Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Terpukul


__ADS_3

"Liyan, kau itu sampai kapan pun tidak akan pemberani!" cibir Septiani. Masih melihat ke arah pintu kelas adikku.


Aku yang masih tertekuk seketika terperanjat. "Fikri," kataku pelan pada diriku sendiri. Melihat Fikri berjalan bersama Rasyd dan Solihin menuju ke arah kami.


"Septiani jangan bilang begitu." Widia seakan bersedih mendengarnya. "...Liyan, 'kan masih kecil," lanjutnya. Menatapku.


Ocehan Widia dan Septiani terus terdengar. Aku yang masih bergeming melihat Rasyd, Fikri dan Solihin. Sama sekali tidak begitu menyimak yang di bicarakan oleh mereka berdua.


Teng! Teng! Teng!


Bel pun berbunyi nyaring menembus telingaku. Anak -anak lalu berlarian mengambil barisan di tempatnya masing-masing. Seperti biasa di setiap hari senin kami melakukan upacara bendera.


Aku pun ikut berlari juga dengan kencang meninggalkan Widia dan Septiani lalu mengambil barisan di tempat yang kuinginkan. Fikri, Rasyd dan Solihin pun menghentikan langkahnya sambil tertawa kecewa bercampur geli karena gagal untuk menghampiri kami dan memutar badan balik ke belakang tepat ke barisan upacara. Aku yang berlari melihat mereka bertiga mengatur barisan teman-temanku semakin mengayun kaki dengan kencang.


"Liyan, awas jatuh!" tegur Widia. Menghentikan langkah yang kencang. Berteriak dari belakang mengingatkan aku.


"Liyan, nanti kalau kau jatuh. Kau tidak ikut ujian. Kalau kau tidak ikut, pasti kau tinggal kelas?!" celetuk Septiani menatapku dengan wajah mengejek.


Aku spontan terpukul dan memelankan langkah setelah mendengar omongan Septiani. Perlahan aku memutar badan membelok ke sebelah kiri. Dimana tempat anak-anak berbaris.


Upacara bendera yang setiap saat di lakukan. Kini telah siap untuk di mulai. Guru-guru pun telah berbaris dengan rapi begitu juga dengan pembawa upacara. Kami dan seluruh murid pun telah menyiapkan barisan dan mengatur pasukan upacara masing-masing agar tertib.


Satu suara pun tidak ada terdengar. Seluruh murid terlihat diam dan mendengarkan pembawa upacara membacakan naskah upacara. Aku dan seluruh teman-teman yang lain pun diam mendengarkan dengan hikmat. Satu pun tidak ada dari kami yang berbisik. Solihin yang setiap hari bercanda dengan humornya dan juga menjahili kami yang lagi upacara kini terlihat sangat diam dan tenang.


Aku yang tanpa sengaja melihatnya begitu sangat terharu. Wajahnya yang setiap hari tidak bisa lepas dari candaan kini terlihat serius mendengarkan upacara yang sedang di jalankan sekarang.


Upacara yang sedang berlangsung sedikit lama terasa bagi kami. Semua siswa-siswi pun sangat gerah karena sinar matahari yang bersinar hari ini tanpa mengurangi kecepatan sinarnya membias kami. Matahari yang menempel di awan pun dengan terik menyeruak memancarkan cahayanya yang terang benderang.


Setelah beberapa saat matahari pun turun menyinari bumi tidak terasa kami pun hampir selesai. Upacara pun di bubarkan dan seluruh siswa berlarian dengan kencang sambil tertawa dengan girang bersahut-sahutan. "Horeeee, kita sudah selesai. Hihihi, hahahaha," Karena upacara telah dibubarkan.


Aku yang mengikut di belakang mereka pun ikut senang juga. Aku yang berjalan pun melihat ke langit sambil menarik bibirku dan melepaskan semua keluh kesah yang memundak bersama cibiran yang menganak.


Kesendirian yang menemani langkah tidak menghilangkan senyuman di wajahku. Meski sikap Widia dan Septiani telah berubah dingin. Tapi aku masih punya teman lagi yaitu, adikku. Adikku selalu menjadi teman setiaku dalam keadaan apapun. Begitu juga dengan Fikri. Dia tidak pernah memutuskan persahabatan dengan ku, bahkan dia masih menyempatkan diri untuk menyapa dan bertanya tentang keadaanku.


Hal inilah yang aku lihat dari dalam dirinya sehingga aku tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya, apalagi menunjukkan kalau hubungan persahabatan aku dan Widia serta Septiani telah renggang. Selihai mungkin aku menjaganya meski hati ini telah menyerah. Lelah sudah pasti aku rasakan. Namun, itu tidak membuat aku menyerah. Lagi-lagi semua yang kulakukan hanya demi mereka bertiga yaitu Solihin, Rasyd dan Fikri. Bagaimana pun aku harus tetap tersenyum bahagia di dalam awan mendung yang gelap.


