
"Sekarang cepat masuk dan ganti pakaian kalian!" perintah ayahku berdiri di depan pintu masih lekat melihat halaman.
"I-iya, Yah," jawabku dengan terbata.
"Iya Ayah," jawab adikku juga.
Aku dan adikku langsung tergopoh-gopoh berjalan masuk. Tubuh ayahku yang berdiri kini menutupi pintu. Aku dan adikku pun berjalan mengendap-endap melewati ruangan rumah yang terbuka.
"Ana, kita pakai baju apa lagi?" tanyaku seakan kami kehabisan pakaian.
"Pakai baju apa aja la, Kak," sambut adikku dengan gurat wajah yang datar.
"Tapi 'kan kita tidak punya pakaian dingin seperti ini lagi," balasku melihat adikku yang berjalan di samping bersamaku.
"Kak, tapi kita punya pakaian yang biasa." Adikku mengatakannya. Melirikku sambil melihat hoodie yang masih dia kenakan.
Aku yang telah kedinginan merasa sebal mendengar ucapan adikku yang membuat semuanya, seperti hal yang konyol. "Ana, pakaian itu tidak sama dengan yang ini." Aku menunjuk pakaian yang masih kupakai dengan kedua jemariku.
"Apanya yang tidak sama, Kak?" Adikku memutar badan ke arah lemari tepatnya terletak di ruang tengah . "...tapi 'kan baju ini cantik juga, Kak." Adikku membuka lemari dan menunjuk baju yang terlipat rapi.
Aku yang berdiri di belakang adikku memutar kepala sedikit ke sebelah kiri melihat baju yang di tunjuk olehnya. Baju yang terlipat lumayan dalam lipatannya ke bawah aku lihat dengan lekat. Baju itu lumayan cantik juga. Aku juga suka melihatnya. Baju yang telah lama tersimpan.
Adikku yang berdiri perlahan menarik baju itu dari lipatannya. "Kak, nah! Bajunya yang ini. Cantikkan!" ucap adikku sambil melebarkan baju itu di hadapanku. Menyerahkan baju ke tanganku.
Baju piyama yang bergambar rembulan itu cukup manis juga mengusik keheninganku seketika. Aku sedikit sumringah melihatnya. "Itu tangannya panjang juga." Aku memegangnya. "...tapi... ." Aku terdiam menunduk melihat hoodieku. "...tidak setebal ini," ungkapku dengan memelas. "Kakak sangat tidak menyukainya karena ini tidak setebal yang kita pakai, Dik," tukasku melirik keduanya.
"Liyan, Ana! Kenapa masih berdiri di situ?" tanya ayahku yang masih berdiri di depan pintu. Ayahku melihat kami tanpa berkedip sedikit pun. Aku melihatnya dari ekor mataku ayahku begitu gerah setelah mengetahuinya.
Pakaian yang masih kotor sampai saat ini masih saja kami pakai. Tanpa lelah aku dan adikku sering sekali melihatnya dan belum juga mau melepaskannya. Hoodie ini adalah hoodie yang baru di beli ayahku seminggu yang lalu sebagai hadiah untukku dari ayahku karena aku telah sembuh dari penyakitku.
Ayahku jika membelikan aku baju. Dia pasti membelikan untuk adikku juga. Hoodie yang cantik berwarna pink dan bergambar hello kitty itu sangat manis jika kami kenakan hingga membuat aku dan adikku berlama-lama memakainya dengan wajah suka cita. "Ana, Ayah sudah menyuruh untuk menggantinya!" Aku menaikkan ujung bajuku dengan lirih dan aku pun menatapnya hingga saat ini. Aku seakan belum rela untuk melepaskannya hingga gurat wajahku berubah langsung memelas.
"Tapi, Ayah sudah melihat kita." Adikku memutar sedikit lirikannya ke arah ayahku yang masih berdiri sambil menatap kami. "...aku takut kalau Ayah semakin marah." Adikku langsung mengambil baju berbisik di telingaku dan berlari. Membawa baju.
"Ana, tunggu Kakak!" bisikku berteriak menarik sedikit baju adikku hingga dia terhenti dan menepis lenganku .
"Kak, nanti bajunya koyak," tutur adikku. Memutar badan melihat ke arahku.
"Tunggu Kakak makanya." Aku membuka lemari dan mengambil baju dengan cepat.
