Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Keributan


__ADS_3

Ayahku yang tidak bersuara sedikitpun tentang apa yang dikatakan oleh ibu sambungku membuat wanita itu begitu besar kepala.


Aku yang duduk di tepi tempat tidurku mendengar keheningan seketika. Aku pun yang begitu penasaran ntah,apa gerangan yang terjadi kini beranjak dan berdiri melihat mereka.


Kedua bola mataku menatap nanar melihat mereka masing-masing diam.


Aku melihat dari balik pintu kamarku adikku yang tadi dimarahi oleh ayahku sampai menangis kini telah diam didalam pelukan ayahku. Ayahku yang tadinya memarahi adikku kini seketika meredakan amarahnya dan tidak melanjutkan apapun yang ingin keluar dari mulutnya. Aku melihat ayahku begitu kuat mengatupkan kedua bibirnya sambil menatap adikku yang malang.


Sentuhan lembut tangan ayahku memeluknya mampu meredakan tangis adikku yang pecah.


Isak tangis yang tadi keluar pun kini sudah bisa terbendung.


Ibu sambungku yang melihatnya pun semakin gerah terlihat dari raut wajahnya yang begitu masam. Dia yang berdiri di dekat ayah dan adikku kini membuka mulutnya bersuara kepada ayahku.


" Kau begitu memanjakan anakmu yang satu ini." Kata Ibu sambungku dengan ketus.


Ayahku yang mendengarnya kini semakin kesal. Wajahnya yang tadi datar kini terlihat begitu memerah seperti mengeluarkan api panas. Ayahku pun menatap ibu sambungku dengan tajam dan kedua matanya mendelik.


Tatapan ayahku tidak sekalipun berpaling dari ibu sambungku. Ayahku yang duduk di kursinya sambil memangku adikku menggigit kedua gerahamnya dengan kuat.


"Berani sekali kau ikut campur antara aku sama anakku!" Ayahku dengan suara yang meninggi melemparkan kata-kata itu kepada dia. " Kau tidak usah mengatakan sepatah katapun karena aku tidak pernah memintamu untuk mengatakan apapun didalam rumah ini." Ayahku dengan mendelik menatap ibu sambungku.


Aku yang berdiri dibalik pintu kamar gemetar mendengar suara ayahku yang begitu memenuhi seisi ruangan rumah kami ini.


" Oh! Jadi, begitu ya! Biar kau tahu, ya!" Menunjuk adikku dengan penuh penekanan. "Anakmu ini! Yang satu ini selalu membuat masalah." Kata Ibu sambungku dengan meninggi dan raut wajah yang berapi-api. "Kau begitu memanjakan dia tiada hari tanpa mengikuti semua kemauannya." Dengan hati yang berapi-api ibu sambungku terus meneror ayahku dengan ocehannya.


"Diam!" Teriak ayahku dengan keras. " Itu bukan urusanmu mau aku memanjakan dia ataupun tidak! Karena dia itu adalah putriku. Dia itu darah dagingku mana mungkin aku lebih mendengarkan mu dari pada anakku." Ayahku begitu kesal dengan raut wajahnya yang terlihat panas.

__ADS_1


Aku yang berada didalam kamar begitu panik dan cemas melihat kejadian hari ini dirumah kami. Aku yang dalam keadaan sakit begitu gusar mendengar pertengkaran yang begitu hebat. Membuatku seketika, seperti berada didalam cengkraman mulut harimau yang buas.


Kakiku yang lemah terkulai yang tadinya bisa menopang tubuhku meskipun dalam keadaan tertatih kini tidak bisa lagi menopang walaupun dalam keadaan berjalan. Jantungku rasanya kini seperti mau lepas.Napasku pun kini seperti mau putus. Darahku yang tadinya masih bisa kurasa dengan normal kini tak ada lagi yang kurasakan. Aku seketika berusaha menetralkan semua yang aku alami hari ini. Berusaha dengan kuat untuk mencairkan semau suasana yang mencekam.


" Biar kau tahu! Kau tidak ikut mengalami apa yang di alami anak-anakku sewaktu mereka di tinggal Ibunya. Jadi, jangan coba kau menghalangi aku! Apalagi mengajari ku tentang anakku." Kata ayahku dengan penuh penekanan.


