
Perlahan tangan ini mengambil plastik yang terbang. "Kak itu untuk apa?" tanya adikku ingin tahu.
"Gak ada," jawabku acuh sambil meletakkan bungkus jajan.
"Kenapa Kakak mengambilnya?" tanya adikku.
Malu dan memerah aku tidak berani menatap adikku yang menatapku dengan lekat. Tangan yang tadi memegang bungkus jajan terjatuh dengan kasar dan lemas.
"Kakak, mau jajan?" tanya adikku.
Tatapan yang bercampur rasa malu melihat bungkus jajan yang berputar-putar dibawa angin. "Ana, Kakak cuma mau tau. Itu jajan apa?" tuturku.
Raut muka sendu dari adikku masih belum berpaling dariku. "Kak, kalau Kakak mau jajan. Makanya, kita pulang saja," sahut adikku. Duduk sambil membujuk.
Aku kembali terdiam melongo dibuat oleh adikku. "Ana, Kakak gak lapar, kok. Kakak cuma mau lihat isi jajannya aja," terangku menutupi muka dari adikku.
Selama duduk kami berdua masih menatap warung jajan di seberang jalan. "Kalau Ayah udah pulang pasti kita udah beli jajan," bisik adikku. Duduk bersebelahan dengan ku.
"Mudah-mudahan Ayah sebentar lagi pulang," sambungku dengan wajah penuh harap.
Pintu yang terbuka masih setia menemani kami menunggu sang ayah. "Kak, aku besok gak mau lagi ke sini," cetus adikku.
AHahaha !
Suara mereka berdua, anak dan ibu terdengar tertawa senang. Seolah ada yang lucu dari mereka hingga tawa itu terdengar mengaung di udara yang bercampur dengan angin.
"Ma, kalau orang itu besok datang gak usah kasih lagi. Nanti orang itu makan di sini, lauk kita habis," sindirnya pedas.
"Nak, sebentar lagi orang itu pulang. Jadi, gak akan habis lauk," sambung ibunya.
"Iya, Ma. Nanti kita makan. Orang itu makan," celetuk anaknya.
Telinga terasa panas mendengarnya. Ocehan yang tidak menyenangkan itu terus saja bergulir memekik telinga.
"Kak, sampah jajan tadi, udah Kakak buang?" tanya adikku mengalihkan pendengaranku.
"Udah, itu!" kataku menunjuk bungkus jajan dengan kedua bibir.
"Aku pikir belum," balas adikku, melihat lurus ke tanah.
Pintu yang kami duduki semakin memanjakan mata yang memandang keluar. "Kenapa kau tanya itu terus ?" tanyaku tidak nyaman.
"Aku cuma pengen tau aja. Mana tau Kakak mau menjilat bungkusnya karena Kakak kepengen jajan," timpal adikku.
Duduk berdua di depan pintu rumah kerabat ayahku sangat menjenuhkan. Jika rumah kami sangat dekat sudah pasti aku akan kembali ke rumah.
"Kalau Kakak nanti menjilat bungkusnya, apa kata orang itu, Kak?" tanya adikku berbisik diam-diam.
__ADS_1
Bungkus plastik jajan yang membuat aku hampir malu dihadapan adikku sendiri terlihat berputar-putar.
"Ana, kau suka memperhatikan Kakak, ya?" tanyaku, melirik adikku.
Sontak muka adikku cemberut masam setelah dia mendengar yang kusampaikan. "Kakak 'kan suka yang aneh-aneh," cetus adikku.
Pluk!
Bungkus plastik pun kembali terbang terbawa angin. "Ana, nama jajannya, apa?" tanyaku sambil mengambil bungkus jajan yang mengenai pipi.
Dengan diam-diam aku melakukan jemari kecil mengambil bumbu jajan yang tersisa. "Mmm," kataku di dalam hati sambil menatap telunjuk yang menempel bumbu jajan.
"Ana, nanti kita beli jajan kayak gini, yuk!" ajakku menggodanya.
"Gak mau. Aku gak suka lihat jajannya," balas adikku ketus.
Aku terkejut. "Kenapa kau gak mau?" tanyaku terheran.
"Kakak, kalau aku gak mau, ya gak mau," lanjut adikku memelas.
Sebal bercampur heran aku memutar kepala melihat ujung jari yang menempel sedikit bumbu.
Suara ibu dan anak masih saja terdengar menyindir kami yang duduk berdua di depan pintu.
"Ana, jajannya enak," ucapku keceplosan.
