Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Keseruan di tengah hujan


__ADS_3

Fikri pun menoleh. "Iya, basah," katanya meratapi kaos kaki.


Aku dan Rasyd dengan pilu mendengarnya. "Ibumu marah tidak? Kalau tahu kaos kakimu basah?" tanyaku melihat Fikri.


"Bukan kaos kakinya," sangkal Solihin. Melirik kaki Fikri.


"Lalu?" tanya Widia ingin tahu.


"...tapi sepatunya," lanjutnya. Solihin menyandang tas.


"Makanya, seperti aku Fikri," kata Rasyd. Membanggakan diri. "...taruh sepatumu di dalam tas."


"Bukannya, kau tadi menarikku langsung," celetuk Fikri sebal.


"Hahaha!" Aku dan Widia tertawa mendengarnya.


"Rasyd, apa bukumu tidak bau?" tanya Solihin.


"Bau kenapa ?" tanya Rasyd ingin tahu.


"Ya, kena sepatumu, la! papar Fikri menerangkan. "Sudah bau! Kotor lagi!" katanya jijik.


Rasyd langsung menoleh ke samping melirik tas yang tersandang. "Kau ada benarnya juga," katanya. Mengangguk. Berjalan menembus rintik hujan yang setengah reda.


Lalu Fikri memalingkan wajahnya melirikku ketika terlihat dari ekor mataku. "Liyan, kau jangan sampai sakit lagi, ya!" Kata Fikri mencemaskan.


"Iya, Liyan. Kalau kau sakit lagi kau tidak akan ikut ujian," sambung Widia. Melirikku.


"Kau pasti akan tinggal kelas ?!" lanjut Solihin.


Aku langsung menunduk menatap kedua kaki yang melangkah. Meresapi perkataan Widia dan Solihin. "Aku tidak mau tinggal kelas." jawabku dengan nada suara lirih.


"Makanya, sampai di rumah. Kau nanti, minum obat," saran Rasyd.


"Iya Liyan," kata Widia.


Setelah setengah perjalanan, hujan pun berhenti. Gerimis yang tadi turun rintik-rintik tidak lagi terasa . Sekarang kami dengan leluasa akan menempuh jalan untuk kembali ke rumah.


Baju seragam yang basah dan kaki yang pucat menapaki jalan yang setengah berlumpur terasa dingin dan membeku. Aku sedikit menunduk melihat kaki yang telah berkerut akibat hujan. Hujan yang mengguyur kota serta jalan membuat kami kewalahan. Tidak jarang kami berteduh menghindarinya. Jalan yang bertanah tanpa bebatuan pun, basah dan becek. Jalan yang becek akibat hujan terlihat seperti berlumpur. Jalan yang tersiram hujan sedikit menghambat pejalan kaki dan pengendara motor . Jalan yang yang mulus kini tersendat akibatnya.


Aku pun menaikan tas yang ingin terlepas. Tas ransel yang lembab akibat tempias hujan sangat dingin menyentuh punggung. Aku semakin resah ingin lekas sampai. Aku lalu menajamkan bola mata melihat ke empat teman-temanku.


Di antara kami, Rasyd yang lebih nyaman terlihat. Dia sangat nyaman melenggang karena sepatunya aman dari guyuran hujan. Hujan yang mengguyur kota ini sepanjang kami kembali dari rumah Pudan membuat aku memeras otak, sepanjang jalan aku menenangkan diri dan berpikir mencari alasan yang tepat untuk ayahku.


"Liyan, kau sakit ,ya ?" tanya Rasyd.


"Tidak," jawabku langsung.


"Lalu, kenapa kau murung?" tanya Widia.


Panik yang bercampur khawatir pun menjadi kegelisahan yang menutup pikiran ini untuk berpikir leluasa. "Aku baik-baik saja, kok," jawabku menutupi kegelisahan. "Ini sudah jam berapa ?" tanyaku cemas kembali.


"Kami tidak ada yang membawa jam," jawab mereka, di ikuti oleh Fikri yang menoleh ke arahku.


"Kau takut dengan ayahmu, ya?" tanya Fikri ingin tahu.


Aku langsung terdiam menunduk. Menatap kaki yang berjalan tanpa sepatu. Jejak kaki yang menembus tanah yang becek terlihat menjiplak di tanah. Tangan yang gemetar memegang sepatu dengan erat.


"Iya, aku takut Ayahku pulang lebih dulu," jawabku. Meliriknya.


"Kalau Ayahmu pulang, apa kau akan di marahi?" tanya Solihin.


