
"Liyan, tidak ada yang menjemput Ibumu tadi?" tanya ayahku. Berjalan keluar, melihat kami berdua yang sudah selesai.
"Engga ada, Yah," jawabku, melihat ayahku yang berdiri di depan pintu kamar, melihat ke arahku dan adikku.
Air muka ayahku langsung berubah lelah memikirkannya. " Ana, sebenarnya Ibumu itu pergi ke mana?" tanya ayahku. Menatap lesu ke arah kami.
Seketika wajah murungnya langsung menatap tegak lurus."Ayah kepikiran Liyan dengan Ibumu," ungkap ayahku lemas. Berjalan melihat jam dinding. Aku tidak bisa melihat jam dinding yang terus dipandangi oleh ayahku.
"Ana, Ayah," kataku, melihat adikku yang pamer dengan piringnya yang sudah kosong. "Kakak lihat ! Piringku udah kosong," kata adikku, menunjukkan piring dihadapan dihadapanku.
"Ana, kau gak lihat Ayah," kataku, melirik pelan ke arah ayahku memberi isyarat kepada adikku.
"Emang Ayah kenapa, Kak?" tanya adikku, meneguk air minum.
"Ayah pasti sedih?!" sambungku, menatap punggung yang berdiri melihat jam dinding.
Air minum terus di teguk oleh adikku hingga habis. "Kak, Ayah gak mungkin sedih," kata adikku, meletakkan gelas. "Ayah 'kan udah lama gak melihat jam itu, Kak," cetusnya.
Kami berdua pun menatap punggung ayahku yang berdiri melihat jam dinding. Sekian lama ayahku menunggu kepulangan ibu sambung kami. Tapi, ternyata keinginannya untuk menunggu sama sekali tidak berbalas.
"Kak, mungkin Ayah menyuruh kita untuk mengilap jam," kata adikku, berjalan mendekati ayahku sedikit.
Aku langsung tersenyum melihat adikku yang masih polos. "Ana, jam itu 'kan udah bersih," balasku.
"Belum Kak," bantah adikku, melihat lurus ke atas dinding.
"Liyan, jam berapa tadi Ibumu pergi?" tanya ayahku. Berdiri melihat jam dinding dengan lekat.
"Gak tau, Yah," jawabku, melihat pintu.
"Kenapa kau tidak melihat jam Liyan?" tanya ayahku, masih berdiri melihat jam dinding.
"Ayah, aku lupa," jawabku penuh sesal, melihat punggung ayahku yang tinggi.
Raut muka adikku langsung berubah masam cemberut. Dia tidak begitu suka mendengarnya. Sesekali dia berputar membelakangi ayahku.
"Kau Ana, apa kau tau, Nak? Ibumu pergi jam berapa?" tanya ayahku dari belakang adikku.
"Ayah, aku gak tau. Kenapa Ayah tanya sama aku, Yah?" tanya adikku menjawabnya, tetap membelakangi ayahku.
"Ayah cuma ingin tahu saja, Nak," kata ayahku. Berdiri di depan jam dinding, di ikuti oleh kedua bola mata melirik keluar.
Sungguh rumah ini hening tanpa suara ibu sambung kami yang selama ini menemani.
__ADS_1
"Kalau Ibumu pergi rumah ini pasti sunyi," balas ayahku, terus menatap keluar.
"Iya, Ayah," lanjutku, mengikuti ayahku melihat keluar.
Seketika adikku langsung memutar badan menghampiri ayahku. "Ayah," panggil adikku, menarik baju ayahku.
Refleks ayahku langsung menoleh kebelakang. "Iya, Nak," kata ayahku, melihat adikku yang manja.
"Ayah, 'kan masih ada aku," sambung adikku, menatap ayahku yang sedang gelisah. "Ayah gak usah takut," lanjutnya.
Sejenak hati ayahku luluh mendengarnya. "Iya, Nak. Ayah gak akan sedih, kok," balas ayahku, berjongkok menatap adikku yang manja.
"Iya, Ayah. Kami 'kan masih ada," ucapku. Berdiri melihat ayah dan adikku.
"Iya, Nak," kata ayahku, memanggilku yang berdiri jauh darinya.
Segera mungkin aku datang melangkah mendekati ayahku. Berdiri di dekat adikku. "Ayah senang sekali punya Anak-anak seperti kalian," kata ayahku, memelukku.
