Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Malam Hari


__ADS_3

Setelah aku selesai mandi.Membersihkan tubuh kecilku karena lelah seharian mencari adikku yang bermain.Begitu, juga dengan Ibu sambungku yang tiba-tiba menghilang dari rumah. Ntah, kemana perginya. Sewaktu aku sampai dirumah bersama adikku.


Aku yang berdiri di depan pintu mengurungkan niatku untuk melakukan kewajiban ku. Yang dimana setiap sore rutinitas ku tidak lain ialah mandi dan menunggu Ayahku pulang. Untuk mengaji,sambil menjaga adikku sampai Ayahku pulang.


Tidak berapa lama setelah aku kembali kerumah dan melihat Ibu sambung kami.


.


.


.


Malam hari telah tiba aku harus bersiap -siap untuk mengaji.Menjalankan Aktifitas rutinku bersama ayahku selepas ayahku sholat Maghrib yaitu,mengaji!


Sementara, adikku yang kulihat duduk bersantai dengan memegangi pakaian sekolahnya dan buku-buku tulisnya yang terletak diatas meja yang barusan dibeli oleh ayahku.


Aku langsung masuk kedalam kamarku. Bersiap-siap memakai pakaian yang rapi untuk aku mengaji bersama ayahku. Adikku yang beberapa hari lagi mau masuk sekolah. Duduk menghadap ke buku-buku barunya,tas baru,sepatu baru yang pertama kali dilihatnya. Khusus, diberikan Ayahku untuk dia. Dengan melongo dan terheran menatap tanpa berkedip sedikitpun.


"Wah,tasnya cantik ya!" Kata adikku Sambil mengayunkan tas ke udara dan memeluknya.


Aku yang duduk di tikar tempat aku mengaji menatap adikku yang duduk di kursi yang biasa digunakan ayahku untuk makan.


Aku menatap adikku dengan begitu serius. Dia begitu senang sekali melihat tas baru, buku tulis baru,pensil serta kotak pensilnya dan juga tidak ketinggalan sepatu hitam yang baru. Wajahnya terlihat begitu riang sambil memegang satu persatu peralatan sekolahnya yang baru.


Dia pun tak berhenti tersenyum dan menyusun peralatannya dengan rapi secara bergantian. Setelah itu dia kembali merusak susunannya dan menyusunnya kembali begitulah, seterusnya yang dilakukan oleh adikku.


Sementara Ibu sambungku yang terlihat.Dia duduk disudut pintu kamar yang badan dia setengah miring mengarah ke pintu utama rumah kami tempat keluar masuk. Dengan hembusan angin malam yang terasa dingin. Tapi masih bisa diajak bersahabat dengan tubuh mungilku.


Aku yang duduk mengarahkan tatapanku ke sisi rumah kami yang bisa terlihat olehku yaitu, lemari,dinding kamar,jendela,lantai semen yang dingin kalau pas hari hujan. Hahaha! Lucu kalau aku mengingatnya.Semua yang ada didalam rumah itu pasti setiap hari tidak ada satupun yang absen untuk kulihat.

__ADS_1


Dudukku yang bersila menghadap ke badan pintu rumah kami yang sering digunakan tempat keluar masuk. Merasakan tebaran angin yang menyapaku dengan ramah dan membawa angan ku terbang jauh dalam ketenangan.


Terkadang, aku tidak sengaja melihat kucing yang lewat tepat dihalaman rumah kami. Meskipun, diluar rumah kami gelap tidak ada lampu.Akan tetapi masih bisa juga kucing lewat terlihat olehku.


.


.


.


Dan begitu juga dengan Ayahku yang kudengar dari telingaku. Dia masih khusuk melaksanakan ibadah sholat Maghrib nya dengan mengumandangkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang keluar dari bibirnya dengan fasih.


Dari tempat dudukku yang tidak jauh dari dinding kamar Ayahku. Sudah terletak I'ROQ diatas Rekal tepat di depanku. Rekal yang beberapa hari ini baru dibeli oleh ayahku.


Aku masih tetap sabar untuk menunggu Ayahku selesai dari ibadah sholat Maghrib nya.


Kain yang menutup kedua kakiku yang bersila manis. Terbentang lebar di kakiku dengan jilbab yang menutup kepalaku sampai dadaku yang kecil.


