Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Rengekan


__ADS_3

"Ana pelan - pelan mengambilnya. Nanti jatuh semua!" tegur ayahku melihat adikku yang sembrono.


"Mana Ayah?" Adikku langsung bertanya melihat piringnya.


"Kalian makan saja duluan. Ayah mau mandi dulu." Ayahku segera berjalan membawa sabun dan handuk.


"Emang kau mau kemana tergesa-gesa begitu?" tanya ibu sambung kami melihat ayahku yang berjalan kencang keluar.


"Mau mandi. Sudah jam berapa ini? Aku belum sholat," kata ayahku sambil berjalan.


Ibu sambungku langsung melihat jam. "Masih jam 12. 10 WIB," katanya.


"Itulah, sebentar lagi azhan," ujar ayahku dari jauh.


Setelah ayahku menghilang, aku pun duduk di tempat yang biasa aku duduki untuk makan. Segera aku menaruh piring yang telah berisi nasi dan lauk yang siap untuk di santap.


"Kak, ambil ' kan kenapa nasi Ana?!" rengek adikku memegang jajan.


"Nanti ya setelah Kakak selesai makan," jawabku sambil melihat adikku dan menyuap nasi.


"Engga mau." Adikku cemberut sambil merajuk.


"Ana sini biar Ibu ambilkan," teriak ibu sambung kami dari dapur.


Adikku terus saja merengek. Dia sama sekali tidak menggubris ibu sambung kami. "Ana maunya sama Kakak," keluh adikku merintih dengan desakan.


"Ana, apalagi, ayo cepat kemari! Selagi Ibu di sini. Nanti engga ada mengambilkan nasimu. Ayahmu masih lama lagi. Kakakmu lagi makan," katanya berdiri melihat adikku.


"Engga! Ana tidak lapar lagi," sahut adikku menolak.


Nasi yang aku kunyah seketika terhenti karena terkejut mendengar adikku menolak ibu sambung kami yang mau mengambilkan nasinya. "Ana, Ibu sudah mau mengambilkan nasimu. Kenapa kau tidak mau?" tanyaku.


"Kaakak." Adikku menggerutu. "Aku cuman mau di ambilkan sama Kakak atau pun Ayah," sambungnya berharap yang di inginkannya segera terkabul.


Sudah seperti biasanya, kalau adikku tidak pernah mau menerima segala sesuatu dari ibu sambung kami. Untuk itu, sekeras apa pun aku memaksanya dia tidak akan pernah mau. Pada dasarnya, adikku tidak pernah menerima wanita lain sebagai pengganti untuk ibu kami yang telah tiada.


Oleh sebab itu, Adikku mempunyai beribu macam alasan agar tidak mendapatkan simpati dari istri baru ayahku. Sungguh pun begitu, ibu sambung kami terus saja berusaha melakukan sesuatu untuk mengambil hati adikku yang keras agar adikku suatu saat mau menerimanya sebagai ibu untuknya.


Ibu sambung kami masih saja berdiri menunggu adikku. Piring kosong masih dia pegang sampai saat ini. "Ana, kau jadi atau tidak, makannya?" tanya ibu sambung kami meletakkan kembali piring.


"Engga," jawab adikku dengan singkat sambil mengunyah jajanan.

__ADS_1


Sebenarnya, hatiku begitu sedih melihat keakuran di antara mereka belum bisa terjalin sampai saat ini. Sementara itu, pernikahan ayahku dengan wanita itu telah terjadi dan tidak akan pernah berakhir hanya karena adikku yang ambigu.


Untuk itu, mau tidak mau aku harus bersikap menjadi anak yang lebih dari anak -anak yang lain yaitu, harus bisa menjadi anak yang dewasa. Bertindak dewasa seperti, anak-anak dewasa pada umumnya meskipun saat ini usiaku masih tergolong anak -anak.


Dengan kata lain, aku di tuntut setiap saat untuk berjalan sebagai bayangan di belakang adikku. Menuntun adikku ketika jalannya salah. Mengingatkan dia ketika dia gagal dalam bertindak.


"Dek, jika Ibu mau mengambilkan nasimu. Kau jangan menolaknya!" kataku menasihati adikku. "Itu tidak baik."


"Mana ada aku menolaknya," dalih adikku membela diri. "Hari ini aku mau di ambilkan sama Kakak, itu saja. 'Kan Kakak belum pernah mengambilkan nasiki," sungut adikku dengan merayu agar aku tidak memarahinya.


"Tunggu Ayah saja. Kakak tidak sampai mengambil lauknya," tolskku memelas.


" 'Kan ada bangku. Biasanya kalau kita tidak sampai mengambil sesuatu, manjat aja Kak pakai bangku." Adikku melihat bangku yang teronggok di dekat jendela.


Kedua bola mataku yang sayu pun refleks mengikuti adikku melihat bangku. Sepintas aku menarik napas panjang setelah mendengar permintaan adikku yang mengagetkan sukmaku seketika.


