Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Gambar di bawah pohon


__ADS_3

Aku langsung melihat adikku. "Ana, kau engga boleh bilang kayak gitu. Dosa, Dik," kataku memberitahu tahu.


"Aku tahu Kak. Itu dosa! Tapi Ayah sudah tidak mendengarkan kita lagi," cetus adikku. "Kakak dengarkan tadi.... ." Adikku diam. "... aku sudah merengek merayu Ayah, tapi Ayah sama sekali tidak mau mendengarnya." Adikku berjalan sedikit marah.


Aku pun hanya diam saja sambil menghampiri jemuran yang tidak jauh dari rumah. "Aku 'kan, cuman mau bermain," kelakar adikku. "Masa di suruh Ibu tersayang, Kakak itu! Kita mengangkat jemuran." Adikku dengan kesal menatapku.


" 'Kan sekalian jalan," kataku sambil mengambil pakaian.


"Iya, iya! Sekalian jalan." Adikku mengalah. "Memang benar, Kak. Adikku dengan terpaksa membantuku mengambil pakaian. "


"Dik, kalau kita melaksanakan perintah orang tua, itu pahala," kataku dengan pelan menasihati.


Seketika adikku pun diam saja. Dia malah terus mengambil pakaian. Aku melihatnya sambil mengambil pakaian selanjutnya. " Ana, seharusnya kita membantu pekerjaan orang tua. Agar pekerjaan mereka cepat selesai," imbuhku. Yang telah bersiap-siap telah masuk ke dalam rumah meletakkan pakaian.


"Kalau memang begitu. Kenapa Ayah tidak menyuruh kita membantunya?" tanya adikku sedikit protes. "Ini malah, Ayah mengerjakannya sendiri." Adikku meletakkan pakaian.


"Karena Ayah tidak mau merepotkan kita," jawabku. Merapikan pakaian.


"Tapi 'kan, Kak. Kalau kita mau. Itu 'kan tidak merepotkan kita," tandas adikku. Menyorong keranjang ke sudut dinding.


Aku sambil membantu adikku. "Itulah bedanya Ayah dengan kita," tuturku. "Ayah itu adalah orang tua yang sayang pada Anaknya." Menatap adikku. "Makanya, Ayah tidak pernah menyuruh kita." ucapku.


"Tapi kenapa malah wanita itu yang menyuruh kita?" tanya adikku kembali.


"Ana, mungkin Ibu sayang pada Ayah. Makanya, Ibu menyuruh kita. Supaya Ayah tidak terlalu lelah, Dik," sambungku.


"Sayang dari mana, Kak?!" Adikku menarik lenganku keluar. " Dia 'kan, menjebak Ayah... ." Adikku melihatku. "... makanya Ayah menikahinya..., iya 'kan, Kak?" Adikku dan aku terus berjalan menghampiri pohon jambu yang rimbun.


Aku tidak bisa lagi berkata-kata setelah mendengar omongan adikku. Aku lalu menjatuhkan tubuh mungilku yang lemah ini duduk di atas ban. Memori itu seakan membunuh semua jalan hidup yang aku lalui.


Mata yang bening ini pun langsung menatap lurus ke depan dengan kosong. Sekilas kejadian buruk itu menguras semua emosionalku tentang ayahku yang malang.


"Kakak sekarang terdiam 'kan. Setelah mendengarnya." Adikku pun duduk. "Mungkin selama ini Kakak melupakannya," bisik adikku di telingaku. Tapi, aku tidak, Kak," imbuhnya.


Adikku ada benarnya juga. Aku telah melupakannya dengan sejak lama. Sejak itu aku tidak lagi mau mengingatnya. Kejadian itu begitu miris menimpa ayahku yang malang. Wanita yang seharusnya menjadi kehormatan untuk keluarganya kini malah merusak nama baik orang tua dari dua orang anak perempuan.

__ADS_1


Itulah yang membuat adikku begitu membencinya dan tidak mau memanggilnya dengan sebutan Ibu. Di tambah lagi, adikku memang masih mencintai ibuku yang telah tiada. Ibu yang telah melahirkannya. Kini hanya diri ibuku lah yang bertahta di dalam hatinya dan juga hatiku.


Sepintas aku memutar kepala melihat adikku. Aku yang memandangnya seakan berbicara kalau semua yang di katakannya adalah benar.


Adikku yang masih saja melihat tanah yang di tulisnya dengan ranting pohon, begitu serius melihat coretannya itu.


"Kak, Kakak tahu apa bacaannya ini?" tanya adikku sambil melihat tanah.


