
"Kak, aku lapar," ucap adikku sedih.
Jemari tangan yang penuh dengan bumbu mengayun di udara dan tertutupi oleh kedua tubuh kami yang duduk.
"Kak, aku pengen makan," kata adikku mengiba.
Sontak aku terperangah mendengarnya. Betapa kasihan sekali adikku dan diriku saat ini. "Dik, sebentar lagi Ayah pulang ," bisikku, menenangkan adikku.
"Jam berapa Kak?" tanya adikku.
Aku sangat diam dan bingung harus menjawab apa. Sementara dari adikku sendiri sampai sekarang masih meminta ingin pulang.
"Kakak gak tau, Dik. Ayah pulang jam berapa ?" ucapku bertanya bingung.
"Kak, kalau Ayah pulang malam kayak mana?" tanya adikku gelisah.
Lama kelamaan aku tidak sanggup menjawab pertanyaan adikku yang terus menerus bergulir.
"Mungkin kita akan tetap di sini," jawabku langsung.
Menunduk sedih itulah yang terlihat di wajah adikku. Sungguh kesal dirinya karena kalau sampai yang kukatakan benar. Tinggal satu jam lagi di sini bagaikan menjerumuskan diri di dalam lembah api yang membakar.
"Kalau Ayah lama pulang. Aku pulang sendiri," tandas adikku sudah tidak mau mendengar apa pun lagi.
Dada ini terasa sesak ketika aku melihat wajah adikku yang murung tidak bersemangat. Dia sangat marah ketika mendengar yang kukatakan. Ingin rasanya dia segera berlari meninggalkan rumah kerabat ayah kami.
"Kalau Kakak mau di sini. Kakak di sini saja," kata adikku. "Aku gak bakalan mau lagi tinggal di sini," lanjut adikku berterus terang.
Sungguh pahit rasa adikku ketika memasuki rumah yang setengah terbuka bagi kami. "Kak, aku lebih baik tinggal di luar hujan-hujanan dari pada harus dititipkan Ayah di sini!" gerutu adikku protes.
Sejenak aku berpikir dan menatap adikku yang cerewet. Udara sore yang sedang berembus kencang menerpa rambut ini menutupi sebagian wajah pucat yang ingin istirahat.
"Kalau kita hujan-hujanan, kita nanti bisa sakit , Dik," balasku.
"Kak, dari pada kita harus di sini. Lebih baik kita di luar sana," sesal adikku melihat kecerobohan ayah kami. "Kakak tau orang ini gak ada yang baik," ungkap adikku sebal.
Sekuat hati aku menahan untuk berucap demi kekesalan adikku yang sudah menganak di dalam diri.
"Kalau Kakak mau di sini. Kakak saja yang tinggal di sini. Aku gak mau," ucap adikku menolak dengan keras. "Ayah, suka kali datang ke rumah kerabatnya ini!" keluh adikku sebal.
Warung jajan yang sedari tadi kami tatap masih saja menari-nari di depan mata yang sayu. "Ana, nanti kalau Ayah pulang, kita jadi, gak beli jajan?" tanyaku mengalihkan kekesalannya.
Dengan cemberut kesal adikku menjawab. "Aku malas. Aku mau pulang saja!" kata adikku ketus.
Melihat adikku yang semakin memanas, aku tidak lagi berani bertanya apa pun padanya. Duduk di depan pintu menahan perut yang lapar membuat wajah pucatku teriris pedih.
__ADS_1
"Kakak tau gak? Aku sudah lapar!" teriak adikku melayangkan pertanyaan.
Aku sangat malu dan menutup mulut ini. Sekilas aku melirik ke belakang melihat dua orang yang duduk di belakang.
"Kau lapar ya?" tanya wanita itu.
Aku dan adikku lekas melirik dan diam. Perut yang sudah lapar semakin berbunyi. Sekuat mungkin aku menahannya sambil menelan ludah.
"Kalau kau lapar. Kau mau makan apa? Nasi dan lauk tinggal dikit lagi," tanya wanita itu berpura merasa sedih. "Tunggu la, ya. Bibi masak dulu nasinya," ucapnya berat hati.
Namun, aku dan adikku masih saja diam dan tidak menjawab sedikit pun. Jalan yang terlihat dari depan pintu terus menerus aku tatap melihat ayahku yang akan kembali.