"Kak,coba lihat tasku cantikan!" Adikku memegang tasnya ke udara sambil menunjukkan kepadaku dengan wajah polos begitu ceria kulihat. Aku yang duduk di tempatku menatap adikku dengan wajah senyum.


"Ia,memang cantik."Kataku yang melihat tasnya.


Sementara, Ibu sambungku yang mendengar. Dia pun spontan mengatakan yang tidak begitu menyenangkan.Karena dari perkataannya adikku begitu sedih dan menatapnya dengan kebencian. Sementara, aku yang tidak bisa mengatakan sepatah kata pun untuk membela adikku apalagi menyalahkan Ibu sambung kami.


Jangan sampai Ayahku mendengarnya.Bisa terjadi keributan malam ini.Aku yang duduk sambil melihat I'ROQ yang meletakkan tanganku diatas I'ROQ. Aku hanya diam,detak jantungku pun menjadi abnormal serasa darahku mau keluar dan nyawaku hampir mau putus.


Assalamualaikum warahmatullah!


Aku yang duduk di tikar mengajiku mendengar salam dari ayahku yang terdengar dari kamar.

__ADS_1


Ayahku sudah siap sholat. Jantungku pun berdegup dengan kencang. Ketakutan dari wajahku pun semakin terlihat.


Aku takut kalau Ayahku mendengarnya tadi. Pasti akan terjadi keributan. Bagaimana ini? Tanyaku sambil meremas jemariku yang terletak di atas I'ROQ ku.


Aku yang duduk pun berusaha untuk mengendalikan diriku yang ketakutan.Berusaha merubah mimik wajahku menjadi rileks. Mengatur nafasku dan juga mengatur suaraku.


Aku tidak boleh seperti orang yang ketakutan. Nanti, Ayahku curiga kalau dia curiga pasti dia bertanya. Kalau dia bertanya harus dijawab. Kalau tidak di jawab dia akan menatapku dengan mendelik. Bahkan, suaranya pun akan terdengar ke seluruh ruangan. Bahkan, lebih parahnya Pertanyaannya itu akan diulang nya Sampai berkali -kali . Sampai juga berhari-hari.Huh! Bagaimana ini? Dengan lirih aku berkata didalam hati dengan berpikir tajam dan menatap I'ROQ ku yang bisu,dengan lirih.


"Liyan, ayo kita mulai kajian mu!"Kata Ayahku yang sudah duduk di sampingku menatap tajam ke I'ROQ yang diatas Rekal.


Dirinya sudah siap untuk mengajariku mengaji. Sementara, aku masih sibuk dengan pikiranku yang berhubungan dengan Ibu sambung dan adikku.


Apa ayahku tidak mendengarnya?" Tanyaku menatap ayahku dengan pikiran kosong. Tapi tanganku refleks bergerak membuka I'ROQ.


Dan bibir kecilku pun dengan refleks membaca ta'awudz.Dengan pikiran dan raga yang tidak menyatu.


"Liyan!"Kata Ayahku dengan suara sedikit keras yang mengisi lingkaran telingaku. Menyadarkan aku dari gusar ku. "Apa yang kamu lihat? Tanya Ayahku dengan penekanan."Kenapa kamu tidak fokus?"Tanya ayahku yang langsung membuyarkan semua yang ada di kepalaku.


Aku yang duduk ketakutan berusaha memaksa diriku untuk menyatu dengan keadaanku yang sekarang yaitu,mengaji!


"A,A**".Terbata.


"Kenapa seperti itu membacanya?"Tanya Ayahku menatap tajam kearahku.Aku yang melihat dari ekor mataku semakin gusar dan deg-degan.


"A,A,A***."Terputus dan masih terbata-bata karena pikiran yang kacau akibat ketakutan.


"A,A,A,apa?" Ayahku menatapku tajam terus mendelik dan tak bergeming sedikitpun dari ku."Alif,ini bacaannya, "Alif"! Kamu tahu tidak!"Kata Ayahku dengan kesal."Baru semalam dibaca ke***."Ayahku yang kesal tidak melanjutkan lagi perkataanya."Jangan sempat tangan Ayah,tali pinggang,rotan,lidi dan kayu melayang sama kamu, ya!"


Aku diam dan kikuk mendengarnya.Aku hanya bisa menutup mulutku karena ketakutan. Takut salah huruf yang dibaca karena mendengar yang dibilang ayahku tadi,semuanya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2