
Pak Duan langsung menaikkan alis kalau keinginan mereka sama. Dia langsung melebarkan kedua bola matanya sebagai isyarat bertanya pada Rasyd jadi, keluar atau tidak.
Sontak murid yang telah mengetahuinya langsung menjawab. "Jadi, Pak," jawab mereka yang tidak mau menunggu lama lagi.
"Oke. Ikut saya," pinta Pak Duan berjalan keluar.
"Baik Pak." Kami langsung berdiri mengambil baju olahraga raga dan ada juga yang meminggirkan bukunya ke sudut meja. Aku yang hanya terpaku duduk memegang baju olahraga bersandar di bangku.
"Kau senang sekali terlihat, Liyan. Aku itu sangat menyukai olahraga. Apa kau ingin bermain bersama?" tanya Widia mengambil baju olahraga raga.
"Bermain bersama apa?" tanyaku dengan heran. "Kenapa kau bilang aku terlihat senang? Apa aku seceria itu?" Aku memutar kepala melihat diriku di balik tembok.
"Liyan, mana mungkin kau dapat melihat wajahmu di situ." Widia menunjuk tembok dengan menaikkan alisnya.
"Itulah maksudku Widia. Aku itu terlihat tidak bahagia. Makanya kau tidak melihatnya," kataku.
"Liyan, jangan bermain dengan ucapanmu. Aku tidak suka," cetus Widia.
"Sejak kapan kau senang olahraga?" tanyaku. Selama ini aku tidak pernah melihatmu senang kalau olahraga." Aku kembali mengulangi memoriku mengingat masa lalu. "Yang aku tahu dulu kamu, kalau teman keluar ya, kamu ikut keluar. Tapi tidak pernah kau bilang kau suka olahraga."
"Kau memang benar Liyan. Aku hanya suka keluar kelas. Aku bosan di dalam kelas, tiap detik belajar," kata Widia. " Aku ingin sesekali keluar meskipun, aku tidak olahraga," ujar Widia.
Mendengar omongan Widia seketika seleraku menghilang. Rasa frustasi mengingatkan memoriku tentang rumah sakit. Seketika anganku pun melayang.
"Ayo cepat Liyan! Widia menarik lenganku untuk mengganti pakaian.
"Aku tidak ikut olahraga. Tubuhku lemas." Aku bersikeras bertahan untuk tidak keluar.
"Ikut saja, melihat kami bermain," ujar Widia.
__ADS_1
"Aku takut nanti aku dimarahi." Aku memang merasakan ketakutan yang besar.
"Aku ini temanmu, mana mungkin aku tega melihatmu seorang diri di sini." Widia menundukkan tubuhnya. "Kita itu bukan hanya sekedar teman, tapi sudah seperti saudara sendiri bagiku. Ayolah kita keluar sebentar saja. Pasti kau akan senang dan sakitmu langsung hilang."
"Tapi, aku takut, kalau aku akan sakit lagi." Aku langsung sendu.
"Kenapa takut? Bapak itu tidak akan memaksa mu." Widia semakin merengek memaksaku untuk ikut dengannya.
Melihat rengekan Widia hatiku seketika berubah. "Ya sudah! Aku akan ikut denganmu. Tapi tunggu sebentar, ya," kataku pada Widia dengan lembut.
"Iya," balas Widia dengan nada suara bersemangat.
Akhirnya, hatiku luluh. Hari ini ketegasan yang tadi membentang kini runtuh seketika. Pakaian seragam olahraga raga yang terletak di atas pangkuanku telah aku pakai. "Ayo," ajakku mengajak Widia berjalan melewatinya.
"Liyan, kau tidak bercanda 'kan?" tanya Widia.
"Tidak," jawabku.
"Tania, biarkan kami pergi sekarang. Kami sudah terlambat. Kami ingin olahraga," kata Widia menyelip dari Tania.
"Tunggu!" Tania merentangkan tangannya di di hadapan kami menghalangi langkah kami dan ingin menjatuhkan tubuhku spontan.
"Tania, kau itu apa-apaan sih, kau tahu 'kan?! Liyan lagi sakit. Kalau sampai Liyan terjatuh, bagaimana?" pekik Widia.
"Heh, kalau Liyan sakit, apa hubungannya denganku? Emang dia itu Anak orang tuaku, apa?" tanya Tania memekik di telinga Widia.
"Kalau dia sakit itu engga jadi, urusan kami. Dia 'kan masih punya orang tua. Kenapa kami yang di salahkan?" Ecy memutar pertanyaan kembali.
Diriku semakin terintimidasi, rasa tidak nyaman pun kembali menggugupkan kakiku yang melangkah.
__ADS_1
"Aku tidak akan sakit,"Kataku dengan polos menguatkan diriku sendiri di hadapan Tania dan Ecy.
"Kamu yakin?! Ecy menatapku dengan serius. "Tapi aku lihat, kau terlihat lemas, Liyan," ucap Ecy kembali.
"Tidak, aku tidak sakit." Aku berdiri dengan nada suara tegas membangkitkan semangatku dari keterpurukan ucapan Tania dan Ecy.
"Hm! Berarti kamu sudah sembuh. Kamu berobat di mana?" tanya Tania ingin tahu menatapku dan mengikuti aku berjalan.
"Liyan, kalau kau sudah sembuh, berarti hari ini kita harus berolah raga dong," balas Tania dengan tatapan mata yang menantang.
"Tania jangan memaksa Liyan," timpal Widia mendinginkan perdebatan yang akan terjadi ketika aku melihat wajah Widia mulai memanas.
Tania langsung mengerutkan keningnya setelah mendengar omongan Ecy. "Hei, Ecy sebenarnya temanmu itu sekarang siapa?" tanya Tania membelalak.
"Kalian jangan bertengkar hanya gara-gara aku karena kalian 'kan berteman," kataku sambil berjalan. "Aku tidak mau kalau Pak Duan mendengar kita bertengkar.
"Bertengkar dengan siapa?tanya Ecy dengan sinis. "Aku tidak merasa bertengkar denganmu. Kamu aja yang terlalu percaya diri."
Perkataan mereka sangat memojokkan saat ini sehingga aku rasanya bagaikan orang asing di hadapan tanah yang melihat kakiku melangkah.
.
.
.
Teman-teman terimakasih telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung...