Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kebingungan Adikku.


__ADS_3

Wajah cemberut adikku kini terlihat jelas. Kekesalan yang memuncak membuat adikku tidak mau bicara.


Ayahku terlihat begitu bingung dengan keadaan keluarga saat ini. Adikku yang tidak pernah berubah untuk bermain terus menerus. Sementara, aku yang saat ini masih lemah terkulai dengan sakitku sehingga membuat aku harus membatasi semua ruang lingkup ku.


Ayahku terkadang dia tidak bisa menahan amarahnya apabila ada orang yang membuat adikku menangis. Ayahku dengan spontan dia akan memarahi orang itu.


" Ayah, Ana boleh tidak bermain,sebentar saja!" Kata adikku berdiri disamping ayahku.


"Tidak! Ini sudah malam besok kamu harus sekolah." Ayahku dengan tegas melarang adikku yang manja dengan melemparkan pandangan kedinginan kamarnya.


" Ayah, besok Ana cepat bangun!" Adikku terus merayu ayahku agar dia bisa lolos untuk pergi bermain. Tapi kali ini ayahku berbeda.


" Tidak Ayah bilang! Tidak!" Kata ayahku dengan sedikit kesal menatap adikku tajam. " Kali ini kamu harus mendengar. Sudah berapa lama kamu tadi bermain." Ayahku dengan suara yang sedikit meninggi mendelik melihat adikku.


Adikku pun kini diam pergi meninggalkan ayahku dengan wajahnya yang kesal. Adikku terlihat begitu cemberut menatap ku setelah dilarang oleh ayahku.


"Ntah kenapa? Ayah mengikuti apa yang dibilang wanita itu." Wajahnya pun pias seketika melihat ibu sambung kami berjalan melewati dia.


Aku mendengar gumaman kesal adikku. Mendesis sambil melempar kan wajah kesalnya ke arahku.


" Liyan,apalagi! Engga kau minum obat mu." Kata ayahku melihat ku dengan jengah.


"Ia, Ayah!" Aku langsung bergegas mengambil gelas dan meminum obatku dengan baik sehingga tidak ada yang aku muntahkan walaupun hanya sedikit.


" Liyan jangan lupa taruh piring kotor kamu ke dapur." Kata Ayahku yang beranjak.


"Ayah mau kemana?" Tanya adikku yang meredakan kekesalannya.


" Ayah mau pergi ke pengajian." Ayahku bersiap dengan pakaian kokonya yang rapi tak lepas juga ayahku memakai peci hitam.


"Kalian tidur, ya! Sudah jam berapa ini." Ayahku berjalan sambil melihat jam dinding yang tergantung.


Adikku yang merajuk duduk disamping ku tadi kini tersenyum simpul. Wajah adikku dan sikapnya tadi yang dia tunjukkan terhadap ayahku dan aku kini berubah seketika.


"Kak,Ayah mau pergi." Katanya dengan senang sambil menoleh melihat Ayahku yang memakai sendalnya.


Wajahnya kini berseri seperti rembulan yang terang. Senyum tipis pun kini dia tarik menghiasi wajah polosnya.


Aku yang duduk disampingnya hanya diam melihat adikku yang akan bereaksi. Aku melihat adikku mulai berdiri dan mencari sendal yang dia simpan tadi. Hatinya yang ceria menghampiri kaca Sambil menyisir rambutnya dengan rapi.

__ADS_1


" Kak, kakak ikut, ya!" Ajak adikku yang melihatku dari dalam cermin.


"Engga!" Jawabku dengan datar.


"Siapa kawan kakak disini?" Adikku kembali bertanya sambil meletakkan sisir. " Ibu itu dia mau keluar kak! Pergi kerumah tetangga sini. Kalau kakak tidak ikut kayak mana aku mau bermain,kak." Adikku menggerutu dengan kesal. Wajahnya masamnya pun kini terlihat.


" Dek, kakak lagi sakit." Aku berusaha menolak keinginan adikku. " Nanti Ayah marah kalau kakak keluar." Dengan tubuh lemahku dan suaraku yang parau.


Huh! Dengan kesal adikku membanting sesuatu. " Ayolah kak! Sebentar saja. Kitakan bermainnya didalam rumah." Adikku dengan kesal memprotes ku.


Aku yang tak berdaya hanya menatap adikku dengan jengah. Tubuhku yang panasnya belum turun harus bertahan kena angin malam. Aku yang tidak berani dirumah sendiri. Kini harus mengikuti kemauan adikku yang memaksa ku.


Aku langsung memakai jaket. Berjalan mengikuti adikku yang terlebih dahulu di depanku. Aku memakai sendalku melangkah keluar dengan perlahan. Angin malam yang dingin menusuk tubuhku yang panas.


Aku yang mengikuti adikku berjalan. Mencoba menetralkan keadaan ku.


" Kak Liyan!" Teriak anak- anak yang mengenalku.


" Itu kan kak! Kalau kakak keluar pasti banyak teman kakak." Kata adikku berhenti sambil melihat anak - anak dan melihat ku juga." Makanya kakak sesekali keluar biar cepat sembuh. Ini engga, dirumah aja! Kakak bertahan." Kata adikku dengan sedikit mengejekku.


Aku hanya diam mendengarkan ucapan adikku. Sikapku yang dingin membuat adikku seketika diam dan berlari meninggalkanku.


Adikku dengan penasaran dia mendekati seseorang yang memanggilnya. Langkahnya yang kencang membuat tertinggal di belakang.


" Rahmadani." Dengan spontan adikku memeluknya. " Kita baru ini ketemukan!" Kata adikku dengan datar.


" Ia, tadi kamu kemana? Kenapa tidak datang bermain?" Rahmadani begitu senang bertemu dengan adikku.


" Ia,aku tadi siang bermain kerumah temanku, disekolah. Diakan tadi baru pindah, masuk rumah baru." Kata adikku dengan wajah sendunya.


Aku yang ikut menemani adikku bermain hanya mendengarkan pembicaraan mereka. Tubuhku yang sudah kedinginan membuatku ingin kembali kerumah.


Namun,adikku masih betah dengan temannya Rahmadani bercerita. Mereka begitu asyik saling bercerita tentang sekolah mereka tadi pagi.


Aku hanya diam mendengarkan. Bangku sekolah yang sudah lama tidak aku masuki. Membuatku rindu akan kelasku dan teman-temanku.


" Dek, kakak pulang duluan,ya!" Aku berdiri memutarkan badanku.


" Kak jangan! Tunggu sebentar lagi." Adikku yang ingin duduk mengurungkannya seketika.

__ADS_1


" Tunggu kak! Nanti kita sama pulang." Adikku menarik tanganku.


"Tapi dek, kakak kedinginan." Kataku dengan sedikit terbata.


Adikku terlihat bingung dia pun menatap Rahmadani seakan menanyakan apa yang akan diperbuat.


"Ana, kalau gak, kita kerumah ku aja." Rahmadani dengan kasihan melihat ku.


"Tapi, Ibu mu ada gak dirumah?" Tanya adikku yang panik.


" Engga ada, kan Ibuku mengajar mengaji." Rahmadani.


Adikku langsung menerima tawaran Rahmadani untuk membawaku kerumahnya.


" Kak, ayo cepat!" Adikku berjalan menuntunku dengan hati-hati.


"Kalau kita pergi kerumah Rahmadani. Nanti kita pasti ketahuan Ayah. Kita tidak ada dirumah." Kataku dengan begitu khawatir.


" Alah,ia! Betul." Wajah adikku pun kini mulai kebingungan." Rahmadani, Ayahku mengaji. Jadi, nanti kalau Ayahku pulang pasti engga nampak kami." Adikku pun mulai khawatir.


"Kalau engga, kita pulang aja dek!" Kataku dengan suara yang pelan.


Mendengar apa yang aku katakan adikku mulai berpikir. Dia pun diam melihat diriku dan mengingat apa yang aku katakan.


"Janganlah kak kita pulang." Kata adikku dengan wajah sedihnya.


"Oh! ia, Ana. Aku baru ingat! Ayahku pergi ke pengajian juga." Kata Rahmadani dengan menjentikkan jemarinya.


"Apa?" Seketika wajah adikku sedih. " Ia, tapi apa Ayahmu dan Ayahku satu pengajian?!" Adikku yang begitu pintar kembali membuat Rahmadani berpikir.


" Ia,ya! Aku engga pernah bertanya." Kata Rahmadani spontan.


"Ia, itulah dia!" Kata adikku menunjuk dengan guratan wajah penuh tanda tanya.


"Terus, kayak mana apa kita mau pulang." Kata Rahmadani sedikit bersedih." Kak Liyan!" Rahmadani melihat ku seakan membutuhkan jawaban dari diriku.


Adikku sesekali melihat jalan setapak yang panjang. Dia pun melihat jalan yang sering digunakan untuk hal-hal baik yang sering dilalui ayahku untuk pengajian.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2