
Aku langsung melihat adikku menangis. "Ayah jangan simpan bonekaku, huhuhu!" harap adikku memohon dengan air mata semakin berlinang membasahi kedua pipinya.
Seketika aku jadi ikut sedih melihatnya dan tetap berdiri di antara ayah dan adikku.
"Liyan, cepat ambil bonekanya bawa ke sini," kata ayahku semakin tegas. Berdiri menunggu boneka yang dia minta.
"Ta-ta... ." Aku langsung menutup mulut dengan rapat setelah mendengar ayahku semakin memaksaku untuk mengambil boneka adikku.
"Tidak ada tapi-tapian Liyan! Cepat ambil! Bawa ke sini!" bentak ayahku semakin berat.
"Baik, Yah," balasku menunduk dan langsung berlari masuk kamar mengambil boneka.
"Kak, jangan Kak. Itu bonekaku, huhuhu!" bujuk adikku memohon minta bekas kasihan dari belakangku setelah aku memutar sedikit kepala miring ke sebelah kiri melihatnya.
Huhuhu!
Suara tangisan adikku semakin pecah mengisi seluruh ruangan rumah ini. Boneka yang terletak di atas tempat tidur pun dengan berat hati terpaksa kuambil.
"Ini Ayah," kataku, menunduk dan menyerahkannya pada ayahku.
Ayahku langsung mengambilnya. "Mulai dari sekarang! Boneka ini jadi milik Ayah. Dan tidak ada yang boleh mengambilnya!" ancam ayahku tegas. Memegang boneka yang aku berikan.
"Ayah jahat! Kakak jahat! Aku benci kalian, huhuhu!" pekik adikku dengan keras bercampur isak tangis yang keluar.
Adikku terlihat begitu sedih dan begitu juga dengan ku. Aku semakin menunduk sambil mengepal jemari dengan kuat menutup mulut seolah merasa bersalah dan diam mematung.
"Dengar Liyan! Jangan coba-coba ada satu orang pun yang mengambil boneka ini dari kamar Ayah, ya!" kata ayahku tegas dengan penuh penekanan. Pergi meninggalkan kami berdua.
Huhuhu!
Suara tangisan sedih adikku masih terdengar memenuhi ruangan sambil mengiringi langkah ayahku.
"Kakak jahat! Kakak bukan Kakakku, pergi!" pekik adikku dengan keras mengusirku sambil melemparkan lap tangan tepat ke wajahku.
Push!
__ADS_1
"Aaugh!" sentakku pelan. Menangkap lap tangan yang terlempar mengenai wajah pucat. Berlari dari hadapan adikku langsung.
"Ayah udah gak sayang lagi samaku, huhuhu!" jerit adikku dengan sedih dengan kedua tangan memukul-mukul lantai pelan dan menggosok-gosokan kedua kakinya di lantai.
"Anaaa!" teriak ayahku dari dalam kamarnya. "Jangan Ayah dengar lagi suaramu itu, ya!" lanjutnya seakan memberi pelajaran yang keras terhadap adikku.
Huhuhu !
Adikku pun terdengar mulai meredakan tangisnya terdengar olehku dari dalam kamar. Aku berdiri melihatnya dari balik tirai kamar, bahwa adikku yang lagi menangis menunduk lesu setelah ayahku menahan boneka miliknya. Mengilap air matanya perlahan.
"Ana, jangan nangis, nanti Ayah marah lagi!" tegurku dari depan pintu kamar, berdiri di balik tirai.
Huhuhu!
Suara segugukkannya makin terdengar meski tidak sekeras tadi. Dia sangat sedih sekali karena si Dottie miliknya telah berpisah darinya.
Perlahan dia memutar tubuhnya dan bangun dari duduknya. Aku yang masih berdiri dari balik pintu kamar menatap adikku yang berjalan dengan murung.
"Ana," panggilku pelan dan berjaga dari pendengaran ayahku. Melihat adikku yang berjalan lesu dan murung.
"Sini!" panggilku dengan gurat wajah membujuk sambil melambaikan sebelah tangan kanan.
"Ana dengar ya! Mulai besok kau tidak boleh lagi menjahili Kakakmu!" tegur ayahku keras dari dalam kamarnya yang hanya berdindingkan papan sudah mulai lapuk. "Kalau Ayah sampai mendengarnya lagi. Maka kau sendiri yang Ayah hukum di luar !" teriaknya dari dalam kamar yang sederhana.
