Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Pertanyaan Adikku yang kritis


__ADS_3

Spontan adikku pergi meninggalkan wanita itu. Menggerutu dengan segala kekesalan yang mendalam terlihat dari sudut mata adikku.


Pintu yang terbuka lebar kini dia lalui dengan spontan dengan membawa hatinya yang panas. Langkah kakinya pun seketika menghilang tanpa arah.


Wanita itu yang tidak lain adalah ibu pengganti kami kini menarik napas. Seakan ia ingin menyerahkan semuanya pada sang Maha Kuasa. Wajah separuh baya nya kini terlihat sendu. Rasa frustasi kini menghantuinya. Adikku yang tidak bisa melunak akan dirinya kini membuat ku miris melihatnya.


Dia yang masih bergeming dengan segala pikiran yang menderanya membuatnya terlihat sedih. Sikapnya yang tidak jelas membuatku kadang semakin bingung. Ibu pengganti kami bisa dibilang dia tidak jahat. Tapi terkadang dia bisa seperti monster yang menakutkan. Marah- marah tanpa alasan. Bahkan, terkadang masalah yang terlihat sepele dia suka membesarkannya menjadi masalah besar sehingga badai hadir di rumah kami.


Begitulah ibu sambung yang mengurus kami. Terkadang dia abai akan kami terkadang dia begitu perduli atas kami. Dirinya yang sering berubah-ubah tak ayal menjadi pemicu pertengkaran di dalam rumah kami. Sifatnya yang kadang seperti orang yang tidak menentu membuat adikku geram melihatnya.


" Liyan, jam berapa ini?" Tanya ibu sambungku dengan datar.


Aku yang duduk masih di bangku kelas tiga sekolah dasar telah sedikit belajar cara melihat jam.


"Jam 10:15 WIB ?" Masih menatap jam dengan lekat.


"Kenapa Ayahmu belum pulang?" Tanya nya merasa khawatir. " Padahal ini kan hari Jumat." Menatap nanar keluar.


Perlahan ia pun berjalan ke dapur mengambil gelas dan menyedu bubuk teh dengan air hangat.


" Liyan, kau mau?" Menggeser sedikit badannya dengan menunjukkan gelas diatas meja yang dia seduh untuk membuat teh manis.


" Engga." Sambil menggelengkan kepalaku melihat teh manis yang tidak begitu aku sukai.


" Kau tidak suka teh manis?!" Ingin tahu memutar badannya kembali menyedu teh.


" Ia, aku tidak berapa suka, Bu," sambil menekuk wajahku melihat ia yang masih berdiri dengan tegak.


" Ya, sudah kalau tidak mau. Tapi kenapa Ayah mu belum juga pulang,ya?" Menatap nanar sambil meletakkan termos.


Baru kali ini dia mengkhawatirkan ayahku. Wajah ayahku seakan muncul di pelupuk matanya sehingga membuat ia begitu memperhatikannya. Entah, kenapa hari ini dia begitu aneh. Menaruh perhatian nya kepada siapa pun.


Aku yang tidak mengerti hanya diam dan melihat dia begitu mencemaskan tanpa alasan.


" Liyan, adikmu tadi kemana?" Tanyanya yang membuat ku sedikit kesulitan menjawabnya. Kenapa hari ini begitu mendukung dia? lambat laun aku semakin malas untuk menjawab pertanyaannya. Tapi aku tidak berdaya terpaksa dengan senang hati aku kembali menjawab pertanyaannya.


" Pergi." Jawabku dengan tandas.


" Apa dia sudah lama pergi?!" Berjalan menarik bangku kecil dan duduk di dekat pintu dapur sambil menyeruput teh manis yang telah selesai dia buat.


Untuk pertanyaannya yang kesekian kalinya membuatku hening. Butuh waktu yang lama aku bersuara menunggu apa yang akan di berikan oleh pikiranku jawabannya.


" Aku kurang tahu, Bu." Jawabku menutupi sebenarnya agar tidak ada pertengkaran.


" Kenapa kau tidak tahu?" Seakan dia seperti juru periksa yang harus menjawab pertanyaan nya dengan detail.


" Bukankah, Ibu tadi melihat dia keluar rumah?"


Bertanya kembali dengan memprotes.


" Oh, ia aku lupa." Menarik sedikit bibirnya.

__ADS_1


Dengan menyengir aku yang menatapnya memutar kepalaku melihat luar.


Tiba-tiba tidak terasa seperti nya ayahku sudah pulang. Langkah kaki begitu terdengar jelas mendekati rumah kami.


Aku yang di rumah selama sakit segera beranjak melihat ayahku. Tanpa aku sadari dengan sedikit terperanjat ternyata ayahku pulang bersama adikku.


" Ayah kenapa ayah bisa sama, Ana?!" Menghampiri ayahku yang membuka sepatu kerjanya.


Ayahku masih belum menggubris pertanyaan ku yang berdiri menghampirinya.


" Kakak tidak tau kan, dimana aku bertemu sama Ayah?!" Kata adikku yang dengan jelas memamerkannya pada ku.


" Tadi, Ayah bertemu dengan nya di kedai." Raut wajah ayahku sedikit tidak senang.


Aku menggeleng kan kepala ku. Mengutarakan ketidak tauanku menatap dengan sendu.


" Tadi, adikmu di kedai berdiri melihat orang membeli Jajan."


" Kakak mau lihat jajan aku." Senyum simpulnya yang menggodaku pun terlihat manja. Menunjukkan begitu banyak jajan yang ada kini di genggamannya.


"Kasih kakak mu!" Sambil berjalan masuk dengan membawa belanjaannya.


