Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Menepati janji


__ADS_3

Seketika aku merasa senang sekali. "Benar?" tanyaku serius sambil duduk.


Adikku langsung mengangguk bercampur sedih menatap lirih melihat ke ujung jari kakinya yang ditekuk.


"Kakak belum percaya," ucapku, memutar badan mengambil selimut. "Kau sering kayak gitu, Dik. Bilang janji. Tapi apa?" sesalku, menutupi wajah dengan selimut.


"Kak!" panggil adikku sambil menarik selimutku. "Benar, aku gak akan nakal lagi," katanya dengan penuh penekanan. Diam kembali menunduk penuh sesal.


"Kakak gak percaya. Kalau kau udah berubah," sahutku, memberi adikku sedikit pelajaran. "Nanti kalau Kakak udah percaya samamu. Pasti kau berubah lagi?!" lanjutku dengan nada suara bercampur kecewa.


"Kak! Jadi, Kakak gak percaya kalau aku gak kayak gitu lagi," kata adikku kesal karena aku tidak mempercayainya lagi.


Tidak memberi jawaban itulah yang terbaik untuk ku saat ini. Selimut yang menutupi tubuh dari dinginnya malam sudah tergerai seperti biasa.


"Kak! Jadi, Kakak gak sayang samaku?" tanya adikku sesak dan sedih.


"Sayang, Dik," jawabku. "Kau 'kan Adik yang paling Kakak sayangi," ungkapku tersenyum menatapnya.


"Tapi, kenapa Kakak kayak gitu ?" tanya adikku sebal.


"Karena kau selalu bohongi Kakak," jawabku, menelan kecewa. "Kalau Kakak udah percaya samamu, kau pasti balik jadi, Adik yang nakal lagi?!" sesalku bercampur kesal.


Setelah mendengarnya adikku memutar badan menggeser duduknya menjauh dariku. "Karena 'kan, aku masih kecil," balas adikku enteng.


Segitu mudahnya bagi adikku. Aku kembali kesal atas ucapannya. Sebal yang tadi mulai mereda kini kembali memuncak menggulung diri.


"Itu 'kan! Kau balik lagi!" serangku menahan nada suara pelan agar ayah kami tidak mendengarnya.


Adikku refleks memutar kepala ke sebelah kanan dan menutup kedua mata kuat sebagai isyarat menyesali kembali kesalahannya.


"Kalau kau berubah. Kau pasti gak bilang gitu lagi?!" tegurku pada adikku yang suka bermain-main.


"Kali ini gak Kak," kata adikku. "Aku gak mau punya Kakak baru," lanjutnya, menunduk lesu bercampur harap kalau aku mau memaafkannya.


"Kakak gak tau. Kakak mau tidur dulu, ah," kataku dengan enteng menggoda adikku yang sudah berputus asa.


Adikku pun diam dan sedih. Aku yang berpura memutar badan miring menatap ke arahnya dengan sedikit meras sedih. Kali ini dia benar-benar berbeda. Aku terus menatapnya hingga aku terlelap tidur.


🌵🌵🌵

__ADS_1


"Liyan, Ayah pergi dulu, ya!" teriak ayahku dari luar.


"Iya, Ayah," sahutku samar-samar dengan kesadaran yang belum terkumpul.


"Jangan bermain jauh-jauh, Nak! Jangan keluar rumah!" harap ayahku memohon. "Ayah sepertinya akan cepat pulang," lanjutnya.


Aku langsung bangun dan duduk dengan kesadaran yang masih menggantung. Suara pintu yang sudah dibuka pun terdengar mengusik pendengaran yang masih belum bersahabat dengan penuh.


"Liyan, jaga Adikmu! Jangan bertengkar, ya !" pinta ayahku mengiba. Berdiri di depan pintu kamar kami.


"Iya, Ayah," balasku dengan pandangan setengah kosong.


"Satu lagi," kata ayahku memutar badan ke belakang. "Nanti kalau kalian mau makan, ngambilnya pelan-pelan, ya!" lanjutnya dengan lembut.


Dibalik tirai kamar aku menatap tubuh ayahku yang kurus tinggi itu dengan tatapan mata yang sedikit redup.


"Ayah, aku akan menjaganya. Tapi, pasti dia nanti merengek minta jajan?!" ungkapku jera.


Langkah kaki ayahku yang sudah keluar pintu spontan terhenti. Ayahku pun menatap ke arahku dengan sendu. "Nanti bilang saja sama Adikmu. Ayah akan cepat pulang," balas ayahku, menahan sedikit kecewa karena dia tidak bisa memenuhi keinginan putrinya.


