Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kekesalan akan kebohongan


__ADS_3

"Maaf mu sudah terlambat. Ayah sudah terlanjur tahu." Aku menatap dinding kamar yang terdengar suara ayahku.


Kedua bola mataku menatap dinding kamar yang menjadi penghalang antara aku dan ayahku. Muka yang berpasrah kini bersandar di udara kosong yang bisu. Aku tak pernah membayangkan jika ayahku mengetahuinya suatu hari nanti. Bola kasti yang sepenuhnya tidak bersalah kini di perdebatkan oleh ayah dan ibu sambungku yang telah beraninya mengenai tubuh mungilku.


Berisik dari suara ayahku pun terdengar jelas menyalahkan diriku. " Liyan, kau tahu 'kan, Nak! Ayah paling tidak suka di bohongi," pekik ayahku dari balik dinding. "Sekarang kau malah berani berbohong pada Ayah. Kalau saja Ayah tidak mendengar pembicaraan kau dan Adikmu. Mungkin rahasia ini tidak akan pernah Ayah ketahui," cecar ayahku semakin meninggi. "Kau ini... !" Ayahku sepertinya semakin kesal. "... sekarang keluar dari kamarmu," bentak ayahku berdiri di depan pintu kamar kami.


Seperti yang aku ketahui bahwa ayahku sangat membenci kebohongan, apalagi mengenai kedua putrinya. "Kau berani melindungi temanmu yang bersalah itu, ha?" Nada suara ayahku semakin keras. "Ayah saja tidak pernah melukai kalian, apalagi sampai melempar bola kasti ke tubuhmu!" rancau ayahku.


Kamar yang biasanya menjadi penenang bagiku dan adikku kini semakin mencekam. Pekikan dan bentakan dari ayahku yang keras dan meninggi seakan merobohkan dinding kamar kami. Ayahku tidak bisa diajak untuk berdamai saat ini. Aku tahu kalau ayahku sangat sensitif ketika mendengar kabar yang buruk mengenai putrinya di luar.


Aku sekarang hanya bisa berdiri tegak membeku. Bibirku yang masih terlihat pucat kini tertutup rapat membeku seribu bahasa. Jemariku semakin gemetar dan terasa dingin. Perasaan ini semakin berkecamuk dan menjerit di dalam hati mengadu pada ibuku yang telah tiada meminta pertolongan.


"Sekarang aku pasti di marahi," gumamku dengan kedua bibirku yang pucat gemetar.


Ketakutan atas kemarahan ayahku semakin menyelimutiku. Tidak ada yang bisa membelaku, bahkan melindungiku dari emosi ayahku . Ibuku sudah tiada sekarang yang tersisa hanyalah keberanianku.


Dengan sendu kutatap langit- langit rumah kami dan mengadukannya pada Allah Sang Maha Pencipta. Hanya dialah kini tempat bersandar dan tempatku mengadu. Tidak ada yang bisa menolongku saat ini.


Tamat sudah kepintaranku untuk menyembunyikannya dari ayahku. Aku tak pernah beristirahat semenjak beberapa hari ini dari celaan Tania dan Ecy. Kini itu belum usai, aku di hadapkan lagi dengan ayahku.


Adikku yang tadi memancing kelengahanku bertanya mengenai kejadian lemparan bola kasti itu seakan terlempar ke sudut setelah mendengar pekikan ayahku yang keras.


Wajahnya terlihat membeku, seperti tidak ada kehidupan. Dia pun semakin mencari celah untuk bisa menghindar dari kejadian ini. Aku pun semakin panik tidak ada lagi suara yang bisa aku buka untuk membela diriku sendiri. Aku sebisa mungkin mencari cara untuk menghindari suara keras ayahku. Aku naik ke tempat tidur mengambil selimut dan menutupi kedua telingaku dengan kuat. Aku yang tidak bisa mendengar teriakan keras semakin frustrasi.


"Liyan, kenapa diam saja?" tanya ayahku kembali memenuhi ruangan.


"Kak, kenapa Ayah semarah itu?" tanya adikku yang berdiri di sudut dinding. "Aku menyesal, Kak. Telah menanyakan itu pada Kakak," rintih adikku yang seakan menenangkan dirinya sendiri.


"Ana, kau tidak salah, Dik," kataku pelan. "Tapi Kakak sedikit kecewa." Aku menatap adikku. "Seandainya, kau tidak menanyakan itu. Ayah tidak akan semarah ini!" Aku menunduk meratapi yang telah terjadi.