Rasyd yang sebenarnya lebih peka. Dia tidak pernah mempertanyakannya dengan serius. Dia malah menganggap ini hanya sebuah ilusi. Lain halnya dengan Solihin yang sudah mencium bau kerenggangan persahabatan kami. Dia hanya menyikapinya dengan tenang dan tidak langsung berpikir negatif. Apalagi dia masih belum mengatakannya pada Fikri.


"Liyan! Widia dan Septiani tidak pernah lagi berjalan bersamamu," kata Solihin yang telah mengetahuinya. Berjalan menghampiriku. "Aku jadi heran! Jangan-jangan mereka sudah tidak mau lagi berteman dengan mu... ." Solihin terdiam menatapku dengan dalam.


"... bagaimana?" tanyanya. Terus berjalan melihat Rasyd yang menganyunkan tangan menyapanya.


Aku hanya membisu mendengar yang dikatakan oleh Solihin. Aku langsung melihat kakiku yang melangkah. "Aku tidak tahu," kataku menggeleng. "...aku tidak tahu, salahku apa?" ungkapku kepada Solihin. Bersedih.


"Solihin, kau sudah di sini." Rasyd mengayunkan tangan sebelah kanannya di bahu Solihin.


Aku tidak lagi berkata apapun pada Solihin karena Rasyd telah tiba. Aku hanya diam memangku keperihan ini seorang diri. Solihin yang berjalan di samping bersamaku dan mengobrol bersama. Kini memalingkan topik pembicaraannya pada Rasyd. Aku yang melihat ke arah mereka lalu memalingkan pandangan kembali ke arah yang lain sambil menarik bibir tersimpul manis menyembunyikan kesedihan.


"Fikri di mana?" tanya Solihin


"Bukannya Fikri tadi bersamamu?" tanya Rasyd dengan antusias. Berjalan.


"Tidak," jawab Solihin. "Aku dari tadi berjalan bersama Liyan." Solihin mengatakannya kembali.


"Bukannya tadi Fikri di sampingmu?" tanya Rasyd semakin heran.


Aku yang telah berjalan tiga langkah di depan dari mereka masih mendengar pembicaraan mereka meski bercampur dengan angin yang berembus.


Pintu kelas yang terbuka telah terlihat dan seluruh siswa pun telah menyambanginya kemudian melangkah masuk. "Liyan, kau baru sampai?" tanya Widia seolah terheran melihatku.


"Iya," jawabku singkat. Duduk di bangku.


"Kau tadi berjalan dengan Solihin. Kalian bicara apa?" tanya Widia ingin tahu.


"Kami hanya bicara tentang Fikri," jawabku berdalih. Aku merasa lega karena Widia telah mau berbicara padaku.

__ADS_1


"Hahaha, bicara tentang Fikri?!" Septiani sedikit tertawa dan seakan bertanya dengan heran. "Kalau aku boleh tahu bicara, apa?" tanya Septiani tiba-tiba. Melihatku.


Aku langsung menunduk diam seakan Septiani membuatku malu. Aku yang melihat ke arahnya yang masih berdiri di dekat Widia. "Widia mana buku ceritanya...?" tanya Septiani. "...yang kau bilang tadi," lanjut Septiani. Melihat-lihat ke atas meja Widia sambil memegang pensil milik Widia.


Aku yang melihat dari ekor mata ingin sekali bertanya pada Septiani. Buku apa yang ingin dipinjamnya dari Widia? Aku semakin penasaran dan aku pun kemudian menaikkan kepala sedikit tegak meski terlihat sedikit menunduk.


"Ini," kata Widia menyerahkan buku.


Buku yang tepat lewat dari depan mataku mengundang rasa ingin tahuku semakin dalam. Aku pun berpura melihat ke arah yang lain dengan menaikkan kepala dengan tegak. Kedua bola mata sembari melihat buku yang di pinjam Septiani dengan berpura-pura menatap lurus ke arah dinding kelas.


"Widia aku pinjam, ya!" ucap Septiani. "...tapi mungkin agak lama," Septiani mengatakan dengan sejujurnya. Melihat buku yang telah sampai di tangan. "...aku mengembalikannya." Septiani menatap Widia dengan gurat wajah meminta izin.


"Iya, tapi jangan hilang, ya!" Widia mencemaskannya sedikit. "... karena aku takut di marahi Ibuku," tandasnya.


