
Setelah kami selesai menikmati makan malam yang penuh dengan moment di mana aku,adikku,ayahku dan juga ibu sambung kami terlihat begitu akur malam ini. Tak ada satupun masalah yang timbul baik dari adikku maupun ibu sambung kami.
Tawa dan candaan terlihat dengan garing setelah sekian lama hilang. Sesekali adikku tertawa menatap ibu sambung kami meskipun, jarak diantara mereka begitu jauh. Senyum merekah pun terlihat juga di wajah ibu sambung kami seakan dia membalas senyum adikku. Ayahku yang tadi bergulat dengan emosinya kini terlihat rileks tanpa beban sedikitpun terlihat dari wajahnya yang sumeringah.
Sementara aku yang duduk di tengah -tengah mereka ikut terbenam dalam kehangatan mereka malam ini. Wajah pucatku yang polos menatap mereka dengan rasa haru. Aku pun menarik bibirku dan melupakan derita yang menimpaku.
Malam ini malam yang akan di kenang untuk selamanya. Makan malam bersama dengan ke akuran yang belum pernah terjalin.
"Ayah, besok Liyan mau sekolah,boleh ya Ayah." Pintaku dengan memohon. Duduk di lantai.
"Ia Ayah kakak kan sudah lama tidak masuk sekolah, kasihan Ayah sebentar lagi mau ujian." Sambung adikku menatap ayahku. Menyuap makanannya.
"Tapi kan,Liyan tadi baru saja berobat kembali seperti semula. Ibu takut kalau dia besok tiba-tiba sakit." Lanjut ibu sambung kami. Menatap adikku dan menatapku.
"Ia, Ayah juga masih takut kalau kamu besok sakit, bagaimana?" Tanya ayahku. Melanjutkan makannya.
"Ayah jangan takut, Liyan sanggup kok Ayah." Jawab ku dengan lembut. Menatap ayahku.
"Ayah, kan ada Ana, Ana bisa kok besok jaga kakak." Sambung adikku. Meletakkan gelas.
"Kalau ibu belum bisa mengizinkan kalau Liyan besok sekolah." Katanya dengan suara datar. Menatap nasinya.
Seketika aku pun diam dan menunduk seperti orang yang menahan malu. Wajah polosku begitu terasa pilu karena mendengar ucapan ibu sambungku yang tidak memberi ku izin.
Sementara Ayahku terdengar berdecak seakan dia sedikit kesal mendengar keinginan ku untuk sekolah besok. Tidak belum ada satu katapun keluar dari mulutnya mengenai keinginan ku.
Ibu sambungku melihat ku begitu sedih terlihat dari ekor mataku. Sementara adikku terlihat seperti sedang berpikir sambil melihat piring yang berisi makanan di hadapannya.
"Ayah izin kan saja kak Liyan besok sekolah,sudah lama kakak tidak sekolah.Siapa tahu Ayah kak Liyan bisa langsung sembuh." Ledek adikku. Menatap ku dengan senyum tipis.
Ibu sambungku dan ayahku yang mendengar permintaan adikku sedikit terhenyak diam dan menatap ku lekat seakan mereka mempertimbangkan ucapan adikku.
Wajah sendu ku terlihat kini menyelimuti diriku yang murung. Aku melemparkan pandangan ku sambil menaruh harapan kepada Ayahku dan ibu sambungku.
"Liyan,apa tidak bisa di urungkan lagi niat mu untuk sekolah?" Tanya ayahku. "Kamu kan belum sehat betul nak. Ayah takut kalau terjadi sesuatu dengan mu nanti di sekolah,siapa yang akan menolong mu?" Lanjut ayahku. Menatap ku lekat.
"Ayah,Ayah jangan takut. Di sekolah kan banyak orang. Mana mungkin mereka tidak mau menolong kakak." Sahut adikku dengan tegas.
"Memang betul, tapi kan kita tidak boleh membaut mereka repot, apalagi sampai mengganggu pekerjaan mereka." Sela ibu sambung kami.
Aku dan adikku seketika diam dan menggeser tubuh kami bersandar didinding kamar sambil melempar pandangan.
Malam yang hangat seakan menjadi pukulan keras bagi diriku sehingga melemparkan ku ke dalam ke terpurukan kembali. Seketika harapan yang besar di tanganku kini pergi dan tak mau mendukungku.
