
"Besok gak bakalan bisa," kata adikku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Iya kayak gitulah Kak," jawab adikku singkat.
Niat awal masuk ke dalam kamar ayah kami untuk mencari baju masih kami jalankan. "Kak, itu bajunya!" kata adikku, menunjuk sudut lemari yang sedikit gelap.
"Itu 'kan yang kau tunjuk tadi 'kan?" tanyaku.
"Iya Kak," jawab adikku. Berdiri mencermati yang dia temukan.
"Ana, itu mungkin pakaian Ayah, Dik," kataku, meliriknya.
"Kak, coba kita ambil!" seru adikku bersemangat.
Kreeek !
Bungkusan itu pun diseret adikku keluar dari dalam persembunyiannya. Bungkusan itu pun membuatku menganga dan tercengang.
"Dik, pakaiannya banyak," ucapku, melongo melihat pakaian yang terbungkus.
"Iya Kak, sekarang kita buka. Ini pakaian siapa?" tanya adikku penasaran.
Tangan kecil adikku yang selalu ingin tahu itu pun membuka bungkusan plastik yang baru kami temukan.
"Kak, ini 'kan bajunya... ." Adikku terdiam melihatnya dan refleks melirik ke arahku yang terkejut.
"Ini 'kan bajunya Ibu," ucapku, melihat baju dengan lekat. "Tapi, kenapa di sini?" tanyaku bingung, melihat baju yang banyak.
"Mana aku tau Kak," jawab adikku ketus.
Baju yang kami temukan sekarang telah terjawab dan teronggok dihadapan kami berdua.
"Kak, tapi bagus kalau itu pakaian Ibu kesayangannya Kakak," katanya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Iya, berarti Ibu kesayangannya Kakak itu mau pergi. Iya 'kan?" sambung adikku melayangkan pertanyaan kepada ku.
Seketika mulut kecilku yang pucat tertutup. Aku terus melihat adikku yang sangat senang dengan bungkusan baju yang ditemukannya.
"Kalau Ibu pergi pasti dia gak akan balik lagi?!" kataku pelan bercampur lirih.
Wajah adikku yang senang. "Lalu kenapa, Kak?" tanya adikku ingin tahu. " 'Kan enak kita gak dimarah-marahi lagi," imbuh adikku senang, menatap lekat bungkusan baju yang teronggok.
Sungguh itu sangat sedih bila terjadi. Ibu sambung yang selama ini menemani kami kini akan pergi.
"Apa kau gak merindukannya nanti?" tanyaku pada adikku.
__ADS_1
Refleks muka adikku sedikit melongo melihatnya. "Kenapa aku harus rindu?" tanya adikku.
"Karena Ibu 'kan selama udah tinggal di sini," jawabku dengan wajah sendu, melihat bungkusan baju.
"Kak, tapi 'kan dia udah jahat. Dia suka marah-marah. Ibu kesayangannya Kakak itu juga 'kan gak suka sama Kakak," terang adikku.
Sejenak aku diam sambil memikirkan yang dikatakan oleh adikku yang merasa dirinya seperti orang dewasa.
"Tapi kalau Ibu pergi. Kita gak punya teman di rumah," ucapku, melihat keluar jendela kamar ayah kami yang tinggi.
" 'Kan Ayah pulangnya cepat, Kak," balas adikku. Berdiri di depan baju.
Mendengar omongan adikku yang serba enteng dan menganggap semuanya dengan mudah malah menjadikan dia dengan mudah berucap.
"Jadi, kita enak Kak. Kalau kita mau bermain gak ada yang melarang," kata adikku senang menaikkan alisnya.
"Ana, kenapa kau cuma ingin bermain saja?" tanyaku sangat terheran melihat adikku.
Dia seakan tidak terima mendengar omonganku. "Kak, aku 'kan masih kecil," sungutnya cemberut. "Makanya aku ingin keluar bermain. Masa aku di rumah saja. 'Kan gak enak. Belum lagi mainanku di tahan oleh Ayah," sesal adikku, melihat mainannya yang teronggok di atas lemari.
Hal ini semakin ikut membuat aku sedih juga. Mengingat anak seusia kami memang sebenarnya harus bahagia dan menikmati masa kecil dengan ceria. Apalagi harus bermain bersama dengan teman-teman yang selama ini sudah menjadi bagian dari hidup kami.
