
"Ayah, jangan pergi dulu," bujukku pada adikku.
"Kenapa Nak?" tanya ayahku sedih.
"Ayah karena kami barusan di tinggal Ibu," jawabku, melihat punggung ayahku. "Kami masih takut, Yah. Tinggal di sini berdua," cetusku.
Raut muka ayahku langsung berubah pilu setelah mendengar permintaan putrinya yang selalu menjadi penyemangat bagi hidupnya.
"Nak, kalau Ayah gak kerja makan kita apa?" tanya ayahku. Berjalan membawa makanan. "Kalau Ayah gak kerja. Nanti jajan kalian sekolah apa?" tanya ayahku kembali.
"Ayah, kamu gak akan jajan lagi kok," ucap adikku.
"Iya, Yah. Kami akan bermain saja. Meski kami gak ada uang jajan," sambungku, Berdiri melihat ayahku yang sibuk dengan pekerjaannya.
Sorot mata ayahku langsung terlayang pilu menatap aku dan adikku. Wajah menuanya yang senja seakan terlihat seperti ingin menangis.
"Nak, mana mungkin kalian bermain dan tidak jajan," kata ayahku, menyusun makanan. "Nak, makanlah dulu!" pintanya, meletakkan piring dan gelas.
"Kak, Ayah pasti sedih melihat kita?!" ucap adikku, menatap nanar ayahku.
Seketika wajah sedihku langsung tertoreh melihat ayahku yang mengurus kami seorang diri saat ini. Ayahku begitu sibuk terlihat. Dia seakan bingung harus mengerjakan yang mana. Pikirannya terlihat kacau dan kusut. Wajah menuanya pun kini telah tertekuk kulihat.
"Nak, kemarilah! Kita makan dulu. Baru nanti kalian mandi," usul ayahku. Duduk menghadapi hidangan yang telah tersedia.
"Kak, tapi aku tidak lapar," bisik adikku pelan.
"Ana, kau jangan tidak makan. Nanti Ayah semakin sedih," ucapku memohon pada adikku.
"Liyan, apa sakitmu masih parah, Nak?" tanya ayahku.
Tungkai yang melangkah pun perlahan berjalan dengan pelan. "Gak, Yah," jawabku langsung, melihat muka ayahku yang banyak pikiran.
"Nak, kalau masih sakit. Bilang saja. Jangan ditutupi. Nanti Ayah makin sedih, Nak!" kata ayahku.
Aku semakin dilema setelah mendengarnya. Perlahan tungkai kaki ini aku seret sekuat mungkin sambil menarik lengan adikku yang manja.
"Ana, kita makan di sini, ya!" bujukku pada adikku yang susah gampang untuk diatur.
"Iya Kak," sahut adikku melunak.
Tubuh mungil yang lemah pun aku jatuhkan di atas lantai. Segenap rasa yang berkecamuk menahan air mata yang ingin menetes.
"Nak, makan yang banyak, ya!" pinta ayahku mengiba, menaruh nasi di dalam piring kami. "Kalau kurang bilang sama Ayah. Biar Ayah ambilkan lagi, ya!" katanya dengan lembut.
"Iya, Ayah," jawab adikku.
__ADS_1
Ayahku rasanya begitu sedih melihat keadaan kami berdua. Nasi yang dia telan pun tidak dinikmatinya dengan hati yang senang.
"Ayah, kenapa Ayah diam saja?" tanyaku terheran.
Seketika ayahku langsung menaikkan tatapan. Raut mukanya pun dia netralkan langsung demi menjaga kami. Agar aku dan adikku tidak ikut larut dalam kesedihannya.
"Nak, Ayah makannya 'kan dari dulu kayak gini," balas ayahku.
"Yah, makan itu gak boleh lama-lama," tegur adikku. Sok tau.
"Kenapa gak boleh lama-lama?" tanyaku, melirik adikku terheran.
"Katanya kayak gitu, Kak," jawab adikku.
"Kata siapa?" tanyaku.
Raut muka adikku langsung memerah malu seperti kepiting rebus. Nasi yang dia masukkan ke dalam mulut pun terlihat begitu malu-malu.
"Anak Ayah yang satu ini memang selalu banyak tau," sambut ayahku sambil mengulum nasi di dalam mulut. "Kalau Ayah makannya lama emangnya, kenapa sih Nak?" tanyanya.
Aku dan adikku langsung bersitatap sambil menikmati nasi yang ada dihadapan kami sesuap demi sesuap.
