
"Bohong Ayah," tukas adikku berdalih. "Kakak yang jahat Ayah. Kakak duluan yang salah, Yah. Bukan aku," sambung adikku mengiba. Membela diri.
Aku langsung menghela napas sambil menggeleng melihat ayahku yang tersesat oleh emosional adikku. Kedua bola mataku lantas saja menatap nanar ruangan yang kosong sambil menggulung omong kosong adikku di dalam pikiran.
"Ana, apa kata Kakakmu padamu tadi, hm?" tanya ayahku. Melihat adikku yang manja, di ikuti oleh kedua tangannya mengelus kepala adikku dengan lembut.
"Ayah aku lupa. Soalnya tadi Kakak terlalu panjang ngomongnya," dalihnya dengan lembut bercampur manja.
Aku semakin menggeleng kesal bercampur dengan suhu tubuh yang tidak normal. Kedua bola mata pun semakin lama semakin panas terasa. Ingin sekali aku menjatuhkan tubuh segera untuk rebahan meregangkan otot-otot yang lelah.
"Liyan, bukan cuma sekali Ayah katakan, 'jangan membuat adikmu menangis' ," kata ayahku mengulanginya dengan tegas.
"Ayah, Adik duluan yang... ." Aku langsung terdiam menganga menahan omongan yang ingin keluar melihat adikku langsung memotong pembicaraanku.
"Ayah, bukan aku duluan. Kakak tadi yang marah samaku," dalih adikku memotong pembicaraanku langsung.
Aku semakin terkepung oleh omongan adikku yang menguras emosional ayahku dan membuat aku jengah. Bibirku masih saja tertutup rapat hingga sampai aku kembali merasakan nyeri lutut ini lagi yang bercampur dengan demam tinggi yang menjangkitku.
Lidahku semakin keluh terasa. Berat sekali rasanya aku ingin membuka mata dengan lebar seperti biasanya. "Ayah aku gak bohong," sambutku dengan nada suara parau bercampur tubuh yang kurang sehat.
Ayahku semakin bingung melihat aku dan adikku yang saling tuding. Dia mungkin sekarang lagi menguras pikirannya untuk melihat dan mendengarkan pembelaan kami satu per satu.
Huh! Ayahku menghela napas.
"Liyan, kenapa kau buat Adikmu menangis? Bukannya kau sudah puas gak pernah membagi uang jajanmu lagi padanya," kata ayahku seakan menyindirku tentang yang terjadi beberapa hari yang lalu.
Aku semakin diam menelan kesalahanku sendiri lagi. Aku masih saja di tekan oleh adikku dan ayahku juga. "Ayah, bukan aku yang membuatnya menangis. Tapi dia yang duluan, Ayah," ucapku membalas tuduhan adikku.
"Engga Ayah. Engga," kata adikku langsung. Melihat ayahku sambil mengayunkan sebelah tangan kanannya sebagai isyarat untuk menepis omonganku. Tidak berapa lama kemudian perlahan adikku memeluk erat pinggang ayahku yang berdiri sambil memiringkan kepalanya ke samping tepatnya ke sebelah kiri.
"Liyan, kau tidak sayang pada Adikmu, ha? Bilang sama Ayah. Biar Ayah tau," kata ayahku dengan nada suara datar bercampur gurat wajah yang mengetat.
__ADS_1
Ayahku terus saja membuat aku semakin dilema dan jengah dengan permasalahan aku dan adikku yang belum juga selesai.
"Ayah, aku sayang kok sama Adik," jawabku. Menunduk dan melihat lantai seakan menelan penyesalan.
Adikku semakin pucat bercampur cemas kalau sampai ayahku tahu yang sebenarnya. "Ayah jangan percaya dengan Kakak. Kakak sekarang sudah gak sayang lagi sama aku," rintihnya terus saja seperti itu.
"Ayah bingung melihat kalian berdua. Yang satu bilang kalau Kakaknya bohong," ucap ayahku. Menjatuhkan kepala melihat adikku. "Dan yang satunya lagi bilang, kalau Adiknya yang duluan," katanya dengan nada suara terheran. Memutar kepala kembali melihat aku yang masih tertunduk di atas tempat tidur.
Aku semakin kesal bercampur sesal karena melihat adikku yang sangat pandai berdalih di hadapan ayahku.
"Liyan, turun sekarang!" pinta ayahku dengan tegas. Menajamkan sorot matanya menatapku. "Cepat turun!" pintanya dengan nada suara yang penuh penekanan. Menganggukkan kepalanya dengan kuat.