"Kak, lagipula. Ayah selalu mengawasi kita," cetus adikku.


"Iya, kau benar. Ayah tidak pernah tidak mengetahui apa yang terjadi pada kita di luar," ucapku melihat ke tirai kamarku.


"Tapi, kenapa Ayah diam, Kak ?" tanya adikku.


"Iya ya, Dik." Aku pun turun dari tempat tidur dan berjalan perlahan mencari tahu. Tidak begitu lama aku pun berdiri tepat di dekat tirai. Tiba-tiba aku mendengar suara orang yang berbicara dengan pelan. Dengan jelas aku mendengarnya. "Kau tidak boleh berteriak sekeras itu pada Anakmu," katanya menasihati. "Kau itu Ayah dari kedua putrimu. Kau 'kan tahu, kalau Anakmu si Liyan itu tidak bisa mendengar teriakkan yang keras," tandasnya.


Aku pun dengan penasaran ingin tahu yang berbicara itu siapa. Pelan-pelan aku menarik sedikit tirai kamarku dan mengeluarkan kepala sedikit melihat orang yang berbicara itu.


"Ayah dan Ibu," gumamku pelan.


"Siapa Kak ?" tanya adikku. Berdiri tiba-tiba di belakangku.


"Ssssttttt ! Jangan berisik. Nanti Ayah melihat kita," kataku sambil memutar kepala sedikit kebelakang melihat adikku. "Itu Ayah dan Ibu," ungkapku.


"Mmm, Ayah." Adikku langsung memutar badan membelakangiku.


"Aku itu kesal. Dia itu masih kecil sudah bisa menyimpan rahasia. Berbohong pula lagi," cetus ayahku.


"Iya, aku tahu. Tapi ' kan, kau tidak bisa langsung memarahinya dengan suara seperti itu," tegur ibu sambungku berdiri tegak di hadapan ayahku. "Dia itu belum sembuh total." Ibu sambungku masih berdiri mengingatkan ayahku.


Ayahku pun terdiam merasa bersalah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibu sambung kami. Dia pun kembali berjalan duduk di bangku untuk menenangkan amarahnya. Aku pun langsung menutup tirai kamar dengan bergegas. "Sssttt!" Aku kembali menyuruh adikku menutup mulutnya.


"Ayah sudah duduk di situ," bisikku pelan menunjuk bangku .


"Jadi, Ibu kesayangan Kakak itu dimana ?" tanya adikku penasaran.


"Entahlah." Aku menaikkan kedua bahuku.


Aku kembali berjalan ke tempat tidur yang sering kami gunakan juga untuk duduk ketika kami di kamar belajar dan bermain. "Dik!" Perlahan aku menaiki tempat tidur dan duduk.


"Iya Kak," sahut adikku yang mengikutiku duduk juga.


"Kenapa Ayah selalu tahu apa yang terjadi pada kita diluar?" tanyaku sambil menatap kosong lurus kelantai.


"Aku juga tidak tahu Kak," jawab adikku singkat. "Kakak tahu tidak? Pas aku lagi tidak masuk sekolah dulu." Adikku mengingat-ingat. "Ayah, kok bisa tahu," tuturnya.

__ADS_1


"Itu karena Ayah mencarimu ke sekolahan," ungkapku.


"Iya sih," sambut adikku memelas. "Ayah selalu mencari tahu tentang kita di luar, Kak." Adikku seperti terkekang. "Seperti itulah contohnya, Kak." Adikku melirikku.


Aku dan adikku pun sama -sama terdiam. Tatapanku yang tadi kosong melihat lurus ke depan perlahan berjalan melihat selimut yang terletak yang tadi aku gunakan untuk menutupi diriku dari suara ayahku yang keras.


Sejenak hatiku tenang karena tidak mendengar suara ayahku lagi. Namun, tiba-tiba ketenangan itu terusik kembali setelah ayahku memanggilku kembali.


"Liyaaaan!" teriak ayahku.


Aku yang tadi terbuai, langsung terperanjat dan memutar pandangan ke arah adikku. "Ayah!" kataku pada adikku.


Adikku kembali panik. Dia pun terlihat kebingungan. "Kak, Ayah pasti mau memarahi Kakak lagi?!" ucap adikku menebak.


Sorot mataku pun seakan membenarkan yang dikatakan oleh adikku. Tangan kecilku kembali dingin dan tubuh mungilku yang lemah pun kembali gemetar. Tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk menghindari ayahku. Kekesalannya semakin lama semakin menyeruak.