"Karena kami 'kan Anak baik, Yah," kata adikku dengan wajah manjanya yang imut.
"Iya Ayah," sambungku.
"Makanya, Anak Ayah jangan sering gaduh ya, Nak!" kata Ayahku, mengelus kepala kami berdua.
"Tapi Ayah kami 'kan masih kecil," sahut adikku.
"Makanya, kami sering bertengkar, Yah," jawabku, melihat jam dinding.
"Berarti kalian memang tidak mau mendengarkan Ayah," ucap ayahku dengan candaan garing.
"Bukan Ayah, kami cuma bermain, kok," jawabku pelan, melihat wajah ayahku yang senang karena bahagia dengan cerianya.
Jam dinding yang tergantung terus berdenting menunjukkan waktu terus berputar.
"Ayah, kalau kami bertengkar 'kan palingan cuma sebentar, kok," lanjutku, melihat jam dinding dan sesekali melihat ke pintu.
"Iya, Nak. Tapi itu tidak baik. Karena kalian berdua 'kan Anak Ayah yang paling baik," tutur ayahku, mengelus kepalaku dengan lembut.
"Iya 'kan Ayah," sambung adikku. Sok imut.
"Hahaha! Anak Ayah yang satu ini selalu sok jadi, Anak yang dewasa," ucap ayahku tertawa.
Hal ini membuat adikku semakin tersipu malu mendengarnya. Wajah manjanya yang imut itu terlihat memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Ayah, tapi Ayah 'kan suka punya Anak seperti kami, hehehe!" kataku, nyengir.
Ayahku langsung memeluk kami berdua dan masih melirik jam dinding sesekali kebelakang.
"Iya, Nak. 'Kan kalian Anak yang lucu. Suka bertengkar, suka bermain di dalam kamar, suka dihukum, ya 'kan," kata ayahku menggoda kami berdua.
"Satu lagi Ayah, suka bermain boneka. Tapi si Dottie-ku," kata adikku, menunduk melihat ke bawah.
Sungguh menyedihkan sekali ketika adikku kembali berharap ingin meminta mainannya. Dia tidak bisa melihat kalau mainannya terpisah lama darinya.
"Siapa yang suka bermain bermain boneka?" tanya ayahku berpura tidak tahu.
Muka adikku semakin memerah dan menunduk melihat jemari kecilnya yang dia putar.
"Liyan," panggil ayahku pelan, di ikuti melihat ke adikku dengan diam-diam.
"Iya Ayah," sahutku, melihat adikku yang berpura sedih agar ayahku mau mengembalikan boneka kesayangannya.
"Ayah 'kan aku tiap malam tidur harus ada si Dottie-ku," kata adikku menunduk sedih.
Ayahku langsung melihat adikku. "Jadi, mulai sekarang Anak Ayah harus bisa belajar tidur tanpa boneka itu," kata ayahku, melihat wajah adikku yang cemberut.
Mengingat jam dinding yang masih berdenting dan berputar membuat ayahku semakin gelisah karena hari semakin larut malam.
"Ayah masih gelisah, Nak. Ibumu bagaimana di luar sana, ya?" tanya ayahku, melihat jam dinding kembali. "Ini sudah jam berapa, Nak! Tapi Ibumu belum juga pulang," lanjut ayahku, memutar badan dan bangun.
"Ayah, 'kan masih ada kami," ucap adikku.
"Iya, Nak. Tapi 'kan Ayah juga kepikiran dengan Ibumu," kata ayahku.
"Ayah, mungkin Ibu lagi ada acar di rumah keluarganya," balasku. Berdiri.
Jam dinding terus saja di pandangi oleh ayahku yang masih mengkhawatirkan ibu sambung kami yang pergi tanpa berpamitan dengan ayahku. Hal inilah yang membuat ayahku cemas karena semenjak kepergian dia tadi pagi mencari nafkah hingga malam ini dia belum juga melihat ibu sambung kami. Sekarang entah apa yang akan dia katakan pada semua orang.
"Nak, ini 'kan sudah malam sekarang masuklah ke kamar kalian dan tidurlah. Tapi ingat jangan bertengkar, ya," pinta ayahku, melihat jam dinding terus.
"Baik Ayah," kataku, melihat adikku yang cemberut setelah mendengar ayahku mencemaskan ibu sambung kami.
Kini adikku tetap berdiri diam, seperti patung yang tidak berdaya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...