
Bukunya pun dia masukkan ke dalam tas lalu mengancingnya dengan kuat agar tidak ada yang berserakan.
"Tapi 'kan bukunya gak mahal," sambungku. Melihat adikku sebal.
Setelah itu aku pun diam karena tidak mendapatkan balasan dari adikku yang masih diam dan menyusun tasnya. Aku kemudian lalu memalingkan muka darinya dan meninggalkan perdebatan kami lagi dan memutar kepala kesamping kanan melihat kotak P3K yang terletak.
Aku kemudian bangun dari duduk dan berdiri memegang kotak P3K dan menyimpannya di tempat yang aman. Kembali aku memutar badan miring kesamping kanan melihat adikku yang cemberut keluar dari kamar.
"Ana, es lilin harganya 'kan murah," kataku. Melirik adikku di ikuti oleh kedua tangan menyimpan kotak . "Uang Ayah gak akan abis," sambungku sambil memutar badan mengikuti langkah kakinya.
"Tapi aku gak mau. Nanti uang jajanku gak ada," balas adikku. Melihat jendela yang terkunci rapat.
Aku lalu diam menunduk seperti orang yang bersalah. Memutar badan melihat kedua tangan yang menyimpan kotak P3K itu.
"Kalau Kakak mau. Beli saja pakek uang Kakak sendiri," titah adikku acuh. Berdiri terus menatap jam dinding yang berputar. "Ayah 'kan bilang, kalau dia cari uang untuk jajanku dan beli sendal baru," tandasnya. Melihat jam seakan jam itu mengingatkan dia yang lupa tentang ucapan ayahku itu.
Aku tetap diam dan berdiri membelakanginya. Ocehannya masih kudengarkan dengan senang hati.
"Ana, Kakak cuma minta uang Ayah dikit aja," kataku. Melirik adikku. "Cuma beli es lilin satu ajanya," tandasku. Melihat adikku dengan raut muka mengiba.
"Engga boleh. Nanti uang Ayah abis. Aku gak bisa jajan nanti," kata adikku protes. Memutar badan sedikit miring menoleh ke arahku.
Aku semakin kesal dan mengerucutkan bibir manyun ke depan. Sesekali aku menarik bibir memelas karena geram mendengar adikku yang terlalu protes dengan ku. Diri yang kesal bercampur cemas karena ayah dan ibu sambung kami belum juga datang meringis sebal menggerutu di dalam hati melihat pintu dan jendela yang tidak bisa aku gapai.
Tatapan mata yang sayu dan bening ini pun tanpa henti menatap pintu yang masih terkunci. Tubuh mungil yang sedikit membaik begitu senang ketika tangan ini sudah selesai meletakkan kotak P3K.
Namun, di sisi lain adikku masih menatap ke arah dinding di mana jam tergantung di sana. "Kenapa Ayah belum pulang juga?" gumamnya kecil bertanya. Melihat jam dan pintu serta jendela. Seakan adikku berharap kalau jendela itu lebih dulu terbuka sekarang tanpa harus menunggu ayah kami.
"Jendelanya gak boleh di buka," kataku dengan penuh penegasan. Melihat adikku yang bermuka masam padaku.
"Gak usah banyak bicara, Kak," balas adikku kurang senang langsung. Melayangkan sorot mata tajam melihat ke arah wajahku yang pucat.
Aku sontak menjatuhkan kepala melihat ke bawah seakan malu. Menutup bibir yang menahan ketakutan ketika suara adikku menyindir pedas.
__ADS_1
Hahaha! Suara tawa anak-anak terdengar dari luar. Refleks aku langsung memutar kepala sambil menganga terperanjat.
Tuk! Tuk! Tuk!
Aku pun langsung berlari kencang masuk kamar. "Hai, kalian mau kemana?" tanyaku sok ramah pada mereka yang lewat. Berdiri di depan jendela kamar yang terbuka.
"Kami mau ke sana, Liyan," jerit mereka. Berhenti melihatku yang berdiri di depan jendela yang menatap mereka dengan penuh harap, kalau aku besok pasti bisa keluar bermain seperti mereka, pikirku menatap mereka yang riang.
