Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Berdua dan bermain di dalam rumah


__ADS_3

Setelah selesai kususun rapi aku lalu memainkannya sesuai alur cerita yang aku inginkan. Kotak-kotak bekas itu terlihat dengan rapi tertata. Di mana kotak rokok bekas yang banyak aku tata rapi layaknya membentuk, seperti tempat tidur dengan alas sepotong kertas origami warna- warni.


"Mainannya udah bisa aku mainkan sekarang," gumamku pelan dengan sumringah. Menatap mainanku yang terpampang jelas.


"Kak, aku juga punya mainan," sambut adikku langsung tidak mau kalah saing dariku. "Ini dia," katanya. "Coba ini Kakak lihat!" pinta adikku dengan penuh penekanan. Berdiri mengayunkan boneka setengah di udara tepat di atas kepala dan memaksa aku agar segera melihatnya. "Dia lebih cantik dari pada itu!" ejeknya.


"Cantikan ini, punya Kakak . Itu mah jelek," ledekku dengan ketus. Menaikkan kepala dan menatapnya sekilas.


"Engga ya Kak," bantah adikku keras. "Punya Kakak yang jelek! Punyaku cantik," teriaknya cemberut. "Punya Kakak cantik tapi mudah putus, hihihi!" cecarnya mengulanginya kembali sambil tertawa mengejek. "Tapi kalau punyaku engga," ungkapnya. Mengejekku dengan menjulurkan lidahnya keluar dengan hati yang senang.


Acuh dan cuek itulah yang memaksa muka ini semakin mengetat sehingga sekilas pun aku tidak mau melihat wajah adikku. Aku tetap serius dan bercampur senang memainkan permainan ini di tengah omelannya yang mengalun di ruangan kamar hingga terdengar sedikit keluar.


"Tapi masih cantikan ini!" ejekku terus mengulanginya. Menunjukkan anak Bp yang kupegang ke atas udara.


"Iiiisss. Mana pula ," balas adikku dengan gurat wajah jijik. Membuang pandangannya langsung ke sembarang arah.


Aku sangat jengah melihat adikku yang berekspresi seperti itu. Raut muka bercampur tawa pun seketika aku pampangkan jelas melihat wajah adikku yang polos dan menjijikkan itu.


"Tapi ini mainan kesayangan Kakak," kataku. Menatap adikku yang memasang wajah kesal bercampur cemberut. "Orang lain belum pernah bilang ini jelek," ucapku kembali. Menjatuhkan pandangan dan memainkan kembali anak Bp.


Adikku langsung berkata. "Iya, orang itu 'kan gak pernah tau," lanjut adikku. Bersikeras tidak mau mengalah. Dia masih tetap ingin berdebat dengan ku.


Aku semakin terperangkap oleh ejekan adikku lagi. Tangan yang lemah ini langsung berhenti setelah pendengaranku mendengar semuanya ejekan dari adikku itu. Lirikan kecil sekilas aku layangkan ke samping kiri melihat adikku yang mencemoohkan permainanku.


"Orang udah tau, kok," balasku pelan seakan menahan rasa malu pada diriku sendiri. "Kalau jelek, memangnya kenapa ?" tanyaku pelan dengan suara berpasrah. Memainkan kembali mainan yang aku sukai.


Adikku seketika diam dan menutup mulutnya seribu bahasa. Dia pun bergeming berdiri seperti patung.


"Yang mainkan, 'kan Kakak. Bukan orang itu," sambungku dengan sendu kembali membalasnya pada adikku lalu melanjutkannya dan memainkan adegan dari anak Bp yang kuinginkan sesuai kemaunku.


Dialog-dialog dari permainan ini terus aku keluarkan sesuai dengan kata-kata yang kumau yang penuh dengan canda tawa dan juga emosi.


Sepatah kata pun tidak lagi terdengar menyahut dari belakang. Aku yang masih memainkan anak Bp-ku mengerutkan kening sambil bertanya-tanya dengan penasaran dalam diri. Sontak tanpa keinginan yang serius aku memutar kepala bercampur dengan rasa penasaran ingin tahu mengenai adikku. Perlahan dengan terpaksa aku melirik dan mencarinya yang tiba-tiba tidak terlihat lagi olehku.

__ADS_1


Deg!


Aku terkejut dan langsung memutar badan yang masih dalam ke adaan duduk mencari adikku yang telah membuat aku panik bercampur heran.


Huuuh!


