
"Tadi, Kakak bohong. Iya 'kan Dottie?!" kata adikku bertanya pada bonekanya.
Angin masih saja menerbangkan rambutku di tengah-tengah perseteruan dengan adikku. Jendela yang terbuka aku tatap dengan kedua bola mata yang perih bercampur dengan sedikit memerah. Daun beterbangan ke sana kemari terbang terbawa oleh embusan angin.
"Kak, kalau Kakak gak bohong. Lalu kenapa Kakak takut melihat Ibu kesayangan Kakak tadi?" tanya adikku ingin tahu. Melihat aku dengan lekat dan akhirnya, sorot mata kami berdua bertemu pandang.
Aku akan ketahuan oleh ayahku, pikirku langsung di sebabkan oleh adikku yang terlalu ikut campur. Kepanikan pun tersirat kembali di dalam diri yang mulai melemah ini. Kegugupan semakin melanda diriku saat ini. Bukan aku tidak mau berkata jujur. Akan tetapi, ini lebih untuk menenangkan ayahku dalam mencari nafkah, pikirku.
Bola mata yang bertemu pandang langsung jatuh melihat lantai. "Kakak cuma... ." Aku langsung menggantungkan kata-kata yang ingin kuucapkan setelah mendengar suara salam dari ayahku.
"Assalamualaikum," sapa ayahku dari luar.
"Ayah," gumamku membelalak melemparkan mainan anak Bp yang putus dan mengejar ayahku.
Krek! Tirai pun tersingkap lekas.
"Ayaaah," teriak adikku berlari memeluk ayahku langsung. "Ayah, kami sudah membersihkan semua yang Ayah suruh," katanya. Berdiri di depan ayahku yang berjongkok dan melingkarkan kedua tangannya di leher ayahku, di ikuti oleh sebelah tangan ayahku memelukku.
Ayahku sangat sumringah melihat adikku yang bahagia. "Oh-ho. Berarti semuanya sudah bersih, Nak?" tanya ayahku dengan hati yang senang.
"Sudah Ayah," jawabku. Melihat ayahku dengan wajah senduku.
Aku dan adikku pun bertemu pandang di dalam pangkuan ayahku yang masih berjongkok. "Ayah, tadi kami membersihkannya ganti -gantian," kata adikku dengan suaranya yang manja. Melirikku dengan gurat wajah yang penuh dengan teka-teki.
Aku sangat cemas dan panik mendengar omongan yang keluar dari mulutnya. Bola mataku langsung melebar bercampur dengan rasa takut.
"Apa yang dibilang adikmu itu benar, Liyan?" tanya ayahku menyelidiki. Melirikku dengan wajah senjanya yang bercampur dengan lelah.
"Iya, Ayah," jawabku langsung. Melihat ayahku dengan raut mukaku yang khawatir dan melirik adikku kembali.
Adikku detik ini sangat menakutkan bagiku terlihat dari raut muka yang dia torehkan, seakan dia menyimpan sesuatu yang membuatku harus tetap waspada dan memantau gerak geriknya.
"Iya, Ayah kami tadi membersihkan semuanya. Makanya halamannya bersih. Coba Ayah lihat!" pinta adikku sambil memutar kepala ayahku miring ke samping kanan dengan kedua tangannya yang lembut untuk melihat halaman.
"Ahaha! Jadi, Anak Ayah sekarang sudah besar," ucap ayahku. Tertawa kecil memuji adikku dengan lembut.
__ADS_1
Keceriaan begitu mewarnai hati adikku yang tadi menangis hanya karena dimarahi olehnya. Namun, lain halnya dengan ku. Aku tidak begitu senang melihat keceriaannya. Malah aku semakin berjaga dari akal cerdiknya yang sulit untuk di tebak.
"Jadi, Kakakmu tadi. Kerjanya siap juga?" tanya ayahku pada adikku. Tersimpul manis.
"I-iya Ay... ." Aku langsung menghentikan ucapanku dan melirik adikku yang tiba-tiba saja memotong pembicaraanku dengan ayahku.
"Iya Ayah. Kakak tadi dia sangat takut, Yah," kata adikku langsung menjawab pertanyaan dari ayahku.
Ayahku sontak menolehkan kedua bola matanya ke hadapanku. Dia seakan melayangkan sorot mata penuh dengan kecurigaan terhadapku setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh adikku.
Deg!
Tubuhku langsung lemas terasa. Bola mata ini pun sebenarnya ingin langsung tertutup. Namun, karena posisiku yang tidak memungkinkan, aku jadinya bertahan untuk tetap membukanya.
