Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Nasihat Ayah


__ADS_3

"Iya Nak! Itu yang Ayah inginkan dari kalian," kata ayahku. "Kalian semakin hari tumbuh dewasa, Nak! Jadi, Ayah harap dari kalian berdua janganlah terus bertengkar!" lanjutnya memberi nasihat. "Ayah tidak tau, kapan Ayah akan terus berada di samping kalian. Ayah sangat sedih melihat kalian berdua kalau terus saja berantem," ungkapnya.


Karena diriku yang paling besar aku harus terus saja mengalah demi kehangatan kamu Kakak beradik. Ayahku semakin lama akan semakin menua. Dia tidak akan bisa terus menerus menjaga kami berdua.


"Nak, kalau kalian berdua akur. Ayah sangat senang. Apalagi kau Liyan, Ayah sangat menggantungkan semua harapan Ayah padamu. Jadi, Ayah mohon kau harus bisa menjaga Adikmu yang cukup cerewet," ucap ayahku.


Aku yang selalu mendengarkan setiap ucapan ayahku kini pun harus sama demikian juga. Aku tidak boleh melewatkan sedikit pun dari kata-kata ayahku yang keluar begitu saja tanpa ada yang singgah di dalam benakku.


"Liyan, kau itu Anak Ayah yang cukup mengerti, Nak. Tidak banyak yang bisa Ayah katakan. Selain pengertianmu, Nak!" ucap ayahku kembali mengulangi yang dia inginkan.


Jemariku semakin lemah tidak berdaya mendengarnya. Ocehan ayahku hari ini sangatlah penting untuk ku.


"Sekarang hanya ada kalian berdua. Ibumu udah pergi, Nak! Jadi, mulai sekarang Ayah sangat membutuhkan bantuanmu untuk menjaga Adikmu," cetus ayahku. Berjalan mondar mandir membersihkan rumah yang setengah berantakan akibat aku dan adikku yang menyeret mainan.


Adikku yang bernama Ana Yumna sangat tenang dan rileks mendengarkan semua keluh kesah dari ayah kami. Wajahnya yang tenang sangat terpampang tanpa beban dan merasa bersalah.


"Jadi, harap Ayah pada kalian berdua. Kalau besok Ayah pergi mencari nafkah. Ayah mohon jangan ada di antara kalian yang bertengkar. Kalau sampai Ayah mendengarnya, Ayah akan titipkan kalian di rumah kerabat Ayah," tutur ayahku.


Deg!


Jantungku langsung mau lepas. Kedua jemari ini pun tidak lagi bisa menegang daun ubi dan mangkok mainan adikku.


"Kak, aku gak mau," bisik adikku pelan. "Aku gak suka," katanya pelan.


Aku yang tercengang mendengarnya hanya melayangkan tatapan penuh tanda tanya bercampur gelisah.


"Ana, makanya kita jangan bertengkar lagi," pintaku memohon.


"Kak, aku juga mau. Kalau kita gak usah bertengkar," ungkap adikku. Duduk termangu menghadapi mainannya.


"Kalau begitu mulai sekarang kita harus baik-baik, Dik," ajakku.


Raut muka adikku diam beberapa detik. Mainan yang ada dihadapannya kini terduduk bengong.


"Liyan, jadi ingat! Si Ana adalah Adikmu satu-satunya. Ayah minta samamu jangan pernah buat dia menangis, Nak!" pinta ayahku gamblang.


Sontak jemari yang menegang mainan terlepas begitu saja. Daun ubi yang aku iris halus terjatuh ke atas tanah. "Ana, Ayah kenapa ngomong gitu?" tanyaku ingin tahu.

__ADS_1


"Hahaha!" Adikku tertawa terbahak ketika mendengar suaraku yang panik.


"Hei, kenapa kau ketawa?" tanyaku.


"Kak, itu karena Ayah sangat sayang dengan ku," jawab adikku seenaknya.


Huh! Aku langsung mendengus kesal. Memutar duduk membelakangi adikku yang sudah merasa bangga.


"Liyan, kau tidak suka Ayah bilang begitu?" tanya ayahku.


Wajahku semakin pias. Daun singkong semakin kuremas dengan kuat di dalam jemari. Tidak terlihat muka ke ramah tamahan sedikit pun.


"Liyan, Ayah tanya sekali lagi. Kau tidak suka Ayah suruh menjaga Adikmu?" tanya ayahku tegas.


"Ayah, aku mau. Tapi si Ana. Anaknya nakal,Yah," sesalku. Duduk di atas tikar mainan kami.