Ayahku sendiri saja tidak begitu percaya pada diriku kalau aku pasti bisa sekolah.
"Ayah tapi Liyan ingin masuk sekolah." Kataku dengan pelan, melihat ayahku.
Ayahku masih bergeming mendengar permintaan ku yang begitu konyol menurut nya.
"Liyan,Ayah tahu kamu itu sudah ke pingin sekolah. Tapi hal yang masih tidak masuk akal nak. Menatap ku. " Kondisi kamu masih seperti ini." Kata ayahku dengan penuh penekanan.
"Ia Liyan, kamu ini masih pucat jalan mu aja masih sempoyongan." Sela ibu sambungku.
"Ayah, Liyan kan sudah lama libur. Liyan takut kalau nanti Liyan tinggal kelas." Timpal ku kembali dengan lirih.
"Kak tenang saja. Aku nanti akan merayu Ayah supaya kakak bisa sekolah besok." Bisik adikku. Duduk di sampingku.
"Mana mungkin! Ayah kalau sudah tidak katanya, tetap tidak! Bisik ku kembali. Menyandarkan kepalaku di kepala adikku.
"Ayah paling tidak bisa menolak permintaan ku, kalau aku bermuka sedih apalagi, aku sampai menangis."
"Apa! Hahaha!" Aku tertawa kecil di telinga adikku. "Tadi saja Ayah Berani memarahi mu." Ledek ku dengan sedikit tawa. Menutup mulutku.
Adikku seketika memutar kan sedikit kepalanya melihat ku dengan wajah pias. Wajahnya kini terlihat merah merona menahan marah.
"Aku engga mau membantu kakak besok." Celetuk adikku kesal.
Seketika aku terdiam mendengar penolakan adikku. Duduk diam memonyongkan sedikit bibirku cemberut.
"Ayah tapi aku sudah mulai baikan! Kan aku ada obat." Imbuh ku kembali.
Ayahku terlihat masih saja diam dan begitu berat ingin mengabulkan permintaan ku. Terlihat dari wajahnya yang tidak begitu senang.
"Kak besok saja,akan aku coba." Kata adikku. Mengejutkan ku.
Tiba-tiba aku yang bergulat dengan pikiranku terkejut mendengar suara adikku. Seketika aku menarik bibirku sepertinya, adikku tidak marah lagi sama ku. Aku pun seakan memiliki teman baru kembali.
__ADS_1
"Kakak belum yakin, kalau kamu bisa melembutkan hati Ayah untuk mengizinkan kakak sekolah besok." Kataku dengan lirih.
Wajah manyun ku yang tidak bersemangat kini menyelimuti ku kembali.
"Kak jangan sedih. Nanti kakak sakit lagi." Kata adikku. Memelukku.
Kami pun saling merangkul untuk menghilangkan kegundahan kami.
"Kak, Ayah tidak mungkin tidak memberi kakak izin. Apalagi sebentar lagi kita mau ujian." Lanjut adikku.
Mendengar omongan adikku,aku masih belum percaya karena ayahku sama kerasnya sama diriku.
"Dek,Ayah itu wataknya keras sama seperti kakak. Kalau sudah apa yang di inginkan nya tidak bisa di bantah,apalagi di langgar." Sambung ku dengan wajah datar.
Adikku pun terdiam dan berpikir seakan dia mencari jalan untuk diriku. Pandangannya yang lurus ke depan seketika di alihkan nya menoleh ke arah ku. "Kakak tenang saja." Katanya menatap ku.
Huh!
Aku yang berkali-kali ingin masuk sekolah, berkali-kali juga gagal. Ayahku paling ahli dalam menggagalkan rencana terutama, rencana ku. Tanpa berpikir dia pasti melakukannya.
"Keputusan Ayah adalah tantangan yang paling berat untuk di kalahkan." Kata ku spontan.
Wajah adikku seketika berubah jenaka melihatku. Tawa kecil jenakanya pun keluar dari mulutnya yang kecil di telingaku.
"Kenapa kakak bilang begitu?" Tanya adikku kembali.
Hm!
Aku hanya diam memikirkan pertanyaan adikku.