"Iya," jawabku mengangguk.


Mereka semua pun melirik ke arahku. "Ayahku tidak begitu," ucap Rasyd langsung.


"Kalau aku, Ibuku yang akan marah," sambung Widia.


Aku langsung melihatnya. Widia sangat sedih bercampur cemas menatap nanar jalan yang kami lalui. Fikri dan yang lainnya diam mendengarkan curahan hati kami.


Angin yang mengiringi langkah sesekali berembus menerbangkan rambut dan rok. Rambut yang basah lama kelamaan semakin kering karena embusan angin.


Baju seragam sekolah yang lembab kini telah kering di badan. Semakin lama kami berjalan tidak terasa telah begitu jauh. Bayangan ayahku masih saja terasa seakan mengikuti.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh terdengar suara candaan Solihin dan Rasyd. Mereka terlihat senang mengisi hari-hari ini. Suara yang menggema di tengah kicauan burung yang menyambut hujan telah reda, begitu nyaring bercampur angin yang terus saja berembus.


"Solihin kalau kau. Siapa yang aka marah?" tanya Rasyd.


"Kalau aku yang akan marah palingan adikku," jawabnya dengan menarik bibirnya.


"Adikmu," cetus Fikri. "Hahaha !" Fikri pun tertawa puas seakan dia merasa lucu karena Solihin yang bertubuh besar takut dengan anak yang masih kecil. Fikri terus tertawa, di ikuti oleh aku dan Widia dari belakang.


Solihin yang ingin membuka mulut langsung menahannya. Dia pun seakan terbodoh melihat tawa Fikri yang lebar .


"Puas kau, ya menertawaiku," kata Solihin menutup mulutnya terus.


"Solihin, berarti enakan aku dong tidak punya adik," ucap Fikri. Berjalan lebih cepat menghindar dari Solihin yang sudah sebal.


"Mana enak tidak punya adik... ," sambung Rasyd. "...tidak ada teman bertengkar." Melihat Fikri yang melihatnya juga. "Aku lebih suka punya adik. Kalau aku dan adikku telah berkumpul, pasti rumah kami ramai," lanjutnya.


"Iya, Ibu kita pun, langsung berteriak sekeras- kerasnya," timpal Solihin menjelaskan pada Rasyd. "Hahaha !" Dia pun tertawa menceritakannya.


"Tapi, kalau kita punya adik. Kita ada saingan," papar Fikri. " Kalau kita anak satu-satunya 'kan, apa yang kita minta selalu di penuhi," balasnya.


Kami pun terus terdiam, bertemu pandang satu sama lain dengan pertanyaan masing-masing di dalam diri.


"Tapi, kalau aku dulu tidak," kata Rasyd menyangkalnya. "Waktu adikku belum lahir. Ibuku tidak pernah memenuhi ke inginkanku." Menatap lurus jalan yang dia lalui seakan bersedih.


"Hahaha !" Kasihan sekali kau," ucap Fikri yang lucu melihat Rasyd bersedih.


Aku dan Widia pun semakin aneh melihat mereka bertiga yang membahas cerita tentang adik perempuan.


"Kalian kenapa membahas tentang adik?" tanya Widia pada mereka. "Punya adik itu tidak enak," lanjutnya. " Iya 'kan, Liyan?" tanyanya padaku.


Widia menoleh dan aku pun menolehnya. "Mmmm !" Aku serasa berat ingin menjawabnya. Aku lalu menarik bibir tipis.


"Liyan, kau bagaimana dengan adikmu?" tanya Rasyd yang sebal mendengar kata adik.


"Liyan dan adiknya pasti baiklah. "Kan mereka sama-sama perempuan," jawab Fikri langsung memotongnya yang senang tidak punya adik.


"Alaah! Itu karena belum bertengkar," timpal Rasyd yang kesal karena di pojokan oleh Fikri.


Mereka berdua semakin berdebat hanya gara-gara adik. Rasyd yang merasa diribetkan oleh adiknya tidak menerima sama sekali kalau punya adik itu asyik. Dia terus mempertahankan pendapatnya menolak pengungkapan Solihin kalau punya adik itu asyik.


"Punya adik itu seru Rasyd," kata Solihin menyindir Rasyd agar semakin mengerang mendengar nama adik.


"Alaah! Punya adik itu tidak enak," kata Rasyd menolaknya. "...adik perempuan itu cengeng, suka menangis dan suka mengadu. Aku tidak suka," timpalnya. Berjalan mengayunkan kaki dengan kencang.