Aku pun langsung melihat buku itu yang berjudul "Lima sekawan". Sontak aku langsung terperangah melihatnya. Mataku langsung menatap nanar buku yang di bawa oleh Septiani.


"Terimakasih," ucap Septiani melenggang dengan buku yang dibawanya.


Seketika aku langsung menyadari dengan dalam. Secara tidak langsung aku sudah merasa kalau Widia sudah tidak menganggapku lagi sebagai bagian sahabat dari mereka. Aku langsung tertunduk dengan lesu dan memutar badan menjauh dari tatapan Widia seketika.


"Liyan, kau sakit, ya?" tanya Widia yang berpura.


"Tidak," jawabku dengan nada suara yang pelan dan sedikit hati yang terkejut serta lemas.


Widia kembali diam dan menyiapkan buku-buku serta peralatan untuk melanjutkan pelajaran yang akan tiba. Aku yang secara mental terasing sudah. Semakin meremas dada ini hingga air mata ingin segera menganak di pelupuk mata.


Dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca. Aku menjatuhkan tubuh ini sambil menahan tangis. Hari ini dimana hari, tanggal dan bulan serta tahun adalah awal yang bersejarah bagiku. Dimana aku baru pertama kali mengetahui bahwa sahabatku sudah tidak menganggapku lagi bagian dari mereka.


Buku yang berjudul "Lima Sekawan" sudah menjadi jawaban yang jelas atas semuanya. Sekelabat air mata ingin bercucuran dengan deras membasahi pipi. Sekuat mungkin aku menahannya agar Widia, Fikri dan yang lainnya tidak mengetahuinya.


Aku tidak ingin Fikri dan yang lainnya mencemaskan persahabatan ini terkhusus untuk Solihin yang sudah mengetahuinya. Aku tidak ingin dia membenci Septiani yang telah berhasil menghancurkan pertemanan ini. Sebisa mungkin aku terus berusaha memberikan yang terbaik untuk temanku yang lain. Meski aku tidak lagi mau menerimanya. Namun, demi persahabatan dan juga demi Fikri yang tidak menyukai adanya perselisihan di antara kami membuat aku semakin menjaganya sebaik mungkin.


Fikri adalah orang yang tidak menginginkan persahabatan ini hancur berantakan dan sia-sia. Dia sangat membenci hal itu. Apalagi kalau sampai dia tahu ini semua ada hubungannya dengan Septiani.


Pelajaran matematika yang kami bahas ini pun telah selesai kami kerjakan minggu semalam. Bagi teman yang belum menyelesaikannya kemarin bu Rosita pun menyuruh mereka untuk mengumpulkannya sekarang. Meskipun sudah tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam buku nilai.


"Anak-anak! Bagi kalian yang belum mengumpulkan tugas yang kemaren. Harap kumpul sekarang!" pinta bu Rosita dengan tegas.


"Iya Bu," jawab siswa yang lain.


"Bu ini tidak masuk nilai lagi, ya?" tanya Tania dengan sedikit lantang.


"Tidak," jawab Bu Rosita dengan tegas.


"Kenapa tidak masuk , Bu?" tanya Ecy dengan kecewa.


"... karena kalian tidak mengumpulkan tepat Waktu," tandas Bu Rosita.


"Enaklah si Liyan, Bu!" Lirik Tania dengan penuh kebencian. "...tugas dia selalu masuk ke dalam buku nilai," celetuk Tania dengan ketus.


"Namanya si Liyan, mengumpulnya tepat waktu," sahut Bu Rosita dengan tegas. Memeriksa buku anak-anak yang lain. "Bagi yang belum mengumpulkan. Harap kumpulkan sekarang," pinta Bu Rosita kembali dengan penuh penekanan. "...dan satu lagi. Jangan lupa buat di buku PR." Bu Rosita kembali melihat buku setelah melihat kami.


"Iya, Bu. Kami sudah membuatnya di buku PR," balas temanku yang lain.


"Baiklah." Bu Rosita langsung membalasnya dengan spontan.


Buku pelajaran matematika dan buku latihan yang sudah terletak sedang menunggu perintah untuk kami buka dan tulis.


"Fikri!" panggil Bu Rosita dari depan kelas.


"Iya, Bu," jawab Fikri.


"Kenapa bangku temanmu yang di belakang itu kosong?" tanya Bu Rosita. Menaikkan kepala melihat Fikri dan kemudian melihat bangku. "Siapa yang duduk di situ?" tanya Bu Rosita ingin tahu.


"Si Pudan Bu," jawab Rasyd memotong langsung dari meja belakang.

__ADS_1


"Si pudan?" tanya Bu Rosita dengan melebarkan kedua bola mata dan memutar kepala mencari tahu dengan melihat sekeliling ruangan seakan dia mencari teman kami yang bernama si Pudan itu. Apakah dia masuk atau tidak ? Ataukah dia pindah bangku atau tidak ? Bu Rosita langsung menarik napas karena tidak menemukan si Pudan.


