
"Iya ada apa," sahutku menoleh Solihin.
"Pakaianmu akan kotor, Liyan," ucap Solihin menegurku yang bertingkah seperti anak kecil. Dia begitu bahagia melihatku seakan dia ikut dalam permainan ini. Kaos kakinya yang telah basah akibat cipratan lumpur dia tidak menghiraukannya sama sekali. " Liyan, kau suka bermain lumpur?" tanyanya semakin maju mendekatiku. Melihat kakiku yang lihai menari-nari di lumpur.
"Aku suka bermain hujan," jawabku melihat Solihin berjalan mendekat ingin bermain juga. Sementara Fikri, Rasyd dan Widia melongo melihatku yang bertingkah seperti anak kecil. Terheran karena melihat kakiku telah penuh dengan tanah. Mereka pun sesekali mendengus sebal sedangkan Widia menggelengkan kepala melihatnya. Akan tetapi, Rasyd yang hobinya juga suka bermain, dia berlari dan berteriak. "Kita bermain dulu, yuk! Hahaha!" Tertawa mengangkat kakinya dengan tinggi mengejar kami berdua yaitu, aku dan Solihin. Tingkahnya yang kocak yang hampir mirip dengan Solihin semakin sulit untuk di cegah. Jika mereka berdua telah bersatu, apalagi bermain yang apabila permainannya sama-sama di sukai oleh mereka maka mereka berdua akan semakin sulit untuk di cegah. Inilah yang membuat Fikri dan Widia semakin tertahan. Mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi, apalagi berteriak mencegah sahabatnya bermain. Bahkan aku pun semakin senang karena aku akan semakin lama bermain dan mereka berdua pun tidak akan bisa melarangku. Aku semakin tersimpul manis akalku pun semakin bekerja dengan jahil untuk bertahan dan terus bermain. Fikri yang tidak bisa melihatku bersedih, apalagi menangis semakin menjadi senjata yang kuat untuk ku untuk tetap bertahan dengan kemmauanku. Aku terus bermain dengan teriakan yang girang bersama Rasyd dan Solihin. Hari ini aku begitu bahagia karena aku bebas bermain meski aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah aku sampai ke rumah. Sejenak aku melupakan itu dan bermain sampai puas serta membuat patung kecil dari tanah.
Tawa sumringah pun menemani diriku yang membuat patung sendiri. Tiba-tiba Solihin yang jahil datang merusak sedikit patung yang setengah siap itu. Aku sangat terkejut dan bersedih karena patung yang sedikit lagi selesai telah hancur sebagian. "Solihiiinn!" jeritku dengan kencang. "...kau sudah merusaknya," kataku dengan lirih menunjuk patung yang hancur. Mendongak ke atas dengan tubuhku yang masih berjongkok di atas tanah yang setengah kering melihat Solihin yang shock mendengar jeritanku tiba-tiba.
Sontak suara Fikri terdengar. "Solihin apa yang kau lakukan?" tanya Fikri berlari panik. Melihatku. "Hahaha !" Sontak dia pun tertawa melihatnya.
Aku semakin kaget mendengar suara yang menertawaiku dengan senang. Aku begitu kesal dan sangat membencinya . Suara itu begitu puas menertawaiku sesuka hatinya. Suara yang terdengar tiba-tiba itu seakan mencabik-cabik hati. Aku sangat sedih dan cemberut karena Fikri dan Solihin bersikap sama menertawai hari ini.
"Kalian berdua jahat," teriakku dengan kesal menggemaskan.
"Hahaha ! Hey, Liyan kau tidak cocok marah!" ledek Solihin menggodaku agar aku berhenti cemberut.
"Fikri, kenapa kau menertawai, Liyan?" tanya Widia dengan lirih terdengar olehku, di ikuti oleh mataku melirik ujung sepatu yang tiba-tiba berdiri.
Aku kemudian memalingkan pandangan darinya melihat Fikri langsung. Dia lalu diam bercampur rasa bersalah. Menutup bibirnya dengan rapat. Berpura -pura mencari sesuatu yang hilang. Memegang tali tas dengan sebelah tangan kiri dan sebelah tangan kanannya memegang topinya yang terdapat di atas kepala mengaturnya rapi.
