Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kejutan di pagi hari


__ADS_3

"Dari mana kau tahu kalau hanya kami berdua yang pintar ?" Aku membuka lembaran buku berikutnya.


"Entahlah! Tapi menurutku seperti itu." Widia kembali mengikuti jemariku yang lembut membuka buku.


Pelajaran semalam kini aku cari sambungannya untuk di pelajari hari ini. Itu adalah kebiasaanku mempelajari terlebih dahulu pelajaran yang akan kami pelajari saat ini untuk mencari tahu bagian mana yang tidak aku mengerti. Widia yang malas membuka lembarannya seakan bertanya dengan kertas, apakah dia ingin dibuka atau tidak?


Jemariku sontak menahan lembaran yang ingin dibukanya. Dia juga tidak mau kalah. Semakin aku menahannya dia semakin bersikeras ingin lanjut melihat yang berikutnya.


"Widia." Refleks aku memukul tangannya.


"Liyan, aku sudah selesai." Widia menaikkan pandangannya. "Kamu terlalu lama."


"Widia, aku tidak lama. Kamu yang terlalu cepat." Aku membalas pandangannya.


"Cepat bagaimana? Ini normal Liyan." Melihatku semakin kesal. Aku tidak bisa sepertimu menaruhnya, seperti lembaran didalam kepala."


"Enak sekali." Tiba-tiba pertengkaran kecil kami terhenti.


Kami langsung melihat suara yang menegur. "Tania." Suara Widia terdengar berbisik menyebutnya.


"Tania ada apa? Kenapa kamu datang kemari?" Aku yang terkejut bertanya sebab dia datang menemui kami.


"Kenapa kamu datang sendiri?" tanya Widia berputar melihat sekeliling.


"Tania! Tolong jangan ganggu kami. Kami lagi belajar." Aku memohon sambil membuka lembaran hingga tidak menentu.


"Aku tidak akan mengganggu kalian. Terkhusus kau Liyan, untuk apa aku mengganggumu." Menyeringai melihatku.


"Baguslah! Kalau begitu silakan pergi! Dan jangan kembali lagi ke sini," cetus Widia mengusir Tania.


"Oh! Jadi, kau ingin mengusirku. Berani sekali kau mengusirku. Ini 'kan, sekolahanku juga." balas Tania meninggi sehingga membuat telingaku mau pecah.


"Tania sudah! Kalian jangan bertengkar. Tania, bukannya semalam kamu sudah minta maaf dan ingin berteman 'kan?!" Aku bertanya mengingatkan Tania.


"Tapi itu hanya untuk semalam saja. Hari ini tidak lagi! Mana mungkin aku mau berteman dengan kalian. Terutama kau Liyan." Melemparkan pandangan yang menjijikan menatapku.


"Aku tahu! Aku tidak pantas berteman denganmu karena kamu anak orang kaya dan cantik," balasku dengan polos.


"Nah! Lalu kenapa kalian memohon agar aku mau berteman? cih! Kita tidak sekelas." Tania membuang wajah kejijikkannya dihadapanku.


Aku langsung menunduk menelan ludah keperihan. Jeritanku semakin kuat meraung dihatiku hingga jemariku terasa menjerit kesakitan karena remasanku.


Sementara Widia yang masih bersama denganku tidak tinggal diam, dia lalu bersuara . "Tania! Kami juga tidak sudi berteman denganmu. Kau itu anaknya jahat. Sementara kami tidak suka berteman dengan orang-orang jahat.


"Widia, kenapa kamu bilang seperti itu?" bisikku menentang Widia di telinganya. "Kalau sampai dia mengadu, kita bakalan kena marahi."


"Dan hukuman akan siap menantimu," sambung Tania yang mendengar tanpa kusadari.


Aku yang bergeming memutar badan melihatnya. Perkataannya bagaikan tamparan keras bagiku yang telah menjatuhkanku hingga terhenyak.

__ADS_1


"Tania pergilah! Hantarkan tasmu ke kelas. Aku takut sebentar lagi bel berbunyi," kataku.


"Jangan sok perhatian. Tanpa kau suruh, Liyan. Aku juga bisa pergi sendiri karena aku masih tahu arah jalan menuju kelas," timpal Tania.


"Tania, kau terlalu cerewet. Pergi dari sini segera!" Widia mendorong tubuh Tania dengan keras hingga Tania hampir mau tersungkur. "Ingat, jangan pernah kembali lagi ke sini!"


"Auuw!" Tania berteriak kaget karena dia ingin terjatuh. Wajah piasnya menatap kami berdua dengan tajam dan mengancam.


"Widia!" Aku memanggilnya dengan panik. Melihat Tania yang berjalan meninggalkan kami pergi kembali ke dalam kelas.


"Dia sudah pergi Liyan!" Widia memutar badan merapikan pakaiannya dan menetralkan raut wajahnya serta mengatur napas agar tenang.


"Tapi tidak ada yang melihat kita 'kan." Aku berputar melihat. "Atau yang mendengar." Menatap seluruh area sekolah yang terhubung dengan kami.


"Kenapa kau panik, Liyan? Tidak usah terlalu diambil hati." Menjatuhkan tubuhnya yang lemas.


"Aku engga bakalan bisa tenang Widia. Kau tahu bagaimana Tania 'kan? Dia lebih berbahaya dari pada Ecy." Aku mengambil buku yang terjatuh.


