
"Ayah aku telur dadar," dalih adikku memalingkan kecurigaan ayah yang semakin lama akan semakin terjawab.
Ayahku langsung tersenyum senang mendengar ucapan dari anak kesayangannya. "Sebelum Ayah berangkat sholat. Kalian makan pakai ini dulu, ya!" pinta ayahku dengan lemah lembut, membalik telur dan menaruhnya di dalam piring.
"Iya Ayah," jawab adikku langsung.
Sementara aku masih diam berdiri di belakang mereka. Sangat berat bagiku untuk tersenyum bergabung bersama ayah dan adikku mengingat ke belakang meja yang sudah patah.
"Liyan, kau gak suka ini?" tanya ayahku yang terheran melihat aku tidak, seperti biasanya dengan penuh kecurigaan sang ayah terus bertanya seakan dia sedang mencari tahu. Dia terus saja melontarkan hal-hal yang membuatku semakin gemetar.
"Ayah kami belum lapar," sahut adikku memotongnya dengan maksud menghilangkan kecurigaan dari sang ayah yang terus antusias bertanya dan curiga.
"Kalau begitu Ayah taruh di atas meja, ya!" kata ayahku membawa piring.
Deg!
Sontak aku langsung keringat dingin dan pucat. Darahku seakan turun ke bawah. Jantungku pun berhenti berdetak rasanya. Jemari kecil yang biasanya membawa piring dan makan kini terasa kaku dan membeku, seperti patung yang diikat kuat.
"Ana," kataku pelan tanpa suara menatap adikku yang lemas melihat ayahku yang berjalan menghampiri meja.
Langkah kaki ayah yang kami takuti hari ini menginjak ruang tamu tidak bisa kami cegah atau pun kami halangi. Tidak ada yang bisa kami perbuat lagi. Semua sudah terjadi dan tidak bisa di ubah lagi. Kekesalan menganak di dalam diri yang ceroboh ini.
"Liyan, Ana!" panggil ayahku sedikit panik terdengar.
Menatap ayah yang sudah sampai di meja kami berdua tidak berani. Berdiri dengan kuat sambil menyatukan keberanian saat ayah kami menyerang dengan kata-katanya yang berputus asa jika melihat kaki meja kesayangannya patah.
"Liyan, ini apa ?" tanya ayahku terheran dan berdiri di depan meja.
Aku yang masih membelakangi ayahku . "Ana, mungkin Ayah melihatnya," kataku cemas bercampur takut.
Adikku langsung bergeser melihat ke arah ayahku yang mau meletakkan piring berisi telur dadar di atas meja.
"Kak, Ayah udah melihatnya," kata adikku khawatir.
Aku langsung menutup kedua mata dengan kuat membayangkan yang akan terjadi. Tubuh mungil seketika ingin terjerembab jatuh ke lantai.
"Kak, Ayah mengambil yang patah itu!" teriak adikku yang tidak berkutik dengan puas.
Tubuh mungilku langsung terkejut mendengarnya. Diri yang tadi merasa sudah sedikit tenang kini terserang kembali.
__ADS_1
"Liyan!" panggil ayahku dari depan.
Deg!
Jantungku berhenti seketika. Sekujur tubuh mungil ini langsung lemas dan pucat. Telapak tangan yang terasa dingin kukepal dengan kuat sebagai isyarat menahan rasa takut akan amarah ayahku terhadapku.
Perlahan tubuh mungil yang sudah panik ini memutar ke belakang tepat ke arah ayahku yang memanggil. Aku lalu berdiri menatap ayahku lurus tanpa suara pembelaan.
"Liyan, kenapa ini bisa patah?" tanya ayahku, mengayunkan potong kaki meja.
"Kak, Ayah pasti marah?!" bisik adikku di telingaku.
"Iya," jawabku singkat, menatap lurus ke arah ayahku yang menggeleng melihat meja yang reot.
"Siapa yang sudah mematahkan ini?" tanya ayahku dengan penuh penekanan, menatap tajam ke arah kami berdua sambil meletakkan piring yang berisi telur dadar di dalam laci lemari pembatas kamar dan ruang tamu.
Kami berdua bertemu tatap dengan muka yang takut. "Kak, cepat jujur. Nanti kita berdua dihukum," desak adikku yang sudah ketakutan.
