Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Jalan pulang


__ADS_3

"Iya Liyan. Aku tidak akan lupa. Aku sudah memeriksanya dari tadi," tersenyum.


"Aku senang Widia, kalau kau sudah menyusunnya. Jadi, kita akan pulang dengan tenang," lanjutku.


Sementara, Bu Dona pun, telah terlihat bersiap-siap untuk pulang. "Anak-anak! Susun semua peralatan kalian, jangan ada yang sampai tertinggal. Kita akan pulang setelah teman kalian ini, selesai!" Seru Bu Dona menyusun perlengkapan. Menatap kami sesekali.


"Baik Bu," jawab kami serentak dengan tidak semangat.


Bu Dona yang duduk di depan, telah mengetahui, kalau kami begitu kecewa. Dia pun, bergeming sambil menatap dengan nanar ke luar. Gusar di wajahnya terlihat serius dan sedikit menyesal, karena telah melewatkan jam pulang kami.


"Kalian jangan takut. Kita akan pulang segera," ucap Bu Dona. Memahami perasaan yang kami rasakan. "Saya tahu. Pasti orang tua kalian khawatir, 'kan? Mungkin besok, pasti ada yang datang ke sekolah untuk menanyakan, 'kenapa hari ini terlambat pulang," lanjutnya. Menatap ke arahku.


Aku dan Bu Dona pun, bertemu pandang dan bisa menebak, kalau yang di katakan Bu Dona itu adalah ayahku. Seketika aku langsung menunduk dengan malu berusaha untuk menutupi.


Sebenarnya Bu Dona tidak salah. Ayahku memang seperti itu, kalau aku tidak pulang tepat waktu, pasti dia seperti orang kebakaran jenggot. Dia akan ke sana kemari, untuk mencariku dengan kaki jenjangnya yang telah senja.


Sejenak aku merasa tidak enak hati, atas tatapan yang di berikan Bu Dona terhadap ku. "Widia, kau tahu, siapa yang di bilang Bu Dona barusan?" tanyaku menatap Widia.


"Tidak. Aku tidak tahu Liyan. Emang, siapa yang di bilang oleh Bu Dona ? Kamu tahu, siapa?" tanyanya dengan polos.


"Entahlah Widia. Tapi, Bu Dona tadi, menatap ke arahku, sewaktu mengatakannya," jawabku. Menutupi yang kuketahui.


Widia begitu heran. "Kenapa?" dengan melebarkan kedua bola mata seakan mengingat. "Atau, jang...jangan..." sambil mengayunkan telunjuk ke udara. ".... Ayahmu, Liyan," ucapnya dengan lepas. Menatapku lekat.


Aku langsung tersipu malu. Hm! Aku mengeram. Percaya atau tidak, yang pasti aku tahu, siapa? Yang di maksud oleh Bu Dona. Pastinya ayahku, terlihat dari tatapannya, seakan mengatakan kebenaran.


"Iya! Liyan mungkin yang dulu. Waktu kita ke rumah si Nisa," ulang Widia. Mengingatkan kejadian yang pernah tercipta.


Seketika tubuh lemahku membeku, seperti es dan menghilangkan semua rasa sakit, yang tadi singgah di tubuh mungilku. Mengingat lintas peristiwa kejadian, beberapa hari yang lalu.


"Iya Widia, mungkin. Kata adikku, Ayahku datang ke sekolah mencariku, kemaren," ungkapku. Menatap Widia dengan memutar memori kejadian.


"Ha! Benarkan Liyan. Berarti Bu Dona mengetahui itu," ucapnya membenarkan.


"Iya. Ayahku memang seperti itu," ucapku mendesis. Melihat meja yang kosong dengan sendu.


"Tapi Liyan, coba lihat kembali, Bu Dona! Apa dia masih menatapmu atau tidak?" seru Widia memaksa.


"Untuk apa Widia? Aku takut," balasku. Kalau nanti Bu Dona menatapku, bagaimana?" keluhku dengan pertanyaan yang ambigu.


"Coba saja lihat!" pinta Widia dengan sedikit memberiku pilihan.


Dengan kepala yang berat aku menatap Bu Dona perlahan. Kedua netraku yang redup pun, melihat Bu Dona, sedang apa sekarang.


Tanpa sengaja, Bu Dona ternyata, lagi memberi nasihat kepada murid yang terakhir tampil. Dia begitu penuh kasih sayang menasihatinya. Wajah serius yang sering terlihat, kini berubah menjadi wajah yang lembut dan tenang.


"Bu Dona lagi menasihati," ucapku pelan. Mengusik ketenangan Widia yang mengkhayal, entah kemana?


"Bu Dona kenapa, Liyan?" tanya Widia sedikit tersentak. "Kau bilang apa tadi? Menasihati? Menasihati siapa?" sambil mengerjapkan mata.