Langkah kaki adikku yang terhenti mendengarnya menatap nanar ke depan tirai kamar kami. Di mana dia melihat ke arahku yang sedang berdiri manggil dan menunggunya masuk ke kamar bersama.
"Ana, kemari kita bermain di sini!" panggilku membujuk adikku yang terbilang keras. Berdiri menutupi tubuh mungilku yang lemah serta tungkai kaki yang sakit dengan tirai yang terpasang.
Adikku hanya diam saja kulihat. Dia sama sekali merasa berat mau menjawab ajakkanku. Sekarang dia hanya berdiri dengan muka yang ditekuk sambil memangku kesedihannya, menatap diriku yang lemah ini dengan muka sedikit menyimpan kebencian.
"Ana, kau masih menangis lagi?" tanya ayahku dari balik dinding kamarnya.
Aku dan adikku hanya diam saja bertemu pandang. Tatapannya dan tatapanku masih saja saling melihat satu sama lain seakan bertanya atau pun menjawab pertanyaan ayahku dalam benak masing-masing.
"Ana, jawab pertanyaan Ayah," harapku dari balik tirai. Berdiri melihat adikku yang berdiri dengan wajah yang ditekuk dan murung.
__ADS_1
Adikku kemudian langsung melayangkan pandangannya menatap nanar dengan gurat wajah seakan berpikir untuk menjawab atau tidak. Kepala yang tadi tegak lurus menantang kini menunduk perlahan dengan lesu. Melihat lantai yang dia injak bercampur dengan kebencian.
"Kalau kau tidak diam! Bonekamu akan Ayah simpan untuk selama-lamanya," kata ayahku kembali.
Adikku langsung menaikkan kepalanya. "Engga, Yah. Aku gak nangis lagi," jawabnya langsung dengan nada suara yang berat. "Ayah jangan ambil bonekaku," harap adikku dengan lembut memohon. Berdiri dan melihat dinding kamar ayahku.
Namun, sepatah kata pun ayahku tidak menjawabnya terdengar dari pendengaranku yang berdiri dari balik tirai. Aku jadi ikut sedih melihat adikku yang masih melihat dinding kamar ayahku dengan sendu dan berharap balasan jawaban dari balik dinding kamar.
"Ayah gak bilang apa-apa, Kak," ucap adikku mengadu padaku. Berdiri dan menunduk sedih tepat di depan tirai kamar.
"Ana, ke sini dulu!" ajakku dengan lembut memanggilnya. Berdiri dan menutupi separuh tubuh mungil yang lemah ini dengan tirai kamar.
Adikku pun lalu berjalan menghampiriku. "Kak, bonekaku," rengeknya dengan sedih. Berdiri dengan wajah di tekuk. "Si Dottie-ku," katanya lagi menunduk sedih.
Aku semakin sedih melihat adikku yang berdiri dengan sedih di hadapanku. "Ana, nanti pasti Ayah mengembalikan bonekamu," kataku menenangkan adikku. Berdiri dihadapannya sambil melihat anak Bp yang masih terletak di atas lantai.
"Tapi aku gak tau. Kapan dikembalikan Ayah lagi?" sesal adikku mendalam bertanya. Berjalan memutar badan melihat ke arah jendela yang terbuka.
"Makanya, nanti bujuk Ayah. Supaya Ayah mengembalikannya lagi," saranku. Memutar badan dan duduk di atas lantai melihat anak Bp yang teronggok.
Akhirnya, aku pun sudah duduk dan melihat Lofyaku tadi yang terabaikan olehku karena suara ayahku yang memanggil.
"Kak, sekarang aku bermain pakek apa di rumah?" tanya adikku bingung.
Aku langsung menoleh ke arahnya yang memutar kepala serta memiringkan setengah badannya melihat ke arahku. "Ana, kau bisa main ini," balasku dengan sendu melihat adikku yang menyesal.
Adikku langsung menggeleng dengan wajah manjanya. "Engga mau! Aku lebih suka main boneka," ungkapnya tegas. Berdiri menyandarkan tubuh kecilnya di depan jendela.
Aku pun kembali ikut sedih karena aku tidak bisa menjadi penolong adikku belakangan ini. Aku semakin merasa tidak adil terhadap adikku. Anak Bp yang masih diam pun terus kupandangi dengan sendu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...