"Kalau Ibu boleh tahu... ." Bu Rosita menatap Fikri. "...Pudan kemana?" tanya Bu Rosita ingin tahu.


"Si Pudan sakit, Bu," jawab Ecy langsung.


"Sakit apa?" tanya Bu Rosita sambil memeriksa dan memberi nilai pada masing-masing tugas teman-temanku.


"Kami tidak tahu, Bu," jawab temanku serempak. Sementara aku hanya diam saja seperti anak kecil yang kehilangan semangat.


Aku merasa lemas akibat melihat buku cerita yang di pinjam oleh Septiani.


"Sudah berapa lama Pudan sakit?" tanya Bu Rosita semakin penasaran. Menghentikan langsung tangannya yang memegang pena. Menegakkan kepala melihat Fikri.


"Sudah satu minggu, Bu," jawab Solihin.


"Kenapa tidak kalian jenguk, Nak?" tanya Bu Rosita dengan nada suara yang lemah lembut. Melihat Solihin dan sekilas melihatku juga.


Aku yang bertemu pandang dengan Bu Rosita pun . "Lupa Bu," jawabku dengan pelan bersama teman yang lain.


Keadaan Pudan yang sakit seakan-akan mengingatkan akan penyakitku dua bulan yang lalu. Dimana penyakit itu begitu mematikan ketika menyerangku sehingga aku tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi.


"Bu, tapi kami tidak tahu di mana rumah si Pudan," teriak salah seorang temanku menerangkan.


Sontak Bu Rosita terkejut. "Kalian tidak tahu rumahnya ?" tanya Bu Rosita dengan wajah melongo.


"Iya Bu. Kami lebaran jarang ke rumahnya," kata Solihin bercanda.


"Hahaha !" Sontak kami pun tertawa. Aku yang tadinya melamun mengingat penyakitku yang dulu. Refleks membuka kedua bibirku dengan tipis.


Solihin yang berceloteh seenaknya mengundang tawa seluruh siswa dan Bu Rosita pun ikut tertawa mendengarnya. "Solihin kenapa lebaran tidak kamu singgahi ke rumahnya ?" tanya Bu Rosita berceletuk kembali pada Solihin.


"Kami engga ada uang, Bu," jawab Solihin. Melihat ke arah Bu Rosita sambil memandangi pensil yang dia ayunkan setengah di udara tepat mendekati wajahnya. Menarik bibirnya dengan tipis.


"Kalian bisa mengumpulkan uang," sambung Bu Rosita. Melihat buku yang telah siap di nilai dan menyusunnya rapi di sebelah kanan tepat di tepi meja.


"Hahaha !" Tawa seluruh siswa.


"Sekarang jangan lagi tertawa. Buka buku kalian halaman selanjutnya," perintah Bu Rosita. "...di situ ada kalian lihat tentang perkalian, 'kan?" ucap Bu Rosita dengan penuh penekanan bertanya balik kepada kami.


Aku dan yang lainnya pun melihat buku sesuai yang di suruh oleh Bu Rosita kepada kami. Perkalian yang menjadi bahan untuk tugas yang akan kami kerjakan hari ini. Begitu sulit terlihat. Dimana perkalian yang baru aku kenal membuntukan cara berpikirku sejenak.


"Anak-anak lihat ke papan tulis!" seru Bu Rosita dengan semangat. Dia pun berdiri menjelaskan sambil menulis dan menjabarkannya dengan lihai agar kami bisa memahami pelajaran yang baru kami kenal ini.


Aku kemudian langsung melihat ke papan tulis sesuai yang di suruh oleh Bu Rosita. Teman-teman yang lain pun melihat juga dengan tertib dan diam. Bu Rosita yang menjelaskannya semakin terlihat semangat. Dia begitu pandai menerangkan sampai kami mengerti.


"Apa kalian sudah paham?" tanya bu Rosita dengan lantang. Berdiri di depan papan tulis sambil memutar badan berdiri lurus tepat di depan kami.


"Bu, kami sudah paham. Tapi tidak tahu dengan Solihin," ucap yang lain.


"Iya Bu. Solihin dari tadi tidak serius memperhatikan Ibu," cetus Tania dengan lugas.


"Apa itu benar Solihin? Kamu belum mengerti ?" tanya Bu Rosita menyelidiki.


"Bohong Bu," tampik Solihin langsung dengan gurat wajah yang terlihat ngotot.


"Bohong apa? Aku memang benar," serang Tania dengan mimik wajah tidak senang.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2