Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Merengek


__ADS_3

"Liyan, Ana," panggil ayahku dari balik tirai. Berdiri di depan pintu kamar.


Hix! hix! hix!


Suara isak tangis yang menderu pun aku tahan sebisa mungkin agar ayahku tidak mendengar dan masuk untuk melihat kami berdua di dalam kamar.


"Iya Ayah," jawabku pelan dengan suara netral sambil mengusap air mata yang mengalir dan sebisa mungkin mencoba untuk membuat suaraku, seperti orang yang seakan tidak pernah menangis dan raut muka pun tidak lupa aku rubah senormal mungkin layaknya seorang anak yang tidak pernah tertimpa masalah, apalagi bertengkar.


"Kemari Nak! Ayah ada bawa makanan untuk kalian," pinta ayahku dengan lembut. Berjalan meninggalkan depan pintu kamar. Bayangan yang tadi berdiri menunggu kami kini telah berlalu meninggalkan tirai kamar yang tergerai menutupi kamar.


Krek!


Adikku langsung berlari mengejar ayahku. "Ayaaah!" teriaknya dengan senang berlari. "Ayah makanannya mana?" tanya adikku. Berjalan dan menatap ayahku yang lebih tinggi darinya. "Aku udah lapar Ayah. Kenapa Ayah pulangnya lama? Padahal kami tadi Ayah, di ajak teman kami bermain," ucap adikku dengan suara manjanya yang sedih.


Ayahku langsung melirik adikku yang sedang mengikutinya berjalan disamping. "Oh, iya. Lalu Anak Ayah ini bilang apa ?" tanya ayahku ingin tahu dengan gurat wajah sumringah.


Aku yang mengikuti langkah mereka berdua dari belakang sambil mendengarkan obrolan mereka berdua yang sedang membagi cerita.


"Iya Ayah, Kakak juga di ajak," lanjut adikku menceritakannya dengan senang. Adikku terus saja mengikuti langkah ayahku berjalan disampingnya dengan sebelah tangan kecilnya memegang celana kerja ayahku.


"Apa Kakakmu mau?" tanya ayahku, di ikuti oleh kedua bola matanya melirik ke belakang tepat di mana kedua kaki melangkah mengikutinya dari belakang. Seakan dari sorot mata itu menyuruhku untuk menjawabnya langsung.


Aku semakin bingung setelah melihat sorotan itu. Bimbang dan ragu seakan terasa kuat hingga sejenak menahan bibir pucat ini untuk menjawabnya.


Sedikit gugup aku menjatuhkan pandangan melihat banyangan yang terlihat mengikuti semua gerak gerik dariku. Suara adikku masih terus saja terdengar dengan senang menyampaikan isi hatinya hari ini.


"Ayah kalau nanti mereka datang dan memanggil kami. Kami boleh bermain, ya Yah!" bujuk adikku dengan lembut mengiba. Berdiri di dapur tepat di meja kecil yang terhubung dengan meja kompor. "Aku sama Kakak 'kan gak pernah bermain, Yah," ungkap adikku melihat ayahku yang tinggi darinya dan sesekali menjatuhkan pandangan melirik ke arahku sehingga kedua matanya melihat kakiku yang lemah ini melangkah.


Aku kemudian berhenti dan bersandar di dinding dapur tepatnya di pintu tengah sambil melihat Adik dan ayahku yang berdiri jauh sedikit di depanku. Sementara sorot mata adikku terlihat seolah-olah dia ingin aku harus mengiyakan ucapannya. Itu terlihat dari kedua sorot mata kami yang bertemu pandang.

__ADS_1


"Iya 'kan Kak?" tanya adikku dengan penuh penekanan. Sontak ayahku langsung menoleh ke arahku.


Aku yang berdiri langsung panik bercampur gugup setelah aku bertemu tatap dengan ayahku. "Iya Ayah," jawabku pelan dan menjatuhkan pandangan ke bawah melihat lantai sebagai isyarat kalau aku merasa bersalah menginyakan apa yang dikatakan oleh adikku.


"Kak, lihat Ayah," suruh adikku dengan penuh tekanan.


Aku yang sudah merasa tidak nyaman seakan keberatan dengan permintaan adikku yang penuh penekanan itu terus dia lemparkan kepada ku.


"Liyan, kalau kau mau keluar bermain. Nanti ya, kalau udah sembuh!" harap ayahku dengan tenang.


