Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Terungkapnya kebenaran dari adikku


__ADS_3

"Iya. Aku 'kan engga ada rambut keriting palsu, Kak." Adikku langsung menyentuh rambutnya.


"Jadi, karena itu, kau taruh pakai bedak," Membersihkan wajahku perlahan.


"Iya. Aku pikir kalau pakai bedak bakalan lebih seru." Menarik bibirnya dengan manis.


"Seru apa?" Memonyongkan bibir pucatku menahan tawa.


"Seru menjahili Kakak," tandasnya. Tersenyum dengan bahagia. "Kak!" Adikku memanggilku yang duduk bersamanya.


"Iya, ada apa?" Aku segera menyahut adikku yang memanggilku dengan pelan.


"Apa kita tidak kena marah?" tanya adikku.


"Kena marah, kenapa?" tanyaku. Melihat adikku yang menganyunkan kain.


"Kain ini!" kata adikku. "Terlihat kotor dan berwarna. Ada merah dan ada putih." Seakan adikku menghitung warna kain yang dia pegang.


"Lalu kenapa? Dengan warnanya merah dan warna putih. Ada apa?" tanyaku semakin tidak mengerti.


"Kita akan kena marahi." tandasnya dengan nada suara yang murung.


Sontak aku melepaskan kain yang menghapus wajah pucatku. Aku pun dengan refleks ikut terbawa suasana hati adikku yang galau dan kembali melihat kain.


"Ayah pasti akan lelah mencucinya." Menatap kain yang menjadi korban kejahilan kami. "Kita tidak akan kuat mendengar suara Ayah yang setiap hari mengomel pada kita," kataku.


"Lalu bagaimana, Kak? Apa kita harus menyimpan kain ini di dalam lemari." saran adikku yang membingungkan.


"Sebenarnya itu ide yang bagus. Kain ini akan kita simpan di dalam lemari. Tapi itu mustahil, Dek. Kain ini akan tetap menyimpan warna ini." Aku memutar kain sambil berpikir.


"Mau tidak mau kita sendiri yang akan mencucinya," timpal adikku.


"Apa?! Kita sendiri yang mencucinya?" Membuka kedua bola mataku yang redup dengan lebar. "Apa yang akan di katakan Ayah pada Kakak? Kalau dia melihat Putri kesayangannya mencuci." Menatap adikku dengan sorot mata yang lebar penuh tanda tanya yang mengkhawatirkan.


"Kenapa Kakak terkejut? Kakak seperti baru pertama kali mendengar kata mencuci." Adikku seakan tidak menyukai reaksiku yang mendadak syok. "Oh, iya Kak! Satu lagi. Mengenai tentang Ayah. Ayah bukan baru sekali ini kita lihat seperti yang Kakak takutkan, sudah hampir tiap hari. Jadi, Kakak engga usah terkejut begitu." sela adikku yang tidak tertarik dengan ketakutanku.


"Sedikit panik saja. Tidak bisa di bayangkan ketika Ayah nanti kembali dan dia mengatakan, 'Liyan, coba bawa sini dulu kain selimut kalian, Ayah ingin melihatnya masih bersih atau sudah kotor,' bagaimana? Ana apa kamu tidak memikirkannya sedikit pun?!" Aku langsung menghela napas dalam melihat adikku yang terlalu cuek.


"Aku tidak bisa memikirkan Ayah hari ini." Tangan adikku masih terlihat membersihkan kepalanya dengan kain yang tadi kuberikan.


Tanpa aku sadari, ternyata adikku telah duduk di dekatku, seperti anak kecil yang menunggu uang jajan . "Kamu ngapain duduk di depan Kakak?" Adikku segera menggeser tubuhnya mundur ke belakang setelah mendengar omonganku.

__ADS_1


"Aku mau minta bantuan Kakak," kata adikku yang telah duduk di belakangku.


"Minta batuan apa?" tanyaku. Hati kecilku sudah mengetahui maksud adikku, kalau dia membutuhkan bantuanku. Akan tetapi dia tidak mau mengutarakan dengan jelas. Dia masih diam seakan dia berpikir akan melanjutkan niatnya atau tidak.


Kebisuan yang lama pun menyelimuti kami sehingga membuatku sedikit jengah melihat adikku, seperti patung duduk diam di belakangku tanpa bergeser sedetik pun.


Cahaya yang terang kini telah berubah senja. Suara langkah kaki dari luar terdengar dengan jelas dari kamar kami memasuki rumah.


"Ayah!" Aku dan adikku seolah terkejut bak seperti orang yang baru mendengar suara itu.


Secara langsung adikku memutar kepala dan bergeser dariku. "Itu Ayah ',kan, Kak?!" Adikku menatapku dengan wajah penuh tanda tanya.


