Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Berdalih


__ADS_3

"Aku juga gak mau," tolak adikku menggeleng. "Aku gak suka ke situ lagi," papar adikku kesal.


"Kak, kenapa Kakak menyenggolnya?" tanya adikku berputus asa. Menatap meja penuh sesal.


"Ana, Kakak gak sadar kalau meja ada di situ," sesalku, menatap kaki meja yang rusak sebelah. "Kalau Ayah pulang, bagaimana, Dik?" tanyaku meminta bantuan adikku.


Meja yang sudah lama menjadi tempat bersandar ayahku ketika melepas lelah, menikmati makanan dan meneguk air minum juga meletakkan makanan yang sudah siap saji sekarang sudah ringsek.


Adikku spontan menatapku dengan sendu. "Kak, kita menyerah saja sama Ayah," sarannya dengan resah.


Seketika mataku membelalak terkejut. "Bilang sama Ayah?" tanyaku, memutar badan membelakangi adikku memutar otak. Keningku semakin berkerut kencang memikirkan saran adikku yang nyeleneh.


"Iya, Kak," kata adikku langsung berjalan berdiri dihadapanku.


Wajah ayahku langsung menari-nari dihadapanku yang membuat tubuh mungil langsung lesu.


"Ana, kalau Ayah kita kasih tau. Kita bisa dihukum di rumah kerabat Ayah," kataku penuh sesal.


"Kalau kita bohong Ayah pasti marah?!" singgung adikku yang menunduk lemas. "Aku gak berani lagi melihat Ayah kalau udah merah. Seram Kak!" jerit adikku cemas.


"Seram kenapa? 'Kan Ayah udah sering kita lihat marah?" tanyaku terheran sambil melirik kaki meja yang patah.


"Kali ini Ayah bawa-bawa kerabatnya, Kak," jawab adikku dengan nada suaranya yang manja bercampur panik.


Tubuh seperti depresi ketika telinga ini mendengar tebakan adikku mengenai ayahku yang keluar dengan entengnya.


"Ana, itu yang Kakak takutkan. Karena Ayah suka menitipkan kita dimana maunya," balasku pelan pasrah.


Sudut mataku yang terus menatap kaki meja menjadi risau membayangkan ayahku ketika dia melihat itu. Shock dan terkejut itu sudah pasti. Tapi yang membuat aku lebih ketakutan adalah rumah kerabatnya.


"Kalau saja kita bisa membetulinya. Kita pasti selamat," kataku pelan di depan adikku. Berdiri gemetar memikirkan ayahku yang pulang nanti melihat mejanya.


"Kak, coba kita perbaiki," usul adikku lantang. Berjalan menghampiri meja.


"Kita perbaiki?" kataku bertanya meragukan diri sendiri. Berjalan mengikuti adikku yang sudah lebih dulu melihat kaki meja.


"Kita gak bakalan bisa," ucapku yang sudah berputus asa.

__ADS_1


"Gak bisa kenapa, Kak?" tanya adikku yang membungkukkan badan sambil memutar kepala menoleh ke arahku.


"Memperbaiki kakinya. Kita 'kan masih kecil," jawabku sadar diri. Mengikuti adikku yang sibuk memegang kaki meja.


Ini malah akan menjadi masalah besar yang tidak bisa terbayangkan. Itu terus saja berputar menari -nari di depanku. Ayahku langsung terpampang jelas dengan gurat wajahnya yang memerah, seperti apa itu di hadapanku.


Plak!


Kaki meja yang kupegang pun kuhempaskan seketika di lantai. "Kita gak akan bisa, Dik!" sesalku berputus asa. "Karena kita gak pandai. Lagi pula ini mau kayak mana?" tanyaku stres menatap kaki meja yang patah menjadi dua.


Ketika melihatnya kembali aku dan adikku sama-sama termenung meratapi meja yang tidak berguna lagi.


"Kak, apa alasan kita untuk Ayah?" tanya adikku yang sudah habis akal.


"Entahlah, Kakak gak tau," jawabku yang sudah berputus asa.


Kami berdua pun duduk cukup lama memandangi kaki meja yang patah menjadi dua. Hening dan menutup mulut itu yang tergambar pada kami sekarang.


"Sebentar lagi Ayah akan pulang. Ini 'kan hari jumat," celotehku yang ceroboh.


