Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Gerbang sekolah


__ADS_3

Pintu gerbang sekolah pun telah kami lalui. Anak-anak yang berjalan pun terlihat hilir mudik memasuki gerbang. Tawa riuh dari mereka terdengar memenuhi halaman sekolah yang luas.


"Hai Liyan! Apa kabar ?" sapa Rasyid mengagetkanku dari samping.


Wajah pucatku langsung tersenyum. "Alhamdulillah. Aku kabar baik." Berjalan bersama adikku.


"Hai Bang! Apa kabar juga?" Adikku tersenyum menyapa dengan ramah.


"Alhamdulillah. Kabar baik." Rasyid langsung tersenyum membalas senyum adikku.


"Abang berangkat ke sekolah dengan siapa?" tanya adikku.


"Ana! Bang Rasyd datang kemari di antar oleh ayahnya." Aku memotong pertanyaan adikku.


"Iya Ana. Kakakmu benar. Abang datang ke sini setiap hari di antar," kata Rasyd. Melihat adikku sekilas lalu melihat kakinya melangkah.


"Karena rumah teman Kakak ini jauh, Dek," sambungku.


"Ooh!" Adikku mengangguk dan mengayun kakinya dengan kencang.


"Emang rumah Abang di sebelah mana?" tanya adikku sedikit ingin tahu.


"Ana! Sstt! Kamu ini ada - ada saja." Aku berbisik melirik adikku memutar kepala melihat Rasyd yang tersenyum.


"Bang! Abang suka permainan apa?" tanya adikku.


"Kamu suka bermain, ya?" tanya Rasyd dengan antusias.


"Iya. Aku suka banyak permainan." Adikku menjawabnya dengan senang.


"Dia benar Rasyd. Adikku ini lebih suka bermain, bahkan tidak jarang dia bermain di rumah," sambungku memberi tahu pada Rasyd.


"Oh, ya! Suka bermain apa?" tanya Rasyd semakin penasaran.


"Suka bermain kelereng," jawab adikku refleks membuatku terkejut dan menahan tawa.


"Wow! Benarkah? Berarti kamu suka bermain kelereng?" Rasyd begitu terpana mendengarnya.


"Iya Bang," jawab adikku dengan singkat.


"Asyik dong! Berarti nanti kita bisa main bareng," ucap Rasyd.


"Tapi jangan sekarang...!" Adikku menatapku dengan takut. "... nanti Ayahku marah. Iya, 'kan Kak." Adikku membuatku terkejut seakan adikku menyuruhku untuk menyelamatkan dia dari Rasyd.


"Ana sekarang, kalau dia ingin bermain dia harus ada izin dulu dari Ayahku." Aku terus melangkah menatap Rasyd.


"Ayahmu seperti itu, ya," ucap Rasyd, lalu memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan.


"Iya. Ayahku tidak seperti yang lain. Jika, Anaknya ingin bermain sebentar dikasih, walaupun tanpa izin," ujarku.


"Hai Liyan!" Tiba - tiba berjalan di sampingku. "Ana ternyata kamu yang di samping Liyan." tegur Widia mengejutkan.


Adikku tersenyum menoleh ke arah Widia. Dia lalu menjauh menggeser tubuhnya sedikit agar Widia berjalan berdampingan denganku.


"Liyan! Aku tadi memperhatikan sepanjang jalan," ucap Widia mengungkapkan padaku.

__ADS_1


"Kenapa kamu memperhatikan jalan Widia. Yang di perhatikan itu pelajaran bukan jalan." ledek Rasyd.


"Rasyd kalau kita tidak memerhatikan jalan. Kita pasti ke tabrak," potongku membela Widia.


"Iya Liyan benar. Kamu itu Rasyd padahal wakil ketua kelas...," timpal Widia.


Rasyid menunduk menelan malu karena dia salah bicara. "Tapi 'kan, aku benar juga. Pelajaran juga harus diperhatikan," sanggah Rasyd membela diri.


"Iya. Bang Rasyd benar," sambung adikku.


Rasyid langsung tersenyum gembira karena dia mendapat sedikit udara segar dari adikku. Aku juga ikut tersenyum melihat Rasyd. Tingkahnya seperti anak-anak kecil yang berusia tiga tahun.


"Hahaha! Akhirnya ada yang mendukungku," teriak Rasyd tertawa seolah dia terlepas dari masalah yang menimpanya.


"Bang Rasyd ada benarnya juga kalau pelajaran harus di perhatikan, bahkan lebih dari itu. Kita harus memperhatikan pelajaran dengan baik," kata adikku.


"Agar kita menjadi pintar dan cerdas." Widia membantu adikku agar semuanya cepat selesai.


"Keduanya benar. Kita juga harus memperhatikan jalan dan pelajaran. Dari kalian tidak ada yang salah." Aku berjalan lurus ke depan.


"Tapi yang salah mungkin aku memperhatikan jalan terlalu lama sehingga aku hampir mau ketinggalan," cetus Widia.