"Ayah belum juga datang," bisikku cemas.
"Kak, aku takut kalau Ayah pulangnya malam," sungut adikku sedih.
Sedihnya semakin membuatku sedih juga. Mukanya yang murung semakin meremas jemari ini dengan kuat.
"Ana, jangan bilang gitu! Ayah sebentar lagi pulang, kok," bisikku pelan.
"Tapi aku lapar, Kak," sambung adikku, melayangkan tatapan yang penuh harap kalau ada yang datang memberinya makan.
"Ana, tapi tadi 'kan kita udah makan," ucapku.
Seketika aku sangat gusar. Langkah ayah tak kunjung jua terdengar. Jam dinding semakin berputar. Perut yang lapar pun semakin melilit.
"Ana, besok kita gak usah ikut ke sini lagi," usulku. Duduk sambil melihat adikku yang kelaparan.
"Iya, Kak," jawab adikku dengan gurat wajah menahan lapar bercampur sedih.
Jajan terus saja menggoda inginku yang segera mungkin untuk membelinya. Depan pintu yang menjadi tempat duduk kami sore ini sampai lelah kami duduki.
"Ma, ini udah sore. Pintunya gak ditutup?" tanya anaknya yang tidak begitu menyukai kami.
Suara sang ibu dari belakang tidak terdengar menjawabnya. "Ma, kalau pintunya dibuka aja. Nanti banyak nyamuk," sambungnya kembali.
Lagi-lagi suara sang ibu belum juga terdengar. Telinga yang menajamkan pendengaran kini mendengarkan desissannya.
"Kak, kita kayak mana? Ayah belum pulang?" tanya adikku panik.
Melihatnya yang panik. Aku tidak lagi merasa karuan. Kerisauan pun semakin menyerang diri yang tidak tahu apa-apa.
"Kak, mereka mau tutup pintu," bisik adikku kembali panik.
"Ma, sebentar lagi malam. Jangan dibuka aja pintunya!" katanya terus dengan nada suara penuh kebencian.
__ADS_1
Perut yang lapar semakin terasa menyiksa. Uang jajan yang tidak banyak tidak ingat kubawa.
Huhuhu!
Adikku semakin sedih. Suara tangis pun mendadak keluar mengusik pendengaran yang tiada henti mendengar ocehan ibu dan anak dari belakang.
"Ma, besok gak usah kasih lagi orang datang ke sini," sindirnya sambil melintas dari belakang kami.
Ibunya hingga saat ini masih diam. Aku sendiri tidak tahu dia diam, suka atau tidak. Tapi yang jelas semenjak dari tadi aku belum memutar duduk melihat ke arah mereka.
"Kalau Ayah nanti pulang, aku mau bilang kalau mereka itu jahat, Kak," bisik adikku pelan. Duduk di sampingku yang menunggu ayah kembali.
"Dik, kalau nanti Ayah lama pulang kita di mana?" tanyaku polos.
"Aku gak tau, Kak," jawab adikku, menatap ke badan jalan.
"Ayah, udah tau kita di sini tapi pulangnya lama," keluhku, menatap badan jalan dengan kesal.
Mereka berdua pun terdengar sangat sibuk seolah mereka menyuruh kami pulang. Suara dentingan yang terdengar dari belakang seakan mendesak kami harus pulang segera.
"Ana, kita tunggu Ayah di sana, yuk!" ajakku, melihat badan jalan.
"Ayo, Kak!" sambut adikku.
"Siapa tau Ayah ada di sana?" kataku, melayangkan pertanyaan kepada adikku. Bangun dan menarik tangannya.
"Iya, Kak," jawab adikku langsung berdiri dan mengikuti langkahku.
Badan jalan yang di lalui oleh orang -orang terus kami tatap demi menemukan ayah yang belum juga kembali.
Pluk!
Suara terdengar dengan keras dari belakang. Sepertinya itu adalah suara pintu. Aku yang berdiri di depan badan jalan bersama adikku tidak menoleh ke arah belakang.
"Kak, Kakak masih lapar?" tanya adikku, menatap dengan sendu.
"Iya," jawabku singkat, melihat ruas jalan yang panjang.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1