
"Ana, diamlah! Jangan menangis lagi! Nanti Ibu di sana bersedih melihatmu." Aku menghapus air mata adikku dan melirik gambarnya.
Dia begitu bahagia setelah menunjukkan gambar itu padaku sekarang semua kebahagiaannya telah sirna dengan sekejap. Sekarang hanya air mata yang terlihat mewarnai.
"Ana, jangan diambil hati, apa yang di katakan Ibu tadi, ya!" Aku berbisik pelan di telinga adikku.
"Apa Kakak sekarang membela wanita itu?" tanya adikku dengan kesal mendelik.
"Bukan begitu, Dik. Mungkin Ibu tidak sengaja mengatakan itu," jawabku sambil melihat ke arah suara ibu sambungku tadi.
"Apa?!" Adikku terkejut mendengarnya. "Kakak bilang dia tidak sengaja mengatakan itu!" Adikku langsung berdiri dengan nada suara meninggi. "Asal Kakak tahu. Ibu kesayangan Kakak itu dari dulu tidak pernah menyukaiku!" cecar adikku.
"Dik, jangan tinggikan suaramu! Nanti Ibu mendengarnya." Aku juga bangun dari dudukku.
"Ibu, Ibu, Ibu, cih! Aku tidak suka mendengar nama itu Kakak sebut di telingaku," balas adikku semakin kesal. "Karena Ibuku bukan dia!" bentak adikku mengayunkan telunjuk ke udara menunjuk ke arah pintu.
"Dik, apa yang kau katakan itu benar." Aku menatap adikku. "Tapi Ibu adalah Ibu pengganti, Ibu kita. Dia lebih tua dari kita, Ana!" imbuhku.
Aku semakin berusaha menyadarkan adikku kini. Membuatnya sadar supaya bisa membuka hati menerima istri baru ayahku sebagai Ibunya. Kerja kerasku yang selama ini belum membuahkan hasil. Jadi, sekarang itu harus bisa terlihat. Aku masih menemani adikku di bawah pohon jambu yang sejuk ini.
Gambar wanita bergaun indah pun kutatap perlahan dengan sedih. Aku begitu lekat memperhatikan gambar itu sampai air mataku pun tidak kusadari menetes ke tanah.
Adikku begitu memilukan sekali sampai dia menyimpan kerinduan yang sangat mendalam terhadap Ibuku yang telah tiada. Lebih anehnya lagi sampai saat ini adikku belum bisa merelakan posisi Ibu kami digantikan dengan wanita lain.
Adikku yang sangat terpukul dengan kejadian hari ini tidak bisa berkata pelan. Dia begitu shock setelah mendengarnya. Kedua matanya pun berkaca-kaca menatapku.
"Aku tidak pernah menganggap dia sebagai pengganti Ibuku," ungkap adikku. "Sampai sekarang aku tidak mau lagi memanggilnya Ibu!" Adikku memutar badannya dengan kesal.
"Bu-bukannya kemarin kau memanggilnya Ibu," ucapku terbata mengingat yang dulu.
"Iya, kemaren aku memang mau memanggilnya Ibu. Tapi tidak jadi!" kata adikku. Karena aku baru sadar kalau dia bukanlah Ibuku," dalihnya.
Kini aku pun semakin diam mematung. Aku hanya bisa melihat adikku dengan tumpukkan kesalahan pada diriku yang malang ini. Aku begitu percaya dengan yang kulihat, kalau adikku telah menerimanya sebagai ibu. Namun, itu salah. Ternyata semua tidak sesuai ekspektasi. Semuanya masih sama, seperti yang dulu yaitu, masih ambigu.
__ADS_1
Ibu sambungku yang tadi bersuara pun kini tak lagi terdengar. Dia pun tidak lagi terlihat di tempatnya berdiri tadi. Aku yang mengarahkan pandanganku ke balik pintu, sekarang tidak menemukan apa-apa.
Isak tangis adikku masih terdengar memenuhi udara kosong. Air mata yang menganak di pelupuk mata itu mengiris hatiku. Sungguh memilukan bagiku dan juga bagi adikku. Ibu yang melahirkan kami begitu di benci oleh orang asing itu.
Hempasan kata-kata yang menghentikan denyut nadi keluar dengan mudahnya begitu saja.
"Dengar ya, Liyan... !" Tiba-tiba ibu sambung kami kembali berbicara. "... jangan coba-coba mengatakan itu lagi!" pinta ibu sambungku dengan keras. "Orang yang sudah meninggal itu tidak boleh diingat lagi. Karena dia sudah mati!" tandas ibu sambung kami.
Aku spontan terlempar ke belakang setelah mendengar itu. Sambaran petir di siang bolong ini membuatku menunduk dan diam, seperti patung.
