
"Kita pasti bisa Kak memasangnya," kata adikku. Sok hebat.
"Hahaha!" Aku puas terbahak mendengar omong kosong adikku. "Setelah kita pasang, terus lampunya kita apa-in?" tanyaku terdengar konyol, melihat adikku yang jengah mendengar.
"Kak, kalau sudah kita pasang, kita elus biar keluar jinnya," balas adikku dengan konyol juga, menatapku sebal.
Kami yang sedari tadi di dalam kamar lalu diam dan tidak berkata-kata lagi. Wajah membisu di antara kami berdua pun semakin hening.
"Kak, lihat ini kotaknya semakin peot," kata adikku dengan senang melayangkannya dihadapanku.
Spontan aku langsung menyeret tungkai kaki yang setengah terseok-seok menghampiri adikku yang selalu menjahili.
"Ana, ini 'kan jadi rusak!" jeritku sedih. Melihat kotak yang semakin peot dengan mata berkaca-kaca.
Brak!
Tangan kecil adikku memutar badanku pelan dan menatap mendongak karena dia lebih kecil dariku. "Kakak nangis, ya?" tanya adikku heran bercampur sesal.
Sungguh aku tidak mau memutar badan melihat adikku yang menarik dengan tangan kecilnya. Kotak yang semakin peot aku tatap bersama air mata yang setitik menetes di atas kotak.
"Kak, aku minta maaf," ucap adikku melihat dengan sedih. Menunduk menjatuhkan tubuh kecilnya di atas lantai. "Kalau aku sudah merusaknya, besok akan aku cari kotak baru Kak, ya!" bujuk adikku dengan lembut mengiba. Menunjukkan mukanya sedikit takut.
Air mata semakin jatuh menetes dan kotak yang peot pun aku letakkan di atas tumpukan kotak yang bagus. "Ana, Ibu pergi!" kataku sedih bercampur air mata, melihat ke arah tirai.
"Jadi kenapa, Kak?" tanya adikku ikut sedih.
"Kita sama siapa? Ini udah mau malam," tanyaku. Berjalan berdiri di depan jendela.
Sepertinya adikku ikut sedih berdiri di belakangku. Jendela yang masih terbuka terus menemani menit-menit kami hari ini.
"Nanti kalau malam, kita sama siapa?" tanyaku lirih bergumam, melihat daun yang kering.
"Kak, Ayah 'kan pasti pulang?!" kata adikku memberi jawaban.
"Kalau lama kayak mana?" tanyaku, memutar badan melihat adikku yang sedih.
Pikiran adikku sepertinya memikirkannya sambil menggerak-gerakkan kaki kecilnya. Memutar duduk sambil menatap ke arahku.
"Kita 'kan berdua, Kak," sahut adikku, merapikan kotak yang sudah rapi.
"Tapi Kakak takut, Dik," kataku mengadu, melihat tangan adikku yang menyentuh kotak.
"Kakak jangan takut, 'kan ada aku," ucap adikku menyemangati, meletakkan tangan di atas kotak.
__ADS_1
Sejenak aku merasa terharu mendengar adikku yang dewasa. Semakin hari dia semakin bijak, sok dewasa dan semakin cerewet, pikirku. Aku senang melihatnya.
"Iya, Kakak tau, Dik. Tapi Bagaimana dengan itu?" keluhku bertanya, melirik ke arah pintu kamar yang paling atas.
Mainan yang dimainkan adikku langsung terjatuh pelan. "Kakak jangan takut! 'Kan udah kubilang ada aku, Kak," balas adikku, nyerocos, melihat aku yang masih berdiri.
"Kau itu 'kan masih kecil. Mana mungkin kau bisa?!" ucapku sepele. Memutar badan melihat keluar.
"Kak," panggil adikku menarik bajuku dari belakang.
Aku langsung menoleh kebelakang. "Ada apa?" tanyaku, melihat adikku yang sendu.
"Kak, nanti kita berdua aja yang masang lampunya," ucap adikku, melihatku yang lebih tinggi darinya. Belum melepaskan bajuku.
Begitu senang aku mendengarnya dan melihatnya. "Kau mau?" tanyaku sumringah, menatap adikku.
Adikku langsung sumringah. "Mau Kak. Lampunya 'kan tinggi. Mana mungkin Kakak bisa sendiri," papar adikku, menatapku.