"Baik Ayah," sahutku. Berdiri sambil menyikap tirai. Sedikit kepalaku melihat keluar dan menatap nanar lurus ayahku yang lagi menahan rasa sedih.


"Iya Ayah," jawabku ringan sambil melirik adikku yang masih tertidur pulas.


Dari luar ayahku berhenti lagi. "Liyan, pagi ini jangan kalian tidak makan, ya. Jaga kesehatan karena Ayah harus cari uang banyak untuk bayar rumah kontrakan," tutur ayahku memohon dengan lemah lembut.


"Iya, Ayah. Kami akan makan," jawabku yang masih setengah sadar.


Ayahku memutar badan dan melanjutkan perjalanannya. "Kalau begitu Ayah pergi dulu! Ingat jangan keluar rumah!" kata ayahku melarang keras.


Aku diam saja dan melihat ayahku berlalu meninggalkan kami. Jenang kaki yang sering berdiri dan berjalan dalam mengawasi kami dan juga mencari nafkah sudah hilang tidak terlihat lagi.


Seraya tubuh mungil yang melihat ayahku pergi berjalan mengunci pintu. Rumah yang biasanya ramai dengan alunan kata-kata pekikkan dari ibu sambung yang setiap hari terdengar sekarang tidak lagi. Semua sudah berubah, semua sudah kembali seperti yang dulu.


"Ana, kau belum bangun!" panggilku, mengusik tubuh adikku yang terlelap.


"Kakak, aku masih ngantuk," jerit adikku bergerak.


"Hari sudah pagi, Dik," terangku menjelaskan padanya.

__ADS_1


Mata adikku semakin terlelap dengan manja. Tubuhnya kecilnya yang berguling di atas tempat tidur terlihat rileks meremajakan pikiranku yang kacau akibat ulah adikku belakangan ini.


"Kak, Ayah sudah pergi?" tanya adikku pelan.


Suaranya sangat mengejutkan diriku. Aku yang duduk langsung memutar badan menoleh ke arah belakang. "Sudah," jawabku singkat. Duduk sambil merenungi keadaan kami.


"Ana, kau gak lapar?" tanyaku menyelidiki.


Adikku diam seakan dia memikirkan sesuatu. "Belum, Kak," jawabnya spontan. Diam menatap langit-langit rumah.


"Ayah hari ini gak ngasih uang jajan," kataku pada adikku yang berbaring di sampingku.


Dia seketika melayangkan sorot mata. "Aku gak minta jajan, Kak. Aku hari ini kalau lapar makan nasi aja," cetus adikku membuatku tercengang.


"Jadi, kalau nanti ada tukang jualan yang lewat?" tanyaku terkejut bercampur heran. Diam menoleh ke arahnya yang tenang.


"Kalau gak ada uang. Aku gak beli, Kak," ucap adikku pasrah.


Segaris senyum tersimpul melihat adikku yang sudah berubah. Pikirku kembali melayang dengan penuh tanda tanya.


"Kak, aku gak akan nakal lagi. Apalagi minta jajan," sambung adikku yang membuatku semakin terharu dan terkesima.


Diam mendengarkan adikku itulah yang kulakukan saat ini. Aku yang duduk menemaninya dalam diam hanya menatap adikku yang terus mengoceh.


"Aku 'kan udah janji. Aku gak akan nakal lagi," ungkap adikku lirih. "Karena aku gak mau punya Kakak baru," lanjutnya.


Aku semakin tergelitik mendengarnya. Menahan tawa di dalam hati dengan kuat. Namun, wajah sumringah masih tertoreh dengan lembut menatap adikku yang terus menceritakan tentang dirinya.


"Kak, kalau aku punya Kakak baru. Aku takut, nanti dia gak baik kayak Kakak," ucapnya pelan sambil meras bersalah selama ini sudah membuatku lelah karenanya.


"Tapi 'kan kalau Kakak baru. Pasti gak suka bertengkar, apalagi mengejek?!" ucapku datar.


"Tapi aku gak mau punya Kakak baru. Aku cuma mau Kakak aja. Bukan Kakak baru!" tolak adikku ingin menangis. "Kalau Kakak gak sayang samaku gak apa-apa, Kak. Tapi aku gak mau punya Kakak baru," cetusnya kembali mengatakan hal sama padaku.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2