
"Baik Ayah," balasku langsung berlari mencabut rumput.
"Kak, kalau Kakak gak mengejekin aku. Kita gak bakalan di hukum," keluh adikku. Menuduh dengan sembarangan.
"Bukan gara-gara Kakak. Tapi gara-garamu! Kalau kau gak menangis. Hukuman ini gak akan ada, Dik," balasku dengan nada suara datar. Tidak rela. Menjatuhkan tubuh duduk di atas bangku lalu mencabuti rumput kembali.
Ibu sambung dan ayah kami yang tadi berdiri layaknya seperti tim pemantau dan penilai telah pergi meninggalkan kami berdua. Sebelumnya ayah dan ibu sambung kami sempat berpesan 'jangan bertengkar dan selesai 'kan semuanya tanpa ada sedikit pun tersisa sampah dan rumput.' Itulah yang masih terngiang-ngiang di kedua telinga dan masih kuingat.
Langkah kaki ibu sambung kami yang terdengar berjalan di dalam rumah pun terdengar sampai keluar dengan tajam memasuki gendang telingaku.
"Ana, kau jangan menyalahkan Kakak. Karena kau pun salah juga!" timpalku. Melirik adikku yang berdiri memegang sapu lidi, di ikuti oleh pendengaranku yang tajam mendengar langkah kaki ibu sambung kami dan dentingan sendok serta gelas dari dalam rumah yang bercampur angin berembus.
"Kakak selalu merasa paling benar," celetuk adikku dengan kasar. "Biar Kakak tau. Kalau aku gak dekat -dekat dengan Kakak. Aku gak akan di hukum kayak gini," keluhnya menggerutu dengan dalam. Menyeret kembali sapu lidi hingga daun-daun yang kering pun tidak lagi ada terlihat.
Aku tetap memotong rumput dengan gunting yang tajam. "Ana, kalau hukuman ini selesai. Mungkin Ayah akan mengasih kita bermain?!" kataku berpikir dengan polos.
"Kakak pikir Ayah seperti itu. Ayah kalau sudah tidak boleh, ya tidak boleh!" papar adikku kesal bercampur sebal. Meneruskan sapuannya hingga bersih.
"Halah. Itu 'kan hanya pemikiranmu saja. Kau juga gak pernah benar kalau bicara !" tudingku dengan nada suara datar dan gurat wajah yang tenang.
Adikku langsung menghentikan sapuannya. Dia langsung melirikku yang terduduk mencabut rumput tepat berjarak sedikit jauh darinya. Aku melihatnya dari ekor mata.
"Kak, aku bicara apa rupanya ? Makanya Kakak bilang aku gak benar? tanya adikku. Seolah dia tidak mengingatnya.
Rumput kembali aku cabut di tempat yang lain. "Iya, tadi 'kan kau memang salah bicara pada Ayah," kataku kembali mengulangi yang aku ingat.
Suara sapuan adikku terus terdengar mengusik pendengaran. "Kakak selalu menuduhku yang salah. Padahal aku salah karena Kakak jahat," cetusnya dengan nada suara sebal bercampur dengan suara sapuan yang terdengar keras menarik sampah di atas tanah yang bergulung dengan sedikit butiran pasir.
Aku memindahkan kembali bangku ke tempat yang lain, tepatnya di bawah pot bunga yang berdekatan dengan dindin.
__ADS_1
"Jahat? Kau yang jahat Ana. Kakak sering mendapat hukuman dari Ayah itu semua gara- garamu juga," selaku dengan nada suara sebal. Membelakangi adikku sambil mencabut rumput.
"Mana pula gara-gara aku. Itu gara-gara Kakak . Karena Kakak bilang aku jahat," terangnya tidak terima dengan tuduhan dariku.
Tubuh yang sudah dingin mencoba untuk membalas yang ditudingkan adikku terhadapku.
"Kakak bilang kau jahat?! Karena memang kau jahat, kok," ucapku berterus terang. Melirik ke samping kiri sedikit melihat adikku yang memelankan suara sapuannya di belakangku.
"Gak ya, Kak. Kalau aku jahat. Ayah pasti tau?!" balas adikku mengingat kejadian tadi.