Obrolan kami yang membuang waktu pun seketika berakhir. Aku dan adikku masih tetap saling merangkul, duduk diam di hadapan ayah dan ibu sambung kami.
"Liyan, kamu besok tetap tidak boleh masuk sekolah." Lanjut ayahku dengan tegas. Duduk di kursi menatapku.
"Tapi Ayah,Liyan sudah rindu untuk belajar." Kataku pelan. Menunduk.
"Tapi kamu baru satu hari minum obat." Sungut ibu sambungku. Duduk menatap ku.
"Ibul,Tapi kan ada Ana yang akan menjaga kakak." Sahut adikku pelan.
"Tapi kan kalian tidak satu kelas." Tandas Ayahku.
Malam ini ibu sambung kami yang kukenal tidak seperti ini, jauh sekali perubahannya bagaikan langit dan bumi, perbandingan yang sangat mencolok "malam ini".
Aku begitu terharu seakan, aku tidak ingin beranjak. Kedua netraku masih menatap lekat ibu sambungku dan Ayahku dan begitu juga adikku yang bersandar denganku. Kami begitu aneh malam ini tidak seperti biasa,di mana ada tawa dan kehangatan yang mengisi keheningan di keluarga kecil kami malam ini.
Tawa jenaka adikku begitu lepas terdengar di telingaku. Perkataan yang penuh dengan hardikan pun hilang malam ini seakan tidak pernah terulang lagi.
Malam ini akan menjadi moment yang tidak akan aku lupakan untuk selamanya.
"Malam ini kita semua berkumpul dan terlihat akur. Jadi, malam ini Ayah akan masak mie goreng. Ada yang mau?" Tanya ayahku. Menatap kami dengan senyum.
"Kak, Ayah kenapa? Tanya adikku penasaran. Melirikku. "Atau jangan-jangan ini rencana Ayah untuk mengalihkan pandangan kita agar kita melupakan keinginan kita tadi,kak." Bisik adikku di telingaku.
"Rencana apa ?" Tanya ku ingin tahu. Menatap adikku.
"Ia,permintaan kakak mau sekolah. Ayah kan tadi terlihat berpikir." Tandas adikku.
Melihat wajah adikku yang begitu yakin dengan pendapatnya membuatku sedikit kesal. Aku langsung memalingkan wajahku dari adikku.
"Itu engga mungkin." Gumamku kecil. Menjauh dari adikku. "Aku pasti bisa sekolah besok." Gumam ku kembali. Menatap dengan pandangan kosong.
"Kaka.."
Tiba-tiba adikku menghentikan kata-katanya menatapku dengan sedikit khawatir. Kami pun bertemu pandang dan aku melihat adikku terdiam ketika mendengar suara ibu sambung kami.
"Ana,apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya ibu sambung kami ingin tahu. Berdiri menatap kami.
Seketika adikku menarik bibirnya dengan sedikit rasa takut. "Tidak ada apa-apa Bu." Jawab adikku. Nyengir.
"Dengar kalau ada yang mau di sampaikan, bilang saja." Kata ibu sambung kami. Berjalan.
Adikku pun sontak menutup bibirnya sambil meremas bajunya. Sesekali melemparkan pandangan melihat ku dan melihat ibu sambung kami.
"Kak di bilang ibu tersayang kakak, kalau ada yang mau di sampaikan, bilang saja." Kata adikku pelan sambil memperagakan cara ibu sambung kami bicara.
Dia pun spontan tertawa geli melihat tingkah nya yang begitu jahil. Tawa jenakanya menghiasi wajahnya yang polos yang menggelitik hatiku.
__ADS_1
"Berdosa." Kataku. Memukul adikku pelan.
"Auw! Sakit kak." Pekik adikku pelan.Mengelus pundaknya.
Dia pun mengayunkan jemarinya menutup bibirnya.
"Wanita itu aneh malam ini! Besok, apa dia seperti ini atau berubah menyeramkan seperti hantu. Celetuk adikku.
"Sstt! Engga boleh bilang kayak gitu." Tandas ku. "Nanti kalau ada yang dengar bagaimana?" ungkap ku dengan tegas.
Wajah adikku seketika menunduk malu.
"Liyan, ibu lupa! Kamu kan tidak boleh makan pedas sama minyak.Jadi, kamu engga bisa makan mie goreng yang di masak ayahmu." Kata ibu sambungku. Mengambil piring.
