Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ayahku Menantang Kejujuranku


__ADS_3

Aku dan ayahku yang bertemu tatap. Kami saling bersikukuh mempertahankan keinginanan masing-masing.


Sorot mata ayahku yang tajam tidak beralih sedikit pun dariku.


Ketakutan yang mendalam semakin menghenyak diriku yang lemah sehingga membuatku semakin tidak bisa menghindar dari pertanyaan ayahku yang menantangku untuk berkata jujur.


"Ayah, tadi kami berdua bermain di kamar dengan memakai bedak tabur," jawabku melihat ke bawah.


Wajah ayahku langsung terperanjat dan memutar kepala melihat adikku yang duduk di sampingnya.


Adikku yang gugup melihat ayahku menatapnya dengan tajam. Dia langsung menggeser duduknya menjauh dari ayahku. Bersikukuh menutup bibirnya dengan rapat.


Ayahku yang memanggil adikku, refleks membuat ibu sambung kami melihat ke arah kami. Dia yang berjalan sambil membawa piring ke dapur terus berjalan, sementara aku yang tadi duduk menghadapi ayah dan adikku langsung i beranjak bangun, membantu ibu sambung kami mengangkat piring untuk menghindari kemarahan ayahku yang akan menyerang kembali.


"Ibu, mana lagi yang mau diangkat?" tanyaku melihat piring yang bisa kuangkat.


"Kamu ingin membantu?" Ibu sambungku memutar kepala sambil berjalan memegang piring menanya kepadaku yang berdiri dibelakangnya.


"Iya Bu," jawabku.


Ruangan yang tadi kami duduki untuk menikmati hidangan, kini masih digunakan oleh ayahku untuk menginterogasi adikku hingga adikku terlihat sesak dan kelabakan menghadapi interogasi dari ayahku.


Wajah ayahku yang masih menatap adikku masih berkutat memaksa adikku untuk berkata dengan jujur. "Ayah, tadi Ana bosan di rumah. Jadi, Ana bermain badut dengan bedak tabur." Adikku menunduk mengatakan yang sejujurnya.


Sontak telingaku yang mendengar pun begitu tersentak karena mendengar adikku yang sudah berani berkata jujur kepada ayahku.


"Lalu. Kenapa Kalian berdua tadi bermain air, Ayah lihat tadi?" tanya ayahku melemparkan pertanyaan kembali kepada adikku yang masih bergeming.


Piring kotor masih kami angkat bersama ibu sambungku dan menyusunnya dengan rapi di dalam ember yang terletak.


Suara adikku yang masih memberikan penjelasan kepada ayahku, masih saja terdengar sampai ke dapur hingga saat ini.


Dari dapur, aku melihat mereka berdua begitu tegang. Namun, adikku yang lihai, dia bisa mengatasi dan merubah wajahnya menjadi tenang. Sepertinya, adikku yang cerdik menghadapi kemarahan ayahku, bagai sebuah guyonan, itulah yang terlihat darinya. Dia begitu menggemaskan.


"Ayah, kami cuman mencuci muka saja," jawab adikku. Melihat ke arahku yang berdiri di dapur.


"Kenapa kamu melihat Kakakmu?" tanya ayahku dengan penasaran. "Liyan. Ada apa kalian sebenarnya?" tanya ayahku ingin mendengar kebenaran dariku.


Dengan berat hati dan nada suara yang berat aku harus menjawab pertanyaan ayahku. "Tadi Ana menaburi bedak di rambutnya Ayah dan aku juga ingin membersihkan wajahku dari coretan bedak sama lipstik."


Kedua bola mata adikku membelalak seketika mendengar yang kusampaikan. "Ayaah!" Adikku langsung melihat ayahku dengan wajah memohon ampunan.

__ADS_1


Ayahku yang baik, dia seakan terlihat hanya ingin memberi pertanyaan kepada kami. "Itu ide dari siapa? Sampai harus bermain bedak dan lipstik?" tanya ayahku melihatku dan ibu sambung kami yang berjalan di dapur dengan senang karena pekerjaannya telah hampir selesai.


Ibu sambungku yang berjalan pun, melihat ke arah ayahku dan adikku setelah kami melepaskan tatapan.


"Liyan! Apa bedak taburnya habis?" tanya ibu sambung kami yang menarik napas melihat adikku.


"Tidak Bu," jawabku.


"Lalu, kenapa Ana terlihat gugup seperti itu?" Menatap adikku dengan tidak mengerti.


"Aku engga tahu Bu," jawabku kembali.


"Ayah, tapi bedaknya masih ada dan masih banyak," kataku.


"Iya Ayah. Kakak benar. Bedaknya masih banyak. Masih bisa di pakai dalam waktu yang lama," balas adikku dengan panik sehingga membuat ayahku tersenyum melihat adikku yang meminta belas kasihan.


