Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Masih Didalam Rumah


__ADS_3

Hampir separuh waktu aku melamun seorang diri. Hari terlihat begitu sendu menerangi bumi.


Aku yang masih sendiri menatap nanar kedepan. Aku pun mengajak pikiranku sejenak mengingat ayahku dan adikku.


Ayahku yang sedari tadi pergi keluar mencari adikku. Kini belum juga kulihat tiba dirumah. Aku pun yang kini diam dan terjaga dalam lamunanku. Seketika tersadar mendengar langkah kaki yang menuju kearah pintu. Seketika, badanku yang lemah aku putar menoleh kearah pintu. Bayangan yang kulihat terus mendekati pintu yang terbuka. Kedua mataku pun terus menatap dengan tajam. Sedetik pun, aku tidak mengalihkan pandanganku darinya. Perlahan bayang itu pun mendekat dan sontak aku terkejut.


Ayah! Gumamku kecil. Aku pun menarik napas dalam sambil mengusap dadaku perlahan.


"Ayah dari mana?" Tanyaku yang menatap ayahku dengan lirih.


Wajah menuanya terlihat begitu lelah. Bahkan, napas yang keluar begitu terasa berat.


" Ayah tadi mencari adikmu!" Dengan napas yang terengah dan langkah yang berat dia mengayunkan kakinya masuk.


" Apa Ayah sudah menemukannya?" Tanyaku dengan begitu menyelidik.


"Belum! Ayah belum menemukannya." Ayahku berjalan menuju dapur.


Aku pun seketika diam sambil melihat ayahku yang berjalan menuju dapur dan mengambil timba.


"Ayah! Apa Ayah mau mandi?" Tanyaku yang berjalan menuju ayahku.


"Ia,nak! Ini sudah sore Ayah belum sholat Ashar." Sambil mengambil handuk yang tergantung. "Apa kamu sudah makan,nak?" Tanya ayahku yang menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya melirikku.


"Sudah Ayah!" Kataku yang berdiri dibelakang ayahku.


" Kenapa Ayah lama sekali?" Aku menanya ayahku yang berjalan ingin menuju sumur.


" Ia, Ayah tadi keliling kampung mencari adikmu ." Ayahku melanjutkan perjalanannya dengan memegang timba di tangannya dan mengalungkan handuk dilehernya.


Aku pun melihat ayahku seketika menghilang. Dibalik tubuhku yang lemah aku pun kembali memutarkan badanku beranjak menuju depan rumah. Aku mengarahkan pandanganku ke sekeliling rumah yang kosong. Dengan wajah yang pucat aku sesekali melempar pandanganku keluar jendela hanya untuk sekedar membuang penat yang aku alami.

__ADS_1


Angin pun berhembus masuk menyapa tubuh mungilku yang kini terkulai. Tubuhku yang terkulai lemah kini aku sandarkan didinding pintu yang kokoh. Sambil menatap keluar rumah. Kedua mataku menetap nanar halaman rumah kami yang dipenuhi oleh taburan daun kering sambil mengingat adikku yang belum juga pulang.


Rok kembang yang aku pakai menemani tubuhku kini terseret angin tak tentu arah. Sejenak aku memaksa diri untuk melupakan sakit yang aku derita. Lamunanku pun kini aku buang jauh.


"Liyan! Lagi apa kamu berdiri didepan pintu?"


Seketika aku pun tersentak mendengar ayahku memanggilku dari belakangku. Aku memutarkan badanku menghadap ayahku.


"Tidak ada Ayah!" Jawabku dengan lembut.


"Apa kamu sudah makan?" Tanya ayahku sambil menjemur handuknya disamping pintu kamarnya.


"Sudah Ayah!" Jawabku tegas. Masih berdiri di depan pintu sesekali aku melirik keluar pintu hanya untuk sekedar melihat adikku ataupun ibu sambungku.


"Sudah! Ayahku sedikit terkejut mendengarnya sambil melihatku. "Siapa yang mengambilkan makanan kamu,nak?" Tanya ayahku yang berdiri mematung didepan pintu kamarnya.


"Liyan sendiri Ayah." Aku yang masih berdiri.


"Apa kamu sudah minum obat?" Tanya ayahku yang seketika akan beranjak dari tempatnya.


"Apa? Kenapa kamu bisa lupa?" Tanya ayahku yang sudah menghilang.


