
Aku sangat bingung harus menjawab apa. Saat ini aku masih meremas jemariku. Berdiri seperti patung dengan pakaian terusan setengah lutut. Mendengar ocehan ibu sambung yang setiap hari mengisi rumah ini.
"Kau tidak pernah mau menjawab pertanyaan kalau kau benar-benar salah," terang ibu sambungku membenarkan. Memutar badan berdiri menatap dengan tajam.
Aku lagi-lagi hanya menunduk menerima kesalahan ini. Dia semakin hari semakin ringan menghardikku hingga aku terlihat seperti orang bodoh yang tidak pernah mendapat pengajaran apa pun.
Suara pekikan itu setiap saat menusuk hingga ke ubun -ubunku. Belum lagi Ayah yang selama ini terus saja membatasi diriku untuk bermain keluar. Ini semakin membuatku menjadi anak kecil yang terpuruk dan kehilangan keceriaan yang seharusnya di dapat dari seorang anak kecil. Namun, aku sama sekali tidak pernah mendapatkannya.
Hari-hariku habis di tuntut terus untuk menjadi anak kecil yang bertanggung jawab dan bisa menjadi contoh yang baik untuk adiknya.
"Liyan, kalau rumah ini sudah bersih. Jangan di kotorin lagi," tandasnya.
"Iya Bu," jawabku dengan pelan bercampur takut.
"Ayahmu sudah pulang?" tanya ibu sambungku.
"Belum Bu," jawabku.
"Kenapa ?" tanyanya.
Aku hanya diam saja tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang membuat aku sangat bingung.
"Ini pasti gara-gara Anak itu," kata ibu sambungku dengan gurat wajahnya yang masam bercampur kebencian.
Aku hanya berdiri tanpa beralih sedikit pun.
"Hari sudah mau malam. Tapi Ayahmu belum pulang," katanya semakin pias.
Aku hanya menunduk seperti orang yang malu dan menghitung jam di dalam hati.
"Ayahmu itu sudah tua. Jadi jangan di tuntut yang engga, engga," lanjut ibu sambungku dengan nada suara yang keras agar adikku mendengarnya.
Aku perlahan menaikkan kepala sedikit miring melihat ke arah pintu kamar kami yang tertutup. Sebagi isyarat kalau adikku sedang berdiri di situ saat ini mendengarkan yang dibilang ibu sambungku.
"Tapi kalian gak pernah mau tau. Selalu saja yang kalian inginkan harus hari itu juga di penuhi," sambungnya semakin mengaung di langit -langit rumah. "Kau juga Liyan, selalu sakit dan sakit. Engga pernah kau bisa menyenangkan sedikit pun. Kalau tidak adikmu yang menghabiskan uang pasti kau," tandasnya.
Aku langsung terhenyak berjalan mundur selangkah ke belakang. Kata-kata ibu sambungku bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Aku merasa aku terhimpit batu yang sangat keras. Air mata pun seketika menganak di pelupuk mata sehingga membuat kedua bola mata berkaca-kaca menahan genangan air mata yang ingin tercurah dengan deras.
"Kalian berdua itu betul-betul menyebalkan. Sampai aku tidak bisa membeli baju yang kuinginkan," serangnya. Melayangkan tatapan tajam ke arahku.
__ADS_1
Aku sangat terpukul dan takut. Sementara adikku tidak begitu khawatir. Dia tetap diam dengan tenaga di dalam kamar. Sesekali aku melihat ke arah tirai kamar namun, aku tidak melihatnya, apalagi melihat bayangannya sedikit pun. Ternyata, aku kembali sadar kalau adikku masih sangat membenciku sekali pun kami terlihat akur dan bermain.
"Liyan, kau jangan terlalu sering menangis. Engga akan ada orang yang iba dengan air matamu itu. Terutama aku!" pekiknya dengan sorot mata yang ingin menelanku.
Aku semakin menjerit di dalam hati memanggil ibuku. Selintas wajah ibuku terlintas di pelupuk mata yang berkaca-kaca. Wajah teduh dan penuh kasih sayang itu sekita hadir menjadi penenang diri ini.
"Ka... ." Ibu sambungku langsung terdiam dan menurunkan telunjuknya seketika.
"Assalamualaikum," kata ayahku. Melangkah masuk.