Adikku kembali bersuara terdengar olehku yang masih menunduk. "Ayah kalau nunggu Kakak sembuh... lama," rengek adikku. Berdiri di hadapan ayahku yang sedang membuka sebuah bungkusan plastik yang terpisah.


"Makanya Kakakmu harus di jaga supaya cepat sembuh!" pinta ayahku dengan lembut memohon pada adikku sambil membuka bungkusan plastik.


Aku langsung menaikkan pandangan melihat adikku. "Ayah, aku udah mau sembuh kok," kataku pada ayahku yang mengeluarkan sepotong kue bolu pandan.


"Waaah! Ayah ini enak. Aku udah lama gak makan ini lagi," kata adikku sumringah. Mengambil bolu yang di layangkan oleh ayahku di depannya. "Ayah berarti dapat uang banyak, ya?" kata adikku bertanya dengan senang. Melihat kue bolu kukus pandan itu.


"Hahaha!" Dengan senang aku berjalan mengambil bolu cokelat itu. "Ayah, bolunya ada lagi?" tanyaku dengan senang. Mengambil bolu yang di sodorkan ayahku.


"Itu tinggal punyaku 'kan, Ayah?" tanya adikku dengan mengiba kemudian melirikku sinis dengan cara diam-diam sambil menggigit bolu kukus pandan.


Ayahku yang sudah memutar badan untuk menyiapkan semua keperluan makan siang. "Ada Nak! Tapi tinggal tiga potong lagi. Itu pun cuma bolu kukus yang cokelat," ungkap ayahku dengan lirih. Memutar sedikit tubuh miring ke belakang melihat aku dan adikku.


Huhuhu!


Adikku pun langsung merengek setelah mendengar pernyataan dari ayahku. "Ayah kenapa cuma punya Kakak aja? Kenapa punyaku gak ada?" tanya adikku merengek bercampur sesal. Memegang bolu kukus pandan dengan kuat.


Aku yang sedang mengunyah bolu cokelat kesukaanku menganga melihat adikku yang merengek. Perlahan mulut yang setengah menganga mengunyah bolu itu perlahan demi perlahan sambil melihat gerutuan rengekkan adikku.

__ADS_1


"Ayah, bolunya kasih aja sama Ana," kataku dengan nada suara rendah bercampur dengan kunyahan bolu di dalam mulut.


Ayahku langsung tercengang melihat adikku yang mendadak merengek seperti anak kecil yang berumur tiga tahun. "Ana, itu dengar Kakakmu udah mengasih bolunya untuk mu!" ucap ayahku. Memutar kepala kembali lurus ke depan setelah melirik adikku yang merengek.


"Ayah, tapi itu 'kan bukan untuk ku," rengek adikku semakin menjadi. Melihat bolu yang di pegangnya mengayun di udara.


"Engga apa-apa, Dik. Bolunya untuk mu saja!" kataku dengan tulus. Melihat adikku yang yang protes.


Bolu yang menjadi salah satu jajan kesukaan kami menjadi rebutan di siang ini. Tidak banyak yang bisa di buat ayahku selain mengurut dada melihat rengekan adikku setelah dia pulang kerja.


"Ana, besok-besok Ayah tidak akan membelikan kue lagi untuk mu!" kata ayahku dengan sedikit tegang. Berjalan mondar mandir melewati adikku yang berdiri masih tetap disampingnya.


Sementara aku yang masih juga berdiri sama, seperti adikku terus terlihat berjaga di pintu tengah agar tidak ada momen yang terlewatkan sedikit pun melihat rengekan adikku yang garing hanya gara-gara sepotong bolu.


"Tapi Ayah itu 'kan punya Kakak," singgung adikku kembali. Mengikuti langkah kaki ayahku dengan kedua bola matanya.


"Ana, tapi 'kan, Kakakmu udah mengasihnya untuk mu," ungkap ayahku.


Bolu cokelat kesukaanku sedikit demi sedikit telah habis aku telan. Kini aku kembali berjalan memutar tungkai kaki yang lemah ini mengambil gelas yang tadi ada dia atas meja ayahku.


"Ayah, tapi 'kan Ana gak suka kalau bolunya sama dengan punyaku," ucapku lagi sambil berjalan membawa gelas lalu mengisi air.


"Mau kok Ayah. Tapi semua untuk aku, ya Yah," sambung adikku dengan gurat wajah seakan cemburu, sedikit terlihat dari raut mukanya yang bertemu pandang dengan mukaku yang terbenam di dalam mulut gelas.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2