
Nada suara tidak senang ibu sambung kami membuat raut muka ayahku berubah seketika menjadi sendu. Mukanya pun kini terlihat tertekuk tidak bersemangat.
Ayahku kini terlihat seperti orang yang tersambar petir di siang bolong. Diam membisu seperti patung.
"Kau selalu membuang-buang uang," kata ibu sambungku. "Kau tau 'kan kalau rumah kontrakan ini sudah jatuh tempo," tandasnya.
"Aku tau. Jangan khawatir kalau uang itu sudah aku sisihkan," balas ayahku langsung. Menyusun rantang.
"Tapi kau selalu membuang uang. Setiap ada uang, pasti kau selalu memanjakan Anakmu. Kenapa harus piknik sekarang?" tanya ibu sambungku terheran. "Belum lagi uang jajan kedua Anakmu," lanjutnya.
"Tidak usah ribut dan jangan terlalu dipikirkan. Aku sudah menyimpannya. Uang sewa rumah ini udah terkumpul," balas ayahku kembali mengulanginya dengan penuh penekanan.
Ibu sambung kami masih belum rela dengan keputusan suaminya. Dia masih melemparkan mata merahnya kepada ayahku.
"Ayah, kita berangkatnya kapan?" tanya adikku. Memegang boneka.
"Sekarang Nak," jawab ayahku dengan lembut. Berjalan dengan sibuk.
"Sekarang Ayah?" tanya adikku memastikannya kembali. Melirikku dan ibu sambung kami yang berdiri dan marah-marah karena melihat ayahku yang antusias untuk piknik.
"Sekarang kalian bersiap-siap ya! Nanti kita terlambat," pinta ayahku dengan lembut menatap adikku yang berdiri tegak mengikuti ayahku dengan memeluk bonekanya.
Aku yang duduk di bangku menatap mereka satu per satu dengan gusar. Di satu sisi ayahku yang sudah lama ingin membawa kami liburan. Dia terlihat bersemangat. Sementara ibu Genghis yang menjadi ibu pengganti bagi kami dia tidak begitu senang karena lagi -lagi uang akan habis.
Aku semakin menderu kekesalan ini. Wajah ayah dan ibu sambungku hari ini adalah dua sisi yang berbeda.
"Liyan, cepat ganti pakaianmu, Nak!" pinta ayahku dengan lembut sebagai isyarat menyuruhku agar aku lekas beranjak dari duduk.
"Baik Ayah," jawabku bangun dan beranjak pergi.
Adikku yang berjalan lebih dulu, melirikku dengan tatapan penuh kebencian. Aku yang mengikutinya dari belakang hanya bisa menunduk melihat kaki yang melangkah sesekali.
"Anakmu itu tidak pernah menyenangkan hati," tandas ibu sambungku.
"Dari mana kau tau?" tanya ayahku dengan nada suara mendadak kesal.
"Ya, setiap saat menghabiskan uang. Dikit..., dikit uang, dikit..., dikit uang. Tidak pernah tidak uang!" ucapnya dengan nada suara tinggi.
"Kau 'kan sama dengan mereka. Aku memberimu juga uang," kata ayahku dengan datar.
"Iya, tapi uang itu banyak keluar hanya untuk Anakmu. Untuk sekolahlah, yang sakitlah, jajanlah! Sementara aku tidak pernah," terangnya.
"Tidak pernah bagaimana ?" tanya ayahku.
__ADS_1
"Iya, aku tidak bisa membeli baju setiap hari. Padahal aku kepingin membeli baju setiap hari," tandasnya dengan nada suara kesal bercampur sebal.
Ayahku spontan diam sedangkan aku terpaksa menghentikan langkah yang akan memasuki kamar. Kaki terpaksa berhenti seketika dan tangan harus tertahan di udara memegang tirai, di ikuti oleh kedua netra melihat mereka yang bersiteru hebat.
"Kau tidak pernah bisa memberiku yang banyak untuk membeli baju," pekik ibu sambungku.
"Tapi apa yang kau mintakan aku kasih," balas ayahku dengan nada suara yang mengikuti nada suara istrinya.
"Tapi tidak bisa membeli baju yang mahal," balasnya.
Deg!
Sepertinya ayahku terkena lemparan batu besar kembali dengan keras sehingga dia membisu, seperti patung yang tidak ada gunanya.
"Kau hanya bisa membelikan aku baju yang murah," kata ibu sambungku. Berdiri dengan kedua tangan mengayun di udara seakan dia memperagakan betapa kesalnya dia melihat ayahku.
"Aku minta maaf kalau aku tidak bisa membelikan baju yang mahal yang seperti kau inginkan. Tapi aku hanya bisa memberikan uang sebesar itu," ucap ayahku dengan nada suara yang lirih bercampur sesal terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik.