"Menasihati Pudan," jawabku. Kesal.


"Ooh!" menatap pudan. "Mungkin, dia buat kesalahan, seperti Tania dan Ecy," ucapnya.


"Sok tahu kamu," sungutku.


"Iya, aku memang tahu," timpal Widia. "Bu Dona itu Liyan, kalau murid yang tidak keterlaluan, dia tidak akan menasihati seperti itu," sambungnya. "Kamu tidak tahu ' kan, Liyan?" menatapku sekilas.


Aku hanya diam, mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Widia.


Sesekali aku mengingat kembali diriku yang lama terkekang di rumah, karena penyakit yang aku derita. Tidak banyak yang aku ketahui ketika aku sakit.


Keluhan akan tubuh lemahku, semakin hari semakin berteriak ingin menghancurkan ke tangguhanku. Meredupkan pancaran mata bening yang sangat aku harapkan untuk menatap ke indahan. Bahkan, Bu Dona yang duduk di depan, hampir tidak bisa aku lihat dengan jelas.


Suara lantangnya yang bijaksana, semakin melemah di dalam pendengaranku. Hanya detak jantung yang kencang yang bisa aku dengar saat ini. Suhu panas yang meninggi menaiki tubuh mungilku, bisa aku rasakan dengan jelas, menyelimuti dan membakar tangan Widia yang lembut, serta menutup bibir pucat sedikit rapat. Walaupun demikian, aku masih bisa bertahan dan mendengar sedikit yang di sampaikan oleh Bu Dona kepada teman kami, Pudan.


"Dengar ya, nak! Belajarlah yang benar. Jangan pernah ikuti, teman kamu yang tidak baik," ucap Bu Dona dengan lembut. Memberi nasihat kepada Pudan.

__ADS_1


"Iya, Bu," jawab Pudan.


Hanya itu yang jelas terdengar oleh telingaku. Tidak ada lagi yang bisa aku dengar dengan jelas, selain itu.


"Liyan! Kalau kau tidak sanggup untuk pulang bilang biar kami hantar ke rumahmu," kata Fikri, berbisik dari belakang bangkuku. "Kalau pun, kau tidak sanggup lagi. Bilang saja, biar aku permisikan sama Bu Dona," lanjutnya memberi perhatian penuh.


"Tidak usah Fikri. Aku masih kuat, kok," ucapku dengan pelan. Melirik, seakan aku mendekatkan bibir pucatku ke padanya. Menatap lurus ke arah Bu Dona.


"Kau ini, hiks!" balasnya dengan kesal. "Heh! kalau kau nanti sakit. Kau besok tidak bisa sekolah," timpalnya. "Biar kau tahu Liyan. Kita sebentar lagi ujian," bisiknya dengan nada suara sedikit meninggi penuh penekanan dan menahan sedikit kekesalan. Mendorong sedikit bangkuku.


Brugh!


"Auwh!" dengan refleks aku berteriak pelan. Memutar kepala sedikit ke belakang.


Widia yang bergeming dalam kebisuan, tiba-tiba memutar kepala kebelakang, tanpa menghiraukan Bu Dona yang duduk di depan melihat Fikri. "Fikri kau kenapa? tanya Widia pelan dengan penuh keheranan. Sedikit mendelik.


Fikri hanya diam. Sedikit pun, dia tidak memberi reaksi apa pun, terhadap pertanyaan Widia. Hanya tatapan bisu yang tunjukan kepada Widia.


"Fikri! Liyan itu sakit. Apa kau tidak kasihan dengannya," sambung Widia. Menatap Fikri dengan sebal.


Namun, Fikri lagi-lagi hanya diam, duduk dengan rileks sambil melipat kedua tangan di atas meja, menatap Widia dan Bu Dona sesekali.


Melihatnya darahku langsung mendidih. Wajah pucatku seketika memerah, seperti api yang akan membakar dia hidup-hidup. Gerahamku begitu kuat, aku gigi hingga membuat wajah pucat ini terlihat ketat.


"Nanti kal..." Widia langsung terdiam.


"Widia diam! Kalau kau ribut, nanti kita kena hukum. Kau mau kita tidak pulang?" ucap Fikri dengan datar, memotong pembicaraan Widia. Menaikkan alis.


Kekesalan terlihat memenuhi wajah Widia, karena Fikri telah memotong omongannya. Widia dan aku pun, saling bertemu pandang melempar tatapan kosong dengan sebal.


Huh! Mendengus dan kembali melihat Bu Dona yang kini tinggal sendiri di depan.


"Anak-anak. Boleh pulang sekarang, silahkan!" perintah Bu Dona, memberi izin lembut kepada kami. Berdiri sambil membawa handbagnya keluar pintu dan berdiri menunggu kami semua, keluar dengan rapi.