Ayahku yang masih berdiri sambil melihat sudut halaman dengan tajam menatap kami. Aku yang berjalan bersama dengan adikku menempelkan tubuhku seketika dengannya sambil berjalan menunduk. Pandangan yang melihat ke bawah dan sesekali juga melihat ke atas terbuka seakan penuh kekhawatiran akan amarah ayahku yang akan meluap dengan sejadinya.
Perlahan langkah yang gontai ini pun aku seret hingga meninggalkan ayahku yang masih memperhatikan halaman dengan lekat.
"Itu sampah apa yang berjatuhan di halaman itu...Liyan?" tanya ayahku terdiam sebentar menahan kekesalannya memutar wajahnya ke arahku sehingga aku pun terhenti dan refleks diikuti oleh adikku.
Tatapanku yang nanar melihat lurus ke depan berhenti seketika. "Ayah itu sampah... ."Bibirku begitu keluh untuk berucap. Menatap nanar bercampur kecemasan. Aku yang meremas jemari sambil menahan diri agar tetap berdiri dengan kuat di hadapan ayahku berbisik di telinga adikku. "Ana, kau 'kan, Anak yang baik. Kakak mohon, bicaralah pada Ayah, supaya Ayah tidak memarahi kita lagi," pintaku memohon dengan lembut pada adikku. Berdiri dan berbisik dengan pelan.
"Aku bingung Kak. Mau memulai dari mana," balas adikku juga pelan berbisik. "Kakak 'kan tahu, kalau aku sudah tidak Anak kesayangan Ayah lagi," papar adikku menjelaskan.
"Kau salah Ana. Kau itu masih Anak kesayangan Ayah, kok," kataku. Berbisik pelan menghilangkan keraguan adikku akan sikap ayahku kini. Kalau aku melihat ayahku memang sedikit berubah terhadap adikku. Adikku tidak lagi di manja oleh ayahku. Tidak sama seperti dulu lagi malah adikku sekarang mendapat teguran yang tegas dari ayahku.
Sekarang aku harus bisa menjadi anak yang cerdik, lihai dan pandai memutar kata-kata agar adikku mau menyelamatkan diri ini dari ayahku. "Ya, Dik." Aku terus memohon mendesak adikku. "Ayah itu cuman bercanda aja padamu," tuturku. Menatap adikku yang melemparkan sorot matanya padaku.
Adikku yang sesekali melihatku dan melihat ayahku hanya memberi jawaban kebisuan. Kepala yang tadi menunduk hanya melihat lantai tiba-tiba berdiri tegak melihat lurus ke depan. Betapa bercampur aduk hati ini ketika nanti aku mendengar penolakan dari adikku.
__ADS_1
"Ana, ayo cepat maju, bicaralah pada Ayah !" desakku dengan gurat wajah sendu dan sumringah yang sedikit kututupi dari ayahku.
"Kalian sudah lelah berdiri?" tanya ibu sambungku yang berbicara tiba-tiba. Mengusik keheningan yang bercampur dengan pandangan kosong. Aku dan adikku seketika sontak terkejut dan saling bertemu pandang. Kami berdua pun langsung memelas seakan kami tidak habis pikir.
Ayahku yang berdiri dan menarik napas tadi sekarang telah membuangnya dan langsung membuka suara setelah mendengar pertanyaan ibu sambungku tanpa menoleh ke arah ibu sambungku. "Sekarang kalian pergi sana! Ganti baju kalian!" perintah ayahku dengan tegas. "...jangan bermain-main lagi!" cetus ayahku yang kurang baik.
Gurat wajahnya yang senja kini semakin kusut terlihat. Aku yang berdiri dan menyeret kaki dengan perlahan melihat ayahku sekejap. Ayahku terlihat begitu tertekuk sambil mengayun kaki lalu kemudian melemparkan pandangannya dengan kasar. Ayahku sangat kecewa karena kedua putrinya telah berani melanggar perintahnya. Ayahku juga sangat sedih karena kami telah banyak akal untuk mencari celah agar bisa keluar rumah dengan mengendap-endap.
Hal ini mungkin semakin membuat ayahku berjaga lebih ketat lagi kepada kami sehingga setiap saat dia selalu berjaga, bertanya dan mengkhawatirkan kami. Ini bukan karena kesehatan kami, melainkan ini karena kecerdikan kami yang pandai mencuri waktu untuk bermain keluar. Hal ini semakin membuat ayahku semakin depresi melihat tingkah laku kedua putrinya yang cerdik.