Aku diam berdiri melihat ayahku berjalan ke ruang dapur dan adikku yang membuka jajanannya yang banyak.


" Kak, ini." Memberi jajannya kepadaku. " Ayo makan, kak!" Ajak adikku dengan mengunyah makanan di mulutnya.


Spontan tangan kecilku yang lemah mengambil jajan yang ia tawarkan kepada ku. Aku langsung membukanya. Adikku yang begitu suka membeli jajan dengan lahap dia menghabiskan jajannya tanpa sisa.


" Liyan, Ana ngapain kalian berdiri di depan pintu. Masuk cepat!" Sahut ibu sambung kami.


" Kak, mana Ayah?!" Wajah adikku terlihat panik.


" Di dapur, kan Ayah tadi masuk dan pergi ke dapur." Penegasan ku kembali pada adikku.


Mengingat adikku yang begitu menggerutu jika dia tidak melihat ayahku.


" Ayah, ayah mau kemana?" Tanya adikku dengan meletakkan jajannya di atas meja. Jajan yang banyak ia tinggalkan seketika tanpa ia pikirkan.


" Ayah,ayah mau kemana?" Tanya kembali menghampiri ayahku dengan menarik tangannya.


" Ayah mau sholat Jumat,nak." Kata ayahku dengan nada suara yang menenangkan hati adikku.


" Boleh, anak-anak ikut Ayah?" Menatap lirih ayahku seakan dia takut di tinggalkan oleh ayahku.


" Boleh."


Horee! Sorak adikku kegirangan.


" Eh! Tunggu dulu."


" Kenapa Ayah?" Raut wajah bahagianya tadi seketika hilang.

__ADS_1


" Yang boleh ikut itu anak laki-laki, bukan anak perempuan." Kata ayahku mematahkan semangatnya.


" Ayah bilang tadi, anak -anak boleh ikut." Memalingkan wajahnya dari ayahku dengan cemberut.


" Memang Ayah bilang anak-anak tapi anak laki-laki, nak." Penjelasan ayahku dengan menenangkan adikku.


Sholat Jumat adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah , kecuali (tidak diwajibkan ) atas empat orang yaitu , budak ,wanita , anak kecil dan orang sakit .


( HR. ABU DAUD)


" Itu kamu sudah mengerti,nak." Tegas ayahku kembali.


" Ha, itu kan Ayah bilang tadi anak kecil tidak boleh ikut, kenapa anak laki-laki yang masih kecil Ayah bilang boleh ikut. Kan sama -sama anak kecil Ayah."


" Ia, nak Ayah tau. Tapi asal kamu tahu nak setiap orang muslim dianjurkan untuk melatih anak-anaknya sholat Jumat. Meski anak-anak merupakan yang tidak diwajibkan sholat jumat tak terlepas dari anak -anak kecil yang laki-laki.


" Terus kenapa Ayah bilang anak kecil laki-laki boleh ikut untuk apa Ayah."


" Untuk melatih mereka agar mereka terbiasa sholat jumat dan banyak manfaatnya nak untuk mereka kelak. Yang pertama, jika mereka nanti sudah baligh mereka sudah terbiasa melakukannya. Yang kedua, agar ilmu yang disampaikan seorang ustadz disaat khutbah mereka tau nak,meskipun mereka masih kecil. Pasti mereka tau meskipun sedikit. Yang ketiga,


agar mereka terbiasa berkumpul dengan kaum muslimin yang sholeh dan bisa masuk kedalam masyarakat sebab mereka harus mengenal orang-orang yang dikenal oleh Ayahnya.


Yang ke-empat, berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa waktu yang dikabulaknnya doa ketika khutbah. Maka si anak termasuk dalam kategori orang yang hadir pada waktu di kabulkan doa yang disebut oleh Rasulullah SAW ini. Yang kelima, untuk asupan keimanan dan rohani untuk mendirikan sholat lima waktu.


Yang keenam, mengenal sejak kecil para ulama dan dai. Yang ketujuh, dengan sholat jumat anak mendapat pembentukan kepribadian seperti aqidah, sosial kemasyarakatan, ibadah, perasaan, ilmu, jasmani, kesehatan dan kecenderungan seksual. Bagaimana anak Ayah sudah mengerti?" Tatapan ayahku yang lekat pada adikku dengan penuh kasih sayang.


" Ayah kak Liyan, tau gak itu," adikku yang seakan menjebak ku dengan pertanyaan nya.


" Kak, Liyan nanti pasti tau itu nak,nanti kalau sudah besar."


" Aku juga nanti tau Ayah kalau sudah besar." Seketika ekspresi percaya dirinya keluar.


" Ayah emang harus gitu ya, Ayah." Adikku sedikit mengerti dengan


" Gitu apanya, nak?!" Ayahku dengan wajah bingung bertanya pada adikku kembali.


"Ia, Ayah kita datang khutbah harus datang kalau terlambat emang gak boleh Ayah?!" Tanya adikku dengan sedikit kritis.


" Boleh, tapi mereka tidak mendapat catatan khusus dari malaikat dan juga disaat dimana doa dikabulkan," dengan menyimpulkan senyum melihat adikku yang terlalu kritis bertanya hari ini.


Ayahku yang telah bersiap untuk berangkat.


" Liyan, Ayah harap kamu mengingat apa yang Ayah sampai kan barusan."


Aku yang berdiri bersama adik dan Ayahku. " Ia, Ayah."


" Kalau begitu Ayah berangkat dulu, ya. Hati-hati


dirumah jangan bertengkar kalian," Menghilang dari hadapan kami.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2