Rumput yang ini sudah habis dan aku berpindah ke tempat yang lain tepat di sebelah samping pot bunga yang besar. "Bilang saja kau takut. Kalau Ayah tau kau pasti kena marahi, hihihi !" kataku tertawa geli. Melihat serius rumput yang aku gunting.
"Gak, ya Kak. Aku hanya kasihan melihat Kakak. Kalau Kakak nanti di marahi Ayah," dalih adikku. "Kalau Kakak sudah di marahi Ayah. Pasti Kakak nangis. Kakak 'kan cengeng," tampiknya. Sepertinya dia terus melanjutkan sapuannya terdengar dari telinga.
Aku masih saja serius melihat rumput hijau yang panjang dan bercampur dengan yang pendek juga.
"Tapi Ayah gak akan menyuruh kayak gini. Mencabut rumput dan menyapu halaman di siang hari," cetusku dengan nada suara keberatan menerimanya.
Aku langsung diam dan tidak memutar kepala sedikit pun kebelakang melihat adikku yang terdengar seakan dia memutar kepalanya melihat ke arahku. Jika mendengar dari nada suaranya.
Aku terus memegang gunting dan memotong rumput yang bergoyang yang terbawa oleh embusan angin bergerak ke sana kemari.
"Kalau Ayah tau. Kakak menuduhku, pasti Ayah akan memarahi Kakak," kata adikku dengan tegas. Seakan dia memberiku sebuah ancaman yang harus aku takuti.
Aku semakin menunduk melihat rumput yang aku potong. Sepatah kata tidak lagi terdengar mengusik gendang telinga. Tubuh mungil yang tiba -tiba tidak sehat. Mendesak tangan ini segera mungkin memotong rumput dengan cepat.
"Kalau Ayah tau kau juga berbohong. Ayah juga akan menghukummu," balasku dengan wajah cemberut bercampur jantung yang berdebar-debar kencang takut kalau sampai adikku marah besar kepadaku. Terus saja melihat rumput yang aku potong yang semakin tinggal sedikit.
"Kakak mau bilang pada Ayah, kalau aku bohong?" tanya adikku seakan melayangkan sebuah ancaman untuk ku.
__ADS_1
Deg!
Aku seketika gugup dan pucat. Jantungku pun langsung berdebar dengan kencang, mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh adikku sebagai bentuk ancaman peringatan yang menakutkan.
"Nanti kita kena hukum lagi," jawabku langsung. Kalau kau di hukum gak apa-apa," sambungku dengan nada suara rendah sambil mengerjitkan kedua mata dengan ketat untuk menahan rasa takut akan amarah adikku yang membeludak.
"Liyan, Ana! Apa kalian sudah siap? Kenapa lama kali?" tanya ibu sambung kami berteriak dari dalam memanggil.
Aku refleks mengencangkan gerakan tangan menggunting rumput. Suara sapu lidi yang menyeret sampah pun terdengar dengan kencang mengayun di udara.
"Jangan sambil bermain kalian di situ, ya!" tegur ibu sambung kami dari dalam rumah.
Tiba-tiba adikku menegurku. "Kak, jawab itu. Ibu kesayangan Kakak. Nanti dia mengasih hukuman lagi," suruh adikku seakan mendesak aku agar segera menjawabnya.
"Ana, kau saja yang menjawabnya!" suruhku kembali kepada adikku.
"Ah, aku gak mau. Itu bukan ibuku, kok. Itu 'kan ibu kesayangan Kakak," ucapnya dengan acuh.
"Apa kalian masih di situ?" tanya ibu sambung kami dengan nada suara pura-pura panik. Melangkah dengan kencang menghampiri kami berdua. "Ooh, di sininya kalian," katanya dengan lega. Berdiri di depan pintu, di ikuti oleh kedua tangan yang sengaja dia letakkan di kedua pinggang. Melihat kami yang masih bekerja.
Aku spontan menaikkan kepala dan meliriknya sekilas. Tubuh mungilku yang lemah ini rasanya semakin lemas setelah mendengar suaranya. Napasku pun semakin tidak beraturan dan kalut. Rasa sesak di dada yang menahan rasa takut pun semakin membuat telapak tangan dingin.
Aku dan adikku yang tadi mengomel -ngomel serempak diam dan bergeming. Tidak ada lagi suara sapuan kasar terdengar.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...