Aku menarik bibir tipis setelah mendengar keluhan Rasyd. Sepintas aku langsung mengingat adikku. Setelah perdebatan menolak mempunyai adik semuanya diam. Masing-masing terlihat sedang memikirkan sesuatu di dalam pikirannya. Aku yang terus berjalan berpikir tentang ayah dan ibu sambungku.

__ADS_1


Mereka yang tidak suka aku pulang terlambat, mungkin ini aku akan mendapatkan Omelan yang keras, bahkan bisa lebih keras lagi. Itu terus saja terlintas tiada henti menganak di pikiran. Serangan akan datang bertubi-tubi menyerang dari ibu dan ayahku.


Ayahku pasti akan gelisah ketika tidak melihatku ada di rumah setelah dia pulang. Sementara ibu sambungku pasti akan mencemaskan uang yang akan banyak keluar hanya untuk mengobati aku.


Belum lagi dengan adikku yang akan di marahi habis-habisan oleh ayahku ketika ayahku mendengar jawaban dari adikku. Semua begitu jelas tergambar di hadapanku saat ini.


Jalan yang berlumpur yang aku lalui kutembus begitu saja hingga Fikri menegur karena melihatku menembusnya begitu saja.


"Liyan, kenapa terburu-buru?" tanyanya. "Awas rok sekolahmu akan terkena cipratan lumpur," ucapnya.


"Iya Liyan, nanti kau akan sulit untuk membersihkannya," sambung Widia yang masih mau memberitahu.


"Karena besok kita akan ujian," kata Rasyd dengan keras dari belakangku.


"Aku harus cepat sampai," jeritku dari depan menembus jalan tanpa menoleh sedikit pun.


Jalan yang bising dengan kendala terus kulalui tanpa mengkhawatirkan apa pun. Berkali-kali Fikri dan yang lain berteriak menyuruhku berhati-hati.


"Liyan, hati-hati!" teriak Fikri dan Widia.


"Iya, Liyan. Ayahmu tidak akan memarahimu," sambung Solihin semakin keras berteriak.


"Lagian 'kan tadi hujan. Ayahmu pasti tahu, kok," sambung Rasyd.


Dari jauh aku hanya menoleh sedikit ke belakang. "Aku takut nanti hujannya turun lagi," kataku berteriak membalasnya dan semakin mengayun kaki dengan kencang.


Tas dan sepatu yang tersandang dan masih kujinjing mengayun bersama kaki yang melangkah. Tas yang tersandang semakin kuat menopang beratnya buku.


Lama berjalan tidak terasa aku hampir saja menghampiri rumah kami. Teman-teman yang tadi tertinggal di belakangku telah berpisah di persimpangan rumah masing-masing.


Gerbang sekolah yang kami lewati telah tertutup rapat dan sepi. Gerbang yang telah tertutup rapat sepintas mengingatkan kedua kaki yang tadi melangkah melaluinya. Tempat ini meresahkan hati ketika mata tanpa sengaja melihatnya. Jejak kaki itu seakan masih terlihat dengan jelas menjiplak di depan pagar yang telah sepi.


Aku semakin kencang mengayun kaki ini melangkah. Melihat lurus jalan yang terdengar bising memekakan telinga. Kendaraan yang lalu lalang menjadi temanku berjalan di jalan yang mulai di padati oleh kendaraan yang melintas.


Widia yang biasanya menjadi teman di saat pulang sekolah sekarang tidak lagi terlihat bersama. Saat ini aku harus berlapang dada menerimanya yang terpenting semuanya baik dan bisa membaik.


Jalan pun terus kulalui menembus udara yang dingin dan rasa takut yang menyerang diri ini ketika ingin pulang seorang diri. Rumah yang biasa menjadi penghambat keberanian terlihat sepi.


Orang aneh itu tidak ada terlihat duduk. Aku menatapnya dengan lekat dan memutar kedua bola mata melihatnya seakan merindukannya. Bola mata terus aku putar mencarinya.


Siang yang setengah mendung. Mendesak aku mengayun kaki semakin kencang. Tas tersandang di belakang ingin segera beristirahat dari dinginnya angin yang berembus.


Kaki ini pun semakin terasa kaku menginjak pasar yang dingin. Embusan angin terus mengusik kaki yang sudah terasa dingin. Jalan semakin terus kutempuh. Jalan rumah kami sebentar lagi akan sampai.


Pohon jambu air yang berdiri kokoh dan besar itu pun terlihat dari jauh. Aku langsung menaikan kepala ketika melihatnya dan melihat dinding rumah.