"Kamu tidak terlambat, kok," sahut Fikri.


"Oeeii! Temanku." Rasyid mengayunkan tangan ke udara menyambut Fikri.


"Aku pikir kau tidak sekolah," ledek Rasyd.


"Mana mungkin Fikri tidak sekolah," ledek Widia. "Dia pasti rugi kalau kita tidak berdiri."


"Sepertinya ada yang ingin ngajak berantem, ni!" ujar Fikri. Melirik Widia dengan sinis.


"Bang Fikri! Abang di antar dengan siapa ke sini?" tanya adikku menyelidiki satu per satu.


Aku langsung menelan ludah malu melirik adikku. "Ana! Kenapa kamu bertanya seperti itu lagi? Tidak baik."


"Liyan, adikmu hanya ingin tahu saja. Tidak apa-apa. Lagian 'kan, adikmu masih kecil. Wajar dia bertanya," kata Fikri.


"Iya Kakak. Aku tidak salah. Aku hanya ingin bertanya." Adikku menatap dengan sedih.


Aku menghembuskan napas dengan kasar ke udara sambil melihat teman-temanku dengan malu.


"Liyan. Adikmu mungkin penasaran dengan Fikri. Sama seperti aku tadi. Adikmu juga bertanya seperti itu juga tadi, 'kan." Rasyd menatapku dengan datar.


"Ana! Kamu bertanya 'kan?! Tadi Abang datang ke sini jalan kaki," jawab Fikri dengan tegas.


"Berarti rumah Abang dekat, ya?!" Adikku melihat kesana kemari seakan dia mencari sesuatu.


"Iya. Di dekat sekolahan kita ini," jawab Fikri.


"Kamu dan Kakakmu mau bermain ke rumah, ya?" tanya Fikri bercanda.


Adikku yang menganggap serius. "Tidak. Aku cuman bertanya saja," kata adikku yang telah memasuki pintu kelasnya. "Aku duluan, ya, sampai ketemu lagi. Daaa!" Adikku langsung menghilang masuk.


"Liyan, adikmu lucu juga, ya." Rasyd melihatku sekilas.

__ADS_1


"Iya," jawabku.


Hari ini ada yang membuat aku semakin terharu karena Widia selamat dari adikku. Adikku sama sekali tidak menyinggung aku dan Widia. Kejadian semalam yang memaksa dia harus berubah menjadi singa.


Kali ini aku dan Widia selamat. Tapi entah sampai kapan? Adikku dia tidak akan melupakan semuanya begitu saja.


Masalah masih saja menghantuiku begitu Widia tadi mendekatiku. Kami berjalan dan berbincang dengan puas. Namun, sama sekali adikku tidak menyinggung apa pun sehingga membuatku heran.


Hal ini membuatku diliputi tanda tanya yang besar. Langkah gontaiku pun menemaniku sampai ke dalam kelas.


"Selamat pagi!" sapa Fikri melangkah masuk.


"Selamat pagi juga," Septiani segera menyahut menoleh ke arah sumber suara.


"Hai teman-teman!"Septiani langsung berlari gembira. "Kenapa lama sekali? Aku sudah dari tadi sampai.


"Sama Solihin," ledek Fikri melirik Solihin.


"Siapa yang bareng Solihin," cetus Septiani melihat ke arah Solihin.


"Kenapa kau begitu sewot?" Fikri dengan kesal bertanya pada Septiani.


"Ayo kita sekarang duduk!" Aku berjalan setelah lelah mendengar mereka.


"Liyan betul, sekarang kita meletakkan tas lalu kita keluar!" seru Widia.


Sementara Fikri dan Septiani masih saja bersitegang hanya gara-gara hal sepele. Mereka saling melepas kepergian dengan kekesalan yang menimbun.


"Fikri, kenapa kamu begitu suka sekali mengganggu Septiani?" tanyaku. Berdiri memutar badan melihat Fikri yang melepas tasnya.


"Aku tidak pernah mengganggunya." Fikri membantah.


"Lalu yang tadi itu, apa?" Aku kembali bertanya.


"Kamu ' kan tahu bagaimana Septiani. Kalau dia mengadu pada Bu Dona, kamu bakalan di hukum ," sambung Widia.


"Tapi, aku engga mungkin berdiri sendiri," balas Fikri.


Tubuh lemahku langsung diam mematung melihat mereka kembali berdebat. "Widia, Fikri jangan bertengkar. Ini masih pagi."


"Liyan! Kami tidak bertengkar. Kami cuman bertukar pendapat saja," kata Widia seakan dia menutupinya.


"Sekarang dengarkan bel. Biar kita tidak berdiri bersama," ucap Fikri memancing Widia.


Wajah Widia seketika kesal melihat Fikri keluar. "Liyan, mau berapa lama kita akan berurusan dengan Fikri," rintih Widia.


"Widia sekali lagi kau harus sabar menghadapi Fikri," kataku memahami perasaan Widia.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏

__ADS_1


❤️❤️❤️


Bersambung...


__ADS_2