"Kalian enak bisa bermain," kataku mengadu pada mereka.
"Makanya, kau keluar Liyan, Mari sini! Kita bermain kelereng," ajak mereka. Mengayunkan tangan dari jauh.
Aku langsung sedih bercampur harap. "Aku gak di kasih keluar," balasku dari jauh. Berdiri di depan jendela kamar dan melihat mereka dari jauh berdiri yang menunggu jawaban dariku.
"Ya udah lah Liyan. Kita bermainnya besok aja," kata mereka bercampur kecewa meninggalkan aku yang berdiri di depan jendela.
Aku sangat sedih bercampur manyun melihat diri ini yang terkurung di dalam rumah. "Heeei, besok kalau aku di kasih keluar kita bermain, ya!" teriakku dengan bujukan mengiba. Melihat mereka yang memutar badan kembali berhenti melihat ke arahku.
"Iya, besok datangi ke rumahku, ya," balasnya.
Mendengarnya aku langsung murung dan menjatuhkan pandangan ke bawah melihat jemari kecil yang terasa dingin ini menempel di atas jerejak jendela kayu.
"Tunggu aku juga besok, ya!" teriak adikku langsung dari belakang.
Aku langsung tersentak memutar kepala ke belakang melihat adikku yang berteriak secara langsung. Berdiri tegak menatap keluar jendela.
"Hei, kalau kalian bermain besok jam berapa ?" tanya adikku ingin tahu. Menghampiri jendela dan berdiri tepat di sampingku. "Karena kalau aku terlambat bangun, Ayahku sudah pergi kerja," sambungnya memberitahu dengan senang hati pilu.
"Kami belum tau," katanya.
"Karena aku juga payah bangun," cetus salah satu dari mereka. Berdiri sambil membawa plastik biru.
Aku langsung menyambutnya meski bercampur dengan sedikit khawatir terhadap adikku yang lagi sedang marah padaku.
__ADS_1
"Jadi, kau besok mau main-main?" tanyaku. Melirik adikku.
"Iya, aku mau main-main sama orang itu," jawab adikku lugas.
Aku memutar badan langsung. "Ya udah. Kalau aku pasti gak di kasih Ayah," balasku menunduk lesu. Berjalan memainkan anak Bp-ku lagi.
Braaak!
Mainan itu pun kembali berserakan di atas lantai. Kotak pensil yang sudah pecah pun aku pakai sebagai alat bermainku.
"Kak," panggil adikku. "Kotak pensil Kakak rusak, hahaha! Punyaku masih bagus," ejek adikku dengan sindiran garing. Berdiri dengan memiringkan tubuhnya melihat kotak pensil, di ikuti oleh sebelah tangan kanannya memegang jendela dan membelakangi tirai ketika aku melihatnya sekilas.
"Biar aja! Yang penting masih bisa di pakek untuk bermain," ungkapku membalas ejekan adikku.
"Uiiiiis,"balas adikku langsung menyeringai sinis. Memutar kepala membelakangiku melihat ke luar jendela. Mendesis.
"Kotak pensilnya rusak," ejek adikku. "Udah pensilnya dikit, penggarisnya pun gak ada, cih," timpalnya dengan puas.
Jemari yang lemah pun tetap berlanjut menyusuni kotak pensil dan yang lainnya. Tidak ketinggalan juga kertas warna -warni yang ketahuan oleh adikku pagi ini ikut membantu melengkapi permainan ini.
Kertas warna -warni itu aku buat sebagai alas kotak rokok kecil yang sudah terbuang untuk tempat tidurnya.
Hahaha ! Aku kini tertawa sumringah di dalam hati agar tidak ketahuan olehnya kalau aku hari ini sangat bahagia.
"Pagi dan malam masih aja main itu," ungkap adikku pias.
Anak Bp yang terletak dihadapanku semakin seru kumainkan meskipun adikku terus mengomel seorang diri.
Kotak-kotak kecil bekas yang banyak terkumpul olehku pun aku susun secara bertingkat untuk rumah dari anak Bp yang sedang kumainkan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...