ana, tanganmu juga masih kotor. Coba lihat !" suruhku dengan protes.
Adikku langsung malu sambil menarik bibirnya. "Sebentar ya Kak," katanya. Bangun dan berjalan mengambil cuci tangan yang telah di sediakan oleh ayahku di atas meja. "Ini Kak," katanya duduk dan meletakkan mangkok cuci tangan di atas lantai.
Plak!
Aku dan adikku langsung mencelupkan sebelah tangan kami ke dalam mangkok cuci tangan yang berisi setengah air. Di ikuti oleh kedua bola mataku melihat kesamping kiri tepat di mana tempat adikku duduk.
"Ana, yang jahat di sini itu kau!" bisikku pelan dengan kesal di telinga adikku.
"Ssttt, Kakak jangan keras-keras!" sahut adikku dengan pelan memonyongkan kedua bibirnya ke depan sebagai isyarat menyuruhku diam.
"Nanti kalau Ayah dengar kita di suruh diam, Kak," kata adikku dengan gurat wajah memohon agar aku segera diam.
Tangan yang masih di dalam mangkok pun aku angkat kasar.
Brak!
Sebelah tangan kananku langsung mengayun di udara bercampur raut muka yang kesal dan masam.
"Kakak gak mau di hukum," tolakku pelan, menatap nanar lurus ke depan. Di ikuti oleh tubuh lemah yang mungil ini bangun dan mengambil kain lap yang terletak di atas meja .
__ADS_1
Pluk!
Lap tangan pun mengayun di udara tepat mengarah ke arah muka adikku setelah tangan kecil yang lemah ini sudah terilap bersih.
Hap!
Adikku pun langsung menangkapnya dengan kasar. "Kak, kalau kita di hukum. Kita pasti ke situ!" kata adikku dengan santai, melayangkan lirikkan ke depan pintu yang setengah terbuka.
Wajah sebal bercampur kesal yang tanpa di perintah pun refleks melihat ke arah pintu yang di tunjuk oleh adikku dengan lirikkan kedua bola matanya.
Aku lalu mengerutkan kening setelah melihat pintu dan memutar kepala dengan penuh tanda tanya melihat adikku yang tersenyum licik bercampur bahagia.
Tubuh mungil yang lemah ini berdiri dan membeku setelah aku shock melihat pintu. "Ana, kau... ," kataku dengan geram sambil menutup mulut yang keluh ini dengan rapat. Aku semakin mengerang setelah aku mengetahui isyarat yang di berikan oleh adikku.
Adikku refleks setelah melihat raut mukaku. "Iya Kak. Kalau kita di hukum pasti kita keluar," sambung adikku dengan senyuman nakalnya sambil mengerucutkan kedua bibirnya dan menaikkan alisnya. Duduk bersila di atas lantai.
Aku semakin pucat setelah mendengar alasan dari adikku yang sangat menakutkan. Sekujur tubuh mungilku yang lemah langsung lemas, gemetar dan kedinginan. Raut muka yang tadi tenang sejenak kini kembali bergulat dengan akting adikku yang tiada habisnya.
"Ana, Kakak lagi sakit. Nanti kalau Kakak makin sakit. Kakak gak bisa sekolah," bujukku dengan lembut pada adikku. Berdiri dan mengatupkan kedua tangan memohon belas kasihannya.
"Mm! Aku gak mau," tolak adikku cemberut dengan raut muka manjanya, memutar duduknya sedikit miring membelakangiku sambil menekuk kedua lututnya.
"Liyan, kenapa Adikmu menangis?" tanya ayahku berteriak dari dalam kamar memanggilku.
Tubuh mungilku yang lemah langsung gemetar dan raut muka pun semakin panik jadinya. "Iya Ayah," jawabku langsung terpaksa menjawab pertanyaan ayahku.
"Kenapa lagi Adikmu itu menangis Ana? Kau apa-in dia?" tanya ayahku dengan nada suara seakan mengurut dada.
Huhuhu!
Sementara suara adikku masih saja pecah meski dia tidak mengeluarkannya dengan lepas meskipun demikian ayah kami yang pendengarannya sangat tajam mendengar semua yang terjadi tentang kami.
"Ayah aku gak tau. Tiba-tiba Adik nangis," jawabku dengan polos. Berdiri bersama dengan kebingungan.
"Kalian berdua ya! Selalu menganggu tidur siang Ayah. Setiap hari bertengkar. Ada-ada aja yang bisa kalian buat. Untuk menggangu Ayah," sahut ayahku dari dalam kamar.
Tuk! Tuk! Tuk!
__ADS_1
Suara kaki ayahku pun terdengar keluar. "Liyan, Ana, kalian berdua selalu saja bertengkar!" sesal ayahku dengan menahan amarahnya. "Jawab Ayah, Liyan! Kenapa diam saja?" tanya ayahku.
Aku semakin meremas jemariku dan geram melihat adikku. "Ayah, aku gak tau. Tiba-tiba saja si Ana nangis," kataku mengulanginya kembali menatap ayahku yang lebih tinggi dariku dengan meremas kedua jemariku sebagai isyarat menahan rasa takut.
"Ana," panggil ayahku.
"Ayaaah..., Kakaaak," kata adikku memutar duduknya ke hadapan ayahku mengadu sambil menangis.
Ayahku refleks sekilas melihat ke arahku. "Liyan, kenapa adikmu?" tanya ayahku kembali dengan gurat wajah ketat.
"Ayah, ak... ." Aku langsung diam menutup mulut rapat setelah adikku memotong omonganku.
"Ayah, aku di buat Kakak nangis!" rengek adikku mengadu kepada ayah yang berdiri di hadapan kami lagi.
"Makanya Ayah tanya. Kenapa, Nak?" desak ayahku kepada adikku agar dia mau membuka mulut.
Adikku langsung menunduk sambil menahan tangisannya dengan mengerutkan kedua bibirnya. Sementara aku yang berdiri disamping ayahku menatapnya dengan kesal.
"Ayah tanya sekali lagi! Kalau tidak ada yang menjawab lagi! Awas aja!" ancam ayahku. Berdiri sambil mengayunkan telunjuk ke arah kami berdua.
Aku semakin shock melihat telunjuk yang terpampang dihadapanku sebagai tanda penekanan yang tegas.
Huhuhu!
Sementara adikku menaikkan kepala melihat ayahku dengan air mata yang menganak di pelupuk mata sambil tersengal, dia melayangkan raut muka meminta belas kasihan.
Ayahku yang pusing melihat kami berdua. "Kalian itu udah besar. Jadi, jangan bertengkar. Bersaudara, cuma kalian berdua. Kalian itu, Nak! Kakak beradik harus akur. Kalau masih kecil kayak gini. Gimana nanti sudah besar? Apa kalian mau bertengkar terus, ha? Pusing Ayah melihat kalian berdua. Selalu bertengkar. Selalu ribut. Dan kau Ana! Mulai sekarang jangan pernah lagi Ayah dengar kau itu sering menangis!" tegur ayahku memberi peringatan keras pada kami berdua. "Liyan!" panggil Ayahku dengan nada suara rendah dengan penuh penekanan.
Aku langsung membuka mulut dengan gemetar. "I-iya Ayah," jawabku langsung.
"Ambil boneka adikmu! Itu hukuman untuknya ," titah ayahku dengan tegas.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...