"Itu 'kan betul. Kakak menjilat plastiknya 'kan?" bisik adikku berteriak dengan penuh penekanan.
Wajahku langsung pucat. Jemari yang menempel rasa jajan yang menyelerakan aku ilap selekas mungkin. "Gak ya," bantahku gemetar.
"Alah, Kakak pasti bohong?! Kenapa Kakak melihat ke bawah?" tanya adikku yang selalu memperhatikanku.
"Ana, benar. Kakak gak bohong," balasku, menunduk .
Telunjuk yang masih terlihat bekas bumbu. Kusembunyikan dari kelihaian adikku yang cerdik memerhatikan setiap gerakku.
"Kalau Kakak bohong. Nanti Ayah pasti tau?!" ancam adikku. Duduk sambil melirik ke belakang.
Lirikan mata adikku sangat mencengangkan. "Ana, jangan lihat ke belakang! Nanti orang itu tau," tegurku.
"Kak, aku gak suka di sini!" keluh adikku. "Aku mau pulang saja. Bair kita bisa main-main," lanjutnya mengiba.
"Ana, jangan! Nanti Ayah marah sama kita," ucapku membujuk adikku yang semakin lama semakin mengajak pulang. "Kalau kita pulang duluan, nanti Ayah kecarian, bagaimana?" tanyaku menuntutnya.
"Ma, aku lapar. Aku mau makan," kata anaknya dari belakang kami.
"Makanlah. Ambil lauk di atas meja," ucap sang ibu.
__ADS_1
Seketika aku diam mendengarnya. Aku rasanya bagaikan anak kecil yang malang. "Dik, orang itu benar-benar jahat, ya 'kan?" tanyaku berbisik geram.
"Tadi Kakak gak mau dengar yang kubilang," balas adikku ketus. "Kak, aku udah pernah dititip Ayah di sini," terangnya.
Sejenak aku kembali mendengarkan perbincangan antara ibu dan anak yang berada dari kerabat ayahku.
"Ma, lauknya enak. Aku ambil lagi, ya!" pintanya.
"Kalau enak makan saja, Nak. Itu Mama masak cuma untuk mu," balas sang ibu.
"Baik, Ma. Kalau begitu aku ambil lagi ayam gorengnya," katanya langsung.
Obrolan yang menjadi daya tarik untuk kudengarkan hingga selesai semakin ringan mengejek dan menghina kami.
"Kalau Mama suka nampung orang di sini. Bisa-bisa kita gak makan, Ma," sindir anaknya.
Muka pias pun langsung terungkap olehku yang masih duduk di dalam rumah kerabat dari ayahku yang tidak baik.
"Besok mereka gak ke sini lagi. Mereka itu cuma hari ini di sini," kata sang ibu.
Kerabat ayahku kurang baik terdengar. Dia tidak punya hati. Wajahnya saja sangat beringas, bagaimana mungkin dia baik? Pikirku.
"Dik, besok kita di rumah saja. Kita gak usah lagi datang ke sini," cetusku tegas.
"Iya, Kak. Aku juga gak suka tinggal di sini," bantah adikku. "Kak, makanya kita pulang saja. Gak usah di sini," saran adikku.
Sementara aku masih melihat jemari yang masih ada sedikit bumbu jajan yang menempel. Perlahan dengan diam-diam aku menjilat bumbu jajan yang menempel. Di ikuti oleh kedua mata melihat hal yang sama pada adikku.
"Ana, kau makan apa ? Ayoooo!" tanyaku, menggoda adikku dengan imut.
Sedikit gugup itu yang terlihat darinya. "Gak ada Kak," bantah adikku langsung, menyembunyikan jemari tangannya.
"Hayooo! Kakak lihat, kok," godaku, melihat wajah adikku yang sudah memerah menahan malu.
"Kak, aku gak ada apa-apa. Aku cuma lapar," dalih adikku menutupi semua.
Sekilas wajahku berubah sambil menaikkan alis tidak percaya. "Ana, kau pasti bohong juga?!" ancamku, melirik adikku yang sedang berpura-pura.
Jemari tanganku yang sudah aku ilap sampai bersih menarik lengan adikku yang tersembunyi. "Coba Kakak lihat!" pintaku, menarik lengannya.
Glek!
Aku menelan ludah sedih melihat adikku yang penuh dengan bumbu jajan yang sudah habis. "Kau ambil itu juga?" tanyaku, menatap adikku dan plastik jajan yang teronggok.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...