Aku pun langsung tersentak dari lamunanku. "Bacaan mana?" tanyaku sambil melihat tanah.


"Ini," kata adikku.


Kedua bola mataku langsung berbinar melihatnya. "Ana cantik sekali gambaranmu." Aku tersimpul manis memuji adikku. "Bukannya, tadi pakai bacaan?" tanyaku heran sambil mencari -cari bacaan di atas tanah.


"Bacaannya engga ada, Kak," jawab adikku. "Aku hanya menggambar ini saja." Adikku tersenyum mengatakannya.


"Loh, tadi 'kan, kau bilang, lihat bacaan!" kataku komplain.


"Hihihi!" Adikku tertawa geli. "Aku engga ada menulis bacaan, Kak." Adikku menatap lekat gambarnya. "Aku memang sengaja sedikit berbohong pada Kakak, hahaha!" Adikku tertawa puas karena telah mengelabuiku.


"Yaaa, mau gimana lagi, Kak. Keadaan yang membuat aku harus berbohong," ujar adikku sama sekali tidak merasa bersalah. "Kalau aku jujur. Aku bilang aku menggambar. Kakak pasti tidak akan mau melihat gambarku," imbuhnya.


"Yaaa, tuh! Kau tahu sendiri jawabannya," ucapku.


"Makanya aku bohong," kata adikku dengan tenang. "Karena setiap kali kubilang aku menggambar Kakak tidak pernah mau melihatnya," sindir adikku dengan sedih.


"Uuuhhhmm! Adikku yang manja ini sudah pandai berbohong, ya, haaa?!" Aku mencubit kedua pipi adikku dengan gemas.


Aku yang merasa tersindir. "Kakak bukannya tidak mau melihatnya," balasku. "Tapi Kakak sedih. Kau selalu menggambar Ibu." Aku menatap lurus ke depan dengan nanar. "Jadi, Kakak teringat dengan Ibu," imbuhku.


"Tapi ini 'kan, bukan Ibu saja, Kak," tutur adikku.


"Iya, yang ini memang bukan Ibu saja." Aku menunjuk gambar dengan kedua mataku. "Tapi yang itu 'kan, gambar Ibu," tandasku.


"Iya," jawab adikku. "Ini memang gambar Ibu," sambung adikku menunjuk gambar wanita memakai gaun peri. "Ibu pasti cantik, Kak. Memakai pakaian ini di surga." tutur adikku.

__ADS_1


Wajahnya sangat manis tersenyum. "Adikku begitu merindukan ibuku yang telah lama berpulang. "Kak, apa kita nanti akan bertemu dengan Ibu?" tanya adikku.


"Ibumu yang mana?" tanya ibu sambung kami dari dalam rumah. "Ibumu yang sudah meninggal itu," rancaunya.


Deg!


Jantungku sontak terhenti. Aku begitu terkejut dengan yang barusan aku dengar. Adikku yang tadi senang bercerita kini langsung terdiam. Aku yang merasa bahagia saat melihat gambar ibuku kini menelan ludah sembilu yang menyayat hati.


Begitu mendengarnya adikku langsung menaikkan kepala melihat pintu rumah kami dengan pias. Kebencian begitu tersirat dengan jelas dan tajam menatap ke arah sumber suara itu.


"Wanita itu seenaknya saja mengatakan itu, Kak," kata adikku dengan nada suara getir. "Itu 'kan, Ibu kita," ucap adikku.


"Ana, Kakak tahu." Aku mengelus pundak adikku bersedih.


"Ternyata, kalian duduk di bawah pohon itu hanya membahas Ibumu yang sudah meninggal itu!" pekik ibu sambung kami berdiri, melihat kami duduk. "Itu bukan lagi Ibumu," cecarnya. "Aku sekarang Ibu kalian! Bukan itu!" tampiknya.


"Tidak! Kau bukan Ibuku!" jerit adikku.


"Ana, sstttt! Diam, jangan berteriak keras," pintaku menutup mulutnya. "Nanti dengar orang, Dik. Maluuu!" kataku dengan tegas. "Nanti Ayah akan sedih. Kalau ada yang menyampaikannya," tukasku.


"Dia jahat Kak. Dia bilang Ibu kita sudah meninggal," rintih adikku menangis.


"Ana, Ibu kita memang sudah meninggal, Dik." Aku berhati-hati mengatakannya pada adikku.


"Aku tahu Kak. Tapi itu adalah Ibuku, bukan dia. Dia itu jahat." Adikku menangis sejadi-jadinya.


.


.


.


Bersambung...


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2