Sepatu yang kujinjing pun tidak lagi terasa erat kugenggam, hampir saja sepatu itu ingin terlepas dari tangan. Sontak aku pun tersadar ketika kaki ini hampir saja tersandung batu.


"Augh!" Suaraku langsung keluar. Melihat kaki dan batu yang kuinjak.


Batu ini seakan membantu menyadarkan pikiran yang telah lama berjalan entah kemana. Rumah kami begitu sepi tidak ada terdengar suara sedikit pun dari dalam.


Pintu masih tertutup. Aku langsung menghampirinya dengan sepatu yang masih kupegang. Sepatu semakin lama rasanya semakin berat.


"Assalamualaikum." Aku berdiri menyapa ke dalam rumah.


Sedikit pun tidak ada sahutan dari dalam rumah. Pintu rumah yang tertutup rapat perlahan kubuka menggunakan tangan sebelah kiri sedangkan tangan sebelah kanan masih memegang sepatu dengan erat. Di ikuti oleh kaki sebelah kanan masuk.


Jeglek!


Pintu yang kupegang pun langsung terhempas. Sontak aku terkejut melebarkan kedua bola mata panik. Rumah ini membuatku sangat tidak karuan hingga aku


mendadak panik ketakutan.


"Kakak," panggil adikku pelan dari depan pintu kamar kami. Membuka sedikit tirai dan melihatku.


"Liyan, apa itu kau?" tanya ayahku dengan keras.


Bibirku terasa berat ingin menjawab. Tatapan nanar terus melihat adikku yang berdiri. "Hust! Kak, dari mana?" tanya adikku pelan bersiul memanggilku. Mengintip dari balik tirai.


"Sssttt !" Aku menyuruh adikku diam. "Ana, nanti Ayah mendengarnya," kataku berbisik.


Aku pun masuk mengendap-endap. "Ana, baju Kakak basah," bisikku.


Adikku begitu ternganga mendengarnya. "Baju Kakak basah?" tanya khawatir.


"Iya," jawabku mengingat hujan yang tadi menimpa kami. Meletakan sepatu di sudut lemari tepatnya yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan kamar.


"Kak, cepat ganti, nanti Kakak sakit," kata adikku bergegas mengambil baju dan memegang bajuku. "Tapi Kak, baju Kakak tidak basah," kata adikku menatap bajuku heran.


"Sebenarnya bajunya, tadinya basah," kataku dengan berat seakan malu. Melirik baju seragamku masih di pegang adikku.


"Aku pikir masih basah, Kak. Tapi harus Kakak ganti juga karena ini lembab, nanti Kakak sakit," papar adikku. "Sebentar ya, Kak!" pinta adikku menyuruhku menunggu.


"Apa Ayah tadi menanya Kakak?" tanyaku dari belakang adikku.


Langkah adikku terhenti. "Aku tidak tahu Kak. Tadi Kami cepat pulang," ucap adikku menerangkan.


Aku langsung terdiam setelah mendengarnya.


Tiba-tiba aku teringat. "Oh, iya," kataku menempelkan tangan di keningku. "...kita 'kan, ujian besok." Aku melihat adikku dengan berdiri sedikit miring sambil membuka kancing baju.


Adikku langsung melangkah keluar, di ikuti aku yang melihatnya sambil membuka kancing baju selanjutnya.


"Siapanya itu?" tanya ayahku penasaran. Setelah mendengar langkah kaki adikku yang mengendap -endap.


"Aku Ayah," jawab adikku yang mengenali suara anaknya. "Apa yang masuk ke rumah tadi, kau juga ?" tanya ayahku.


Adikku tidak bisa menjawabnya. Dia semakin bingung terdengar untuk melakukan apa. Suara kakinya tidak lagi terdengar. Jemari yang memegang kancing baju yang terakhir berhenti.


"Ana," panggilku dari balik tirai pelan.


"Sstttt !" Adikku memutar badan menyuruh diam. Di ikuti oleh adikku menjawab pertanyaan ayahku. "Iya, Ayah," jawabnya. Melirik kamar ayahku.


Setelah mendengar suara adikku, ayahku diam rasanya dia lega setelah mendengarnya. Aku langsung tenang setelah ayahku diam.


Huh! Aku langsung menghela napas. Aku lekas menutup tirai kembali. Tas yang terletak di atas lantai lekas kuambil dan memegangnya. Tas yang terasa lembab begitu dingin dan aku gantung setelah mengeluarkan seluruh isinya.