"Ia, Ayah! Liyan tidak ingat. Lagi pula Liyan tidak tahu obatnya ada dimana?" Aku pun mencari obat yang tadi aku terima dari dokter. Tungkai kakiku yang kini terasa semakin lemah aku seret untuk berjalan. Sementara, ayahku dari dalam kamar tidak terdengar lagi sahutan menimpali pembicaraanku.


Kesehatanku yang begitu tidak membaik membuat semua ingatanku buyar. Aku pun mendekati meja kecil yang terletak didekat cermin yang tak jauh dari luar dinding kamar ayahku. Dengan begitu berat. Aku berusaha menuruni semua yang ada diatas meja. Dengan jemari kecilku yang gemetar tak berdaya. Tungkai kakiku yang lemas menopang tubuhku yang begitu berat.


Semua yang ada diatasnya kini aku perhatikan satu persatu. Setiap bungkusan plastik yang aku lihat. Aku meraihnya dan mengayunkannya ke udara. Plastik bening yang aku pegang aku ayunkan ke udara untuk melihat isi yang terbungkus didalam.


Lagi-lagi aku masih mendapatkan kekecewaan.Setelah sekian banyak plastik yang aku raih. Namun,tak satupun menunjukkan obat yang aku cari. Pencarian ku kini hampir usai. Semua isi yang tersusun rapi diatas meja kini sudah tersandar dilantai.


Tubuh lemahku kini aku paksa untuk melangkah dengan memegang erat dinding yang berada tepat di sampingku. Kedua mataku yang sayu tidak kuat lagi rasanya menahan udara angin yang berhembus begitu terasa panas dan perih.

__ADS_1


Ayahku yang lagi melaksanakan ibadah sholat ashar terdengar dengan khusuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang terdengar oleh telinga kecilku. Tubuh yang menopang kini mulai terasa akan terkulai jatuh. Dengan napas yang terengah dan tubuh yang begitu panasnya terasa kembali. Membuatku semakin getir.


Sementara, obat yang akan aku minum harus bisa aku temukan secepatnya. Mengingat ayahku yang sebentar lagi selesai sholat.


Aku pun terus mencari dan mencari.Tak boleh hari ini aku menyerah walau hanya mencari sebuah obat. Kalau ayahku tahu aku tidak menemukannya dia pasti akan marah kepadaku. Belum lagi tadi, aku pergi keluar tanpa izin darinya terlebih dahulu.


Tubuhku pun kini aku putar kembali kearah yang lain. Aku pun mengerjapkan kedua mataku menatap lurus. Perlahan aku mulai melihat bungkusan plastik bening yang terletak disudut meja makan ayahku. Aku pun melangkahkan kakiku dengan perlahan sambil menopang kuat tubuhku yang akan terkulai.


Angin luar yang masuk menyentuh tubuhku kini menyelip masuk kedalam pakaianku. Seakan terasa membuat keadaanku menggigil kedinginan. Tangan kecilku pun dengan perlahan meraih bungkusan plastik bening yang aku lihat. Perlahan demi perlahan aku pun meraihnya. Udara dingin yang berhembus membuat diriku rasanya tidak kuat.


Namun, aku harus bisa melawannya. Antusias ku pun, kini begitu memaksa aku untuk harus segera membuka plastik bening yang ada di genggamanku.


Aku pun mengayunkannya ke udara dan seketika membukanya dengan secepat mungkin. Akhirnya, aku menemukan obat yang aku cari.


"Liyan! "


Aku seketika berhenti dan mengangkat kepalaku. Melihat siapa yang memanggilku namaku.


Aku yang masih berdiri diam disamping meja makan ayahku. Melihat ke pintu depan yang tidak lain suara yang aku dengar berasal dari luar. Aku menatapnya dengan tajam tanpa berkedip sedikitpun.


"Kamu dari mana saja tadi?" Tanya ibu sambungku yang memasuki rumah.


Seketika aku diam dan melihat kebawah dengan mengepal jemariku. Sambil menarik napas.


"Dari luar." Kataku sambil menatap kosong lurus kedepan.


"Apa adikmu sudah pulang?" Tanya ibu sambungku yang berjalan melihat kamar ayahku.


"Belum." Jawabku dengan tegas dengan wajah yang datar.


"Aku pun tadi pergi keluar sambil mencarinya tapi, aku belum menemukanya.

__ADS_1


Aku spontan memutarkan badanku kearahnya. Sambil memegang plastik obat yang berada disampingku.


Bersambung....


__ADS_2