"Ana!" panggil ayahku yang tidak pernah bernapas dengan tenang dibuat oleh adikku.


"Iya Ayah," sahut adikku dengan suara manjanya yang imut.


Raut muka adikku refleks menatap ayahku mendongak. "Ayah, siapa yang buat Kakak kesal?" keluh adikku melayangkan pertanyaan kepada ayahku. "Ayah, aku cuma bilang sama Kakak. Kalau Ayah hanya sayang samaku," jawab adikku protes.


Wajahku langsung cemberut. "Ayah! Ayah juga sayang samaku 'kan?" tanyaku ingin tahu.


Ayahku memijat keningnya dengan kuat. "Nak, kalian berdua itu Anak Ayah yang paling Ayah sayangi," ucap ayahku. "Jadi, jangan bertengkar lagi. Baru tadi Ayah bilang. Kalau kalian berdua jangan bertengkar ! Ini malah bertengkar lagi," cetusnya.


Diriku semakin bercampur aduk. Aku yang selalu bersiteru dalam memperebutkan kasih sayang ayah kami hingga sampai ini masih saja belum mendapatkan kemenangan.


"Ana, jangan karena kau masih kecil. Jadi, kau semakin puas meledek Kakakmu," kata ayahku.


"Ayah, itu 'kan memang betul. Aku memang masih kecil," terang adikku kembali bangga.


"Ayah! Jadi, aku gak boleh di sayang lagi," keluhku semakin menggerutu. Duduk membelakangi adikku.


Semua telah menyingkir sepertinya. Ayahku kini tidak lagi terdengar menimpali setiap ucapan kami.


"Nak, kalian berdua itu masih boleh mendapatkan kasih sayang dari Ayah. Karena kalian berdua itu adalah Anak kesayangan Ayah," papar ayahku.

__ADS_1


Mainannya dilepaskan adikku dari tangannya. "Ayah, 'kan Anak kesayangannya Ayah 'kan cuma aku," sambung adikku protes. "Bukan Kakak," lanjutnya.


Teriakan adikku yang menolak menjadikan aku sangat kecewa. Dia sangat egois. Kasih sayang dari ayah yang selama ini merawat kami tidak boleh sedikit pun dibagi olehku.


"Ana, biar bagaimana pun Kakakmu adalah Anak Ayah," sambung ayahku.


"Ayah, tapi 'kan Kakak udah besar," selah adikku menolak keras.


"Meskipun demikian, Nak. Tapi itu tidak baik," terang ayahku, menjelaskan pada adikku. "Ayah tidak pernah mengajari kayak gitu," sesal ayahku melihat adikku yang egois.


Aku dan adikku masih saja bergulat dengan kekesalan yang menganak di dalam hati. "Ayah, 'kan Anaknya Ayah bukan Ana saja," timpalku.


"Tapi, aku paling kecil Kakak," balas adikku gamblang.


Suasana bermain yang di izinkan oleh ayahku sekarang semakin gelap. Bermain yang asyik kini sudah mulai pelik.


"Kalau kalian terus menerus bertengkar. Mulai besok Ayah tidak akan mengizinkan kalian untuk bermain lagi," singgung ayahku.


Depan pintu saat ini sudah ditinggalkan oleh ayah kami. "Liyan, dengar! Ayah tidak mau mendengar kalian bertengkar di luar itu. Sekarang kalian kau dan Adikmu masuk!" seru ayahku berteriak dari dalam.


Sontak adikku langsung terkejut. "Kak, aku minta maaf. Aku belum mau masuk. Aku masih mau bermain," rengek adikku.


"Siapa yang belum mau masuk?" tanya ayahku dari dalam. "Makanya, kalau belum mau masuk. Jangan bertengkar di situ!" tandasnya, melayang sorot mata ke arah kami. "Sudah berapa kali Ayah bilang. Kalian itu yang akur. Jangan lagi bertengkar! Kalian berdua itu sudah besar, Nak!" bujuk ayahku.


"Iya, Ayah," sahutku, melihat adikku yang menunduk sesal.


"Ana, itu adalah Kakakmu. Jadi, kalau hanya kau yang haru mendapatkan kasih sayang Ayah. Lalu bagaimana dengan Kakakmu, Nak?" tanya ayahku ingi tahu. "Sudah terlalu sering Kakakmu mengalah samamu," lanjutnya.


Terdiam seribu bahasa itulah yang bisa dilakukan oleh adikku. Sementara aku senang karena ayahku hari ini berada di pihakku.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2