
"Hanya bercerita kecil," jawabku.
"Kalian sudah jadi teman, ya." Tersenyum.
"Kami 'kan selama ini baik-baik saja," tandasku.
"Hm! Kalian memang selau baik, tidak pernah bertengkar. Aku percaya itu." Berjalan beriringan masuk.
"Lalu, kenapa harus bertanya lagi?" tanyaku sedikit sebal.
"Aku tidak bertanya. Aku hanya ingin tahu dan mendengarnya dari mulut Kakak sendiri. Itu saja," ujar adikku.
"Bukannya sudah melihatnya, kenapa harus mendengarnya kembali?" tanyaku semakin bingung.
"Untuk memperjelas," balas adikku. "Siapa tahu yang kulihat dengan yang Kakak ucapkan berbeda?!" ledek adikku bertanya dengan konyol.
"Kamu ini ada-ada saja," kataku dengan lembut. Mengelus kepala adikku hingga sedikit rambutnya berantakan. "Mana mungkin, Kakak seperti itu. Kalau kita ingin berteman dengan baik, ya, harus bersungguh-sungguh."
"Heeeiii! Kakakku ternyata sudah sembuh." Melengkungkan kedua bibirnya sambil memelukku dengan erat hingga kedua pipi kami bertemu. Adikku sangat bahagia sehingga wajahnya berubah sumringah.
"Semenjak Kakak di kasih sekolah kembali oleh Ayah. Kakak langsung sembuh," kataku.
"Hm! Berarti selama ini Kakak kepingin sekolah,ya . Makanya, Kakak sakit?! Tapi Kak, masih ada yang mengganjal di hatiku." Adikku menatapku dengan cemas.
Kedua bola mataku yang redup terbuka dengan lebar. "Apa itu?" tanyaku dengan penasaran sambil berjalan.
"Kakak tahu 'kan Ayah?" Adikku langsung menoleh ke arahku.
"Iya, Ayah adalah orang yang sangat keras apalagi dalam menerapkan aturan." Aku mengingat akan ayahku yang begitu ketat dalam mengatur kami, anak-anaknya. Tidak ada satu aturan pun yang bisa di bantah, apabila dia telah menerapkannya.
Aku kemudian melihat adikku yang khawatir tiba-tiba. "Kakak benar! Itulah sifat Ayah yang tidak bisa kita lunakan." Wajah lirihnya menatapku dengan lekat. "Kakak masih ingat engga...". Adikku diam sejenak dan menatap dengan wajah mengingat sesuatu di dalam pikirannya.
"Ingat apa? Jangan membuat Kakak takut." Aku langsung mendesak adikku agar dia mau mengatakan terus terang.
"Aku tidak bisa mengatakannya, Kak. Aku takut Kakak nanti semakin syok," kata adikku.
"Ana! Jangan buat Kakak penasaran. Ayo cepat katakan saja! Kakak janji tidak akan syok," desakku.
"Aku tidak percaya. Melihat wajah Kakak yang pucat saja, aku tidak sanggup. Apalagi aku harus berterus terang. Maaf Kak." Adikku mengatupkan kedua tangannya ke udara dengan wajah tidak sanggup, harus melihat aku nanti bersedih.
"Kakak pasti sanggup, Dek!" Memohon sambil memegang tangan adikku yang terkatup di udara.
"Aku jadi bingung, Kak." Melepaskan tanganku. "Aku sih, terlalu ceroboh. Kenapa aku mengatakannya?" gumam adikku sedikit pelan, menggerakan bibirnya sambil menunduk yang masih bisa aku dengar.
"Ceroboh apa? Kenapa kau diam saja dan tidak mau melanjutkan omonganmu yang terhenti?" Aku semakin penasaran dan menghentikan langkahku.
Adikku yang terus berjalan seketika dia pun memutar badannya dan berhenti. "Kak! Ayo kita masuk! Kakak tadi yang mengajak aku untuk masuk. Kenapa Kakak malah yang berhenti?"
__ADS_1
"Kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya! Ngapain Kakak harus masuk," rajukku pada adikku.
"Aku tidak ingin mengatakan apa pun, Kak." Memutar langkahnya mendekatiku. "Demi ketenangan Kakak."
"Kau belum mengenal Kakakmu." Mengulum kekesalan yang mendalam. "Kalau kau mengenal Kakakmu, pasti kau akan melakukannya dengan benar." rintihku.
"Aku itu mengenal Kakak bahkan sangat mengenal. Bagaimana mungkin? Kakak menyimpulkan pemikiran seperti itu tentang diriku." balas adikku.
"Kalau kau mengenal Kakak. Kau tidak akan membuat Kakak diliputi rasa penasaran dan bertanya-tanya, seperti kau bermain teka teki." sungutku.
Adikku hanya bisa diam dan meraba omonganku dengan memutar kedua bola matanya. Rasa sedih terlihat dari gurat wajahnya yang dia tujukan padaku.
Seakan dia merasa menyesal terhadap diriku.
