Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kelas tiga telah berakhir


__ADS_3

"Yeeee!" Sorak gembira anak-anak menyambut ujian telah berakhir.


"Jadi, kita akan libur panjang mulai hari ini," kata Bu Dona selaku wali kelas kami.


"Bu, jadi kita lama tidak berjumpa, Bu," kataku dengan sendu.


"Liyan, kita pasti akan berjumpa kembali setelah masuk. Jadi, Ibu mungkin tidak akan menjadi wali kelas kalian lagi," tandas Bu Dona dengan lirih. "Jadi, kalau Ibu ada salah pada kalian...dan juga padamu, Liyan, Ibu manta maaf ya, Anak-anak," kata Bu Dona memecah keheningan.


"Bu kita akan bertemu lagi," ucap Fikri.


"Iya, Bu. Kami mau wali kelas kami nanti Ibu juga," kata Rasyd.


"Itu semua tergantung kepala sekolah, Nak!" sambung Bu Dona semakin mengharukan.


Setelah selesai Bu Dona berpidato memberi kami nasihat. Kami pun satu per satu menyalaminya. Mulai dari barisan aku yang satu barisan dengan Fikri. Baru di ikuti oleh barisan Septiani dan yang lainnya.


"Hati-hati di jalan ya, Nak. Persiapkan perlengkapan kalian untuk kelas berikutnya," kata Bu Dona yang menyambut uluran tangan kami. Berdiri tepat di pintu.


"Iya, Bu," jawaku di ikuti oleh Tania berdiri menunggu ingin bersalaman dengan Bu Dona tepat di sampingku.


Lapangan sekolah luas pun telah kami tinggalkan. Tidak ada lagi jejak tertinggal di bangku kelas tiga. Kenangan bersama teman-teman pun kini ikut juga menyelubungi diri ini.


Pintu ketiga terlihat dengan penuh kenangan manis dan pahit. Aku yang berjalan dari jauh menatapnya ke belakang. Memori seakan tersimpan di dalam pikiran ini. Teriakan dan celaan Tania serta Ecy terlihat menggantung di depan pintu kelas.


Teriakan itu seakan terdengar keras mengaung di udara dengan nyaring. Aku dan teman-temanku pun pulang ke rumahnya masing-masing.


"Liyan, luan ya!" teriak Fikri berjalan bertiga bersama Rasyd dan Solihin. Mereka saling merangkul satu sama lain.


"Iya," jawabku dengan terpaku melihat mereka.


Pagar sekolah yang di jaga ketat oleh pak Sukri pun tampak sunyi seakan tidak berpenghuni.


Anak-anak pun telah berhamburan keluar pagar dengan bahagia. Ada yang tertawa lebar, ada yang bercanda dan ada bersorak bahagia menyambut hari esok menerima raport.


Mereka sangat senang karena ujian telah selesai. Begitu juga dengan diriku aku sudah tidak sabar untuk duduk di bangku kelas selanjutnya.


Widia dan Septiani hingga saat ini belum juga mau berteman baik dengan ku. Jalan yang sedikit mendung kulalui di tengah rumah dan warung-warung jalan yang semakin memecah kesunyian kaki yang melangkah.

__ADS_1


Badan jalan yang terlihat penat oleh banyaknya pengendara yang melintas membuat aku semakin berhati-hati. Orang-orang pejalan kaki pun terlihat sibuk mengejar langkah dengan menyeret kaki kencang.


Ayunan yang sering kulalui ketika pulang sekolah kini tergantung diam tanpa ada satu anak pun yang menaikinya. Aku yang sering melihatnya ketika pulang sekolah sangat ingin dan kepingin untuk bermain di ayunan yang tergantung diam di bawah pohon.


Aku begitu tertegun bercampur bahagia ketika aku kembali melewatinya. Ayunan yang terbuat dari karet ban itu sangat menarik perhatianku untuk melangkah mendekatinya.


Ayunan itu sangat membenamkan mata ketika melihatnya sampai aku kembali lupa pulang tepat waktu.


"Liyan, kau di sini?" tanya suara separuh baya mengagetkan aku.


Aku yang menaiki ayunan seorang diri mendadak terhenti dengan kuat sehingga aku hampir saja ingin terpental ke depan.