Aku mengurut dada setelah menemukan yang kucari. "Huh!" Tatapan nanar pun dengan lekat menatap adikku yang duduk di atas tempat tidur dengan sedikit tubuh menyamping dan menghadap ke arah jendela yang terbuka bersama boneka kesayangannya.


"Ana," panggilku sedikit berjaga. Adikku sedikit pun tidak menoleh ke arahku. Aku kembali memanggilnya dalam keadaan berjaga lagi. "Ana, kau marah lagi, ya?" tanyaku pelan dengan nada suara pelan dan berjaga.


Adikku tetap diam. Aku tidak tahu apakah dia mendengarnya ataukah berpura-pura tidak mendengarnya? Sama sekali aku masih bingung karena dia yang saat ini duduk di atas tempat tidur dalam ruangan yang sama dan jarak yang dekat. Namun, tidak menjawab apa pun.


Perlahan bercampur rasa kecewa aku mengembalikan kepalaku seperti semula melihat anak Bp yang masih kupegang dalam genggaman.


Pintu yang terkunci dari luar hingga saat ini belum juga terbuka. Selangkah suara kaki pun tidak ada terdengar menghampiri rumah. Pendengaran yang kutajamkan untuk mendengar bisikan suara dari luar seketika aku alihkan kembali tenang.


"Dik, kenapa aku diam saja ?" tanyaku berjaga kepada adikku yang duduk tepat di belakangku.


"Aku lagi nidurin bonekaku, Kak," jawabnya langsung membuatku tercengang. "Si Dottie barusan tidur," katanya singkat.


"Bonekamu 'kan udah tidur nyenyak?!" balasku bertanya.


"Iya makanya Kakak diam. Jangan berisik!" tegur adikku dengan keras tanpa menoleh sedikit pun kearah belakang walau hanya sekilas melihatku yang sedang menaruh kagum bercampur geli melihat dia yang sok dewasa seperti seorang ibu.


"Baru boneka kayak gitu," rajukku dengan nada suara sangat rendah. Melihat anak Bp-ku yang sama dengan si Dottie yaitu, tidur juga.


"Kak, kenapa Kakak berhenti bercerita?" tanya adikku dari belakangku.


"Mereka lagi tidur," jawabku.


"Hahaha!" Adikku langsung tertawa. "Kenapa ikut-ikutan dengan di Dottie-ku?" tanya adikku seakan tidak rela.


"Kenapa?" tanyaku. "Kakak ingin istirahat," sambungku langsung. Bergeser memundurkan tubuh mungilku yang lemah mundur ke belakang sedikit lalu meluruskan kedua kakiku lurus ke depan dan menaikkan tanganku tegak lurus ke atas sebagai balasan untuk tubuh mungilku yang sudah lelah.

__ADS_1


Kepala pun aku gerakkan ke kanan dan ke kiri dengan pelan dan lembut untuk meregangkan syaraf-syaraf yang terasa tegang akibat terlalu banyak menunduk dan bermain.


"Anak Bp Kakak tinggal berapa?" tanya adikku seakan dia mendekatkan kedua bibirnya tepat di telingaku.


Aku yang berolahraga kecil untuk meregangkan tubuh mungilku yang lemah terhenti seketika.


"Ada empat," jawabku singkat. Melihat lurus ke depan tepatnya ke arah empat anak Bp yang sedang tertidur sambil menajamkan pendengaranku untuk mendengarkan sahutan berikutnya dari adikku yang sedang duduk santai bersama boneka kesayangannya di belakangku.


"Masih banyak," sambung adikku dengan nada suara datar. Seakan adikku menjawabnya dengan acuh.


Aku kembali mencerna dengan dalam dari ucapannya. "Tapi 'kan belum cukup," balasku. Melirik anak Bp dengan sendu.


"Kenapa?" tanya adikku ingin tahu.


"Ya, gak ada kawannya," balasku. Duduk membelakangi adikku.


"Ahahaha!" balas adikku tertawa lucu.


"Kenapa kau ketawa? Ada yang lucu?" tanyaku refleks memutar dudukku tepat ke arahnya.


"Kak, aku aja cuma satu," jawab adikku dengan suara bercampur tawa.


"Tapi 'kan sedih juga. Ia gak punya teman," balasku. Menatap Anak Bp dengan pilu.


"Gak usah banyak teman Kak. Nanti bertengkar," papar adikku.


Aku kembali sadar melebarkan bola mata dan juga menaikkan kepala dan sedikit membenarkannya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2