
"Ayah," ajak adikku menarik lengan ayahku. "Aku mau naik itu!" ucap adikku kembali menunjuk baling-baling.
Ayahku langsung memutar kepala melihatku. "Liyan, jangan takut. Itu cuma baling-baling," tandas ayahku. Menjatuhkan setengah tubuhnya di udara menatapku.
"Aku gak berani, Yah. Aku takut," kataku dengan nada suara getir bercampur takut. Melihat baling-baling yang berputar.
"Ayah jangan gak jadi naik, ya," rengek adikku dengan nada suara penuh penekan. Sedikit kesal melihatku.
"Ayah tau, Nak," sahut ayahku dengan lembut. Melirik adikku.
Adikku langsung diam dan tidak merengek lagi. Dia pun mulai bisa menjaga sikapnya yang tidak menyukaiku di depan ayahku.
"Liyan, kau jangan takut. Itu tidak apa-apa, kok," kata ibu sambung kami tiba-tiba bersuara mengatakan hal yang sama, seperti ayahku. "Ibu dulu waktu kecil paling suka naik itu," ucapnya dengan sumringah menatap baling-baling yang berputar. Seakan dia mengingat masa kecilnya.
"Rasa takut itu harus di buang jauh-jauh," cetus ayahku. Menarik lenganku dan berjalan, di ikuti oleh kedua kakiku mengikuti langkahnya.
"Kau tidak boleh penakut, Liyan," sambut ibu sambungku yang tidak ada takutnya.
Dengan berat hati aku terpaksa menyeret kaki ini hingga mengikuti yang mereka inginkan.
Kreerk!
Tiba-tiba aku menarik tangan dari ayahku.
"Liyan, kenapa kau tarik tanganmu dari Ayahmu?" tanya ibu sambungku dengan terkejut.
"Aku takut," jawabku langsung. Diam mematung melihat ke atas baling-baling yang tergantung tinggi. "Aku takut jatuh," rintihku.
"Ayah, kalau Kakak gak mau gak usah, Yah," harap adikku. Menaikkan kepala melihat ayahku, di ikuti oleh tangannya menarik lengan ayahku sebagai isyarat agar ayahku mengurungkan niatnya untuk mengajakku. "Kita berdua saja, Yah," lanjutnya.
Ayahku yang melihat adikku pun. "Nak, kita naiknya nanti saja, ya !" pintanya membujuk adikku agar dia mau mengalah demi aku.
"Engga! Aku mau naik sekarang," ungkap adikku dengan cemberut. Memutar badannya membelakangi ayahku.
"Tapi Kakakmu tidak berani," kata ayahku berbisik di telinganya.
"Ayah, tinggalkan saja Kakak di sini kalau dia tidak mau ikut," pinta adikku. "Di sini 'kan ramai. Kakak gak akan hilang," cetusnya. Berdiri tegak lurus membelakangi ayahku dan aku.
"Kalau si Liyan tidak mau. Kita tidak bisa memaksanya," sahut ibu sambung kami yang berdiri jauh sedikit dari kami.
Ayahku semakin bingung. Dia terus menerus diam melihat pandangan lurus ke depan. Sementara adikku sudah tidak sabaran ingin naik baling-baling.
__ADS_1
"Ayah, kalau kayak gitu. Kita pulang saja!" rajuk adikku.
"Kau selalu membawa boneka busukmu itu," singgung ibu sambung kami yang kesal melihat boneka itu memotong keluhan adikku yang sering merajuk. "Sekarang, setiap kau pergi kau selalu membawanya," kelakarnya dengan serius.
Pasar malam yang berisik akibat suara-suara yang terdengar pun sudah bercampur dengan pertengkaran mereka. Suara berisik yang menggema hingga ke udara pun terdengar nyaring di sini. Suara mesin-mesin dari mainan Anak-anak yang berputar pun sangat mengusik pendengaran. Aku semakin jenuh di sini berlama-lama, pikirku.
"Liyan, itu tidak akan membuatmu bahaya. 'Kan masih ada Ayah, Ibu dan adikku. Bahkan di mana pun kita berada, Nak, masih ada Allah yang akan menjaga kita," terang ayahku dengan sabar membujuk diriku agar aku bisa menghilangkan rasa takut. "Dengar, Nak. Itu cuma sebentar berputar... ." Ayahku langsung diam dan tidak melanjutkannya lagi.
"Tidak akan lama Liyan," balas ibu sambung kami. Berdiri dan melirik tempat pengambilan tiket. "Bagaimana Liyan? Sudah ada perubahan ?" tanyanya.
"Ayah," panggil adikku dengan nada suaranya yang manja bercampur dengan lirih itu. Menarik lengan ayahku dan menaikkan kepala melihat ayahku. "Nanti pasar malamnya tutup," rintihnya.