"Jangan di ingat kembali. Nanti yang ada kau semakin sakit. Malah, kau akan di marahi oleh Ayah dan Adikmu." Widia semakin gerah melihat kecemasanku.


"Aku masih gemetar Widia. Aku tidak bisa melakukan apa pun saat ini." Menjatuhkan rintihan tubuhku yang lemah.


Sesaat aku terpaku dalam, mengingat kejadian tadi. Tatapan nanar yang sayu kembali tertoreh di udara yang lebar terbuka.


Sepatuku sampai terasa longgar. Kakiku yang sudah lama terlihat lemah, merasa risih. "Widia, tadi pembelajaran kita sudah sampai dimana?" Menunduk mengikat tali sepatuku dan mengganti arah pembicaraan untuk melupakannya.


"Hari gini, kita baru lelah. Kau menanya 'kan pelajaran. Liyan lupakanlah itu sejenak. Aku tidak sanggup mendengarnya," sungut Widia.


"Liyan, bukan itu maksudnya. Saat ini aku masih kacau setelah Tania tadi menyerang kita di sini. Aku belum bisa melupakannya." Menatap jalan yang di lalui Tania.


"Aku juga terkejut." Melepaskan tali sepatu yang telah selesai kusimpul. "Sampai pelajaran yang tadi aku baca langsung hilang."


"Hahaha!" Widia spontan tertawa lepas. "Liyan kau lucu sekali. Hilang kemana?"


"Kalau hilang lapor saja!" sambung seseorang tanpa kami sadari. "Apa yang hilang?" tanya Septiani setelah melihat kami.


Aku yang mendadak terkejut memutar kepala ke suara yang kami dengar. "Bukan apa - apa Septiani," jawabku menetralkan sambil membuka buku kembali.


"Apa tugasmu sudah selesai?" tanya Widia melihat Septiani dengan lekat.


"Sudah. Aku sudah menyelesaikan semuanya," jawab Septiani sambil menggeser duduknya di dekat kami. "Aku lelah. Aku duduk dulu. Geserlah sedikit, terlalu sempit," pinta Widia.


"Apa tugasmu terlalu berat sehingga kau mengeluh seperti ini?" tanyaku menatap Septiani yang terkulai.


"Bukan Liyan. Tugasku tidak terlalu berat." Septiani mengatur napasnya.


"Lalu." kataku.


"Yang paling berat adalah disaat Tania masuk kelas." Wajahnya seakan merintih kesakitan.

__ADS_1


"Ada apa dengan Tania?" Pikiranku terus bergelut dengan tanda tanya.


"Kalian tidak melihatnya begitu. Aku rasanya ingin membuangnya jauh-jauh dari kelas." Septiani mengepal.


"Coba aku tebak! Tania pasti telah memarahimu, ya ' kan," Widia tertawa terbahak menggoda Septiani dengan wajah depresi.


Septiani bergeser sedikit. "Kau senang sekarang, ya. Melihat temanmu tertekan." Septiani yang menenangkan diri.


"Kita bertiga bersahabat. Kita pasti akan bisa melawannya." Widia terlihat seperti depresi.


Aku geli menahan tawa melihat teman-temanku telah masuk dalam lingkaran depresi yang diciptakan oleh Tania. Begitu sedih wajah mereka pagi ini. Sebenarnya, aku pun demikian, tapi aku yang bijak tidak mau terpancing dengan itu seterusnya.


"Teman-teman, kita pasti akan menang menghadapi Tania dan Ecy." Aku membangkitkan semangat mereka.


"Jalan satu- satunya, kita harus pindah kelas," saran Septiani.


"Mana mun...". Aku terhenti mendengar suara asing dari jauh menunjuk ke arah kami.


"Itu, itu, itu mereka!" terdengar suara serangan mendekati kami.


"Kalian masih di sini !" kata Fikri menahan suara kerasnya.


"Fi- Fikri !" Sontak Septiani seperti di sambar petir melihat Fikri. Wajahnya langsung berubah menciut.


Aku dan Widia juga ikut takut melihat mereka. "Fikri, sebenarnya ada apa?" tanyaku yang tidak mengetahui.


"Septiani ternyata, kau duduk di sini !" keluh Rasyd dengan kesal.


"Fikri 'kan, menyuruhmu untuk memanggil mereka kembali ke kelas karena kita beberapa menit lagi akan bel," cetus Solihin.


"Aku tahu. Tapi jangan tunjukkan wajah kalian seperti itu. Aku lupa." balas Septiani membela diri.


"Septiani. Apa yang ada di ingatanmu?" Keluh Fikri dengan kesal. " Sekarang kita kembali ke kelas. Tidak usah berdebat lagi. Ayo!" Fikri melangkah lebih dulu.


Kami bertiga pun menatap satu sama lain melihat Fikri, Rasyd dan Sholihin yang telah meninggalkan kami di belakang.


"Ini semua gara-gara Tania," rintih Septiani tidak terima.


"Bukan salah Tania. Kamu yang lupa," sambung Widia.


"Jangan bertengkar lagi. Sekarang kita cepat jalan, ayo!" Mengajak mereka berjalan lebih dulu.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏

__ADS_1


❤️❤️❤️


Bersambung...


__ADS_2