"Liyan, Ana. Setelah ini jangan lagi bermain keluar," ucap ayahku melarang kami berdua.
"Anakmu ini, kau percayai, heh!" Ibuku sambungku melirik kami dengan sinis. Menyeringai. "... Anak-anakmu ini lebih pintar darimu sekarang karena mereka 'kan sudah sekolah dan juga Anakmu yang satunya itu...!" Ibu sambungku tidak melanjutkan ucapannya sambil menatapku dengan sorot mata yang sinis. Kata-kata ibu sambungku dan sorot matanya seakan menekanku hingga membuat aku tidak bisa menatap lurus ke depan.
"...dengar Liyan!" Ayahku menatap dengan tajam melanjutkan ucapannya kembali.
"Iya, Yah," jawabku dengan pelan.
"Jangan lagi bermain dan langsung masuk ke kamar sekarang!" perintah ayahku. Menunjuk kamar dengan telunjuknya.
Aku dan adikku langsung meninggalkan ayah dan ibu sambungku. Perlahan kami menyeret kaki dengan gontai. "Ana, baju ini sudah lama tidak kita pakai." Aku melihat baju yang kupegang sambil berjalan.
"Makanya aku mengambilnya, Kak. Supaya hari ini kita pakai," sambut adikku.
Kamar yang telah kami masuki pun menyambut kami dengan ruangan yang tenang. Jendela yang tadi terbuka kini telah aku tutup. "Malam ini pasti dingin, Dik?!" Aku mengunci jendela dengan kuat.
"Dari mana Kakak tahu?" tanya adikku. Berkata dari belakangku.
Aku seketika hening. "Dari anginnya," jawabku sedikit menggelitik hati adikku. Memutar bola mata ke sebelah kanan melirik adikku yang memakai baju tepat di belakangku sambil memeriksa pintu.
"Hihihi!" Adikku menahan tawa gelinya.
Aku yang telah selesai menutup jendela kemudian mengambil baju piyama yang terletak. Aku pun lalu memakainya dan menutupi tubuh mungilku yang kedinginan akibat hoodie yang basah tadi.
Baju piyama pun telah kupakai. Aku pun dengan sumringah melihat baju yang kupakai dan yang dipakai adikku. "Ana, sekarang kita sudah tidak kedinginan lagi, ya 'kan?" Aku berjalan mendekati adikku dengan senyuman yang merekah.
"Iya Kak," jawab adikku dengan singkat.
Baju piyama yang aku pakai akhirnya, membuatku bahagia dan terlepas dari omelan ayahku yang panjang dan lebar. Angin dingin yang berhembus pun semakin dingin. Awan gelap pun semakin menutupi bumi yang terang. Hujan yang turun rintik-rintik pun semakin berangsur menghilang.
Waktu yang terus berputar semakin berputar dengan kencang. Jam dinding yang berdenting pun kini terdengar berbunyi sampai ke telingaku. Sore pun telah berlalu malam pun telah tiba kini. Awan mendung yang terlihat tadi menyimpan hujan kini telah berubah menjadi awan terang karena sinar rembulan.
Rembulan yang bersinar di atas awan menyinari bumi dengan terang. Telah tampak terlihat, melihat aku dari balik awan. Aku yang berdiri melihat sinarnya dari balik celah jendela sangat bahagia. Tertoreh dari gurat wajahku yang berseri ketika menyaksikannya.
Aku seolah tersenyum sesekali menyaksikan rembulan yang kulihat. Rembulan itu terlihat seakan mengendap-endap sama seperti kami yang sering mengendap-endap ketika bermain keluar.
Rembulan yang mengintip dari balik awan hitam itu secara tidak langsung membuat aku tergelitik seorang diri. Rembulan yang bersinar di atas awan hitam yang menerangi bumi, sepertinya ia tersenyum kepadaku.
"Ana, rembulannya indah," kataku pada adikku yang telah rebahan lebih dulu dariku. Melihat rembulan dengan lekat. "Kakak jadi, ingin ke sana!" ucapku berbisik pelan sambil melihat rembulan yang menerangi awan yang hitam.
"Kakak mau bertemu dengan siapa?" tanya adikku dengan celotehan yang asal dia ucapkan.
"Ibu," jawabku singkat.
"Emang Ibu kenal dengan Kakak?" tanya adikku setengah tertawa.