"Ibu," gumamku dengan kedua bola mata membelalak lebar bercampur kaget. Aku sangat pucat setelah melihat dia yang menempelkan kedua tangannya di kedua pinggangnya.


"Jadi, kau di sini bermain, ha?" teriaknya bertanya dengan kedua sorot mata yang tajam.


Aku lekas turun dan merapikan rambutku yang terkena embusan angin.


"Dari sana sampai ke mari Ibu mencarimu. Bolak-balik Liyan...bolak balik! Ternyata kau di sini," hardiknya dengan melayangkan tatapan yang tajam.


Aku semakin gugup setelah melihatnya berdiri tegak di hadapanku. Aku mencengkram sebelah tanganku dengan kuat.


"Ayahmu pasti akan berteriak nanti di rumah karena tidak melihatmu ada di rumah. Sudah berapa kali di bilang, Liyan! Jangan jauh-jauh! Ibu mencarimu ke sana kemari. Ternyata kau di sini asyik bermain ayunan!" katanya berjalan dengan terburu-buru.


Aku pun mengikuti langkahnya dengan terburu-buru juga.


"Nanti begitu kau sampai di rumah, Ayahmu pasti akan memarahimu. Sudah berkali-kali di bilang jangan lagi terlambat pulang. Eeh, ini malah terlambat lagi, kan kesal melihatmu. Lagi-lagi kau saja yang membuat keributan terjadi di rumah. Adikmu juga sudah merepet mencarimu. Dia pasti juga akan memarahimu," tandasnya.


Aku semakin diam melihat ujung kaki yang melangkah.


"Sudah lama kau pulang, iya?" tanyanya dengan nada suara sedikit meninggi. Melirikku.


"Iya Bu," jawabku pelan.


"Kenapa kau singgah di situ bermain ayunan ?" tanyanya menyelidik. "Tidak ada teman lagi! Kalau kau hilang di bawa orang, bagaimana?" katanya bertanya padaku.


Suara itu semakin mengunci bibir ini dengan rapat.

__ADS_1


"Sudah harinya mendung. Anginnya kencang. Kau malah tenang di situ bermain ayunan, ada-ada saja kau, Liyan." Suaranya semakin ringan memarahiku terdengar lepas bercampur angin yang berembus.


"Tadi aku kepingin bermain ayunan, Bu,"jawabku pelan bercampur takut.


"Kalau kau kepingin. Pulang dulu ke rumah, ganti baju baru bermain," ucapnya.


Aku menelan pil pahit lagi. Setelah ayahku dan adikku kini giliran ibu sambungku yang memarahi di tengah jalan.


"Ibu, aku takut kalau Ayah tidak mengizinkan keluar," kataku dengan nada suara getir.


"Bagaimana mungkin dia melarangmu?" tanyanya dengan nada suara kesal bercampur sebal dengan gurat wajah bimbang.


Baju pramuka yang kukenakan hari ini terasa dingin kena embusan angin. Baju terus setengah panjang milik ibuku pun terlihat sedikit menyingkap terbawa angin.


"Tapi ini hari jumat, Liyan. Ayahmu mau pergi sholat jumat." Dia terus berjalan kencang hingga aku yang mengikutinya sedikit menyeret kakiku hingga terseok-seok.


Kaki pun telah sampai di depan rumah. Aku dan ibu sambungku telah berdiri tegak sambil melangkah masuk.


"Assalamualaikum," ucap aku dan ibu sambungku yang membuka pintu.


"Wa'alaikumussalam," jawab ayahku yang telah bersiap dengan pakaian sholatnya duduk di bangku tepat di bawah jendela yang berjarak tidak jauh dari pintu.


Wajah bengis adikku pun terlihat menyambutku. Dia yang berdiri di depan cermin langsung menyerangku. "Gara- gara Kakak aku di marahi Ayah," pekiknya langsung tanpa jeda.


Aku yang melepas sepatu pun sontak terperanjat mendengar serangan yang memekik itu.


"Kalau sudah pulang. Pulang dulu. jangan bermain di sana!" katanya dengan gurat wajah yang masam.


.


.


.


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya!🙏

__ADS_1



__ADS_2