
"Semua sudah tahu bagaimana keadaan dan kondisimu? Jadi, tidak usah terlalu dipikirkan." Fikri terus memberiku nasihat agar aku membatalkan niatku.
"Baiklah... ," Aku diam sambil menapaki lapangan sekolah yang panas. Bibir pucatku tidak lagi mengeluarkan suara dan langkahku terus menuju pak Duan yang telah bersiap sedia menunggu kami.
"Apa dia ikut olahraga?" tanya Widia dengan memutar kedua bola matanya melirikku sebagai isyarat kalau dia menunjuk tentang diriku pada Fikri.
"Aku belum tahu, semoga saja dia baik-baik saja setelah ikut olahraga," sambung Fikri.
"Aku tidak yakin kalau itu akan terjadi," ujar Rasyd menghampiri kami setelah beranjak dari pak Duan.
"Hei, kalian ngapain berkumpul di sini, kayak pembagian sembako aja," ledekan Solihin dengan garing. Lagi membahas apa sih? Serius sekali."
"Kami lagi membahas tentang dirimu," celetuk Fikri sembari beranjak meninggalkan kami.
"Membahas diriku?!" Solihin terlihat begitu kebingungan. Dia bergumam pelan-pelan seperti, embah dukun yang lagi membaca mantra. Kerutan di wajahnya terlihat ketat sambil menimbang yang keluar dari mulut Fikri.
"Rasyd, emang dari diriku apa yang kalian bicarakan?" Solihin berlari mengikuti Rasyd.
"Engga ada. Emang apa yang bisa di bahas dari dirimu?" ledek Rasyd kembali bertanya sambil menatap Solihin.
"Ia 'kan?!" Rasyd memutar kepala ke arahku yang berjalan di belakangnya tidak begitu jauh, seakan dia bertanya tentang diriku sendiri padaku.
Aku lalu menunduk menyembunyikan semuanya dari Solihin yang menatapku juga. Aku rasanya begitu dilema akhirnya, aku melihat pak Duan yang lagi mengatur teman-teman yang lain dengan rapi.
"Anak-anak! Kenapa masih berdiri di sana?" Pak Duan berteriak dengan keras menegur kami yang tidak menghiraukannya.
"Baik Pak," sahut Fikri dan Rasyd serentak.
"Kalian ini ada- ada saja," Solihin menggeleng dengan puas bercanda meledek Fikri dan Rasyd sambil menyunggingkan senyum.
"Pak, kita olahraga apa hari ini?" tanya Solihin. Sok ingin tahu.
"Emang kalau saya bilang, kamu ingin melakukan apa?" tanya pak Duan kembali.
"Tidak ada Pak ! Saya mana bisa melakukan apapun tanpa Bapak beritahu dulu," ujar Solihin dengan lugas.
Sejenak kami hanya diam saja melihat Solihin yang merasa malu, tetapi dia berusaha untuk menyembunyikannya. Widia, apa kau mengutip sampah, ya?" Solihin kembali bertanya sambil menggaruk kepala menahan malu.
"Emang kau tidak melihat aku lagi apa?!" kata Widia dengan nada suara yang dibalut amarah.
__ADS_1
"Tidak usah marah. Aku cuman bertanya saja, huh!" Solihin langsung mendengus kesal.
"Coba dulu bilang pada temanmu yang berdiri di sana, jangan sok kuat!" kata Widia dengan sengaja menyindirku.
"Siapa?" tanya Solihin yang tidak tahu.
"Temanmu..., temanmu yang selalu sok kuat dan hebat," cetus Widia.
Aku hanya diam mendengarnya dan menutup mulut sambil memejamkan mata. Aku begitu syok mendengarnya hari ini tanpa sadar ternyata aku telah melakukan satu kebodohan, itulah menurut temanku hanya karena aku mengikuti olahraga.
Tidak banyak yang bisa kujelaskan pada mereka. Seandainya, aku sedikit menjadi anak yang pemberani mungkin aku tidak akan berada diantara tekanan seperti ini. Itulah yang menjadi benalu pada diriku sendiri hingga saat ini. Berkali-kali aku mencoba untuk melawannya namun, berkali-kali juga aku gagal disebabkan aku tidak mempunyai keberanian. Itulah yang menjadi hambatan untuk perjalananku hari ini.
Sebisa mungkin aku berusaha untuk menunjukkan pada mereka namun, sekeras apapun aku berusaha, aku masih saja gagal. Terkadang aku berpikir mungkin aku tidak pernah dilihat bisa oleh temanku. Bisa tersenyum, bisa melawan, bisa bertahan dengan kuat sekalipun keadaan yang menderaku merenggut semua kebahagiaanku.