"Ana! Kamu ini masih saja bisa berdalih." Ayahku menggelengkan kepalanya tidak mengerti, melihat adikku yang tidak pernah menganggap semua dengan serius sambil menahan tawa.


"Nah! Kalau bedaknya masih banyak tidak perlu memarahi Ana seperti itu, hanya gara-gara bedak!" sambung ibu sambung kami.


"Iya Ayah itu benar! Ayah tidak perlu memarahi Ana. Bukannya Ana, Anak kesayangan Ayah?" ungkap adikku menarik simpati ayahku.


"Ayah benar," jawabku. "Kalau kita sebagai Anak harus menjadi Anak yang baik."


"Kalau kamu tahu! Kenapa tidak melarang adikmu?" tanya ayahku kembali menyalahkan aku.


"Ayah. Jangan salahkan Kakak. Ini bukan salahnya Ayah. Ini adalah salah aku. Kakak tidak tahu kalau aku sudah melakukannya," jawab adikku dengan rasa bersalah.


Kedua bola mata ayahku semakin menatap adikku dan aku dengan dalam untuk melihat siapa yang benar-benar salah.


"Ayah! Bukannya Liyan tidak melarangnya, tapi Liyan tidak tahu, kalau Ana sudah memakai bedak dan lipstik itu," jawabku.


"Berarti itu lipstik punya Ibu, ya?" Ibu sambung kami langsung terperanjat.


"Iya Bu," jawabku.


Adikku semakin tersudut. Kali ini dia tidak bisa mengelak lagi. Dia harus berbesar hati menghadapinya dan menerimanya dengan lapang dada.


Jawaban kebenaran dariku semakin membuatnya depresi sehingga dia tidak sanggup menatap lurus. Ayahku yang melihat wajah adikku semakin sendu lalu menghela napas. Sejenak dia langsung menetralkan kembali luapan amarah yang ingin keluar.


"Lain kali jika, ingin bermain tanya dulu Kakakmu. Apakah yang kamu pegang itu layak untuk dipakai bermain atau tidak?" tandas ayahku. "Bedak yang kamu pakai untuk bermain itu adalah bedak kalian! Itu baru Ayah beli tiga hari yang lalu." Ayahku menghela napas panjang menetralkan emosinya.

__ADS_1


Adikku semakin bergeming, bergulung dengan hatinya yang terhenyak. Tatapannya yang kosong kini di penuhi oleh sorot mata rasa bersalah yang besar. Jemarinya ikut rapuh bersama hatinya yang setengah rapuh.


"Sudah Liyan. Hentikan! Bawa saja adikmu sekarang ke kamar." Ibu sambung kami langsung mendorong tubuhku dengan pelan.


Sontak kaki lemahku langsung terseret maju ke depan, lalu aku berjalan sambil menoleh ke belakang melihat ibu sambungku yang berdiri melihatku.


"Liyan! Ajak saja adikmu," kata ibu sambung kami mendesakku sedikit berteriak


"Baik, Bu," sahutku.


Aku pun menghampiri ayahku yang diam melihat kedatanganku dan menggeser duduknya sedikit menjauh dariku, agar aku bisa menarik lengan adikku untuk ikut bersamaku masuk ke kamar.


"Ana, kita ke kamar,yuk," ajakkku mengulurkan tangan.


Wajah sedihnya langsung mendongak melihatku. Aku yang menatap wajah adikku sedikit terbawa suasana kesedihannya. Sorot mata yang lemah seakan ingin mengadukan jeritan hatinya, kalau ayahku telah memarahinya sampai dia menangis.


"Ayo berdirilah!" Aku sedikit memaksa dan menarik lengan adikku untuk berdiri dan menjauh dari dari tempat yang telah berhasil membuatnya mematung. "Kita ke kamar, ya. Ini sudah malam. kita harus tidur sekarang karena besok kita akan sekolah," pintaku.


Hu hu hu!


Segugukan adikku terasa jelas di telingaku. Bibirnya bergetar menahan tangis. Kedua bola matanya yang sembab kini merah bagaikan sakit mata. Kedua pipinya yang cabi pun basah karena air mata yang mengalir. Wajahnya semakin terlihat memerah, seperti tomat.


"Jangan menangis lagi, Dek," kataku dengan lembut membelai adikku.


"Ayah jahat, Kak. Ayah memarahiku. Ayah sudah tidak sayang lagi denganku. Semenjak Ayah menikah dengan wanita itu," cetus adikku yang sakit hati kepada ayahku.


"Ana dengar Kakak." Aku memutar otak untuk mencari jawaban apa yang harus kusampaikan kepada adikku.


"Apa yang mau aku dengar dari Kakak? Kakak 'kan juga sudah berteman dengannya. Pasti Kakak akan membelanya sama seperti Ayah."


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2