Mau tidak mau dengan berat hati, aku terpaksa turun dengan tungkai kaki yang masih sakit dan tubuh yang panas tinggi dan kedinginan. Tertatih-tatih aku menyeret tubuh ini segera meninggalkan tempat tidur yang membuat aku sedikit nyaman dari erangan penyakitku.
"Liyan, kau tau akibat dari membuat adikmu menangis," kata ayahku dengan kedua bola mata yang menatap dengan tegas.
Aku hanya diam saja berdiri sambil menyilangkan kedua tangan ke depan. Menatap lurus ke ujung kaki adikku dan ayahku.
"Ayah paling tidak suka melihat ada perkelahian antara kalian berdua di rumah ini," tandasnya. Berdiri sambil mengetatkan wajah.
"Tapi kalian tidak pernah mendengarkannya sama sekali, sepertinya?! Sekarang Ayah sudah mendengar alasan darimu dan alasan dari Adikmu," terangnya.
"Ayah sebenarnya bukan aku yang salah," kataku dengan mengiba.
"Jadi, siapa yang salah duluan?" tanya ayahku ingin tahu.
Aku semakin senang seakan aku mendapatkan angin segar dari pertanyaan ayahku.
"Ayah kami gak ada yang salah," jawab adikku langsung menimpalinya. Sedikit ceroboh.
"Ana, apa maksudnya?" tanya ayahku kembali dengan gurat wajah bingung. "Ayah tidak mengerti kenapa tidak ada yang salah?" tanya ayahku kembali mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Aku semakin melongo melihat adikku yang selalu berkata aneh di saat-saat aku ingin bersuara. Setiap kali kami bertengkar dia selalu seperti ini, pikirku. Mendadak membelaku dan menyelamatkan dirinya dari hukuman ayah kami. Lebih kurangnya seperti itu.
Adikku seakan tidak mau kalau aku di hukum dan dia pun ikut menjalani hukuman itu juga. Makanya disela-sela perdebatan ingin berakhir dia seakan bertindak membelaku dari ayah kami agar dia bisa selamat dari hukuman yang akan di berikan oleh ayah kami.
"Ayah, aku dan Kakak hanya pura-pura saja," kata adikku. Menarik bibirnya tersenyum lepas. Namun, dibalik senyuman itu tersimpan sebuah rahasia kebohongan yang berusaha dia tutupi.
"Ayah, sebenarnya... ." Aku menutup bibirku langsung. Melongo melihat keberanian adikku.
"Ayah sebenarnya kami baik-baik saja," sambung adikku dengan kepercayaan diri yang baik.
Huh!
Ayahku pun menghembuskan napas dengan panjang. Menahan kembali amarahnya yang ingin keluar. Di ikuti oleh tangannya memijat-mijat keningnya yang pusing melihat kelakuan kami berdua.
"Ana, sudah berapa kali Ayah bilang. Jangan membuat Ayah khawatir," ucap ayahku. Melihat adikku yang berdiri memeluknya. "Ayah tidak bisa melihat kalian berdua terus menerus seperti ini. Sudah Ayah ingatkan kalau siang. Ayah itu harus istirahat dan tidur siang. Jangan ganggu tidur Ayah. Ini malah kau buat Ayah panik dengan tangisanmu itu," keluhnya. Menatap adikku dengan pias.
Aku semakin membelalak melihat adikku yang terhenyak oleh permainannya sendiri. Dia semakin mundur selangkah menjauh dari ayahku.
"Sekarang kalian berdua tidak lagi mendapatkan uang jajan setiap sore. Dan kau Ana tidak ada lagi sendal baru untukmu," ucap ayahku dengan tegas. "Kau lagi Liyan, tidak ada lagi alasan untuk libur mengaji karena kakimu yang sakit itu. Ingat itu!" kata ayahku. Pergi meninggalkan kami berdua. "Oh, iya. Itu halaman kotor dan sudah banyak rumputnya. Bersihkan itu sekarang! Jangan masuk rumah sebelum bersih," lanjut ayahku menghentikan setengah langkahnya dan memutar badan ke belakang menunjuk kami berdua.
"Ayaaah," rengek adikku dengan deraian airmata.
"Ptfff, hahahaha !" kataku menahan tawa dan lalu tertawa lepas. "Akhirnya, kau kena jebakanmu sendiri, ptfff, hihihi!" lanjutku dengan tawa geli.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya ! 🙏🥰