Ha !
Seketika adikku terpelongo menatapku mendengar apa yang di katakan oleh ibu sambung kami.
"Kak benar!" Menatapku dengan tajam. "Jadi, kakak cuman melihat kami makan aja,kasihan sekali kakak." Ejeknya dengan serius.
Ayahku seketika memutarkan badannya melihat ku. "Benar Liyan?" Tanya ayahku dengan wajah terkejut.
"Ia Ayah." Jawab ku. Duduk.
"Jadi..." Seketika ayahku diam seperti patung menatap mie yang di masaknya. Wajahnya terlihat sendu dan tangan nya lemas seketika memegang sendok. "....Kalau Ayah tahu tadi kamu tidak bisa makan ini! Ayah tidak akan memasaknya." Lanjut ayahku dengan lirih.
Ayahku yang berdiri tegak pun memutar badannya dengan perlahan mengambil piring yang telah di sediakan oleh ibu sambung kami. Ayahku terlihat seperti orang yang frustasi.
"Liyan,maaf kan Ayah ya,nak." Kata ayahku.
Sementara ibu sambung kami terlihat begitu antusias mengambil piring yang telah berisi. Dia berjalan menghampiri adikku dengan membawa piring yang berisi mie goreng.
"Liyan, kamu jangan coba-coba memakannya walaupun sedikit." Kata ibu sambung kami. Memberikan piring kepada adikku.
"Jadi,kalau kak Liyan selera, bagaimana?" Tanya adikku. Meraih piring dari ibu sambung kami. "Kan kasihan." Lanjut adikku. Menatap lekat.
Dia pun langsung terdiam menatapku dengan wajah pilu seakan dia merasa bersalah seketika dia pun menghela napas dengan dalam. " Ibu tahu kalau Liyan kepingin,tapi kalau Liyan memakannya nanti, takutnya sakit mu makin berlanjut." Kata ibu sambung kami dengan wajah datar. " Kan Liyan mau sekolah kembalikan.Jadi, dengarkan apa kata dokter." Kata ibu sambungku dengan penuh penekanan.
Wajah adikku seketika berubah sendu menatap ku. "Kak makan aja sedikit, engga apa-apa. Mau engga?!" Celetuk adikku.
Aku pun langsung memutarkan kepalaku menatap adikku dengan sedikit kecewa.
"Jangan meledek ya." Bisik ku di telinganya.
Uhu! uhu! uhu!
Adikku seketika batuk. "Kak ambilkan aku air minum. Pedas!" Pekiknya sedikit keras. Wajahnya seketika memerah seperti api.
Ayahku yang telah beranjak dari dapur kini duduk di kursi dengan membawa mie goreng yang telah selesai ia masak.
Ibu sambung kami pun terlihat demikian,dia begitu menikmati mie goreng yang ada di hadapannya.
Aku hanya diam menatap mereka sambil menelan ludah. Aroma dari mie goreng pun menyeruak sampai ke hidungku sehingga membuat nafsu makan ku berselera. Melihat mereka seketika aku teringat kalau aku belum minum obat.
Spontan aku berdiri mengambil obatku yang terletak di atas meja ayahku.
"Liyan,kau belum minum obat!" Kata ayahku. Menatap ku.
"Ia Ayah,Liyan lupa." Sahutku spontan. Mengambil obat.
"Itulah, kamu bilang kamu ingin sekolah.Minum obat saja bisa lupa." Sambung ibu sambungku. Memasukkan mie goreng ke dalam mulutnya.
Aku seketika diam menutup mulutku dengan rapat. Berjalan ke dapur mengambil air minum.
"Kalau Liyan sudah sanggup besok sekolah,engga apa-apa sekolah saja." Kata ayahku. Melihat lekat mie goreng di hadapannya.
Seketika aku tersenyum tipis berjalan membelakangi ayah dan ibu sambung kami.
Adikku pun tersenyum menatap ku seakan dia mengatakan kalau aku turut bahagia atas kakak karena telah di kasih ayah sekolah.
.
.
.
Terimakasih buat semua teman-teman yang telah mendukung dan memberikan like, komentar, favorit.🤗🥰
__ADS_1
❤️❤️❤️
Bersambung....