Heh! Ibu sambungku langsung menyeringai. Dia tertawa sinis terdengar seakan mengejek ayahku dengan tatapan sebelah mata.
"Hanya itu yang bisa kau bilang dari dulu. Maaf, maaf dan maaf. Tidak pernah kau bilang yang lain," lanjut ibu sambungku.
Ayahku kini terpuruk bagaikan orang yang tidak bisa melakukan apa pun. Dia hanya diam mendengarkan ocehan istrinya itu. Sementara aku yang masih berdiri melemparkan pandangan menatap tirai yang tergerai menutupi kamar kami.
"Liyan, kenapa kau berdiri di situ?" tanya ibu sambungku dengan nada suara keras. "Kau menguping,ya ?" tanyanya dengan tatapan yang tajam.
Aku spontan terkejut dan gugup. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku menatap lantai dengan hati yang panik.
"Ha? Kenapa tidak kau jawab ?" tanyanya semakin kesal.
"Tidak ,Bu," jawabku. Memegang tirai kamar dengan kuat.
"Sekarang cepat masuk ke kamarmu!" serunya.
Ayahku tidak lagi terdengar suaranya, sekali pun untuk membelaku. Dia hanya diam dan hanya suara dentingan alat-alat dapur yang terdengar.
"Liyan, cepat Nak, ganti baju! Nanti keburu siang. Dan kita kesorean. Harinya nanti panas," ucap ayahku melihat sendok yang dia susun.
"Iya, Yah," jawabku. Memutar badan meninggalkan mereka berdua.
Aku yang sudah masuk ke dalam kamar membawa baju yang akan kupakai melihat adikku yang melirikku sinis.
"Ana, bajumu itu?" tanyaku dengan pelan. Berharap adikku akan melihatku.
__ADS_1
Adikku tetap diam dan tidak menoleh sama sekali. Aku semakin malu dan memalingkan pandangan untuk mengambil baju yang tadi kuletakan di atas tempat tidur.
Wajahnya semakin masam terpampang setelah mendengar suaraku.
"Liyan, Ana cepat, Nak! Kita akan berangkat sekarang," jerit ayahku dari luar memanggil kami berdua.
"Iya Ayah. Sebentar," sahut adikku yang telah bersiap.
"Ayo cepat , Nak! Nanti keburu sore," jawabnya dari depan.
Aku semakin bergegas mengancing baju. Aku sangat terburu-buru setelah mendengar nada suara ayahku.
"Ayo Ayah," jawab adikku dengan pakaian setelan baju rufflenya yang manis berwarna kuning dan tidak lupa adikku membawa tas kecil dan bonekanya juga serta rambutnya yang dikucir dua memakai sepatu yang baru di beli ayahku yaitu, sepatu bear beruang yang kembar dengan punyaku.
"Kakakmu mana?" tanya ayahku sedikit bersibuk karena belum melihatku.
"Iya Ayah," jawabku dengan pakaian yang sama setelah ruffle juga yang berwarna pink lengkap dengan topi bucket hut pita yang berwarna senada dengan sepatu bear beruang.
"Kau cantik sekali, Nak," kata ayahku dengan Sumringah memujiku.
Adikku spontan merubah wajahnya. "Ayah jadi, aku tidak cantik," kata adikku. Tidak senang mendengar pujian ayahku.
"Ana, kau sangat cantik," jawab ayahku. "Kalian berdua itu Anak Ayah yang paling cantik dan baik," lanjut ayahku dengan sorot mata yang berbinar. Berdiri memeluk kami berdua.
Adikku begitu cemberut bercampur masam. Dia pun selekas mungkin melemparkan pandangannya ke arah yang lain.
"Sekarang kita berangkat. Mari , Nak!" seru ayahku. Berjalan di depan membawa rantang dan keperluan yang lain.
"Nanti kalian kalau di sana jangan minta jajan," ucap ibu sambungku. Melirik ke arah adikku dan aku. Berjalan membawa tasnya. "Karena di sana makanannya mahal. Kita tidak punya uang," tandasnya dengan ketus.
Aku dan adikku yang mendengarnya pun diam dan terus berjalan. Sepatu yang kami pakai sangat nyaman dan lembut.
"Sepatu kalian. Ingat jangan sampai rusak! Kita tidak punya uang lagi untuk membelinya," cetus ibu sambungku agar aku dan adikku berhati-hati.
Perjalanan kami pun telah tiba menuju becak. Semua peralatan piknik pun telah di taruh ayahku di atas becak dayungnya. Semua telah tersusun dengan rapi.
"Ayo naik!" seru ayahku dengan hati yang senang.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...