__ADS_1
"Mungkin," balasku langsung.
Rembulan yang bersinar dengan indah membias bumi dan wajahku. Hati ini sangat senang ketika melihatnya. Hati yang tadi berkutat dengan segala prahara kini menjadi tenang karena melihat rembulan yang menyinari bumi dengan sinarnya.
"Kak, kalau Ibu masih ada kita pasti senang," tutur adikku. "...dan kita akan menjadi Anak yang bahagia di dunia ini," lanjut adikku dengan nada suara yang lembut.
Aku yang berdiri melihat rembulan dengan asyik memutar sedikit badan. "Kita pasti tidak akan di marahi oleh Ibu itu, kan?!" Aku melirik adikku dari ekor mata.
"Iya, kenapa Kakak mengatakan itu?" Adikku langsung bertanya dengan nada suara sedikit lantang seolah dia memiringkan sedikit tubuhnya ke atas.
"Tidak ada apa-apa," jawabku. "Kakak cuman menebak saja," ungkapku melindungi rumah kami ini dari serangan yang mencekam.
"Ya udah. Kalau Kakak bilang tidak apa-apa," sahut adikku dengan nada suara sedikit memelas.
Kamar yang menjadi tempat beristirahat dan sekaligus menjadi tempat bercanda serta bermain terasa sangat hening ketika aku tidak lagi mau merespon adikku. Suara adikku yang terdengar kini hilang dengan sekejap.
Aku yang penasaran pun menoleh segera ke belakang tepatnya ke tempat tidur. Seluruh tempat tidur pun terlihat di penuhi oleh mainan adikku. Tempat tidur yang rapi sekarang sudah menjadi sarana arena permainan. Aku sontak terkejut melihatnya kedua bola mata ini pun melebar dengan kekesalan.
"Anaaa!" panggilku sambil menahan teriakkanku. Berjalan menghampiri tempat tidur. "Mainan ini...!" gumamku sambil menatap selimut yang di penuhi oleh mainan.
Cuaca yang semakin tidak bersahabat semakin membuatku stres melihat tingkah adikku yang sedikit-sedikit suka bermain.
"Ana...! Ana...! teriakkan ayahku yang ingin mengajari adikku berhitung terdengar memanggil.
Aku yang telah histeris melihat tempat tidur tiba-tiba tersentak langsung ketika mendengar suara ayahku dan memutar kepalaku langsung.
"Ana sudah tidur, Yah," sahutku dari dalam berjalan mendekati jendela.
"Kenapa cepat sekali Adikmu tidur?" tanya ayahku dengan keheranan.
"Tidak tahu, Yang," jawabku.
"Mungkin dia itu kelelahan terlalu banyak bermain hujan," sahut ibu sambungku.
"Liyan, kalau begitu kau pun juga tidur sekarang! Ini sudah jam berapa?" papar ayahku sambil melemparkan sebuah pertanyaan padaku.
"Besok kalian sudah sekolah ya, 'kan?" sambung ibu sambungku dengan bertanya kembali padaku.
"Iya Bu," jawabku.
Aku yang tadi berdiri tepat di dekat jendela menyambut ayah dan ibuku kini beranjak langsung naik ke tempat tidur dan memejamkan kedua mataku.
Tempat tidur yang tadi berantakan di buat adikku dengan berbagai jenis mainan. Aku bersihkan terlebih dahulu sebelum aku merebahkan tubuh ini. Mainan yang banyak dan membosankan bagiku menyusunnya telah selesai aku simpan.
Sekelabat kebiasaan baik adikku yang sering bermain sebelum tidur tidak bisa diubah lagi sehingga tidak jarang aku yang selalu terkena dampaknya. Kebiasaan ini seakan telah menganak di dalam diri adikku.
"Ana, kau selalu menyerakkin tempat tidur!" rintihku dengan sebal memarahi adikku yang telah tertidur pulas.
Sepanjang aku menyusun mainan aku terus mengomel-ngomel pelan sambil mengutip mainan dan memasukkannya ke dalam kantongan plastik.
"Ana, kalau besok kau menyerakkin lagi. Kakak akan memarahimu," celetukku sambil memutar tubuhku melihat ke arah adikku yang masih tertidur. "...kau tahu tidak !" Aku menatapnya dengan kesal. "...setiap hari Kakak menyusun mainanmu ketika kau sudah tidur, huh!" Aku mendengus dengan sebal.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...