Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Gundukan plastik di dalam kamar


__ADS_3

"Tapi pasirnya sudah bersih 'kan, Kak?" tanya adikku. Meliriknya dari balik tirai. "Iya, udah bersih, Kak." Dia tersenyum bercampur senang berdiri karena telah berhasil membuat aku mendapatkan murka dari ibu sambungku. "...Kakak baik juga, udah mau menyapunya," katanya seakan berpura tidak tahu atas apa yang terjadi padaku.


"Ana, itu tidak baik. Tidak boleh berbuat kayak gitu," kataku dengan polos menasihatinya.


"Kakak tau apa?" tanya adikku. Menatapku dengan lekat.


Aku semakin tersudut melihat dan mendengar perbuatan adikku. Sungguh aneh memang, dia yang berbuat tidak baik malah aku yang merasa malu. Seakan itu aku lah yang melakukannya, aku yang mengajarinya. Aku semakin menjerit melihatnya. Jikalau, aku mengingat apa yang diucapkan ayahku terhadapku. Aku tidak berani untuk melawannya.


Aku semakin pilu bercampur sedih. Pasir yang teronggok di atas lantai memiriskan hati ketika sorot mata terlayang melihatnya. Buku yang terbuka dihadapanku semakin bertebaran lembar per lembar terbawa embusan angin dingin akibat hujan.


"...Kakak itu taunya cuma nangis," tandas adikku menatapku melayangkan sorot mata yang tajam. Mendekatkan ke arah bola mata yang terbuka. "Kakak itu yang jahat. Kakak sudah membuat Ayah tidak sayang samaku," katanya berteriak dengan sedikit menahan nada suaranya agar ibu sambungku tidak mendengar pertengkaran kami.


"... gara-gara Kakak, aku tidak pernah di tanya Ayah lagi. Ayah selalu menanya Kakak..., Kakak..., dan Kakak!" katanya dengan memekik kasar. "Sekarang cuma Kakak yang di perhatikan," katanya dengan menyerang.


Kata-kata serangannya itu menyelimuti tubuh mungil ini. Dia terus melempar buku yang aku pegang dengan kasar.


Puk!


Bukuku pun terlempar ke dinding kamar dengan keras.


"Liyaaan! Suara apa itu?" jerit ibu sambungku dari luar bertanya.


"Tidak ada suara apa-apa, Bu," jawabku langsung menyembunyikannya.


Aku semakin gemetar melihat adikku. Adikku yang lebih besar dariku membuatku seakan terpental. Aku refleks menggeser tubuh mungil ini mundur ke belakang dan turun dari tempat tidur mengambil buku yang terlempar ke dinding.


Perlahan aku menjatuhkan tubuh mungil ini mengambil buku bercampur sedih. Buku bacaan yang harusnya aku pelajari kini telah benyot. Halamannya telah terlepas beberapa lembar.


Tanganku begitu gemetaran mengambilnya dan melihatnya. Air mata ini tidak menyangka kalau adikku sekejam itu. Segugukan semakin lirih terdengar. Hatiku sedih sekali setelah bukuku dilemparkan ke dinding dengan lepas.


"Kenapa Kakak nangis?" tanya adikku. Berdiri di sampingku. "...Kak, bukunya benyot, ya?!" tanyanya berpura-pura seakan tidak mengetahuinya.


"Liyan, kenapa ada suara keras dari kamarmu?" tanya ibu sambungku kembali dari luar kamar.


"Aku tadi hampir jatuh, Bu," jawabku berbohong demi menutupi semuanya.


Inilah awal perseteruan aku dan adikku. Ayah yang menjadi orang tua kami satu-satunya menjadi rebutan demi kasih sayangnya. Adik yang selama masa kecilnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang berlebihan sekarang merasa terasing ketika itu menjauh darinya.

__ADS_1


Dia menganggap, bahwa kalau ayahku tidak lagi memerhatikannya. Ini semakin menjadi kecaman untuk ku. Aku tidak bisa membenci adikku, biar bagaimana pun dia jahat karena dia adalah adikku. Dia akan tetap menjadi adikku sampai kapan pun.


Sebagai seorang Kakak aku harus menjadi anak yang kuat. Anak yang terus berjalan di tengah ombak yang menerjang dan terus mengalah.


Ujian akan segera berakhir. Besok adalah ujian kami yang terakhir setelah hampir satu minggu kami menjalaninya. Waktu untuk belajar pun di sekolahan tidak akan lama lagi. Aku semakin dalam melihat adikku yang semakin hari semakin kejam dan jahat padaku.