"Ayah," gumamku pelan. Memutar badan dan melihatnya.
"Ayaaaah," teriak adikku langsung. Berlari mengejar ayahku.
Sontak jenjang kaki yang kecil ini pun selangkah berhenti melihat ayah dan adikku yang sama sekali terlihat bahagia.
"Ayah, aku rindu Ayah," kata adikku dengan wajahnya yang manja.
"Iya, Nak. Ayah juga rindu," jawab ayahku. Menggendong adikku.
"Liyan," panggil ibu sambungku. Mendelik menatapku.
"Liyan," panggil ayahku. Melambaikan tangan sebagai isyarat memanggilku untuk mendekat.
"Ayah. Kenapa Ayah lama pulang ?" tanya adikku. Berdiri tegak lurus di depan ayahku sebagai isyarat kalau dia tidak menginginkan aku mendekati ayahku lagi.
"Ayah lagi cari uang, Nak," jawab ayahku.
"Untuk membeli sendal baruku, Yah?" tanya adikku langsung. Sok yakin.
"Ayah cari uang untuk kebutuhan kita semua, Nak," jawab ayahku. Melirik aku yang berdiri jauh dari mereka berdua.
"Liyan, kema... ." Ayahku kembali diam.
"Ayah , nanti kalau uangnya sudah banyak. Belikan aku sendal, ya Yah," pinta adikku dengan lembut bercampur manjanya memohon pada ayahku.
"Nak, do'akan saja. Biar Ayah dapat uang yang banyak," kata ayahku.
"Kau pasti mengabulkan permintaan Anakmu yang satu itu," sambung istrinya dengan kesal. "Tiada hari tanpa Anakmu itu," cetusnya.
__ADS_1
"Kau sudah makan Liyan?" tanya ayahku. Mengalihkan kekesalan istrinya.
"Belum, Yah," jawabku. Melihat sedikit tubuh ayahku yang di tutupi oleh tubuh kecil adikku.
"Ayah kami belum makan. Ayah gak menanya aku," kata adikku sedikit cemberut.
"Kalau Anak Ayah yang ini engga usah di tanya. Pasti belum makan kalau Ayah belum pulang. Apalagi kalau sudah merajuk, ya 'kan?!" ungkap ayahku dengan lembut menggoda adikku yang sedikit cemberut. "Tapi... Kakakmu juga harus di tanya sudah makan atau belum," lanjut ayahku. "... karena Kakakmu baru sembuh, Nak," tuturnya.
"Kalau begitu, aku juga mau sakit," ucap adikku sembarangan.
"Kau mau sakit seperti Kakakmu," kata ibu sambungku langsung terkejut. "Ada-ada saja ulah Anakmu," keluhnya dengan kesal.
"Namanya juga Anak-anak," sahut ayahku dengan lembut.
"Anak-anak, Anak -anak. Itu, itu saja yang kau bilang," timpal ibu sambung kami semakin memekakkan telinga.
"Ana, Kenapa Kakakmu dari tadi diam saja?" tanya ayahku terheran. Menatap adikku dan aku sesekali juga ayahku menatap ke arah belakangku tepat ke arah ibu sambungku yang sedang berdiri dari tadi.
Aku dan adikku pun bertemu pandang saling mengunci mulut ini dengan rapat. Adikku sesekali membuang pandangan melihat ke arah yang lain untuk melupakan yang terjadi tadi padaku.
Aku pun demikian berusaha menjadi anak yang harus bisa berakting dengan sebaik mungkin di hadapan ayahku untuk menutupi yang terjadi dengan ku tadi.
"Ayah, aku lapar," kataku. Menaikkan kepala menatap ayahku dengan lantang sebagai isyarat dari diriku sendiri untuk ayahku menutupi yang sebenarnya terjadi darinya.
"Hahaha ! Jadi, kau lapar Liyan. Makanya diam saja," kata ayahku dengan sumringah.
Adikku pun langsung. "Iya Ayah. Aku juga lapar," sambung adikku. Menaikkan kepala menatap ayahku yang lebih tinggi darinya.
"Baiklah. Kalau begitu kita makan," kata ayahku. Melirik jam dinding yang berputar.
"Sebentar lagi mau Azhan. Nanti sholatnya ketinggalan," terang ibu sambungku.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1