"Lalu bagaimana, Kak?" tanya adikku yang sudah pasrah. "Apa mejanya kita sembunyikan saja?" tanyanya lagi mengeluarkan ide baru.


Cemas bercampur khawatir semakin memeras otak untuk mencari tempat berlindung menghindari ayahku. Duduk bertekuk lutut di depan meja yang patah membuatku semakin sedih bercampur sesal.


"Ana, kalau Ayah menitipkan kita di rumah kerabatnya. Kita terpaksa harus mau," kataku berpasrah menghadapi tantangan akibat dari meja yang patah.


"Kak, 'kan Kakak yang matah 'kan. Bukan aku. Jadi, aku gak mau," dalih adikku menolaknya.


Glek!


Aku langsung menelan ludah sesal. Kedua bola mata melebar mendengarnya. " 'Kan kau yang mengajak Kakak untuk melihat kupu-kupu!" serangku tidak senang.


"Engga! Aku gak ada ngajak Kakak. Kakak aja yang mau ikut. Aku 'kan cuma bilang ada kupu-kupu," sela adikku enteng. Melihatku dengan ke tenangan yang santai.


Deg!


Aku semakin terpojok dan terhimpit masalah lagi. Seraya hati ini menggerutu kesal melihat adikku yang tenang dan tidak mau menolong. Sudah kebiasaan adikku, seperti itu pandai dalam mengelak.

__ADS_1


"Tapi, 'kan kita berdua lari," bantahku tidak senang. "Yang menyenggol meja juga kita berdua," cetusku sebal, menatap adikku yang di dekatku.


"Tapi 'kan aku gak nyenggol yang di situ," tuntut adikku tidak senang. Memutar duduk menjauh. Terlihat tenang dia pun bangun dan beranjak berdiri mengintip dari balik pintu.


Aku dengan sebal mengikuti gerak langkah kaki adikku yang berjalan tanpa beban sedikit pun. Lirikan mata terus menatapnya meski dari ekor mata dengan cara diam-diam.


"Tapi 'kan tetap saja kita berdua yang menyenggolnya," paparku tidak senang di salahkan seorang diri.


Adikku yang berdiri mengintip itu sama sekali tidak begitu panik bahkan rasa bersalah pun tidak ada terlihat. Bagaimana mungkin aku bisa menuntut adikku untuk mengakui kalau dia juga salah, pikirku. Sementara dia sama sekali tidak merasa kalau dia berbuat salah.


"Tapi, 'kan kau udah janji gak akan jahat lagi," singgungku yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku yang tersudut seorang diri kini menelan sendiri kesalahan yang tidak di sengaja.


"Itu 'kan lain, Kak," balas adikku langsung.


Aku terkejut, sepertinya aku sedang mendengar sambaran petir yang kuat menghantam diri yang sudah tidak berdaya.


Menelan sendiri kesalahan adalah hal yang paling membuatku kusut.


"Kakak aja kadang gak mau membelaku, kalau aku dihukum Ayah gara-gara main-main," sambung adikku balas dendam.


Lidahku semakin kaku. Tercengang mendengar penuturan adikku yang keluar tanpa terpikir olehku sedikit pun. Terdiam seribu bahasa duduk sambil mengingat yang diucapkan oleh adikku.


"Ayah 'kan menuntut Kakak, supaya Kakak gak bohong," paparku menjelaskan.


"Bohong? Bohong apa?" tanya adikku bingung. Berdiri di depan pintu yang telah dia kunci kembali.


"Kalau kau bermain," jawabku lugas. "Kata ayah, kalau kau bermain, Kakak harus bilang. Gak boleh bohong," lanjutku menjelaskan dengan setengah hati yang tidak tega. Menaikkan kepala sedikit menatap adikku yang tercengang mendengarnya. "Kalau Kakak bohong, kau dan Kakak pasti akan dihukum?!" terangku, menatap adikku yang mematung kembali.


Aku dan adikku sama-sama merasa menyimpan rasa kecewa dalam diri masing-masing. Ayah adalah perioritas utama kami yang harus kami sayangi melebihi diri kami sendiri.


"Jadi, Kakak gak bisa bohong," ucapku kembali mengulanginya kepada adikku.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2