Sepanjang mata memandang wajah Widia, Fikri, bahkan Septiani yang terlihat begitu pias sekali memandangku. Hanya Solihin lah yang bisa memahamiku hari ini. Dia begitu cuek dengan sikap yang lain terhadapku.
"Aku tidak tahu siapa yang kau maksud Widia?" Kedua mata Solihin berputar melihat sekeliling.
"Mana mungkin kau tidak tahu." Widia yang jongkok di tengah panasnya matahari menatap Solihin dengan kedua matanya yang mengerjit.
"Benar, aku tidak tahu. Widia jangan bermain tebakan dengan ku. Aku tidak seorang pesunglap yang ahli." Solihin terus saja ngedumel melihat Widia yang menyebalkan.
Berpasrah mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan setelah aku melihat ekspresi dari Widia.
"Ecy!" Sontak aku terperanjat. "Ngapain kamu di sini?" tanyaku dengan heran.
"Ngapain juga kau di sini berdiri? Sendiri pula lagi. Apa mereka tidak mau berteman dengan mu lagi, ya?" tanya Ecy dengan sedih.
"Mereka masih mau kok berteman dengan ku," jawabku.
"Tapi, kenapa kau tidak bersama mereka ?" tanya Ecy kembali sambil menyeruput es lilin.
Pertanyaan Ecy rasanya seperti, lemparan keras yang memukulku sehingga menutup bibir pucatku dengan rapat.
"Kenapa kau diam? Berarti memang benar, kau tidak di temani lagi, hahaha !" tawa Ecy begitu bahagia mengejek. "Aduh! Liyan, Liyan. Mana mungkin ada yang mau berteman dengan mu. Kau itu 'kan selalu sakit. Siapa yang mau berteman dengan mu juga? Setiap hari sakit, setiap hari lemas, eh, besok-besok libur! 'kan nyebelin tahu engga!"
"Heh!" bentak Fikri. "Jangan pernah mengejek orang lain! Belum tentu kau tidak sakit. Siapa tahu kau besok juga sakit, bagaimana?" Fikri semakin kesal. "Aku akan melaporkanmu pada Bu Dona karena telah mengejeknya."
"Aku tidak mengejeknya. Aku hanya bilang kalau dia itu tidak punya teman lagi, itu saja!" Ecy begitu terlihat dan gemetar sambil menghentikan seruputan es lilinnya.
__ADS_1
"Tadi kau 'kan menertawakannya, ia 'kan?!" tanya Fikri yang berusaha menjadi ketua kelas yang baik untuk melindungi temannya.
"Jangan memarahinya, dia tidak salah kok. Dia memang benar, aku 'kan sakit dan tidak punya teman." Aku menatap Fikri dan Widia yang memanas.
Relung hatiku rasanya begitu remuk setelah mendengar kebenaran yang diucapkan oleh Ecy. Bagiku tidak ada yang lebih baik dan berharga selain kedamaian untuk ku saat ini.
"Sudah dibela bukannya terimakasih, huh!" Fikri menghilang dari hadapanku.
"Hari ini, aku tidak mempunyai teman. Tidak ada yang mau berteman dengan ku." Air mataku berurai jatuh menyentuh pipiku yang pucat.
"Jangan sampai kau hilang akal. Bicara sendiri seperti orang aneh." Ecy menatapku sambil memutar badan dan menyeringai.
Kedua telingaku yang mendengar semakin menekan air mataku untuk jatuh tidak terbendung. Segugukan yang aku tahan dengan kuat agar tidak keluar semakin mengundang kecurigaan dari Widia yang tiba-tiba berada di sampingku tanpa kusadari.
"Aku salah karena tidak mau berteman dengan mu hari ini." Widia berdiri menyesal telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji.
Diam lah Liyan! Jangan menangis lagi. Aku jadi sedih melihatmu."
Segugukan masih terus saja terdengar hingga membuatku semakin tersedak dengan sakitnya kesendirianku hari ini.
"Kalian tidak mau berteman dengan ku lagi." Suaraku yang lirih terdengar begitu menyayat hati bagi yang mendengarnya. "Huhuhu!" Tangisku semakin pecah.
"Kami bukan tidak mau berteman dengan mu." Widia menghampiriku semakin dekat. "Aku hanya tidak suka kalau kau mengikuti Tania. Dia itu jahat padamu, Liyan." Widia menenangkan membelai pundakku.
"Tapi aku tidak jahat padanya," ungkapku dengan polos.
"Karena kau tidak jahat makanya, kami melarangmu untuk tidak ikut dengan kami olahraga," Widia menjelaskan dengan penuh kasih sayang. "Kau tahu Liyan, kami semua sangat menyayangimu, jadi kami tidak ingin kau semakin sakit. Apalagi Fikri dia sangat perhatian dengan mu."
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🤗🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1