"Setelah Kakak selesai makan, ya," kataku pada adikku yang ingin secepatnya aku bergerak mengambil bangku.


"Jangan lama-lama Kakak makan," kata adikku dengan seenaknya.


"Ana, apa yang kau ucapkan pada Kakakmu?" tanya ayahku mendengarnya."Kenapa kau larang Kakakmu jangan lama-lama makan, Nak?" Ayahku berjalan masuk ke kamar dan sekali lagi melihat kami berdua.


Sontak adikku terdiam. Wajahnya pun begitu panik dan takut akan di marahi ketika melihat ayahku. "Ayah salah dengar," kata adikku dengan nada suara pelan sambil menyembunyikan ketakutannya.


Aku yang masih duduk menghadapi makananku hanya mendengarkan repetan ayahku pada adikku yang sedikit nakal.


"Jangan kemana-mana, tunggu Ayah selesai sholat dulu." Ayahku melanjutkan sholatnya dan melarang adikku.


Sementara ibu sambung kami yang duduk menikmati makanannya di dapur tidak sengaja mendengar ocehan adikku.


"Ayah sekarang lebih membela Kakak dari pada aku," rintih adikku membosankan. "Padahal 'kan aku anak paling kecil." Dia menatap bayangan dirinya di lantai.


"Ayahmu tidak seperti itu. Dia lebih sayang padamu seperti yang selama ini kau lihat," timpal ibu sambungku lewat dari dekat adikku.


"Iya Ana." Aku langsung mengingat masa kecilku dan adikku betapa sayangnya ayahku pada kami berdua sehingga tidak ada satu pun yang bisa menyakiti kami anak-anaknya. Apalagi membuat kami menangis bahkan di digigit nyamuk saja kami tidak boleh.


Ayahku langsung panik dan marah kalau dia melihat seekor nyamuk hinggap di kulit kami. Dia pun bergegas dengan cepat melindungi kami dan mengusir nyamuk itu.


"Kau jangan bilang, kalau Ayahmu hanya sayang pada Kakakmu saja," ucap ibu sambung kami melihat adikku.


Adikku begitu tidak tenteram mendengarnya. Dia berusaha keras untuk menghindarinya berulang kali, dia menunjukkan ekspresi wajah sedikit masam.

__ADS_1


Aku sudah mengetahui sikap adikku yang ketus berhadapan dengan ku. "Biar Liyan saja yang mengambilkan nasi Ana," kataku langsung beranjak ke dapur pada ibu sambung kami.


"Apa kau sudah selesai makan?" tanya ibu sambung kami memutar badan melihatku.


"Jangan-jangan!" kata Ayahku meletakkan sabun. "Biar Ayah saja yang mengambilnya." Ayahku langsung berjalan ke dapur.


"Ayah jangan pedas, ya," teriakan adikku dengan senang. "Jangan pakai sayur, Yah!" Adikku berteriak sambil menyusun jajannya yang belum habis.


Ayahku pun mengambil piring dan nasi serta lauk untuk adikku. Piring yang ada di tangannya kini telah terisi penuh nasi dan lauk ketika aku meletakkan piring kotor.


Ayahku begitu penuh kasih sayang mengambilkan nasi adikku. Sedikit pun wajahnya tidak terlihat ketat malah dia terlihat begitu rileks tanpa beban sama sekali.


Sebagai orang tua, ayahku begitu ikhlas melakukan semuanya untuk anaknya. Dia tidak pernah mengeluh seberat apa pun beban yang ada di pundaknya. Wajahnya senantiasa tersenyum menyembunyikan beban yang dia hadapi.


Sebisa mungkin ayahku menjaga kami anak-anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang. Ayahku sangat menyadari kalau kami tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.


Setelah ayahku selesai mengambil nasi adikku. Dia pun langsung meninggalkan dapur. "Mau Ayah suapin?" tanya ayahku duduk menyerahkan piring pada adikku yang ngambek karena dia hari ini tidak di perioritaskan lebih dulu.


"Ana sudah besar. Jadi, Ana makan sendiri aja." Adikku langsung menarik piringnya.


Aku dan ibu sambung kami yang tepat bergabung bersama mereka merasa bahagia. Wajah kesal adikku tadi kini hilang menjauhi dirinya.


"Akhirnya, Anak Ayah tidak kelaparan lagi 'kan," ucap ayahku membelai rambut adikku yang ngambek.


"Nanti Ayah tidak mengasih uang jajan untuk Ana, kalau Ana terus ngambek," cetus adikku dengan terus terang menyindir ayahku.


"Hahaha !" Ayahku langsung tertawa mendengar adikku.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...


Sambil nunggu author update !

__ADS_1


Yuk! Baca novel teman aku author yang lain. Pasti seru ceritanya !



__ADS_2