"Liyan, Ana! Kalian lagi apa di situ?" Tiba-tiba aku mendengar suara ayahku menegur kami dengan pertanyaan keheranan.
Aku yang terkejut pun langsung melirik adikku yang segugukan di sampingku. Aku melihat adikku langsung menahan segugukkannya dan menghapus air matanya sampai kering.
"Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan Ayah?" tanya ayahku kembali menghampiri kami dari jarak yang tidak terlalu dekat.
"Ayah, kami cuman duduk di sini aja," jawabku. "Kami sudah mengangkat jemuran kok, Yah." Aku langsung mengatakannya.
"Alhamdulillah. Terimakasih ya, Nak." Ayahku langsung bersyukur dan berterima kasih. "Lalu, dimana pakaiannya kalian taruh?" Ayahku kembali bertanya ingin tahu.
"Ana, kau habis menangis?" tanya ayahku menatap adikku dengan tajam.
"Tidak," jawab adikku memutar lirikannya melihatku sebagai isyarat terhadapku untuk membantunya menghindar dari pertanyaan ayahku.
"Tidak Ayah. Ana tidak menangis," jawabku.
"Ooh!!!" balas ayahku mengangguk dengan gurat wajah curiga. Tatapannya yang seakan mengetahui kalau kami berdua menyimpan sesuatu darinya.
"Ana hanya kebanyakan minum es, Yah." Adikku langsung berdalih mengelabui ayahku.
Aku dan adikku terpaksa berbohong pada ayahku agar tidak terjadi keributan di rumah yang kecil ini. Kami berdua harus pandai dan lihai dalam bertindak. Aku dan adikku yang masih kecil sudah di hadapkan dengan masalah keluarga yang sulit.
Rumah kami yang kecil ini, sepertinya sudah di takdirkan di selimuti permasalahan ibu kandung kami yang telah tiada.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau kalian tidak apa-apa. Sekarang kita masuk ke dalam. Karena hari sudah mau gelap." Ayahku mengajak adikku dan memegangnya masuk sampai ke rumah.
Aku yang mengikuti dari belakang berjalan sambil melihat setiap yang kulalui. Tanah yang kulewati yang di atasnya masih terdapat gambar adikku. Kutatap dengan dalam merasakan kalau seandainya gambar itu jadi kenyataan. 'Pasti kami bahagia,' kataku di dalam hati. Namun, sayangnya itu hanya sebuah gambar ironi yang bisa meneteskan air mata dan mendatangkan kesedihan.
Aku pun terus berjalan mengikuti ayah dan adikku yang berjalan di depanku. Aku perlahan mengangkat kepala melihat punggung ayahku yang setengah ringkih berjalan tegak. Ayahku yang malang dia tetap terlihat tenang. Dia selama ini selalu dibohongi oleh kedua putrinya. Dia sama sekali tidak menyadari kalau kedua putrinya sangat pandai dalam berakting. Putri yang di besarkan oleh kedua tangannya sendiri dan keringatnya dengan tenang tanpa bersalah sedikit pun telah banyak menutupi yang terjadi.
"Ayah, kenapa Ayah pulangnya cepat?" tanyaku dari belakang.
"Liyan, Ayah tidak jadi menarik becak," jawab ayahku.
"Kenapa Ayah?" tanya adikku.
"Iya, Nak. Becak Ayah rusak," jawab ayahku.
Deg!
"Becak Ayah rusak?" tanyaku kembali bersedih.
"Ayah, apa rusaknya banyak?" tanya adikku yang manja.
"Ayah belum tahu, Nak... ! ... ayah belum melihat semuanya," jawab ayahku dengan nada suara sedih.
Seketika aku melihat kakiku yang berjalan mendengar kejujuran dari ayahku. Aku yang hampir memasuki pintu setelah ayah dan adikku. Berdiri lumayan lama melihat hamparan udara yang luas. Air mata seakan menganak di pelupuk mata saat ini. Aku yang kemudian masuk melihat ayahku duduk dengan wajah di tekuk. Sementara ibu sambung kami yang tadi mengatakan sesuatu kepada kami. Berdiri melihat ayahku dengan masam.
Langkah yang terus berjalan pun kini seakan terkulai karena melihat ayahku yang kehilangan semangat separuh. Ibu sambungku juga seakan marah dan kesal terlihat seakan dia mengetahui masalah yang di alami oleh ayahku.
Aku pun berjalan memutar badan duduk di sudut lemari menghampiri adikku yang tampak tenang dan bahagia. Adikku yang masih kanak-kanak belum mengerti apa-apa. Dia tampak bahagia bermain dengan bonekanya yang imut.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...