
Aku langsung menunduk melihat lutut yang masih nyeri. Menghela napas untuk menetralkan kembali diri ini.
"Kak, jangan bicara tentang Ibu kesayangan Kakak itu lagi, ya!" tegur adikku dari belakang.
"Iya, Kakak juga gak mau lagi kok," sesalku, mengingat sorot mata ayahku tadi.
Setelah ayahku menghilang aku kembali menunduk melihat anak Bp dan melanjutkan cerita dari Lofya. Di tengah kebisuan aku dan adikku di dalam rumah kini belum juga berubah. Pintu yang terbuka sedikit sampai saat ini tetap sama tidak ada sedikit pun tanda-tanda kedatangan dari ibu sambung kami.
"Liyan!" panggil ayahku dari dapur dengan keras.
"Iya Ayah," jawabku langsung berlari dan meninggalkan Lofya-ku. "Ada apa Ayah?" tanyaku berdiri di antara pintu tengah melihat seorang ayah yang lagi sibuk.
"Ini makanannya udah selesai," kata ayahku. Meletakkan semuanya di atas meja.
"Iya Ayah," jawabku mengangguk lalu diam melihat ayahku yang terus sibuk.
Ayahku kembali berjalan membawa perlengkapan untuk makan siang dan meletakkannya di atas meja. "Ayah mau mandi. Mau sholat, ya!" kata Ayahku menatapku sekilas dan kembali menata rapi semuanya.
Aku masih berdiri diam mematung melihat ayahku yang terlalu sibuk hari ini. "Ayah, kenapa Ayah lama hari ini?" tanyaku penasaran.
Ayahku yang lagi sibuk memutarkan kepalanya ke kanan melirikku. "Lama apanya, Nak?" tanya ayahku bingung.
Aku pun langsung memutar badan lurus ke depan melihat ayahku. "Lama siap memasak, Yah?" tanyaku kembali menegaskan pertanyaan ayahku. Berdiri sambil memutar kepala dan sorot mata melihat ayahku yang hilir mudik berjalan dengan membawa gelas, piring, teko, nasi serta lauk pauk dan sayur mayur.
Ayahku menata semuanya begitu rapi di atas meja sampai tidak ada yang ketinggalan. "Ayah tadi lagi mengeluarkan belanjaan yang Ayah beli semalam," balas ayahku. "Ayah takut, Nak, kalau itu busuk!" ungkapnya, menunduk sambil melihat dan mengilap meja yang terkena tetesan sedikit air yang tumpah dari mulut teko.
Aku kemudian bergeser sedikit bersandar ke dinding tepatnya dinding yang berbaris dengan pintu tengah. Melihat ayahku yang berjibaku dengan tugas dapurnya yang tidak pernah usai. Tatapan terus kutajamkan melihat meja yang terisi penuh serta jenjang kaki ayahku yang berdiri dan lelah akibat bekerja keras demi menghidupi kami.
"Ayah, kenapa Ibu belum pulang?" tanyaku ingin tahu. Berdiri dan bersandar demi menjaga tubuh mungil yang lemah ini agar tidak terjerembab di lantai.
Tangan Ayahku langsung berhenti memegang cuci tangan yang setengah manggantung di udara lalu memutar kepala sekilas melihatku dan kembali melihat piring kosong. "Liyan, mungkin Ibumu lagi ada urusan di luar," jawab ayahku dengan nada suara datar dan melihat nanar ke atas jendela yang telah terbuka.
__ADS_1
Aku diam dan tidak bersuara lagi setelah mendengar jawaban ayahku yang terkesan sedikit berat ingin menjawabnya. Sorot mataku pun refleks aku jatuhkan melihat ke bawah tempatnya ujung kaki ayahku yang telah menua itu berjalan dengan tegak.
"Ayah, aku lapar," kata adikku. Berdiri di depan pintu kamar dengan kepala dan tubuh kecilnya yang tertutup oleh tirai sedikit.
Aku refleks menaikkan kepala dan memutar sorot mata, di ikuti oleh ayahku yang ikut melihat ke arah sumber suara adikku. "Kemarilah Nak! Ayah akan ambilkan nasinya," kata ayahku dengan lembut, lalu memutar kembali kepalanya melihat yang di pegang olehnya. "Liyan, kau mau makan juga?" tanya ayahku, menoleh ke arah samping kanan tepat tempat di mana aku berdiri.