Lalu dia melemparkan pandangan bercampur rasa malu karena telah refleks menertawaiku. Pandangan yang menunduk terus mantap jalan yang becek dengan kaos kaki yang masih kotor. Perlahan dia pun menghampiri sebuah pohon, aku yang masih mengikuti langkah kakinya melebarkan bola mata bercampur kesal.
Lalu melirik Widia yang menggeleng dan mengusap kaos kakinya yang terkena lumpur dengan kasar. Berjalan menjauh dariku mengikuti Fikri yang berhenti. Widia semakin pias mengatur langkahnya.
Aku yang berjongkok sesekali melihat Fikri dan Widia yang berdiri jauh. Fikri yang tadi berdiri dan sebal. Kini membersihkan kaos kakinya yang jorok akibat lumpur. Dia membuka sebelah sepatunya dan melepaskan kaos kakinya. Lalu dia menguceknya dengan daun yang basah. Dia mengambil air yang terdapat di daun yang basah itu. Lalu dia menyiramkannya di kaos kakinya yang kotor. Dia terlihat berulang kali melakukan itu. Sementara Widia mencari tempat yang bisa untuk dia duduki. Dia berjalan melihat sekeliling dan akhirnya dia menemukan sesuatu yang membuat hatinya lega. Dia sangat bahagia ketika dia menemukan batu yang tidak terlalu basah dan duduk sambil meregangkan otot-ototnya yang lelah.
Aku masih menatapnya dengan lekat, di ikuti olehnya yang juga menatapku. Dia memang sedikit sabar menghadapiku, meskipun persahabatan kami saat ini tidak lagi seperti dulu. Namun, dia tidak pernah menjauh dariku sekali pun, sikap yang dia berikan itu sangat dingin terhadapku.
Bibir yang kutarik dengan senyuman pun menunduk setelah beberapa saat dan kembali membentuk tanah menjadi sesuatu yang kuinginkan. Rasyd dan Solihin berteriak bermain sepakbola dengan menendang-nendang genangan air.
"Rasyd airnya seperti bola," canda Solihin tertawa. Menendang air semakin kuat mengenai mukaku.
"Augh!" Aku terkejut.
"Solihin, Liyan kena," kata Rasyd terkejut.
Rasyd terkejut dan melihatku serta melihat air yang mengayun mengenai terlihat dari ekor mataku. "Solihin, pelan-pelan," Rasyd menghampiri Solihin. "Hati-hati, nanti Liyan kena," ucap Rasyd. Mendekat dan memerhatikan percikan air itu.
"Liyan, apa sakit?" tanya khawatir. Menjatuhkan tubuhnya melihat aku yang mengusap air itu.
Aku hanya menggeleng menjawabnya. "Solihin, bermainnya hati-hati !" ucap Rasyd kembali mengingatkan. Memutar kepala melihat Solihin dengan posisi yang masih berjongkok.
"Iya aku keseruan bermainnya, maaf Liyan. Aku tidak sengaja," jawabnya terdengar di telingaku dari jarak yang jauh dengan nada suara bercampur rasa bersalah.
Aku menghentikan bermainnya. Berdiri membersihkan yang terkena cipratan lumpur. Aku refleks teringat tentang Fikri yang membersihkan kaos kakinya dengan air yang ada di daun. Aku pun kemudian berputar melihat sekeliling untuk mencari pohon yang daunnya rendah agar bisa aku ambil airnya. Sedikit demi sedikit air yang terdapat di daun yang basah pun aku ambil untuk membersihkannya. Aku mengikuti apa yang di lakukan Fikri.
"Liyan, kami pulang duluan, ya!" kata Widia seakan berpamitan. Bangun dari duduknya menyandang tas yang tadi terletak dia atas akar pohon yang besar.
Aku terperanjat mendengarnya dan memutarkan bola mata melebar ke arah Widia. Melihat Widia yang telah bangun dari duduknya dan membersihkan roknya. Aku semakin terburu-buru mencuci mukaku. Aku pun bergegas dengan cepat mengejar Widia. "Widia tungguuuu! teriakku dengan kencang berlari menembus air yang bergenang.
"Liyan, buruan," teriak Fikri yang mengikuti Widia. Telah membaik.