"Kalau dikurung di rumah mau sampai kapan Kak?" tanya adikku kembali dengan lirih.
"Tapi, Dik. Ayah gak akan lama kok mengurung kita di sini!" jawabku menyemangati adikku.
Tumpukan baju yang barusan ditariknya kini pandangi dengan setengah hati. Muka kusut karena selama liburan sekolah tidak pernah di kasih untuk bermain semakin membuatnya seperti depresi.
"Kakak gak bohong, Dik," kataku, melihat adikku yang berdiri di sampingku. "Ayah makanya mengunci kita di dalam rumah itu karena di luar banyak orang jahat," terangku.
"Di rumah aja ada orang jahat," cetus adikku, melirikku.
Deg!
Aku semakin terhenyak mendengar kata-kata itu kembali. Sorot mataku langsung meredup tanpa berpikir panjang adikku dengan ringannya mengatakan itu kepada ku.
"Jadi, kau masih bilang kalau Kakak jahat?" tanyaku, menatap adikku.
Seketika dia diam sambil mendorong kembali pakaian itu ke dalam. "Kak, aku gak ada bilang Kakak jahat, kok," kata adikku, menatap atas lemari ayahku.
Namun, kedua sorot mataku masih terus menatap adikku yang membuang muka dariku.
"Kakak jangan menuduhku," tegur adikku.
"Siapa yang menuduhmu, Dik?" tanyaku, memutar badan melihat adikku yang keluar.
"Itu tadi barusan yang Kakak bilang," sambung adikku, menatapku.
Kepalaku semakin pusing melihat adikku yang selalu beranggapan seperti itu. Setiap saat hanya itu saja yang hanya bisa dia ucapkan.
__ADS_1
" 'Kakak juga gak sayang kok samaku. Kakak 'kan cuma sayang sama Ibu kesayangannya Kakak itu aja," singgung adikku.
"Ana, kau salah, Dik," ucapku.
"Salah apanya?" gerutu adikku, menatapku dengan sebal.
Semenjak kejadian yang sering terjadi diantara aku dan adikku jadi, dia sering salah paham terhadapku.
"Kalau kau bilang Kakak itu jahat," ungkapku, melihat adikku yang berdiri di jendela kamar kami.
Dia hanya berdiri saja menatap nanar keluar jendela melihat anak-anak yang melewati halaman kami untuk bermain.
"Kak, lihat mereka. Mereka enak 'kan bermain," teriak adikku kegirangan memanggilku. "Kak, mereka enak ya di kasih bermain," keluh adikku.
"Besok kita bilang aja sama Ayah. Kalau kita bermain keluar," ajakku, membujuknya.
"Bagaimana caranya Kak? Aku gak tau," sambung adikku melayangkan sebuah pertanyaan terhadapku.
"Ya, kita bilang aja kalau kita bosan di rumah," balasku. Berdiri di samping adikku.
"Kayaknya kita harus jujur sama Ayah. Pasti dikasih Ayah, Kak," harap adikku, melihat mereka yang tertawa.
Semakin lama ayahku pasti akan semakin baik nantinya, pikirku. Dia pasti akan memberi izin pada kami untuk bermain.
"Kak, kayaknya enak ikut permainan mereka," kata adikku yang malang.
Aku terus berdiri menemani adikku dan menatap mereka yang asyik dengan liburan mereka.
"Kalau kau mau kita bisa bermain di rumah saja, Dik," saranku.
"Engga mau Kak. Mana enak bermain di rumah," balas adikku. "Apalagi kalau sampai Ayah tau. Ayah pasti marah Kak?!" lanjutnya.
Semuanya semakin membuatku menyerah dan bingung. Aku tidak tahu apa yang bisa membuat adikku untuk tidak banyak bicara.
Hampir setiap saat dia selalu mengoceh dan mengeluh tentang orang jahat.
"Dari pada kita melihat mereka bermain. Mending kita bermain di sini saja supaya kita gak kesunyian," saranku, melihat tirai kamar yang tertutup.
Sontak adikku sedikit ikut merasakan kesedihan yang kurasakan juga. "Sunyi kenapa Kak ?" tanya adikku.
"Kita gak ada Ibu, Dik," jawabku langsung.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1