"Anak-anak. Kita keluar seperti biasa. Atur barisan dengan rapi," ucap Bu Dona. " Mulai dari sana!" mengayunkan telunjuk ke udara. Menunjuk barisan meja kami.


"Liyan, ayo cepat ," ajak Widia. Berdiri dan berjalan menghampiri Bu Dona dan ku ikuti dari belakang.


Fikri pun terlihat tergesa-gesa berjalan, seakan dia takut, kalau kami meninggalkannya.


"Liyan, kau sanggup berjalan?" tanya Fikri, seakan dia meragukan keadaanku. Berjalan sambil menatapku.


"Sanggup," jawabku, berjalan.


"Masa iya," balas Fikri menatapku dengan tidak percaya.


"Iya Fikri. Aku itu masih sanggup. Kau pulang saja, ke rumahmu sendiri. Aku akan pulang bersama Widia," ucapku, melangkah sedikit kencang. "Lagi pula, Widia ada bersamaku," lanjutku.


"Baiklah. Tapi ingat, kau besok jangan tidak masuk! Karena kita sebentar lagi ujian, ingat!" seru Fikri memberiku peringatan dengan tegas. Berjalan dengan kencang lebih dulu menghampiri Bu Dona. Menatapku dan menghilang dari balik pintu.


Seketika aku lemas. Menunduk sambil mengingat yang di sampaikan oleh Fikri. Pikiranku pun, kembali menyeruak dengan kekacauan. Kecemasan kembali menyelimuti diriku yang lemah.


Deg!


Tiba-tiba aku gemetar dan membeku seketika. Kedua bola mata berhenti bergerak sehingga membuat bibir pucatku refleks tidak bisa berbicara. Melihat ujung sepatu Bu Dona yang hitam mengkilat terperonggok di depan pintu yang leluasa.


Perlahan aku mengangkat kepala dan nyengir. "Liyan, apa kamu baik-baik saja?" tanya Bu Dona dengan penuh perhatian. Mengulurkan tangan.


"Iya Bu. Saya baik-baik saja," jawabku pelan. Menatap Bu Dona sekilas yang perhatiannya terlihat begitu hangat. Mencium punggung tangan.


"Ya sudah! Kalau begitu, kamu besok datang tepat waktu, jangan terlambat," nasihat Bu Dona, mengalihkan apa yang ada di dalam pikiranku. Tersenyum dan mengelus kepalaku.


"Iya Bu," jawabku mengangguk, melangkah keluar pintu dan ikuti oleh Widia, berjalan mencium punggung tangan Bu Dona juga. Kami pun menghilang dari balik pintu kelas.


"Liyan. Bu Dona tadi, bilang apa kepadamu?" tanya Widia dengan menyelidik. Berjalan mengikuti langkahku yang sedikit kencang.


"Bu Dona, tadi bilang. Kalau besok, aku harus masuk. Jangan libur lagi, katanya," balasku menatap Widia dengan datar.

__ADS_1


"Ooh! Aku pikir, entah apa? Soalnya, setahuku, Bu Dona tidak pernah seperti itu," sambungnya dengan sejuta kekaguman. Menatap lurus ke depan jalan yang terik.


"Maksud mu, apa Widia? Bu Dona tidak seperti itu? Aku tidak mengerti," tanyaku dengan keheranan. Mengangkat kedua bahuku pelan.


"Iya Liyan. Maksudku, terlihat ramah dan baik. Bahkan, tadi ketika Bu Dona bicara padamu, dia terlihat lembut dan manis," ucap Widia dengan senang.


" Kau ini. Emang gula manis," cetusku tersenyum. "Bukannya, wajah Bu Dona terlihat sama, seperti yang biasa," lanjutku.


"Iya Liyan, memang wajahnya sama. Engga mungkin ketukar dengan wajah orang lain, huh! Kau ini, payah," sungut Widia sedikit kesal. Cemberut.


"Lalu...?" lanjutku. Menatap Widia dengan penuh tanda tanya yang besar. Berjalan sesekali, melihat kaki yang aku langkahkan dan menatap lurus ke depan.


"Terlihat baik Liyan," ucap Widia dengan wajah menggemaskan. "Selama ini 'kan, kita lihat wajah Bu Dona, sedikit galak dan selalu serius. Engga pernah tersenyum, sedikit pun," tandasnya.


"Ooh! Jadi, itu," sambutku. Mengangguk pelan, sebagai isyarat, kalau aku sependapat dengan Widia barusan. "Tapi, Bu Dona 'kan, seorang guru, mana mungkin dia tiap hari tertawa, emang lawakan," lanjutku dengan datar. Berjalan sambil mengawasi kendaran yang melintas melewati kami.