"Ayah, 'kan kalau kita cepat makan. Kita cepat bermain," singgung adikku, menunduk malu.
Nasiku pun langsung terhenti mengayun setengah di udara. Kedua mulut menganga, di ikuti oleh mata ini melebar.
Sontak adikku melihat ke arahku dan menaikkan kepala. Nasi yang kukunyah kini tertahan melihat adikku yang terkejut.
"Kenapa Ayah ?" tanya adikku keberatan.
"Iya, Nak. Karena Ayah tidak bisa setiap saat melihat kalian," sesal ayahku mendalam.
"Tapi Ayah, kami gak akan bermain jauh-jauh kok," sahut adikku.
"Ayah tau Nak. Tapi teman kalian itu kalau bermain tidak tahu jalan pulang," ucap ayahku.
Sorot mata ayahku sangat sedih melihat kami berdua. Rasanya ayahku begitu berat ingin meninggalkan kami. Namun, ayahku tidak punya pilihan lain. Dengan berat hati dia harus ikhlas meninggalkan kami berdua di dalam rumah.
"Ayah, kalau Ayah pergi menarik becak. Kami di sini pasti kesepian," kataku, melihat piring yang telah kosong.
Kedua sudut mata ayahku langsung berubah sedih. Ayahku menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Raut muka sedihnya seketika menyelimuti tubuhnya yang sudah lelah.
"Nak, Ayah tidak akan pulang lama, kok," kata ayahku. Duduk manis menemani kami menghabiskan makanan.
Aku sejenak diam sambil memegang gelas yang kosong. "Ayah, kalau Ayah pulangnya lama, kayak mana?" tanyaku ingin tahu.
__ADS_1
"Iya, Ayah," sambung adikku sendu.
"Nak, kalau Ayah tidak ada di rumah. Pintunya dikunci saja, ya!" pinta ayahku memohon.
"Di kunci, Yah," jawabku, melayangkan tatapan melihat pintu.
"Iya, Nak. Kalau ada orang yang memanggil. Jangan dibuka!" saran ayahku, menatap kami dengan bersedih.
"Ayah, berarti Ayah hari ini gak kerja 'kan?" tanya adikku sekali lagi.
Ayahku terdiam sebentar melihat kami yang malang. Duduk berkepanjangan di atas bangkunya.
"Ingat Nak! Jangan buat Ayah sedih, ya! Kalau Ayah bilang tidak boleh keluar. Ya, tidak boleh ya, Nak!" bujuk ayahku lemah lembut.
Sedikit banyak aku sudah mengerti apa yang dirasakan oleh ayahku. Tidak banyak kata yang bisa kuutarakan saat ini, selain melihat ayah dan adikku.
"Ayah, kami gak akan lasak kok," kataku, melihat ayahku yang sibuk membersihkan meja.
"Baguslah Nak! Kalau memang kayak gitu. Jadi, Ayah tenang kalau nanti Ayah pergi kerja!" ungkap ayahku senang.
Adikku pun sudah kenyang dan tidak lagi terdengar sahutan dari mulutnya sedikit demi sedikit.
"Jadi, apa Ayah hari ini kerja?" tanyaku yang sedih, melihat ayahku yang kembali berjuang seorang diri demi membesarkan kami.
Ayahku langsung menghentikan tangannya yang mengilap meja. "Iya Nak! Rencana Ayah, hari ini Ayah akan kerja," terangnya, menoleh ke arahku. "Tapi, karena permintaan kedua Anak Ayah ini! Jadi, Ayah memutuskan tidak bekerja hari ini, bagaimana? Apa Anaknya Ayah senang?" tanya ayahku sumringah.
"Horeee! Akhirnya, Ayah gak kerja, Kak," teriak adikku kegirangan.
Melihat adikku, aku langsung memutar kepala menyusun piring kotor serta bekas makan yang lain.
"Ayah, aku senang sekali," ungkap adikku.
"Karena Ayah sudah mau menemani kami bermain di rumah," sambungku, meletakkan piring kotor.
"Ayah juga senang. Hari ini Ayah melihat tingkah kalian yang lucu dan sering bertengkar itu," cetus ayahku. Duduk melihat adikku yang sendiri menikmati minumannya.
Dari dapur aku sangat bahagia, meski besok aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ayah, tapi Ayah janji, ya! Ayah gak akan ninggalin kami," kataku.
Segaris senyum bercampur sedih terlihat tertoreh di wajah ayahku yang senja. "Nak, Ayah gak mungkin ninggalin kalian," terangnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...