"Sudah! Tidak perlu takut Liyan!" kata ibu sambung kami yang sudah tidak sabaran naik baling-baling bersama ayah dan adikku. "Sekarang beranikan dirimu!" pintanya.
Aku pun diam dan melihat dengan lirih lututku yang terluka dan masih sakit. Aku meremas bajuku untuk menghilangkan rasa takut. Melihat ke bawah dan menajamkan pendengaran, mendengar suara-suara kaki yang melangkah.
Ayahku pun segera menghilang mengambil tiket. Sorot mata yang bercampur dengan kecemasan pun menyelubungi tubuh mungil ini semakin kuat.
"Ini tiketnya!" Ayahku menunjukkan tiket yang ada di tangannya kepada istrinya itu.
"Kasihlah sama mereka! Supaya kita naik," kata ibu sambung kami. Mendongak ke atas melihat baling-baling yang berputar dengan kecepatan tinggi.
Jeglek !
Pintu baling-baling pun sudah tertutup rapat. Aku dan adikku serta ayah dan ibu sambungku telah duduk dan bersiap menunggu baling-baling ini berputar.
Tubuhku rasanya begitu gemetar. Jantungku pun semakin cepat rasanya memompa darah sehingga kedua tanganku terasa dingin. Baling-baling yang sudah kami naiki pun berputar naik ke atas dengan pelan dan membuatku semakin membeku. Aku hanya bisa diam bercampur cemas dan shock.
"Ayah, baling-balingnya sudah naik," ucap adikku dengan sumringah melihatku yang sudah pucat ketakutan. Dengan ceria dia pun berteriak senang. "Ayaaah, huuuuuu! Aku gak takut. Malah aku suka, Yah. Kalau kita bisa sampai di atas dan berhenti di situ," cetus adikku dengan nada suara bahagia bercampur dengan udara kosong yang nyaring.
"Kenapa, Nak?" tanya ayahku ingin tahu. Melirik adikku yang duduk sebangku dengannya.
"Aku suka melihat ke bawah, Yah," balas adikku.
"Aku takut Ayah ," teriakku dengan keras. Menutup kedua bola mata dengan kuat.
"Kenapa kau takut?" tanya ayahku.
"Mereka terlalu kecil, seperti semut, Yah," jawabku menjelaskan padanya. Masih menutup kedua mata dengan kuat.
Hahaha ! Tawa pun seketika terdengar nyaring mengaung di udara yang kosong bercampur angin.
__ADS_1
Aku yang semakin ketakutan terus memegang tangan ibu sambungku dengan kuat. Aku tetap menutup kedua mata dengan sekuat-kuatnya.
"Liyan, kita tidak akan terbang," ledek ayahku yang senang melihatku histeris ketakutan.
Aku terus menerus menutup mata sambil menajamkan pendengaran.
"Ayah, kalau nanti sudah selesai. Kita naik ini lagi ya, Yah," pinta adikku dengan lembut. Seakan adikku menunjuk baling-baling ini lagi.
"Kita naik yang lain saja, Nak," saran ayahku. Menolak permintaan adikku.
"Kakakmu sudah ketakutan," balas ibu sambungku yang memegang tanganku dengan erat. "Tangan Kakakmu sudah dingin karena ketakutan," tandasnya.
Aku semakin gusar rasanya mengingat baling-baling ini sangat lama berhenti. Aku semakin menutup mata ini dengan kuat.
"Ayah, kenapa makin pelan?" tanya adikku heran. Melihat baling-baling yang sudah mau berhenti.
Perlahan aku pun membuka kedua bola mata dengan pelan. Mata yang tadi tertutup dengan rapat begitu buram ketika aku melihat orang- orang yang bersiliweran di tengah pasar malam.
"Ayo, Nak. Kita sudah selesai," ajak ayahku menarik lengan kami berdua dan berjalan bersama dengannya.
"Ayah, kita main permainan lagi, ya," harap adikku yang menikmati perjalanan pasar malamnya saat ini.
"Iya, Nak," jawab ayahku. Melirik ke arahku yang membuatnya geli. "Liyan, kau masih mau bermain lagi?" tanya ayahku. Menarik sedikit bibirnya.
"Mau Yah," jawabku langsung.
"Waaah, ternyata kau semangat juga setelah turun dari baling-baling, ya ," canda ibu sambungku dengan garing.
"Iya, ini ngomong -ngomong Anak Ayah mau main apalagi. Kok sampai semangat gitu jawabnya ?" tanya ayahku ingin tahu.
"Bermain itu, Yah," jawabku langsung. Menunjuk kuda yang berhenti.
"Haa? Kuda?" tanya adikku dengan nada suara rendah dan gurat wajah yang tidak selera.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1