"Kak, aku akan mengatakannya nanti di dalam, sekarang kita masuk dulu." Mengulurkan tangannya. "Kalau Kakak keras kepala dan berdiri di sini, apa nanti tanggapan Ibu tersayang Kakak itu tentang aku. Kakak mau, adik kesayangan Kakak ini yang sudah membaik ini di marahi olehnya." desak adikku dengan ancaman sedikit yang membuatku melunakan egoku.
Aku langsung mengayun tungkai kakiku yang lemah, berjalan masuk akibat menatap wajah adikku yang memohon dengan dalam padaku.
Sepanjang kami berjalan satu sama lain, aku hanya merapatkan bibir pucatku sambil menelan kekesalan terhadap adikku.
Sorot mata yang redup masih lekat melihat adikku yang aku tidak begitu yakin, kalau dia akan jujur mengatakannya kepadaku.
Kedua kakiku pun telah memasuki pintu rumah kami yang dari tadi masih terbuka dengan lebar. Angin yang berhembus menerpa tubuh mungilku yang lemah pun seketika terasa masuk, menusuk kulit dan tulangku. Rasanya begitu dingin sehingga kedua kakiku ingin terkulai.
Panas tubuhku pun kembali naik hingga membuat diriku semakin kalap. Sekeliling tidak lagi terlihat dengan jelas akibat konsentrasiku hilang seketika.
"Kak, kenapa berhenti di situ?" Adikku memutar kepala melihatku dengan penuh tanda tanya.
"Kakak tidak berhenti," jawabku dengan singkat, berjalan sambil melawannya untuk menutupi agar adikku tidak cemas.
"Kakak sakit lagi, ya?!" tanya adikku menghampiriku merasa khawatir.
"Tidak. Siapa yang sakit?!" ucapku menutupi.
"Itu wajah kakak terlihat lebih pucat!" timpal adikku.
"Kamu mungkin salah lihat." Menatap langit-langit ruangan. "Mungkin itu pengaruh dari cahaya ruangan ini."
"Cahaya ruangan ini?!" Dengan penasaran adikku menatap langit-langit ruangan kami yang masih gelap.
Adikku masih saja melihat sekeliling ruangan seakan dia belum percaya dengan ucapanku. Dia lalu mengayunkan kakinya menghampiriku.
"Kak, duduk saja di sini!" Membantuku berjalan duduk di kursi. "Kakak yakin! Kalau Kakak baik-baik saja." Menatapku dengan ragu.
"Kamu tidak percaya kalau Kakak tidak sakit?!" Menjatuhkan tubuh lemahku duduk.
"Sedikit," jawab adikku. "Ibu Kakak di mana? Kalau dia sampai melihat Kakak tiba-tiba lemah seperti ini... dia marah atau tidak, ya?" Memutar sorot matanya melihat sekeliling.
__ADS_1
"Ibu tidak akan marah, kemungkinan?! Karena dia 'kan sudah berteman dengan Kakak," kataku.
"Itu masih kemungkinan, belum bisa kita yakin 'kan dengan pasti. Aku takut kalau sebaliknya tidak sesuai dengan harapan Kakak." sambung adikku.
Seketika aku kembali terbawa rasa khawatir dan cemas setelah mendengar adikku yang mengatakan demikian.
"Sebentar lagi, Ayah akan pulang?! Apa wajah Kakak memang terlihat pucat?" tanyaku. Bangun dari duduk berjalan menghampiri bercermin.
"Sedikit lebih pucat dari yang tadi Kak," jawab adikku.
Aku langsung menyentuh kedua pipiku di depan cermin menggerakan jemariku ke sana kemari berulang kali. Tanganku yang lemah pun terlihat gemetar.
"Semoga Ayah tidak memperhatikannya." Aku begitu berharap melihat diriku di dalam cermin.
"Semoga saja. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Ayah 'kan penglihatannya jeli. Dia tahu apa yang sedang kita tutupi. Sorot matanya begitu tajam, mana mungkin Ayah tidak mengetahuinya," celetuk adikku.
"Bisa saja Ayah lupa dan tidak terlalu memperhatikan untuk hari ini." Harapanku dengan keraguan sedikit.
"Itu mustahil, Kak. Tapi semoga saja seperti itu." Adikku menguatkan diriku yang bimbang.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Zeo adalah pangeran Duyung tak dianggap oleh kaumnya karena di anggap keturunan iblis sebab tatoo yang berada di wajahnya. Hinaan dan cacian kerap ia dapatkan dari keluarga kerajaan maupun rakyat Duyung.
Suatu Hari dia menyelamatkan Ziya -- Manusia. Wajah Zeo yang tampan membuat Ziya menyukainya pada pandangan pertama.
"Kamu adalah pria paling tampan yang pernah aku temui di dunia ini!" puji Ziya membuat Zeo terkejut sekaligus terharu, karena untuk pertama kalinya di puji.
"Karena kamu memuji ku, maka aku akan menjadi pelindung mu mulai sekarang!" janji Zeo sungguh-sungguh.
Bagaimana kelanjutan kisah percintaan Zeo dan Ziya? Apakah berjalan baik? Atau malah berakhir sedih, karena Dewa laut menentang hubungan mereka?
Lalu apa yang akan terjadi saat kekuatan iblis Zeo bangkit? Apakah Dewa laut masih bisa menentang nya?
ikuti kisah cinta non-human.
__ADS_1