"Kak, ini bajunya," kata adikku menyerahkannya.


"Ini, 'kan baju Kakak?" tanya adikku bertanya padaku menyerahkannya. Aku memperhatikannya. "Bukannya kau bilang tadi bajumu?" tanyaku menyinggungnya menatap jeli baju yang ada di tangan.


"Tidak aku tidak bilang begitu. Mungkin Kakak salah dengar, Kak," ucap adikku menjelaskan.


Aku langsung menaikan alisku sebelah kiri. "Ana, apa Ayah tadi pulang, kau tidur?" tanyaku memakai baju.


"Aku rasa iya, Kak," jawab adikku sedikit ragu.


"Kenapa kau bilang begitu?" tanyaku. Mengancing baju, di ikuti oleh mata melihat adikku.

__ADS_1


"Karena tadi hujannya deras, aku tidak mendengar suara orang masuk, Kak," terang adikku menjelaskan.


"Apa Ibu tadi di sini?" tanyaku dengan nada suara berhati-hati mengingat adikku yang kurang suka mendengarnya.


"Aku tidak tahu, Kak," jawab adikku ketus. Berjalan menghampiri tempat tidur dan duduk. Dia langsung menatap keluar dari jendela seakan dia tidak ingin melanjutkannya, pikirku ketika melihat adikku bergeming.


Aku lekas melihat baju dan merapikannya dan juga merapikan tempat tidur mengambil baju yang terletak. Mendadak tangan berhenti di tengah udara. "Ana." Aku menatap nanar baju. "Bajunya lembab," kataku.


"Lalu, kenapa, Kak?" tanya adikku.


"Kalau baju ini tidak kering besok. Mana mungkin Kakak memakainya," paparku memberitahu.


"Kak, 'kan, masih ada baju yang baru," kata adikku. Duduk dan memutar kepalanya melihatku.


Selintas aku bergeming teringat ayahku. "Tapi, kalau Ayah melihatnya. Ayah pasti akan marah." Aku memutar badan melihat adikku yang duduk.


"Siapa yang membuka pintu, tidak menutupnya?" tanya ibu sambungku meninggi.


Bibirku lekas tertutup rapat. Mata ini pun memberi isyarat pada adikku. Sekujur tubuh langsung gemetar ketika mendengar suara keras itu menggema di udara.


"Kenapa kalian satu pun tidak ada yang menjawab?" tanya ibu sambungku dengan nada suara mendekati pintu kamar kami. Aku melihat bayangannya berdiri melihat ke dalam kamar kami.


Aku dan adikku saling melempar pandang melihat tirai sesekali dengan gurat wajah penuh tanda tanya.


"Palingan cuman, Anak-anak," jawab ayahku dari dalam kamar.


"Anak-anak, Anak-anak!" kata ibu sambungku menentangnya keras. "Tapi kalau pintu rumah seperti ini, Anak-anak tidak bisa di diamkan," serangnya.


"Palingan orang itu sengaja membukanya, biar kau tidak berteriak, minta bukakan pintu," kata ayahku datar.


Huh! Ibu sambungku kesal. "Kau selalu membela Anak-anakmu," katanya tidak suka.


Suara keras sampai ke dalam kamar memenuhi ruangan kamar dan langit-langit kamar. Aku dan adikku semakin pucat dan diam. Suara yang bersahut-sahutan dari ayah dan ibu sambungku semakin menutup telingaku dengan kedua tangan.


Suara itu sangat mengerikan. Apalagi ketika ibu sambungku sudah berteriak. Dia semakin menikmatinya seakan dia sedang menghadapi hidangan.


"Tadi 'kan, kau keluar." kata ayahku pelan.


"Kalau aku keluar. Apa harus selebar ini pintu di buka," pekiknya semakin meninggi.


Suara itu semakin menggema dengan kuat sehingga aku tidak bisa membuka kedua mata menatap lurus ke depan.


"Kak, tadi Kakak lupa menutup pintu," bisik adikku. Menjatuhkan tubuhnya setengah di udara berjongkok di depan aku.


Aku hanya bisa diam dan mengingatnya. Adikku lekas bangun melihat ibu sambungku dari baik tirai. Langkah kaki adikku berjalan terdengar melangkah dan berhenti dari balik telinga yang tertutup.


"Kau 'kan baru pulang. Jadi, jangan ribut. Kalau kau belum makan. Makanlah! Aku sudah siap memasak," kata ayahku.