"Iya, sepertinya itu adalah Ayah," kataku menggerakan bibir pucatku hingga bergetar.


"Kak, cepat susun!" Adikku langsung merapikan semua isi kamar kami. Dia terlihat begitu antusias beberes hingga dia hampir melupakan wajah dan rambutnya yang aneh.


" Lalu bagaimana dengan rambutmu?!" bisikku pelan. Menaikan sedikit tubuh mungilku yang lemah membersihkan rambut adikku. "Kenapa tadi kau taburi bedak di kepalamu?" Aku tiada henti menggosok kepala adikku hingga bersih.


"Aku tidak tahu, kalau akan jadi seperti ini," katanya dengan panik.


"Kau tahu apa yang akan terjadi setelah Ayah melihat kepalamu, seperti ini? Apa kau pikir Ayah akan tertawa lalu memujimu," gerutuku.


"Ayah pasti akan memarahiku, Kak?! Karena tadi siang Ayah begitu kesal padaku juga," kata adikku dengan lirih. Rasa sedihnya kembali terkuak.


"Kata siapa kalau kamu akan di marahi?" tanyaku seraya merasa bersalah.


"Kata Ayah," jawab adikku dengan singkat.


"Kata Ayah?!" Diriku rasanya belum percaya. Tangan lemahku yang membersihkan rambut adikku seketika berhenti. Gurat wajahku kini di penuhi oleh tanda tanya yang menghantuiku kembali. "Ayah bilang apa saja, tadi?" Aku kembali menyelidiki semuanya dari adikku.


"Ayah tadi bilang kalau aku tidak bisa mengawasi Kakak di sekolah. Aku sama Kakak...akan di berhentikan sekolah." Kedua mata adikku begitu sendu dan tidak sanggup untuk menatapku. "Jadi, ini aku semakin takut kalau Ayah memarahiku. Aku tidak sanggup melihat kemarahan Ayah padaku, Kak," rintih adikku dengan rengekan yang menyayat hatiku.


"Apa?! Ana kamu serius?" Kedua bola mataku terbuka langsung dengan lebar.


"Eem!" Adikku hanya mengangguk membenarkan.


"Ayah mengatakan itu?!" Lenganku langsung terjatuh lemas. "Apalagi yang di katakan oleh Ayah?!" Aku terus menyelidiki sampai dalam untuk mengorek informasi dari adikku.


" Ayah mengatakan kalau Kakak sakit


lagi... Kakak besok tidak boleh sekolah," cetus adikku mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


Deg!


Tubuhku langsung terkulai lemas. Kedua bola mataku berputar mencari kesalahan yang telah aku lakukan. Semangatku kini terasa hancur berantakan. Sisa dari kebahagiaan tadi kini musnah sudah.


Rintihan hati yang menggerutu kembali terjadi . Diriku yang lemah kembali rapuh. Sepintas harapan yang telah aku jalani remuk tanpa melihat usaha yang selama ini aku bangun.


"Assalamualaikum." Ayahku memberi salam masuk.


"Wa'alaikumussalam." Aku mendengar suara ibu sambung kami menjawab salam ayahku segera dengan hangat.


"Di mana Anak-anak?" tanya ayahku masuk .


"Ada di kamar," jawab ibu sambung kami.


"Di kamar? Jam segini di kamar. Ngapain mereka di kamar, tidur?" tanya ayahku seakan tidak percaya.


Ibu sambung kami diam sejenak, seakan dia bingung, entah alasan apa yang ingin di berikannya kepada ayahku.


Suara kaki ayahku terus melangkah sepintas dia mengabaikan ke khawatirannya terhadap kami.


"Liyan!" Ibu sambung kami langsung membuka tirai. Kedua matanya langsung terbelalak. "Apa yang kalian lakukan?" Masuk menghampiri kami.


"Ka-kami...". Aku dan adikku memutar kedua bola mata melihat sekitaran tempat tidur di dekat kami menutup mulut dengan rapat.


"Kalian bermain apa?"tanya ibu sambung kami menahan tawanya melihat adikku.


Adikku langsung salah tingkah. Dia terlihat gugup dan gerogi ketika ibu sambung kami melihatnya. Ekspresinya yang aneh terlihat seakan dia malu dengan rambutnya yang putih, seperti uban, seakan dia ingin menghindar


"Kalian bermain apa?" tanya ibu sambung kami, seperti teman.


"Bermain badut, Bu," jawabku.


"Oh, iya! Pasti lucu itu. Siapa yang jadi badutnya?" Ibu sambung kami segera ingin tahu. Kedua bola matanya pun melihat aku dan adikku. "Lalu kenapa rambutnya itu terlihat putih?" Ibu sambung kami mengayunkan lengan menunjuk adikku.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏

__ADS_1


❤️❤️❤️


Bersambung...


__ADS_2