Sontak, Widia memutar kepala, menatapku yang berjalan, tepat di sampingnya dengan kekesalan yang terlihat bersinar di wajah polosnya. "Liyan!" Teriaknya pelan, sambil mengepal kedua tangan di udara. "Kenapa kau terlihat seperti orang..."Widia terdiam, ketika aku menatapnya dan dia pun, berpura- pura tersenyum. Menatapku dengan wajah cemberutnya yang manja.


Melihat tatapan mataku yang mematikan. Dia tidak berdaya seketika, menunduk kemudian diam. Aku begitu bahagia, menggeleng pelan sambil melempar pandangan dengan sembarang.


Huh! Mendengus membuang semua kekesalan yang menyelimuti diri. "Kau tadi mau bilang apa, Widia?" tanyaku. Tersenyum menahan amarah. Menatap Widia menaikan alis.


Seketika Widia seperti orang yang setengah tidak berdaya, melihat senyum yang aku sunggingkan terhadapnya. "Tidak ada, kelanjutan dari kata-kata yang tadi, Liyan," ucapannya sedikit terbata dengan lirih.


"Kalau tidak ada. Tidak apa-apa juga, baguslah. Berarti kau teman yang baik," ledekku dengan penuh candaan yang menggoda kepada Widia. Tersenyum bahagia.


Namun, sayangnya, Widia begitu kaku, sampai-sampai dia diam dan tidak berani menatapku. Kakinya yang melangkah, seakan enggan memijak bumi.


Aku terus menatap kakinya yang melangkah, bagaikan terlihat di atas air. Seketika aku tergelitik melihatnya, mengangkat kepala dan tersenyum. "Hei! Widia kenapa jalanmu seperti ini," sindiran dengan pelan. "Kalau lah jalanmu seperti ini, bisa- bisa, kita sampai ke rumah besok," timpalku. "Jalanmu, tolong cepat sedikit Widia, seperti jalanku," teriakku sedikit keras. Berjalan dengan kencang.


"Baik Liyan," jawab Widia mengangguk. Berjalan mengikuti langkahku. "Tapi, Liyan," berhenti. Menatapku dengan lekat. "Liyan, kau 'kan sakit. Nanti, kalau jalannya terlalu kencang, kau makin sakit," keluhnya, menatapku seperti orang asing.


Hahaha! Aku tertawa. "Widia. Aku tidak apa-apa. Percayalah, kalau kita makin lama berjalan, itu yang akan membuat aku sakit," sambungku. Berjalan sambil menahan tawa.


"Tapi Liyan, kau..." Widia seketika menutup kembali bibirnya dengan rapat, seakan dia takut, untuk melakukan kesalahan yang kedua kali.


"Kau....apa?" tanyaku memaksa Widia untuk buka mulut. "Hm!" sambil mengeram. Menaikan kedua alis dengan menantang. Berhenti selangkah jauh di depan Widia.


"Liyan! Aku tidak akan mengulangi kesalahan lagi, yang membuat jalan kita terhenti," ucap Widia dengan polos. Berjalan sedikit menundukan kepala, tepat mendekat dengan ku.


"Ya sudah, ayo cepat!" seruku dengan serius. Mengajak dengan paksa. "Aku engga akan marah kepadamu, Widia," ucapku. Memutar badan. "Kita 'kan teman, sesama teman tidak boleh saling bertengkar," sambungku. Kalau bertengkar kecil..." sambil berpikir, ...."mmm, ya tidak apa-apa lah, meskipun, aku tidak menyukainya," timpalku. "Asalkan, kita jangan bertengkar besar, nanti kita tidak bisa saling menyapa," lanjutku dengan lirih menatap Widia. "Bagaimana, kamu suka tidak dengan ucapanku?" Menatap Widia dengan serius.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah bersedia memberikan like, komentar dan favoritnya.


🤗🙏 ❤️❤️❤️


Bersambung....


Sambil menunggu Author untuk Update !


Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain !


Pasti engga nyesel deh, bacanya ! 🥰



Kehidupan Adistya yang awalnya tenang dan biasa saja tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang lelaki bernama Darren Bramastya. Lelaki itu mengklaim dirinya sebagai istri, bahkan memaksa dirinya untuk kembali ke rumah.


Tentu mendapat perlakuan seperti ini, Adistya menjadi sangat risih. Namun, semakin hari melihat kegigihan Darren untuk meluluhkan hatinya membuat Adistya memberikan kesempatan pada Darren.


Adistya mengajukan permintaan agar mereka menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih, bukan sebagai suami istri. Apakah permintaannya ini akhirnya bisa di setujui Darren, atau malah sebaliknya?

__ADS_1


__ADS_2