"Mau Ayah," jawabku langsung. Melihat ayahku yang sedang menyendok nasi ke dalam piring.
Ayahku begitu sibuk menyiapkan makanan aku dan adikku. "Liyan, Ana ini makanan kalian sudah siap," kata ayahku meletakkannya di atas meja. "Sekarang Ayah mau mandi dan sholat dulu, ya!" ucap ayahku mengiba. Berdiri dan memutar badan melihat ke arah kami masing-masing.
"Iya Ayah," jawabku dan adikku serempak.
"Ayah nanti timbakan air kami, ya!" bujuk adikku dengan suara khas manjanya. Berjalan melenggang dengan imut.
Aku yang masih berdiri perlahan beranjak dari sandaranku. "Ayah, kenapa nasiku banyak kali?" keluhku dengan nada suara bercampur rengekkan. Berjalan menghampiri meja.
"Itu nasinya tidak banyak, Nak!" kata ayahku dari jauh yang sudah meninggalkan meja makan.
"Mmm!" Aku pun cemberut melihat piring yang terisi nasi yang sedikit banyak.
"Pilih saja yang mana mau mu, Nak!" jerit ayahku yang sudah di luar.
Aku dengan raut muka memelas berjalan dengan melenggang mengambil piring yang sudah ada nasinya.
"Kak, kita duduk di sini yuk! ajak adikku dengan nada suara manjanya dan raut muka yang imut.
"Iya," balasku singkat. Berjalan membawa piring dan gelas duduk di atas lantai yang telah di tunjuk oleh adikku.
Plak!
Aku dan adikku pun meletakkan piring dan gelas di atas lantai tepat di hadapan kami berdua. Rumah yang sepi yang menjadi teman kami kini menikmati masakan yang lezat yang sudah di sajikan oleh ayahku.
__ADS_1
Menikmati makanan di tengah keheningan siang berdua dengan adikku seorang semakin menjadikan suasana rumah ini sedikit terasa sunyi, sepi dan tak berpenghuni.
Suara teriakkan yang biasanya terdengar setelah kami pulang sekolah kini tidak lagi ada. Semua tenang dan tidak ada bunyi apapun mengisi langit-langit rumah ini.
Aku terus menatap ke arah pintu yang masih terbuka sedikit sambil menyuap nasi ke dalam mulut. Menatap nanar pintu dengan kunyahan nasi di dalam mulut.
"Kak, ayam gorengnya enak," ungkap adikku dengan nada suara yang seakan sedang mengigit ayam goreng. "Ayah memang baik. Dia membeli ayam goreng lagi untuk kita," lanjutnya dengan suara bercampur dengan kunyahan ayam goreng.
"Iya, Dik. Ayah 'kan sayang sama kita," balasku dengan senang. Melihat ayam goreng yang aku pegang.
"Kak, kalau ayamnya sudah habis, aku boleh ambil lagi, ya!" pinta adikku mengiba. Menggigit ayam goreng sampai habis.
"Ambil saja!" balasku acuh. Meneguk air minum yang ada di dekatku.
Glek ! Glek ! Glek !
Mukaku pun aku benamkan di dalam mulut gelas sambil melihat air yang perlahan masuk membasahi bibir dan tenggorokan yang kering.
Plak!
Gelas aku letakkan dengan sedikit kasar, di ikuti oleh kedua bola mata yang sayu ini melihat jendela yang terbuka. Tubuh mungil yang lemah ini pun terlihat membeku duduk di atas lantai yang tanpa alas .
"Kak, kalau Ibu gak ada rasanya enak," kata adikku.
Aku langsung memutar kepala melihat ke arahnya tepatnya di sebelah kiriku. "Kenapa?" tanyaku ingin tahu. Melihat adikku dengan penuh tanda tanya, di ikuti oleh sebelah tangan kanan menyuap nasi ke dalam mulut.
Adikku langsung menghentikan sebentar tangannya yang memegang nasi di dalam piring. "Gak ada yang marahi kita berdua," bisiknya pelan dengan cara diam-diam. Seakan dia berjaga dari ibu sambung kami yang mana tahu datang dengan tiba-tiba.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...