Di dalam rumah dia menjadi sosok yang sangat menyeramkan dan menjadi dentuman peluru yang menyerang pendengar dengan pekikannya yang keras dan meninggi.


Aku semakin terhenyak ketika aku berdekatan dengannya. Bahkan di saat ingin menjalani ujian yang terkahir kali. Aku tidak mendapatkan ketenangan sedikit di dalam rumah untuk belajar.


Apalagi setelah kami berdua berada di dalam kamar. Kejahatannya semakin terlihat.


"Ini Kak, turunkan ke bawah," kata adikku dengan kasar menghardikku sambil melemparkan tasku ke lantai. "Ini tempat tidurnya bagianku," tuturnya kasar memberi pembatas dengan menaruh bantal guling di tengah.


Aku sontak terkejut dan menatap lirih tas yang terjatuh dari tempat tidur ke lantai.


"Ana, 'kan, kau bisa menaruhnya pelan," kataku dengan lembut.


"Tidak! Aku tidak mau! Itu 'kan bukan tasku. Salah siapa naruh tas di sini!" tandasnya dengan nada suara kasar dan meninggi sedikit ditahan.


Mendengarnya hatiku semakin terasa diremas. Aku tidak menyangka kalau adikku sangat membenciku. Rasa kebenciannya lebih besar terlihat dari pada ikatan darah.


"Ana, 'kan, kotak pensilnya jadi pecah," kataku melihat kotak pensil yang telah dikeluarkan dari dalam tas.


"Kenapa bilang samaku? Namanya kotak pensilnya udah jelek!" sahutnya keras.


" Liyan, kalian ribut di situ ?" tanya ibu sambungku dengan antusias ingin tahu kembali.


Segores bibir ingin berkata, tiba-tiba gugup dan bergetar mendengar suara ibu sambungku yang semakin antusias ingin tahu segalanya.


Aku yang serba salah dengan semua ini. Beberapa saat diam menutup mulut sambil berpikir mencari jawaban yang layak untuknya.


"Tidak, Bu. Kami hanya latihan main drama ," jawabku dengan nada suara datar seolah aku tidak mengalami apa-apa.


"Ooh!" sambutnya mempercayaiku.


Bayangannya pun segera beranjak meninggalkan kami.

__ADS_1


"Pensilnya patah, Ana," kataku berdiri menunjukan padanya.


Adikku yang meminggirkan gundukan pasir yang terikat di dalam plastik itu pun, melirik ke arah pensil yang kutunjukan.


"Namanya pensilnya udah lapuk," katanya dengan gamblang. Membuka plastik pasir yang teronggok di lantai.


"Ini masih kuat, kok," kataku dengan gurat wajah tidak rela atas penyampaian adikku.


Dia langsung kesal. "Jadi, Kakak mau membilang aku yang mematahkannya," katanya dengan meninggi.


"Bukan, Dik. Bukan begitu!" kataku menyela yang kusampaikan karena aku sangat ketakutan melihat wajahnya yang semakin pias.


"Itu tadi buktinya!" teriaknya dengan tinggi seakan dia merasa kalau aku menuduhnya. "... yang Kakak bilang barusan. Apa jadinya ?" tanyanya dengan menghardik.


Aku semakin terhempas kembali mendengar teriakan keras itu. Kedua telinga pun aku tutup rapat dengan kedua tangan. Aku mundur ke belakang dan bersandar di dinding menjauh darinya.


"Kakak jangan menuduhku sembarangan!" katanya memberi peringatan.


Dia yang berdiri di hadapanku. Mendorong pasir yang teronggok diatas lantai setelah terdengar olehnya suara kaki.


Bergegas dia mendorong plastik ke dalam tempat tidur dengan kakinya sebelah kanan. Pasir itu sekarang sudah hilang dari kasat mata.


"Liyan, kau sudah jadi, belajar, Nak?" tanya ayahku, tiba-tiba suaranya mengagetkan aku.


Sementara adikku terlihat biasa saja seakan dia sudah tahu kalau ayahku datang.


Gundukan plastik itu pun telah terjorok ke dalam kolong tempat tidur.


"Ini juga penggarisnya patah," kataku mengadu dengan lirih padanya. Penggaris yang sudah bertahun-tahun menemani aku belajar sekarang sudah terbelah dua.


"Masa di jatuhkan gitu saja, semuanya langsung patah," ucap adikku tidak percaya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2