"Mmm. Ayah aku tadi... ." Aku kembali melirik adikku dan langsung menutup mulut dengan rapat karena melihat keberaniannya yang terus menerus memotong pembicaraanku dengan ayahku.
Ayahku seakan sudah mulai bertanya -tanya. Dia terlihat seakan sudah mulai melayangkan sebuah tanda kecurigaan melihat kami berdua.
"Ana," kata ayahku dengan suara lembut yang bercampur penasaran memanggil adikku yang selalu menyela pembicaraanku dan dia.
"Takut ?!" kata ayahku semakin curiga bertanya pada dirinya sendiri. Melihat ke arahku yang tepat berdiri dipangkunya sebelah kiri. "Tadi Kakakmu takut apa? Coba cerita pada Ayah," lanjut ayahku kembali menetralkan sedikit pikirannya yang kacau, di ikuti oleh kedua bola matanya tetap melirikku.
Adikku terlihat seakan berpikir setelah melihatku yang sudah pucat menahan diri ini dari serangan kata-kata yang di sampaikannya pada ayahku sebagai bentuk ancamannya terhadapku. Dia pun refleks memalingkan pandangannya dariku.
"Takut semua Ayah, takut Ibu... ." Adikku seketika diam melirikku ketika aku melihat dari ekor mataku.
Deg!
Sekujur tubuh ini terasa dingin dan jantung pun memompa darah terasa dengan kencang. Tatapanku terus saja menatap adikku dengan lekat yang bercampur dengan kecemasan.
Kami berdua yang telah bertemu pandang saling melayangkan sorot mata satu sama lain. Aku melayangkan sorot mata rasa takut sementara adikku melayangkan sorot mata yang penuh dengan ancaman.
"...takut rumput dan takut... ." Adikku kembali diam. Mencoba mengujiku.
Aku semakin mendelik di dalam hati mendengar adikku yang semakin seru rasanya ingin bermain-main ancaman dengan aku. Aku lekas tidak lupa berdo'a pada Allah di dalam hati agar adikku lupa dengan semuanya.
__ADS_1
"Ana, Kakakmu itu memang penakut," sambut ayahku dengan suara lembut. Melihat adikku yang belum tahu, pikir ayahku.
Tubuh mungilku yang masih di peluk ayahku dalam pangkuannya yang masih senang berjongkok. Menatap adikku dengan tajam dan gerutuan kecil di dalam hati.
"Iya, Ayah aku memang penakut," kataku membalas ungkapan ayahku.
"Nah, itu dia Nak. Kakakmu memang penakut," sambut ayahku langsung tersimpul manis.
Adikku terlihat acuh seakan dia menertawai ayahku yang sudah membanggakan diriku. Mukanya terlihat dingin setelah mendengar yang di katakan oleh ayahku.
"Kalau Kakakmu penakut. Maka Anak Ayah yang ini gak boleh penakut lagi," ucap ayahku dengan lembut, di ikuti oleh adikku yang tersenyum membalasnya.
"Iya, Ayah. Aku gak akan penakut. Sampai besar nanti aku gak akan jadi Anak yang penakut ," balas adikku. Menarik bibirnya ke samping.
"Aku juga Ayah. Aku janji. Kalau aku nanti besar aku gak akan jadi Anak yang penakut lagi," sambungku dengan raut muka bahagia yang lepas.
Ayahku begitu senang mendengarnya. Dia tersenyum dengan ikhlas seakan aku melihat lelahnya telah terobati sehingga dia merasa bahagia sekali.
"Tapi Ayah. Aku takut bohong sama Ayah," kata adikku kembali membuka mulutnya.
Glek !
Ludahku kembali kutelan dengan kasar. Bola mata reflek membelalak melihat adikku sambil menahan bibir pucat ini dengan kuat. Jemari yang masih menyilang di leher ayahku semakin lemas terasa.
"Bohong apa Nak?" tanya ayahku langsung. Melihat adikku dengan penuh keheranan. "Dari tadi Anak Ayah ini selalu bilang takut bohong," katanya. Bangun dan berdiri menghampiri bangkunya dan membawa kami berdua bersamanya. "Hm, Ayah tau. Kalau Anak Ayah ini takut bohong 'kan? Karena bohong itu dosa," tandasnya tersimpul manis. Melihat adikku yang imut.
Aku semakin getar-getir mendengar adikku dan ayahku yang membahas tentang kebohongan dan dosa. Aku yang berada di dekat ayahku dan berdiri memalingkan sedikit lirikanku darinya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1