" Apa kau pikir kau saja yang punya anak!" Ibu sambungku pun terus melontarkan kembali kata-kata yang ingin dia cetuskan kepada ayahku. " Banyak orang diluar sana yang punya anak. Tapi tak ada seperti dirimu!" Katanya dengan kesal.


Cih! Ayahku pun terlihat begitu kesal dengan menatap ibu sambungku dengan tajam. Sementara, adikku yang berada didalam pangkuan ayahku diam dan melihat mereka yang bertengkar.


Aku tetap dibalik pintu melihat dan mendengar kan semua. Kedua bola mataku pun aku arahkan ke adikku yang berada di dalam pangkuan ayahku. Adikku begitu sinis melihat ibu sambungku yang mencoba menghalangi ayahku tidak memanjakan dia kembali.


Tatapannya begitu ingin menerkam wanita yang ada dihadapannya jika dia bisa. Adikku begitu kesal terlihat dari sorot matanya yang tajam.


" Jangan pernah kau samakan aku dengan orang diluar sana." Ayahku yang masih duduk di kursinya menyampaikan dengan ketus.


" Malu kau bilang! Siapa yang malu." Kata ayahku sedikit mengecilkan suaranya.


Ayahku yang melihat aku keluar dari kamar dan berjalan menghampiri mereka yang lagi ribut. Menarik napas panjang melihat adikku yang masih dalam pangkuannya. Sementara, ibu sambungku pergi keluar meninggalkan kami.


"Ayah! Kenapa Ayah sampai bertengkar?" Tanyaku dengan suara yang parau.


Ayahku tidak menjawab apapun dari pertanyaan yang aku berikan kepadanya. Dia hanya dia dan menatapku juga dengan wajah yang kesal. Sementara adikku yang berada dipangkuan ayahku hanya diam dan menatap ku dengan wajah manjanya.


" Liyan, kalau kamu melihat Ayah bertengkar jangan suka menguping." Kata ayahku dengan datar. " Ini tidak! Malah berdirinya kamu disitu melihat dan mendengarkan orang tua kamu bertengkar." Ayahku sambil melihat jam dinding dengan memutarkan kepalanya ke sebelah kanan.


" Ayah! Makanya Ayah jangan bertengkar didalam rumah." Kata adikku yang duduk dipangkuan ayahku saat ini.

__ADS_1


Ayahku pun sontak melihat adikku. Adikku yang tadi duduk di pangkuannya kini berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Liyan, Ini sudah mau masuk Maghrib. Apa kamu tidak makan?" Tanya ayahku yang beranjak dari kursinya.


" Ia, Ayah! Liyan sebentar lagi makan." Aku yang berdiri menghadap ayahku.


Ayahku yang sudah terlihat begitu tenang. Berjalan perlahan ingin mengambil wudhu. Seketika tiba-tiba terhenti dengan suara adikku yang berdiri tepat didepan pintu.


" Ayah! Ibu itu kemana tadi perginya?" Tanya adikku yang diam didepan pintu memutarkan badannya melihat ayahku.


" Ayah tidak tahu,nak." Jawab ayahku dengan tegas sambil melanjutkan perjalanannya.


Aku yang disamping ayahku begitu sedih melihat keluarga kami hari ini. Terjadi keributan yang tidak ada belum jalan tengahnya. Aku yang memikirkan juga ibu sambungku dan ayahku harus bisa melakukan sesuatu.


"Kak,kakak besok sekolah?" Tanya adikku mengalihkan pandangannya.


" Belum tahu dek." Jawabku dengan tegas.


" Kak,kalau kakak sekolah.Kita besok pergi bareng." Adikku berjalan menuju sudut dinding luar kamar ayahku.


Aku yang masih diam berdiri mengikuti langkahnya dengan kedua bola mataku yang kecil.Adikku begitu cerdik untuk menarik simpati dari ayahku agar dia tidak berlanjut dimarahi.


Aku yang tahu bagaimana sifat ayahku apabila dia sudah marah ombak pantai yang besar pun bisa dia hempaskan.


Aku yang sering terkena amukan ayahku pasti sudah kebal dengan apa yang akan disampaikan ayahku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2