
"Kakak gak mau?!" tawar adikku kepadaku.
"Kakak masih kenyang," jawabku, menunduk melihat lantai.
"Kak, gak boleh bohong," singgung adikku yang sudah paham akan diriku.
Melihat telur dadar sebenarnya aku mau mengambil piring dan makan. Akan tetapi, aku menahan sedikit keinginan untuk menyakinkan diriku kembali, bahwa ayahku sudah berubah.
"Kakak lihatin apa?" tanya adikku menyelidiki. Memasukkan telur dadar ke dalam mulutnya. "Kalau Kakak lapar ambil saja. 'Kan Ayah gak melarangnya," lanjut adikku melihatku dengan kebingungan.
Jendela yang terbuka lebar hingga saat ini menjadi cahaya penerang rumah yang kembali tertutup. Ketakutan yang menganak di dalam diri dan sempat mencekam segala yang kulihat berangsur -angsur hilang sudah.
"Ana, kalau kau lapar kau saja yang makan. Kakak engga," tolakku memutar badan langsung mencari kesibukan.
"Jadi, Kakak engga lapar ?" tanya adikku sambil mengunyah telur dadar di dalam mulutnya dan melihatku terheran yang pergi tanpa pamit begitu saja. "Kak, nanti telurnya habis," teriak adikku dari balik dinding kamar.
"Engga apa-apa. Habiskan saja!" sahutku dari dalam kamar.
"Kakak memang aneh di suruh makan gak mau. Nanti kalau Ayah tau kayak mana?" teriak adikku dengan pertanyaan yang kembali dia lontarkan.
Dari dalam kamar aku yang asyik memandangi kotak penyimpanan anak Bp tidak menjawab pertanyaan adikku.
"Kak, sinilah!" panggil adikku lagi seolah dia ingin memberi sesuatu padaku.
"Ada apa ?" tanyaku langsung bangun menyeret kaki dengan berat. "Ana, ada apa?" tanyaku sekali lagi dari balik tirai kamar.
"Kakak benar gak mau?" tanya adikku sekali lagi meyakinkan dirinya sambil mengayunkan telur dadar yang tinggal sepotong lagi. "Kak, nanti kalau Ayah tau kayak mana?" tanya adikku mengulangi pertanyaan yang tidak kujawab tadi.
"Tau apa?" tanya ayahku langsung menyahut sambil melangkah masuk. "Ana, emang apa yang tidak Ayah tau?" tanya ayahku berdiri di depan pintu kamarnya sambil menoleh ke arah kami bergantian, mengerutkan kening dengan sorot mata yang ingin tahu.
Mulut yang tadi dengan gamblangnya berkata kini setelah mendengar dan melihat ayahku yang bertanya ingin tahu terpaksa terbungkam rapat dan menunduk cemas melihat ujung kaki yang sepanjang hari ini gemetar.
"Kenapa setelah Ayah tanya kalian diam saja?" tanya ayahku yang masih antusias ingin tahu. "Bahkan setelah melihat wajah Ayah, kalian terlihat ketakutan," lanjut ayahku menatap kami dengan tajam.
"Ayah, kami gak... ." Adikku langsung menutup mulut setelah aku menyambung omongannya.
"Ayah, kami gak bisa bermain di rumah," sambungku langsung memotong pembicaraan adikku.
__ADS_1
Ayahku langsung masuk tanpa memperpanjang lagi yang ingin dia ketahui. Meninggalkan kami tanpa basa basi. Pintu kamarnya pun tertutup dengan rapat.
"Kak, untung aja Ayah gak tau," ucap adikku menghampiriku dengan telur dadar yang tinggal sedikit lagi.
"Kalau Ayah di sini jangan kencang-kencang ngomongnya," bisikku pelan.
Jeglek!
Baugh!
Pintu pun terbuka dan tertutup. Kami yang tadi berdua membicarakan sang ayah. Kini langsung terdiam menatap satu sama lain terkejut bercampur khawatir.
"Liyan, Ana! Ayah pergi dulu ya, Nak. Jangan bertengkar dan jangan keluar rumah. Kalau ada yang datang jangan dibuka pintu sebelum Ayah pulang," larang ayahku, menutup pintu.
Aku langsung berlari masuk kamar melihat ayahku yang pergi. "Ayah, Ayah gak lama 'kan?" tanyaku dari balik jendela kamar.
Refleks ayahku berhenti dan memutar badan. "Ayah akan segera pulang, Nak. Jadi, jangan khawatir, ya!" kata ayahku dengan lembut dan tegas.