"Liyan!!! Jangan coba-coba berkurung di kamar!" jerit ayahku. "Sekarang kalian berdua keluar!" pinta ayahku berharap aku dan adikku segera keluar.


"Aku takut Kak." Adikku semakin menjauh.


"Dik, Kakak juga takut. Tapi kalau kita tidak keluar. Nanti Ayah semakin marah," ucapku pada adikku. "Kau mau tidak di kasih Ayah uang jajan." Aku melihat adikku yang duduk menjauh di sampingku.


"Engga." Adikku menggeleng.


"Liyan, Ana. Ayo keluar," desak ibu sambungku dari balik dinding. "Jangan bersembunyi di dalam kamarmu." Ibu sambungku terus saja mendesak hingga aku jengah mendengarnya.


"Wanita itu Kak. Terus saja menyuruh untuk keluar," gerutu adikku dengan wajah masam.


"Sssttt! Ana tidak boleh bicara seperti itu! Itu orang tua. Ayah tidak pernah mengajarkan berkata seperti itu pada kita." Aku menatap adikku dengan pias.


"Kakaaak!" teriak adikku marah. Wajahnya begitu merah menatapku dan sorot mata yang melebar memenuhi wajahnya. "Aku tahu... ." Adikku diam karena perhatianku teralihkan oleh teriakan ayahku yang memanggil terdengar keras dari luar.


"Liyaan!" Ayahku berteriak kembali. Jelaskan sekarang sama Ayah. Kenapa kau sampai di lempar bola kasti sama temanmu itu?" pekik ayahku bertanya dari luar.


"Sudah, biarkan dulu Liyan istirahat sebentar. Dia 'kan baru pulang sekolah," kata ibu sambungku mendinginkan hati ayahku.


"Ana, kau tidak boleh seperti itu! Ibu itu adalah Ibu kita juga," tandasku menasihati adikku. "Kakak harap. Jangan sampai Ayah mendengarnya," lanjutku melihat adikku sambil melangkah keluar dari kamar dengan keberanian penuh.


"Ayah sama Kakak sama saja! Kalian selalu membelanya," sungut adikku dengan penuh kebencian.


"Ana !" Aku kembali terhenti dan melihat ke arah adikku sambil melepaskan tirai yang kupegang. "Tolong hentikan, Dik! Jangan lanjutkan. Kakak takut kalau Ayah mendengarnya kita berdua akan dihukum," pintaku dengan memohon.


"Liyan, ngapain kalian berdua di dalam kamar ini! Dari tadi Ayahmu berteriak. Kalian tidak mendengarnya!" Ibu sambungku tiba-tiba membuka tirai kamar kami.


"Ja... ." Sontak aku langsung terkejut dan diam menutup bibirku dengan rapat.


"I- iya Bu," kataku dengan gugup dan melihat ujung kakinya yang berdiri.


"Ayo keluar sekarang !" Ibu sambungku membuka tirai dengan lebar dan berdiri diam menunggu kami berjalan keluar sambil menatapku dan adikku dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Ini semua gara- garamu," bisik ibu sambungku dengan tajam di telingaku sambil aku berjalan.


Aku pun berjalan bersama adikku sambil meliriknya. Sorot matanya yang mengikuti jalanku begitu terlihat tajam dengan gurat wajah yang sinis. Kebencian pun kini tertoreh di wajah separuh bayanya.


Semakin keluar dari kamar aku semakin terasa disiram oleh air es yang tercurah tertumpah habis dari atas.


"Liyan!" Ayahku menatapku.


"I- iya Ayah," jawabku menunduk beku seperti patung.


"Ana kau juga!" Ayahku pun menyebut adikku dengan mendongkol. "Ayah sengaja membuatmu satu sekolahan dengan Kakakmu. Supaya kau bisa menjaga Kakakmu!" kata ayahku menerangkan. Sorot mata ayahku rasanya tidak bisa di tatap saat ini. Aku yang berdiri seperti, patung melihatnya dan sesekali melirik adikku yang ikut mematung seperti aku.


"Kenapa kau tidak tahu? Kalau Kakak punya teman yang tidak suka dengannya," serang ayahku.


"Ayah... . Ayah 'kan tahu. Kalau aku dan Kakak tidak satu kelas," jawab adikku pelan.


"Tapi 'kan kalian satu sekolahan?! Mana mungkin kau tidak mengetahuinya," cibir ayahku kembali.