"Hei, Fikri kau mau pulang?" tanya Rasyd dari belakang menjerit memangilnya dan menghentikan langkahnya seketika dan di ikuti langkahku dan Widia pun terhenti. Aku yang menganyunkan kakiku sebelah kiri ke depan sontak mengayun terhenti di tengah udara. "Rasyd," gumamku pelan yang di dengar oleh Widia. Perlahan aku memutar badan dan meletakan kaki kiri di atas tanah yang setengah basah.
"Rasyd, hari sudah mau hujan lagi," ucap Fikri membalas jeritan Rasyd. Di ikuti oleh aku dan Widia yang menatap ke arah Rasyd juga.
"Iya Rasyd," sambung Widia. "Lagi pula aku sudah kelaparan," kata Widia dengan keras melihatnya.
Aku masih berdiri di atas tanah yang setengah basah mendengarkan mereka. Rasyd yang menolak untuk pulang di dukung oleh Solihin. "Fikri kalau hujan 'kan makin seru, ya engga?" kata Solihin dengan nada suara keras. Memutar kepala ke arah Rasyd bertanya menaikan alisnya. Mengangguk.
"Iya, tapi aku sudah lelah. Besok kita mau ujian. Aku mau belajar," kata Fikri.
__ADS_1
"Alaah! Liyan saja tidak sibuk mau belajar," timpal Solihin.
"Liyan itu sudah pintar," balas Fikri terus berjalan. Melambaikan sebelah tangan ke udara sebagai isyarat mengucapkan selamat tinggal.
Aku melihat mereka yang tidak sependapat hari ini semakin bengong. Fikri ada benarnya juga. Besok kami memang mau ujian jadi, harus belajar. Aku mengikuti pendapat Fikri dan Widia yang sudah kelaparan. Mukaku pun buru-buru kubersihkan dengan lengan baju seragam.
Aku lalu berjalan kembali mengikuti mereka berdua dan meninggalkan Rasyd dan Solihin di belakang. Mereka tidak senang karena Fikri terlalu cepat ingin pulang. Dengan sebal mereka terpaksa mengikut. Aku yang berjalan jauh di depan mereka memutar kepala ke samping dan melirik mereka yang kesal berjalan di belakangku dengan melemparkan tatapan yang masam.
Meskipun mereka kesal tapi mereka berdua masih tetap ceria seakan mereka sama sekali tidak menganggapnya serius. Rasyd, Solihin dan teman-temanku, terkhusus aku tidak pernah menganggap perselisihan atau perseteruan dengan serius. Aku yang netral dalam bersikap lebih merasa tenang jika, aku melupakan semua yang terjadi begitu saja
layaknya, seorang anak yang telah dewasa.
Terkadang aku lucu dan tertawa sendiri melihat diriku. Apalagi ketika aku melihat diriku yang aneh di depan cermin. Aku begitu tersenyum sumringah melihat diri ini yang pintar bercampur dengan bodoh juga. Tidak jarang ketika aku bercermin, aku tertawa geli penuh di dalam hati menatap diri ini. Aku yang sering berubah-ubah rasanya, semakin membawaku dalam lamunan seorang putri di dalam cerita dongeng yang dililit masalah lalu kemudian bahagia. Tawa seakan menghiasi diri ini dengan sumringah.
"Fikri, kau dengan Liyan 'kan, sama-sama pintar," kata Solihin dengan keras. Berjalan tertinggal di belakang dari kami.
Aku mengikuti suaranya yang keras menoleh ke arah mereka berdua yang masih berjalan bersama dengan tingkah masing-masing. Rasyd yang menjinjing sepatunya di ikuti oleh Solihin yang mengeluarkan bajunya dan menjinjing sepatunya juga.
"...tapi 'kan, mereka harus belajar juga," kata Widia menyambung dari depan. Membela Fikri.
" Kalau kami tidak perlu belajar. Kami sudah pintar, kok," celetuk Solihin semaunya.
"Besok kalian baru menangis... ," ucapku karena sebal mendengar omongan Solihin. "...mencari tempat contekan," lanjutku meneruskan perjalanan.