Sepatah kata pun tidak terdengar ada jawaban. Aku dan adikku hanya mendengar kebisuan yang ketat.


"Aku tidak lapar," jawab ibu sambung kami berlalu meninggalkan dinding kamar ayahku.


"Siapa yang mengangkat pakaian?" tanyanya.


"Tadi aku yang mengangkatnya sebelum hujan," jawab ayahku pelan dari dalam kamar.


"Tolong jangan ribut, ya! Aku mau tidur siang," tuturnya seakan menyinggung kami yang siang hari suka ribut.


Aku yang mendengarnya lalu menahan suara sekali pun itu suara batuk dan terus mengancing baju hingga selesai. Sementara adikku masih duduk manis di atas tempat tidur melihat keluar jendela. Aku yang meliriknya dari ekor mata lekas mengangkat dan berbisik.


"Ana, apa kau sudah makan?" tanyaku memutar badan berjalan mendekati adikku.


"Apa Kakak belum makan siang?" tanya adikku khawatir.


"Belum," jawabku menggeleng pelan. Memegang perut yang keroncongan.


"Kak, kenapa Kakak bisa tidak makan?" tanya adikku seakan menyalahkan aku.


"Makan apa?" jawabku mendengar pertanyaan adikku.


"Orang Kakak pergi 'kan ke rumah teman Kakak?" tanya adikku.


Bola mataku pun melebar mendengarnya. Aku tidak bisa lagi mengatakan apa pun terhadap adikku. Yang bisa kulakukan cuman satu yaitu, diam membisu mendengar suara yang terdengar.


"Kak, kalau sampai Ayah tahu. Ayah pasti akan memarahi Kakak," kata adikku melihat ke arah tirai kamar.


Semakin lama aku semakin diam ketika mendengar kata Ayah. Adikku sangat benar ayahku pasti akan marah besar kalau sampai dia mengetahui aku belum makan siang. Jemari ini rasanya ingin lepas berserakan ke lantai. Langit-langit kamar sekarang semakin gelap gulita terasa. Ocehan demi ocehan akan melemparkan aku siang ini. Belum lagi ibu sambung yang selalu mengawasi setiap tindak tandukku.


Siang lebih mencekam dari pada hadangan orang aneh yang selalu menungguku ketika pulang sekolah. Perkataan adikku ada benarnya juga, kenapa aku tidak makan di luar?


"Tapi, Ana mana mungkin Kakak makan di rumah teman Kakak," ungkapku.


"Paling tidak makan kue atau roti, Kak," kata adikku.


"Mana mungkin, Dik," ucapku pelan. Memutar badan membelakangi adikku. "Mereka saja rumahnya sama seperti kita," lanjutku mengingat kembali rumah Pudan.


"Emang Kakak ke rumah siapa?" tanya adikku ingin tahu.


"Ke rumah teman Kakak." Aku langsung menjawab pertanyaan adikku.


"Ke rumah teman, Kakak?" tanyanya terheran. Mendekatkan suaranya tepat ke arah telingaku. "Teman Kakak yang mana?" tanya adikku menyelidiki.


Aku langsung memutar kepala melihat adikku . Tatapan adikku dan aku pun bertemu pandang. Sorot mata adikku terlihat sekan dia bertanya teman yang mana.


"Bukannya teman Kakak Anak orang kaya semua?" tanya adikku mencengangkan. "Selain Kakak dan Widia yang tidak Anak orang kaya," lanjutnya.


Aku menarik napas panjang. "Ana, teman Kakak bukan mereka saja. Kakak masih punya banyak teman lagi di kelas," paparku.


"Iya, tapi... ." Adikku menghentikan kata-katanya.


"Tapi, Dik. Kau tahu dari mana?" Aku langsung memotong perkataan adikku.


"Ooh, itu! Aku tahu dari Kak Septiani," jawab adikku.


Aku langsung menaikan kepala dengan tegak. "Kalian bertemu?" tanyaku.


"Iya, Kak Septiani mengejarku. Kalau Kak Septiani tidak menemuiku, mana mungkin aku tahu, kalau Kakak pergi. Pasti aku akan kecarian," kata adikku menatapku dengan lembut.


"Apa Ayah tahu?" tanyaku.


"Mmm!" Adikku berpikir menatap lantai.


Aku terus menatap adikku yang berat membuka mulut. Adikku menjadi teka teki bagiku yang tetap diam dan menunduk.


"Ana, apa Ayah tahu?" tanyaku semakin mendesak adikku agar dia mau memberi tahunya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2