Mendengarnya aku langsung senang. "Iya, Dik. Kau mau?" tanyaku bahagia. Berdiri menatap adikku yang cemberut manja.
"Eem. Aku mau. Biar Kakak gak kepayahan," ucap adikku serius.
Wajah imutku pun langsung tertoreh senang mendengarnya. "Kakak senang, Dik. Kalau kayak gitu," balasku senang.
Sejenak adikku diam dan melihat kain yang kami lipat berdua. "Maksudnya kita mau bilang apa, Kak?" tanya adikku terheran.
Kedua bola mataku melebar ke samping kiri melihatnya. "Tentang Ibu, Dik," jawabku sendu, melihat kain yang sudah siap kami lipat.
"Kakak, kenapa mengingatnya?" tanya adikku sebal.
Kain yang sudah terlipat pun, kami taruh di atas tempat tidur. "Karena dia Ibu kita, Dik," jawabku menunduk lesu, melihat tungkai kaki.
"Engga! Itu bukan Ibuku. Itu hanya Ibunya Kakak," bantah adikku. Berjalan membuka sedikit tirai.
Sungguh aku terdengar sedih ketika mendengar bantahan adikku berkali-kali. "Ana, tapi 'kan, Ibu udah menjaga kita," kataku. Berdiri miring melihat adikku.
Begitu mendengarnya. "Kak, aku cuma punya Ayah," sahut adikku berwajah masam bercampur cemberut.
Kedua sorot mata pun langsung menunduk lesu. "Kakak tau, Dik. Kalau kau cuma sayang sama Ayah," balasku, melihat ujung kaki.
Tubuh kecil adikku langsung keluar melangkah meninggalkan aku. "Kak, aku cuma sayang Ayah. Bukan yang lain," sahut adikku dari luar.
Tungkai kaki yang lemah pun langsung kuseret melihat adikku yang keluar. "Ana, kalau Ayah nanti nanya, siapa yang masang lampu kita bilang apa?" tanyaku, melihat adikku yang terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
__ADS_1
"Bilang aja kita, Kak," jawab adikku langsung. Berjalan masuk kamar Ayahku.
Terkejut bercampur heran aku langsung menghampirinya. Tungkai kaki yang lemah ini pelan-pelan kuseret melihat dia yang berdiri di depan lemari Ayahku.
"Ana, kau lihat apa?" tanyaku, melihat adikku.
"Aku melihat itu Kak," balas adikku, memutar kepala menoleh ke arahku.
Wajah imutnya yang manja langsung kutatap sedemikian rupa. "Ana, Ayah pasti akan memberikannya padamu?!" ucapku sendu. Berdiri di depan jendela.
"Aku gak tau Kak," balasnya lagi dengan sedih.
Seketika aku pun diam menunduk. Bagaimana tidak? Adikku sangat sedih karena Ayahku menahan mainannya.
"Ayah gak akan lama kok menaruh itu di situ!" tuturku, menghilangkan sedih adikku agar dia tidak memikirkan itu setiap hari.
"Tapi si Dottie-ku Kak, pasti kotor," rintihnya, melihat ke atas lemari.
"Kalau kotor kita ganti aja bajunya," ucapku pelan, selangkah masuk.
Tatapan adikku langsung menoleh ke arah kedua jenjang kaki. "Kak, Ayah gak mungkin mau ngasihnya," sambung adikku yakin.
Seketika aku langsung diam membisu menyimak yang diucapkannya. Memang ada benarnya juga yang dikatakan olehnya.
Rumah yang hanya ada kami berdua masih hening tanpa suara pekikkan. "Kak, kalau Ayah gak mengembalikannya lagi, pasti aku gak ada teman lagi," ucapnya lirih, melihat lemari dan diriku yang bersitatap dengannya.
"Kakak yakin Ayah, pasti akan mengembalikannya padamu?!" lanjutku.
"Aku gak percaya, Kak. Buktinya Ayah diam aja," sambung adikku. Berdiri dan sedih melihat mainannya yang teronggok di atas lemari.
"Karena Ayah lagi sibuk," balasku enteng.
"Kakak sok tau," timpal adikku, menyeringai.
"Memang iya, Dik. Ayah 'kan tadi buru-buru mau kerja," ucapku, melihat adikku yang jengah.
Sorot matanya langsung menatap dengan pandangan kosong yang bercampur aduk. "Cuma Kakak yang bilang kayak gitu," sambung adikku.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...