Widia berhenti melihatku. "Kau benar Liyan. Pasti mereka besok terkejut melihat soalnya sulit semua, ptfff!" ucapnya menahan tawa melihat muka Solihin berubah langsung sedikit takut.
"Tapi Liyan, kau tahu tidak soal ujiannya, nanti ?" tanya Rasyd ingin tahu seolah dia sedang mengingatkan, kalau aku sudah begitu lama tidak masuk sekolah.
Glek!
Aku langsung menelan ludah ketika mendengar suara Rasyd. Suara itu pun menghentikan langkahku berjalan semakin pelan. Suara itu seakan menjadi ketakutan yang menganak di dalam jiwa. Bola mata yang lebar semakin mengecil melihat jalan yang berair. Pundak yang menyandang tas semakin melemah. Segelintir ingatan yang telah melupakannya kembali terkuak kembali. Penyakit yang ingin membunuh itu kembali mengingatkan aku untuk selalu waspada.
Langkah yang terhenti dengan pelan seakan menghitung sudah berapa lama aku tidak masuk sekolah. Langkah ini juga seakan menghitung kembali sudah berapa banyak juga aku pergi berobat bolak-balik ke rumah sakit. Kenangan ini semakin menghempaskan rasanya. Sontak seakan ada yang ingin memukulku dari arah yang tidak terduga.
Lambaian tangan Widia yang menungguku semakin memaksa untuk segera menghampirinya. "Liyan, cepatlah! Hari sudah mendung," katanya mendesakku agar segera berlari.
"Widia, aku rasa tidak akan hujan," kataku melihat ke atas awan bercampur hati yang cemas. Memendam semaunya melihat ujung kaki yang terus menapaki jalan.
Widia pun mengikutiku melihat ke atas awan. "Aku rasa pasti hujan, Liyan," katanya khawatir melihat awan berulang kali.
"Hujannya pasti lama lagi baru turun," kataku merayu Widia agar dia percaya padaku sambil membawa sepatu. Berjalan melihat kakiku dan melihat Fikri juga yang lebih dulu di depan.
"Fikri, kau mau meninggalkan kami, ya?" tanya Rasyd menyinggungnya menjerit dari belakang.
Aku langsung memutar kepala ingin mengetahui mereka. "Rasyd, kenapa kau bertanya begitu?" Aku semakin ingin mengetahui alasannya. Melihat Rasyd dan Solihin.
Rasyd pun menatap Solihin dengan tajam. Tatapan yang tajam dan bercampur merasa bersalah itu pun saling bertemu pandang. "Aku hanya ingin tahu saja," jawab Rasyd dengan santai. Membenahi tas yang di sandangnya dengan baik.
Rasyd semakin lelah terlihat dari wajahnya yang memelas. Dia semakin sesak rasanya berjalan karena berulang kali membenahi tas yang di sandangnya. Sementara Solihin yang mengerti tatapan Rasyd diam, menarik napas dan? mengusap wajahnya dengan kasar.
"Liyan, Rasyd tidak mengejekmu," kata Solihin. " Iya 'kan?" tanyanya melihat wajah Rasyd. Menggangguk.
Tik! Tik! Tik!
Tetesan hujan pun kembali turun membasahi bumi. Kami yang belum juga sampai langsung panik dan khawatir melihatnya. Hujan yang turun rintik-rintik semakin deras hingga membuat kami berlima bingung.
Fikri yang tadi berjalan lebih dulu sendiri di depan. Berlari ke belakang mendekati aku dan Widia. "Hujannya semakin deras," katanya berusaha melindungi wajahnya dari siraman hujan dengan tangannya.
"Iya Fikri," jawab Widia dengan suara yang bercampur dengan air hujan.
"Aku takut kalau Liyan sakit lagi," kata Fikri panik. Melihat yang semakin deras.
__ADS_1
Rasyd dan Solihin pun sudah tiba menghampiri kami. "Kita cari tempat berteduh saja," ajak Rasyd. Menutupi kepalanya dengan tasnya. Sepatu yang di bawanya pun tidak terlihat lagi di pegangnya.
"Rasyd sepatumu mana?" tanyaku penasaran.
Meletakkan tas di atas kepala dan memutar bola mata dengan tajam.
"Sepatunya, di simpannya di dalam tas," jawab Rasyd memotong pembicaraan kami tertawa.