"Dadah Ayah!" teriak adikku dengan suara khasnya yang manja melambaikan tangan dari jendela.
Sekilas ayahku menoleh dengan gurat wajah yang senang kemudian melanjutkan langkahnya menuju masjid. Di depan jendela kamar kami berdua terus menatap ayah yang paling kami sayangi sampai menghilang.
"Ayah 'kan, cuma sebentar. Nanti juga pulang," balasku acuh, membuang muka dari adikku. Berdiri sambil menatap pohon jambu yang buahnya tinggal sedikit lagi.
"Tapi gitu pun agak lama juga, Kak," sambung adikku sok menirukan gaya orang dewasa.
"Iiiih!" jeritku menatapnya dengan ilfil. "Jangan ngomongnya kayak gitu Kakak gak suka. Jijik tau!" sentilku ketus.
"Ahahaha!" Sontak adikku malah tertawa puas. "Kak, berarti Kakak gak suka samaku," rajuk adikku memutar badan merapat ke jendela.
Melihat adikku sendiri sangat membuatku ilfil. Namun, yang anehnya dia malah senang dengan tingkahnya yang membuatku menjauh darinya.
"Ana, kau itu masih kecil. Jangan bicara kayak gitu!" tegurku ketus, memutar kepala meliriknya sekilas yang memonyongkan bibir cemberut bercampur sebal.
"Kakak memang gak sayang padaku," kata adikku mendorong tubuh mungilku sehingga ingin terjedot.
"Ana, jangan bertengkar!" tegurku tegas. "Apa tadi kata Ayah? Ayo!" tanyaku memberi ancaman sedikit agar adikku tidak semakin larut dalam rengekkannya. Berdiri memegang jerejak jendela dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Habisnya, Kakak yang duluan," bantah adikku tidak senang. "Aku 'kan gak ada buat jahat. Hari ini aku udah gak nakal lagi," terang adikku berharap kalau aku sadar.
Aku terjebak dan langsung menutup mulut menahan malu. Cemberut bercampur sedih terpampang jelas di wajahnya yang manja itu ketika aku melihatnya dari ekor mata.
Diam mengenang masalah yang mendera dan berdiri dengan setia menunggu ayah yang akan kembali beberapa menit lagi. Angin yang berembus dan daun yang berterbangan melewati jendela kami sambil menepis pandangan yang telah hanyut akan lamunan.
"Hai, Liyan!" sapa seseorang yang membuyarkan anganku seketika. Berdiri mendekat di hadapanku.
Sontak aku terkejut dan tidak menyangka. Rasanya bagaikan mimpi sehingga membuat kedua bola mata ini langsung melebar bercampur menganga.
"Widia!" kataku pelan senang bercampur tanda tanya, menatap dia yang tiba-tiba dengan senang hati mau menemuiku. Datang bersama Septiani yang belakangan ini sangat membenciku.
Septiani pun berdiri mendekat juga sama seperti yang dilakukan oleh Widia. Melihat Septiani aku sedikit takut jika teringat yang dia lakukan selama ini ketika bertemu dengan ku.
"Liyan, kita sudah lama gak jumpa, iya 'kan?" ungkap Widia membuka mulut.
"Iya," jawabku dengan sedikit ragu-ragu untuk menyambut mereka dengan ramah. Namun, kedua bola mata bergerak dengan lincah berjaga dari Septiani yang selama ini menyerang, seperti kilat.
"Kak Widia, Rahmadani di mana?" tanya adikku dengan lempang, menujukkan senyumnya yang senang melihat mereka berdua datang bertamu meski berdiri diluar.
"Rahmadani di rumah," jawab Widia dengan ramah.
Namun, yang menjadi objek untuk melihat dengan fokus adalah Septiani yang selama ini telah semena-mena terhadapku baik di sekolah maupun diluar sekolah ketika dia bertemu dengan ku.
"Liyan, kau gak suka kami datang?" tanya Septiani yang tiba-tiba membuat melongo.
Aku tidak tahu apakah aku harus terharu, senang atau malah berjaga. Tapi yang jelas aku akan tetap terlihat tenang di depan mereka bertiga, terkhususnya adikku. Jangan sampai dia tahu kalau aku masih berlanjut bertengkar dengan Septiani.
"Kak!" panggil adikku pelan dengan gurat wajah penuh tanda tanya bercampur curiga.
"Aku suka. Tapi, kami gak di kasih keluar," jawabku langsung menghilangkan kecurigaan adikku.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...