Aku sendiri menimbang-nimbang saran adikku. Diam dan melihat ayahku yang mengangkat meja yang di topangnya dengan bangku.
"Apa meja ini patah sendiri?" tanya ayahku kembali dengan nada suara menahan kesabaran.
Sampai detik ini kami hanya diam saja. Tidak berani untuk membuka mulut karena lidah terasa berat untuk digerakkan. Namun, sorot mata ayahku terus menatap kami tanpa berkedip.
Aku dan adikku tetap mempertahankan kekerasan hati untuk tidak menjawab pertanyaan dari sang ayah. Berpikir sambil mencari alasan itu yang aku putar di otak yang kecil ini.
"Ana, kalau kita jujur. Apa Ayah akan memarahi kita?" tanyaku berbisik panik di telinga adikku.
"Aku gak tau, Kak," jawab adikku singkat.
"Kalian memang suka membuat Ayah sibuk, ya 'kan?" tanya ayahku, meletakkan alat tukang yang di dalam karung kecil.
Diam mematung dan mengunci kedua bibir rapat. Berdamai dengan diri sendiri. Masih menatap ayah yang bertukang sebelum sholat jumat.
Tok! Tok ! Tok!
Suara palu pun terdengar dengan keras menggema di ruangan yang kecil. "Liyan, Ana. Tolong ambilkan kayu itu!" suruh ayahku memohon dengan lembut.
Aku pun berjalan mengambil kayu yang ditunjuk oleh ayahku. Kayu itu lalu aku berikan pada ayah yang sibuk melepaskan potongan sebelahnya dari meja.
__ADS_1
"Ayah ini," kataku pelan sedikit takut melihat ayahku yang tidak seperti biasanya.
"Terimakasih, Nak," jawab ayahku yang duduk dengan sibuk memperbaiki meja.
Setelah selesai aku kembali ke tempatku yang tadi. Berjalan pelan melirik ayahku dengan ekor mata.
"Ayah kenapa gak marah, Kak?" tanya adikku heran.
"Kakak juga gak tau, Dik," jawabku bingung, melihat perubahan sang ayah hari ini.
"Biasanya Ayah pasti menghukum kita," tandas adikku mengingat yang pernah terjadi.
"Tapi ini lain, Dik," kataku, melihat ayahku yang diam saja.
Tok! Tok! Tok!
Suara pukulan palu pun kembali terdengar dengan keras memekakkan telinga. Ayahku begitu berjibaku dengan kerjaannya. Kaki meja yang terbelah menjadi dua itu pun sudah bagus kembali seperti semula.
"Kalau main-main di dalam rumah lain kali hati-hati ya, Nak!" pinta ayahku lemah lembut, memasukkan paku serta yang lainnya ke dalam karung kecil.
Aku sangat terkesima melihatnya. Rasa lega yang sangat besar pun terasa di dalam hati yang kacau bercampur panik tadi. Betapa gelisahnya aku tadi ketika melihat meja dan membayangkan ayahku.
"Nak, sekarang Ayah mau bersiap dulu untuk sholat, ya! Jangan nakal-nakal lagi. Kalau bermain di rumah hati-hati! Nanti kalau gak hati-hati, kalian berdua bisa terluka," harap ayahku memberi nasihat, meletakkan telur dadar di atas meja.
"Iya, Ayah," jawab kami dengan lega.
Ayah yang berubah hari ini sangat membuat kami berdua tercengang dan tidak percaya. "Ana, Ayah ternyata sudah baik," ucapku, mengigit jari.
"Aku juga heran, Kak. Kenapa Ayah hari ini baik?" tanya adikku kepada ku dengan penuh tanda tanya.
Seketika aku dan adikku memutar kepala melihat langkah kaki ayahku yang berlalu meninggalkan kami.
"Kak, kalau Ayah udah baik, berarti kita enak, Kak," sambut adikku gembira. Berjalan sambil menarik lenganku melihat meja yang tadi baru diperbaiki.
"Enak kenapa?" tanyaku yang berdiri disamping adikku melihat meja dan menegur adikku yang belum mandi. "Ana, kenapa kau gak mandi-mandi?" tanyaku. "Apa harus disuruh Ayah mandi, baru kau mau mandi?" tanyaku kembali melihat adikku yang asyik dengan telur dadar di atas meja.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...