"Di tas?" tanya Widia terheran. Menarik lenganku kuat untuk berteduh.
"Widia kita kemana?" tanyaku terkejut ketika tangan Widia menarik dengan kuat.
"Di situ Liyan !" katanya menunjuk sebuah teras rumah. "Ayo, kita ke situ saja!" ajak Widia menggandeng lenganku.
Teras rumah yang kosong. Aku terus menajamkan mata menatapnya. Teras rumah ini begitu menyeramkan. Bulu kudukku semakin terasa merinding. Teras yang sudah reok pun sangat kumuh dan terlihat tidak berpenghuni. Aku semakin menatapnya dengan tajam.
Bola mata terus berputar melihatnya. Setiap sudut dan setiap dinding aku tidak pernah berhenti untuk menatapnya terus. Aku yang penakut semakin takut melihatnya dan bergeser dengan rapat pada Widia.
"Widia, ini engga ada hantunya?" tanyaku panik.
"Tidak Liyan," jawab Widia dengan nada suara pelan bercampur dengan hujan.
"Kenapa?" tanya Solihin penasaran. Di ikuti oleh Rasyd dan Fikri.
"Kata Liyan, rumah ini ada hantunya," jawab Widia datar dengan wajah menahan tawa geli ketika melihat aku yang histeris.
"Ptfff, Liyan ini siang," kata Fikri menahan tawa melihat hujan.
"Mana ada hantu," lanjut Rasyd seakan lucu mendengarnya.
Hujan pun semakin deras. Aku juga semakin panik bergulat dengan kedua yang aku takuti yaitu, ayahku dan hantu. Sepatu yang masih pegang semakin erat kupegang. Kaki yang tidak memakai alas pun semakin dingin terkena biasan hujan dan angin. Tubuh mungil yang tidak pernah lagi terkena hujan dan udara dingin terasa sangat menggigil.
Aku terus menatap dan merintih di dalam hati karena melihat hujan tak kunjung reda. Ayahku, aku langsung mengingatnya. Wajahnya yang galak apabila memarahiku.
Angin yang berembus pun semakin dingin. Aku dan Widia pun kembali berjalan melangkah ke depan melihat air hujan masih deras ataukah tidak. Aku yang sempat terhenyak mengingat ayahku segera mungkin melupakannya. Percikan hujan suara hujan yang deras memukul wajahku seketika.
Suara langkah kaki pun terdengar mendekat dan berhenti menghampiri. Suara yang terdengar ke telinga pun mendadak mengejutkan aku yang hanyut dalam lamunan . Wajah ayahku seakan menari-nari barsama air hujan yang turun. Langkah kaki berjalan berikutnya pun terdengar mendekati aku bersama Widia, di ikuti juga oleh Fikri suara Fikri dari belakang dengan pelan berbisik. "Sampai kapan hujan ini akan berhenti, ya?" tanyanya melihat hujan yang taku kunjung berhenti.
"Aku takut kalau kita sampai sore di sini," kata Widia khawatir. Berdiri di sampingku.
"Hujannya semakin deras dan lama kali berhenti," kataku melihatnya terpaku.
"Emang kenapa kalau hujannya lama berhenti ?" tanya Solihin.
"Kita 'kan bisa main hujan," jawab Rasyd memotong pembicaraan. Mengayunkan tangannya tepat di bawah air hujan yang turun.
"Liyan, takut kalau dia sakit lagi," sahut Fikri.
"Iya, pasti Liyan tidak akan bisa ikut ujian," ucap Widia yang sebenarnya mencemaskan dirinya juga karena hujan belum juga reda.
Widia sama seperti diriku yang takut di marahi kalau terlambat pulang. Dia sangat mencemaskan keadaan dirinya ketika nanti sampai di rumah. "Aku pasti akan di marahi," katanya dengan lirih menatap hujan yang turun dengan wajah gelisah bercampur panik.
Aku yang mendekap kedua bahuku dengan tangan, menatapnya yang mengatakan itu.
Kini wajahnya terlihat semu, di ikuti oleh tawa Solihin dan Rasyd yang memercikkan air ke arah kami.
"Solihin," jeritku kesal.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...