__ADS_1


"Ayah, jangan marahi Ana," ucapku. "Ana memang benar, Ayah. Kami tidak satu kelas. Lagi pula kelas Ana dengan kelasku cukup jauh, Yah," kataku dengan nada suara getir.


"Sejauh apapun. Kalian tetap bertemu di sekolahan," sambung ayahku tidak mau tahu.


Aku yang berdiri melirik adikku yang tidak terima disalahkan oleh ayahku semakin cemas. Gurat wajahnya kini penuh dengan kebencian karena terseret oleh kasusku. "Ayah mana mungkin aku selalu menjaga, Kakak," ujar adikku. "Aku 'kan masih kecil. Seharusnya Kakak yang menjagaku, bukan aku yang menjaga, Kakak," timpal adikku tidak suka.


"Jadi, karena kau yang paling kecil. Kau tidak punya tanggung jawab menjaga Kakakmu, ha?" Ibu sambungku menyahut dari belakang.


Adikku langsung terdiam dan sangat benci mendengarnya. Aku yang meliriknya pun semakin panik. "Ya, iya lah," sahut adikku melawan.


"Ana!!! Ayah tidak pernah mengajarimu berkata seperti itu," hardik ayahku. "Jangan coba-coba melawan! Kau itu masih kecil." Ayahku dengan jengah mengatakannya. "Ayah jadi, menyesal telah memanjakanmu," kata ayahku sambil membuang napas dengan kasar.


Jemari adikku semakin kuat diremasnya. Aku sedikit menaikkan kepala berharap kalau adikku mau mengalah. Perlahan aku bergeser mendekati adikku. "Ana... ."


"Liyan!!! Ayahku memanggilku.


"I-iya Ayah." Aku langsung mengalihkan pandangan dari adikku dan melihat ayahku. Dimana rumah temanmu itu?" tanya ayahku.


Deg!


Glek!


Jantungku rasanya mau lepas seraya aku seketika terhenyak dan napasku pun ingin berhenti. Aku pun menelan ludah sambil melirik adikku dengan nanar.


"Di-di sana, Ayah," jawabku terbata.


"Di sana mana? Kasih tahu yang jelas," kata ayahku mendesak.


"Aku kurang tahu, Ayah," jawabku.


"Teman sekelasmu! Kau tidak tahu rumahnya ?!" kata ibu sambungku bertanya dengan penuh penekanan.


"Mmm!" Aku mengangguk sambil menatap ke bawah.


"Luar biasa kau! Semua kau di tanya tidak tahu, huh!" Ibu sambungku mendengus kesal.


"Ayahku pun langsung menarik napas panjang melihatku yang masih ingin menutupinya. "Kau memang Anak yang baik," ucap ayahku. "Sudah diperlakukan seperti itu oleh temanmu. Kau masih saja melindunginya." Ayahku menatapku dengan gurat wajah menyimpan sejuta rahasia. "Dan kau Ana. Mulai sekarang kau Ayah beri tanggung jawab jaga Kakakmu di sekolahan," pinta ayahku dengan penuh penekanan.


Adikku sontak mengangkat kepala sambil terkejut mendengar permintaan ayahku. "Menjaga Kakak ?!" gumam adikku bertanya dengan keheranan. Melirikku.


Setelah mendengar permintaan ayahku. Aku semakin tercengang melirik adikku. Kami berdua yang bertemu pandang pun semakin tidak mengerti. "Ayah, bagaimana caranya untuk menjaga, Kakak?" tanya adikku.


"Masa tidak tahu!" kata ibu sambungku. "Ana, kau harus memperhatikan, Kakakmu," cetus ayahku.


"Tidak, Yah! Ana tidak bisa menjaga, Kakak," tolak adikku menundukkan kepalanya langsung.


Semakin lama rasanya semakin sulit untuk mengelabui ayahku. Ayahku begitu jeli dalam menjaga anak-anaknya. Dia tidak pernah lengah sedikit pun dalam memperhatikan kami. Jadi, aku harus semakin pandai dalam melangkah dan bergerak.


"Jangan bawa lupa, Liyan!" Ayahku menuntutku kembali. "Beritahu Ayah kalau dia menyakitimu lagi," tukas ayahku beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya ibu sambungku yang masih berdiri.


"Aku mau tidur! Aku lelah di buat kedua putriku." Ayahku melemparkan pandangannya lurus ke depan pintu kamar.


"Ayah bisa engga, permintaan Ayah tadi di batalkan," keluh adikku melihat ayahku pergi.


.


.


.


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya !🙏


__ADS_1


__ADS_2